Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 232


__ADS_3

Jarak di antara wajah kedua insan itu makin pendek. Makin dekat hingga Sarah mampu merasakan terpaan nafas hangat Sam yang tatapannya masih belum dapat ia baca.


"Maafkan aku karena membuatmu menangis!", akhirnya keluar juga suara yang dapat memecah keheningan dalam situasi aneh itu.


"Aku sangat mencintaimu, Sarah! Aku tidak berjanji, tapi aku akan mencoba untuk tidak membuatmu menangis lagi", seserius itu ucapan Sam yang terdengar sampai ke telinga Sarah.


"Kalau begitu jangan marah padaku, dan jangan mengabaikan aku. Walaupun aku selalu galak padamu, tapi aku tidak sanggup jika tiba-tiba kau mendiamkan aku seperti tadi. Sam, aku juga mencintaimu", wanita itu lantas tersenyum. Kalimat tulus itu sungguh menghangatkan hatinya. Jadi mulutnya pun bergerak sendiri setelah dituntun oleh hati nuraninya yang paling dalam untuk membalas apa yang Sam ucapkan untuknya tadi.


"Terimakasih, Sarah! Karena sudah mencintaiku!", Sam melepaskan salah satu tangan Sarah. Lalu ia usap pucuk kepala wanita yang kini masih berada di atasnya.


Kembali bersitatap, Sarah tau jika kali ini tatapan Sam berubah panas. Ia tau pria itu menginginkan sesuatu darinya saat ia melihat bola mata Sam bergerak ke arah yang ia pikir itu adalah bibirnya. Sarah ingin berontak melepaskan diri dari Sam. Tapi kenyataan yang terjadi adalah, tatapan panas pria itu melelehkan keberaniannya untuk melawan. Sehingga ia masih berada di bawah kungkungan Sam.


Hidung mereka sudah saling bersentuhan. Namun Sam masih menahan diri untuk tidak menyergap wanita itu langsung. Ia masih menikmati indahnya ciptaan Tuhan untuknya ini. Wajah cantik yang membuat hatinya berdebar hingga detik ini meski mereka sudah lama saling mengenal, Sam ingin puas dulu memandanginya.


Semakin lama dibuat meleleh, tingkat kesadaran Sarah pun kian melemah. Apa yang ia harus lakukan sekarang? Memejamkan mata dan menerima bibir Sam? Atau mendorong pria itu dari atasnya dengan sisa tenaga yang ia miliki saat ini?! Ayolah, waktu mereka sudah sangat mendesak sekarang. Tapi otaknya seakan menjadi semakin lamban dalam mencari solusi.


Semakin wajah mereka mendekat, degub jantung Sarah makin cepat bergerak di dalam sana. Pasrah, ia sudah pasrah sekarang. Posisinya tidak menguntungkan baginya untuk melawan. Akhirnya ia pun memejamkan matanya sekarang.


Sam terkekeh, melihat bagaimana wanitanya ini telah mengibarkan bendera putih untuk dirinya, Sam tak dapat menahan senyumnya lagi. Sesungguhnya, sejak awal ia tidak memiliki niatan apa-apa pada Sarah. Meskipun dalam hati ia mengakui jika bibir manis itu selalu menggodanya untuk disentuh, tapi Sam benar-benar murni berniat untuk meminta maaf dengan tulus. Lalu,,, jika sudah diberi lampu hijau begini, ya apa boleh buat?! Ia terima saja penawaran wanita ini! Hee


Tetapi,,, saat ia akan melaksanakan penyerangannya terhadap Sarah. Sebuah suara membuat wajahnya tergelincir ke samping. Dan penyerangannya pun gagal, membuat wajahnya menjadi malu bercampur kesal.


uhukk,,,, uhukk


Saat ini Sandi tengah terbatuk dengan sengaja di ambang pintu. Wajahnya memerah dan ia arahkan ke samping. Mereka yang memiliki adegan romantis, tapi dia sendiri yang menjadi malu karena hal ini.


Sarah sempat melongok untuk melihat keadaan. Dan betapa malunya dia saat mengetahui bahwa adiknya sudah melihat adegan tak senonoh ini dengan mata kepalanya sendiri. Lalu buru-buru ia mendorong tubuh Sam yang masih berada di atasnya. Keduanya pun duduk dengan ekspresi mereka masing-masing. Sarah yang sudah malunya setengah mati, memalingkan wajahnya yang merah darah. Sedangkan Sam, berusaha membuat wajahnya terlihat datar. Meski jejak merona di pipinya masih terlihat samar.


"Ehhmm,,, anu! Bisakah kalian bersabar sedikit?! Hanya beberapa minggu lagi dan kalian akan sah menjadi sepasang suami istri. Dan kurasa setelah itu, tak akan ada yang berani menghalangi kalian lagi!", tambah Sandi lagi seraya berjalan ke arah kamarnya.


"Hei,,, lalu dengan siapa kau pulang tadi? Apa Ibu kembali ke sana lagi?", Sarah berjalan mendekati adiknya.


"Jadi kau baru ingat memiliki adik, heh?! Aku pulang dengan Kak Krystal. Dan sekarang kakakku adalah dia, bukan Kak Sarah lagi!", setengah kesal Sandi menutup pintu kamarnya. Bukannya pulang dengan kakaknya sendiri, tapi ia malahan pulang dengan orang lain. Sudah begitu ibunya juga dibawa ikut dengan mereka. Sebenarnya yang mana sih keluarganya!


"Hey! Krystal sendiri yang ingin mengantarmu pulang! Dia juga masih ingin ibu ada bersamanya. Anggap saja begitu, Krystal memang kakakmu! Karena dia sudah ku anggap sebagai keluarga", Sarah menyandarkan dirinya pada pintu kamar adiknya itu. Tersenyum haru namun itu tak berlangsung lama.


"Minggir! Aku mau mandi!", tiba-tiba Sandi membuka pintu dengan handuk di bahunya. Membuat kakaknya itu sempat terhuyung karena belum siap. Untung saja Sam tiba-tiba hadir dan sempat menjaganya.


"Ah ya, Tuan! Karena hanya aku laki-laki di rumah ini, jadi kau juga memerlukan restu dariku untuk bisa menikahi kakakku, bukan! Ayo kita bertanding, jika aku kalah maka aku akan memberikan restuku padamu. Tapi jika kau kalah maka jangan harap kau bisa merebut kakakku!", aroma peperangan telah tercium dari tubuh Sandi. Tapi juga bercampur kecut karena dia belum juga mandi.


"Kalau begitu,,, aku tidak akan kalah darimu", Sam menguarkan aura dominasi yang sebenarnya ia miliki. Mendekat ke arah wajah Sandi sambil menekan mental yang calon adik iparnya itu punya.


"Sudahlah! Aku mau mandi dulu!", merasa tertekan pada akhirnya Sandi memilih untuk melarikan diri dari sana. Beralasan akan mandi dengan wajah angkuh, agar alibinya terlihat bahwa ia tidak takut dengan calon kakak iparnya itu.


"Silahkan!", Sam mundur satu langkah sambil menghela tangannya. Tersenyum lembut namun penuh arti di dalamnya.

__ADS_1


"Kau pikir aku ini apa?! Seenaknya saja membuat pertandingan tidak jelas seperti itu!", Sarah mendengus seraya berjalan menuju kamarnya. Ia sedikit kesal dengan ide yang dimiliki kedua pria itu.


"Hey, tunggu dulu!", Sam menarik tangan wanita itu dan menyudutkannya ke dinding. Memerangkap Sarah dengan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri.


"Kau harus membayar hutangmu!", Sam mengukir senyuman menggoda. Senyuman yang apabila ia keluarkan sudah pasti para wanita akan luluh seketika padanya. Hanya saja, Sarah menjadi gugup dengan hal indah di depan matanya ini. Dia berharap tidak terhipnotis lagi seperti tadi.


"Kau,, kau,,, mau apa?! Aku tidak,, tidak punya hutang padamu", wanita itu berseru dengan terbata-bata sambil berusaha mendorong dada Sam sekuat tenaga.


"Ada!", jawab Sam tegas. Tak peduli dorongan yang terasa kecil baginya itu, ia terus mendekatkan wajahnya. Mengunci bibir Sarah sebagai target, lalu mengarahkan bidikannya dengan akurat.


Sarah bertambah gugup saat ini. Tanpa sadar ia memalingkan wajahnya sambil memejamkan mata ngeri. Tapi tak ada gunanya. Sam meraih dagunya lalu dengan cepat menembak satu kecupan singkat pada bibirnya. Mata Sarah terbuka, menatap mata pria itu yang sekarang sedang menyala.


Sam tersenyum, bola mata indah wanita itu akhirnya bisa ia lihat. Tapi kembali, ia memejamkan matanya dan menanamkan kecupan yang lebih lama. Sarah tak berdaya, kecupan kali ini terasa hangat dan memiliki rasa cinta. Matanya pun terpejam dan membalas kecupan prianya itu.


Adegan berlanjut dengan mata Sam yang terbuka sedikit, mengintip reaksi penyerahan Sarah padanya. Kembali,, pria itu tersenyum dalam hati. Ia meraih punggung Sarah yang terbuka, karena memang dress yang wanita itu gunakan sudah sempat mereka permasalahkan tadi siang. Menyentuh kulit mulus nan hangat itu membuat Sam semakin mempererat dekapannya.


Sarah juga sudah mengalungkan kedua tangannya di sekitar bahu dan leher pria itu. Saling membalas rasa cinta mereka adalah hal yang keduanya lakukan saat ini. Bagaimanapun, Sarah sudah sulit menolak ciuman demi ciuman yang Sam berikan padanya. Penuh cinta, itu yang Sarah rasakan sekarang. Dan ia sangat menyukai hal ini.


Hanya saja, kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu tidak menyadari jika sepasang mata mengawasi mereka dengan tatapan kesal.


"Ya Tuhan! Buatlah aku menjadi lebih cepat dewasa, agar bisa mengalami hal indah seperti kakak!", Sandi berdoa dengan suara pelan. Tak ingin mengintip lagi, ia lalu benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


***


Setelah selesai dengan peraduan singkat bibir mereka, Sarah memilih untuk masuk ke kamarnya, mungkin saja malu. Dan Sandi masih belum keluar juga dari kamar mandi itu. Pria itu tidak ingin Sarah lelah menyiapkan makanan untuk dirinya dan Sandi, jadi Sam yang sebenarnya juga sudah kelaparan memiliki ide untuk memesan makanan saja di restoran langganannya.


***


Ketiganya sudah mandi dan berganti. Sarah sudah mengenakan kaos oblong kebesaran yang biasa ia pakai. Sedangkan Sam memakai kaos milik Sandi yang ia pinjam. Sangat nyaman ternyata memiliki saudara lelaki yang tidak kaku seperti kakaknya itu.


"Setelah selesai makan, kita langsung lanjut dengan pertandingan yang telah kita sepakati!", kata Sandi sambil mengunyah makanannya.


"Baiklah!", jawab Sam santai. Meski sebenarnya ia belum tahu pertandingan macam apa yang calon adik iparnya ini inginkan.


"Cih!", Sarah memutar bola matanya malas. Ia acuh tak acuh pada keduanya. Melarang tak bisa, mencegah juga apalagi. Keinginan adiknya sulit ditangani. Jadi ia biarkan saja mereka melakukan hal yang mereka inginkan. Dan dirinya jadi bisa bersantai di dalam kamar.


***


Hari sudah larut saat pertandingan terakhir berlangsung. Ternyata Sandi menantang Sam untuk bermain play station di kamarnya. Sudah tiga kali pertandingan bola itu berlangsung, dan Sandi masih terus saja kalah. Ini pertandingan keempat, tapi meskipun Sandi menang, secara keseluruhan ia tetap saja kalah.


Dengan mata yang sudah sangat mengantuk, Sandi tetap berjuang untuk kemenangannya. Dan di saat gol terakhir yang ia buat, barulah pria itu benar-benar menguap dengan sangat panjang dan lebar. Ia sudah tidak tahan. Kalah ya kalah, mau menang atau kalah, kakaknya tetap akan menikah dengan pria ini, bukan?!


"Baiklah, aku kalah! Aku hanya sedang mengantuk saja, jadi aku tidak serius dalam pertandingan ini. Dan ku biarkan kau untuk menang", sambil menguap ia lemparkan stik permainannya ke sembarang arah.


"Oh! Benarkah?!", Sam menanggapi calon adik iparnya ini dengan sikap acuh dan santai. Ia juga ikut meletakkan stik permainannya lalu menyandarkan diri tepat di sebelah Sandi.

__ADS_1


"Hey, kakak ipar!", sambil menguap lebar Sandi mengucapkan kata itu.


Sam sempat tertegun, panggilan yang biasa ia sebut kepada Ana kini ada juga yang memanggilnya seperti itu. Dan lagi bocah itu tiba-tiba saja berubah, membuat Sam tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia sangat senang Sandi sudah benar-benar mengakuinya sekarang.


"Ya!", jawabnya singkat meski sebenarnya ia sedang menahan senyuman.


"Tolong jaga dan lindungi kakakku dengan baik. Jangan buat traumanya kambuh lagi seperti dulu. Cintai dia sepenuh hatimu, Tuan", ucap Sandi setengah mengantuk tapi ia tetap menjaga kesadarannya.


"Tenang saja, jangan khawatir! Aku akan mencintai kakakmu melebihi hidupku sendiri", jawab Sam seraya menatap lurus ke depan.


"Memangnya apa penyebab munculnya trauma yang kakakmu miliki?", pria itu bertanya tapi tak menoleh ke arah Sandi.


"Kakak begitu terpukul karena meninggalnya ayahku, lalu menjadi lebih besar traumanya karena sempat ditinggal oleh calon suaminya dulu", Sandi masih berusaha untuk tetap sadar.


"Maksudmu, Sarah pernah hampir menikah? Lalu kemana calon suaminya?", Sam menoleh ke arah Sandi dengan tatapan penasaran yang luar biasa.


Ini hal yang belum pernah ia dengar sama sekali mengenai masa lalu yang membuat Sarah enggan untuk memiliki hubungan dengan seorang pria. Masa lalu Sarah ini, Sam ingin sekali mengetahui keseluruhannya. Mengetahui bagaimana ia bisa mengalami semua derita itu.


"Kakak pernah bertunangan dengan Kak Reyhan. Mereka hampir menikah, tapi takdir berkata lain saat Tuhan membiarkan Kak Reyhan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawa Kak Sarah. Lalu keluarga Kak Reyhan menyebutkan jika kakak adalah pembawa sial. Memiliki pengalaman ditinggalkan ayah yang sangat menyayanginya, lalu juga perginya Kak Reyhan, kedua hal itulah yang membuat Kak Sarah selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian dua orang penting dalam hidupnya. Kak Sarah menelan bulat-bulat kata-kata pembawa sial ke dalam hatinya yang paling dalam, hingga itu membuat kakak tidak mau dekat dengan pria manapun lagi", agak sedikit segar Sandi saat mengangkat cerita lama yang hanya diketahui oleh keluarganya saja.


"Lalu?", Sam masih penasaran. Ia mulai menerka-nerka bagaimana sifat defensif yang Sarah miliki itu muncul. Garangnya Sarah adalah sebagai bentuk perlindungannya dari seorang laki-laki. Itulah yang ia alami sejak pertama kali bertemu dengan wanita itu.


"Lalu saat bertemu dengan Tuan, kakak akhirnya bisa membuka hatinya. Tapi terjadi kasus penyerangan itu, hal yang membuat kakak kembali mengingat trauma yang ia miliki. Kakak merasa lelaki yang dekat dengannya akan memiliki takdir yang sial. Jadi kakak berusaha menjauhi Tuan. Dan yang lebih parahnya adalah saat wanita bernama Megan Aira itu mengatakan hal yang paling tidak boleh kakak dengar, pembawa sial. Kakak kembali terpuruk. Selama waktu kalian tidak bertemu, selama itu pula kakak menjalani terapi untuk penyembuhan traumanya. Kakak hampir seperti mayat hidup sebelumnya. Aku benar-benar tidak tega melihat kakak seperti itu", Sandi mendesah lali menunduk menatap sendu ke sembarang arah.


Semua pengorbanan kakaknya itu untuk keluarganya, dan juga pengalaman buruk yang kakaknya miliki itu membuat Sandi selalu berusaha menjaga dan menyayangi kakaknya itu.


Sam benar-benar dibuat menjadi patung saat mendengarkan cerita Sandi. Ia menyandarkan kepalanya dengan segudang kesedihan yang ia miliki secara mendadak ini. Sebanyak itu kesakitan yang Sarah miliki sebelumnya, bahkan Sam tak bisa membayangkan hal itu bisa terjadi. Jadi wajar saja jika sebelumnya Sarah bersikeras menolak dirinya. Sakit yang ia rasakan tidak seberapa dengan yang wanita itu rasakan. Dengan mengetahui kenyataan ini makin membuat Sam mencintai wanita itu. Sarah, ia tidak akan menyia-nyiakan wanita itu.


"Ah ya, aku ingat!", ucapnya setelah menguap lagi. Kali ini matanya sudah memerah dan berair, sepertinya Sandi sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya. Dan Sam sudah menoleh lagi ke arahnya.


"Tadi Kak Krystal bilang jika kau harus berhati-hati dengan Mega Aira. Katanya ia bisa menghalalkan segala cara untuk menghancurkan pernikahan kalian. Karena dengan hal ini wanita itu pun sudah hancur. Jadi Kak Krystal berpikir jika Megan itu tidak akan mau hancur sendirian", dan akhirnya Sandi terlelap dengan posisi duduknya. Kepalanya lunglai terjatuh ke bawah.


"Wanita itu tidak akan aku biarkan menyentuh kakakmu seujung kuku pun", Sam menatap lurus dengan pandangan tajam walaupun calon adik iparnya itu sudah tidak mendengarnya lagi.


Setelah memindahkan Sandi ke tempat tidur berukuran kecil itu, Sam memilih untuk beranjak dari sana. Jam dinding ruang depan sudah menunjukkan bahwa saat ini sudah tengah malam. Ia berpikir ada baiknya jika dirinya menginap saja malam ini. Sam membuka pintu kamar Sarah yang terdengar sunyi. Benar saja, wanita itu sepertinya sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Sam tersenyum, ia merasa benar-benar seperti seorang suami yang terjaga malam ini.


Sam mengunci pintu, lalu mematikan lampu ruang depan. Kemudian ia berjalan menuju kamar yang tadi ia buka. Pria itu duduk di pinggir ranjang milik Sarah. Memandang dan mengelus pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang. Pengetahuan yang baru saja didapatkan mengenai masa lalunya, membuat Sam makin dan makin mencintai wanita ini.


Lelaki itu mengangsur tubuh Sarah lalu menempatkan dirinya di samping tubuh wanita itu. Sam mengangkat kepala Sarah agar bisa menjadikan tangan Sam sebagai bantalnya, lalu mempermudah dirinya untuk mendekap tubuh wanita itu.


"Apapun yang terjadi nanti, kuharap kau akan selalu berada di sampingku, Sarah. Aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu!", Sam mengecup puncak kepala Sarah lalu ikut memejamkan matanya masuk ke dalam alam mimpinya juga.


-


-

__ADS_1


***Episode ini aku bikin 2400 kata lebih,,, semoga kalian puas bacanya


kasih like jangan lupa ya teman-teman 😘***


__ADS_2