
Sebuah ruangan yang cukup besar sudah dipersiapkan dengan baik oleh pihak hotel demi berjalannya konferensi pers mengenai peluncuran film terbaru yang bertajuk Black Romance itu. Poster yang menggambarkan cover dari film tersebut pun dipasang di berbagai sisi. Terdapat foto Krystal dan Louis dalam salah satu adegan dimana keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit terbaca. Ya, karena memang keduanya adalah pemeran utaman di dalam film tersebut. Jangan lupakan juga berbagai logo sponsor yang juga terbentang di bagian bawah poster-poster itu.
Karpet merah terbentag di lobby hotel sampai menuju aula yang letaknya memang tak jauh dari sana. Poster besar film mereka terbentang panjang di lobby hotel itu. Dan di hadapan poster itu, tentu saja para awak media sudah siap menunggu para artis dan juga tim yang mendukung berhasil digarapnya film yang digadang-gadang akan meledak ini.
Lampu sorot yang begitu terang dari berbagai sudut, kerlap-kerlip lampu kamera yang menyala menandakan bahwa mereka semua sudah dalam kondisi sangat siap untuk menyambut para tokoh itu.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap berhenti pertama kali di depan lobby yang sudah disulap itu. Dan yang keluar ternyata adalah, Sutradara Peter. Salah satu tokoh dalam industri perfilman yang namanya sudah tidak diragukan lagi dalam segi kualitasnya dalam menggarap sebuah film. Semua film yang dia kerjakan pasti akan meledak dipasaran.
Pria paruh baya yang masih terlihat gagah meski sudah terlihat tambun perutnya itu turun dari mobilnya. Wajahnya masih meninggalkan jejak ketampanan di usianya yang sekarang ini. Ketika pintu mobil dibuka, suaranya langsung dikalahkan oleh suara puluhan kamera yang segera membidik gambar dari Sutradara Peter itu. Lelaki dewasa itu berjalan di atas karpet merah itu sambil sesekali melambaikan tangannya ke arah kamera yang begitu banyak itu.
Tak lama setelah Sutradara Peter masuk, lalu menyusul Penulis naskah Lisa di belakangnya. Lampu kamera lalu juga menyoroti wanita yang terlihat anggun meski usianya sudah di atas kepala tiga itu. Menyusul kemudian pemeran pendukung pria dan juga pemeran pendukung wanita di belakangnya. Para awak media seperti ikan koi yang baru saja dilempari makanan. Langsung menyergap gambar dari berbagai sisi, untuk mengambil hasil yang terbaik dari posisi mereka berada.
Dan,, yang paling ditunggu-tunggu adalah pemeran utama dari film ini. Berita mengenai jalinan kasih antara kedua pemeran utama dalam film ini sudah tersebar ke seluruh penjuru negeri. Chemistry yang mereka miliki dipuji oleh banyak orang. Sehingga chemistry mereka di dalam film ini pun menjadi dinanti-nanti. Apakah akan sama dengan di dunia nyata?!
Sayangnya, tidak ada yang tahu bagaimana hubungan yang menjadi banyak pusat perhatian itu tengah retak saat ini. Tak ada satu awak media pun yang dapat mengendus kabar buruk itu. Jadi saat ini mereka mengira jika sepasang kekasih itu akan hadir bersama. Mereka sangat menantikan pasangan yang secara visual terlihat sempurna itu, dimana yang satu merupakan aktris nomor satu di negeri ini, dan prianya merupakan aktor ternama. Dan lagi yang satu cantik, dan yang satunya tampan. Membuat banyak muda-mudi di luar sana begitu iri kepada mereka berdua.
Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di paling ujung karpet merah itu. Sepasang kaki jenjang mulai turun dan menapakkan kakinya di lantai. Krystal Winata, wanita itu langsung berdiri tegak sambil mengumbar senyumnya yang mampu melelehkan hati setiap pria. Wanita itu mengenakan gaun tanpa lengan berwarna putih susu. Di bagian atas gaun itu membentuk lekuk tubuhnya sampai ke bagian pinggang yang terlihat begitu sempurna. Di bagian bawahnya terdapat belahan sampai setengah pahanya. Karena bahannya mudah jatuh, jadi gaun yang ia kenakan menjadi tidak terlalu terbuka, namun menghasilkan kesan yang anggun dan sedikit seksi. Rambut panjangnya ia biarkan jatuh dengan sedikit keriting gelombang di bagian bawahnya. Rambutnya ia biarkan jatuh di salah satu bahunya, menjadi nilai kepolosan dari penampilannya saat ini. Semuanya, penampilan Krystal dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya menjadi sorotan media.
Tak berbeda jauh dengan yang orang lain lakukan. Sambil berjalan di atas bentangan karpet merah itu, Krystal juga terus melambaikan tangannya ke arah awak media. Senyumnya yang sudah ia latih sejak tadi, terkembang sempurna saat ini.
Benar memang jika dirinya sudah berada di hotel itu sebelumnya untuk merias diri. Namun, Krystal memang ingin membuat seolah dirinya berangkat dari suatu tempat. Lalu turun dari mobil dan berjalan di karpet merah. Meskipun terdengar kekanak-kanakkan, tapi memang yang diinginkannya. Ia hanya sedang ingin terlihat keren saja! Manajer Felix menuruti saja permintaan artisnya itu, dari pada moodnya kembali rusak.
***
Ada satu panggung di tengah aula yang di atasnya sudah berbaris beberapa kursi yang diperuntukan untuk para pendukung film tersebut. Di belakangnya terdapat layar besar yang nanti akan dipergunakan untuk memperlihatkan sedikit cuplikan dari flm yang akan segera tayang itu. Sedangkan lebih banyak kursi lagi di hadapannya untuk para awak media.
Orang-orang dengan ponsel dan buku catatan itu sudah menduduki tempat yang sudah disediakan. Semua tempat sudah terisi penuh. Lalu di belakang, ada rekan mereka yang sudah membariskan kamera mereka untuk mengambil gambar ketika konferensi nanti berlangsung. Para pendukung film tersebut juga sudah menduduki kursi mereka masing-masing. Namun masih ada satu kursi yang kosong, kursi itu berada tepat di sebelah Krystal.
"Kenapa dia harus duduk di sini, sih!", gumamnya pelan sambil melirik ke arah kursi yang sudad ditempeli nama kekasihnya itu. Nanti, Louis akan duduk di sampingnya. Dan hal itu membuat hatinya merasa sedikit tidak nyaman. Ia kembali mengingat perasaannya yang kalut untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Krystal, kemana Louis sebenarnya? Biasanya dia tidak pernah telat begini! Kau itu kan kekasihnya, pasti kau tahu kan kemana orang itu saat ini!", tegur Sutradara Peter ketika sudah lima meniti berlalu dari waktu yang sudah ditetapkan.
Ditembak dengan pertanyaan seperti ini membuatnya kaku untuk sepersekian detik. Tentu saja dia tidak tahu. Bahkan mereka sudah satu minggu ini saling tidak memberi kabar. Krystal memanfaatkan kemampuan aktingnya untuk menutupi kebohongannya ini. Jangan lupakan predikat aktris nomor satu yang disandingnya saat ini.
"Louis sedang ada urusan dengan keluarganya. Sebentar lagi juga akan datang. Sepertinya Tuan Peter sudah tidak sabar sekali untuk memulai konferensi pers ini?!", jawab Krystal sambil tergugu berusaha seramah mungkin.
Yang jelas, ia tidak tahu apa yang dikatakannya ini benar atau tidak. Ia hanya berharap, orang itu akan memiliki jawaban yang sama ketika orang-orang mulai menanyainya nanti.
Ruangan itu tiba-tiba riuh karena kedatangan seseorang yang memang sudah mereka tunggu sejak tadi. Ini hanya telat lima menit dari waktu yang ditetapkan, tapi memang ini sungguh bukan kepribadian Louis yang biasanya. Hampir semua orang mengetahui etos kerja pria itu. Louis tidak pernah terlambat, terkecuali memang ada sesuatu hal yang mendesak.
Suara jepretan kamera juga riuh suara para awak media menyertai langkah lelaki yang terlihat sangat menawan itu. Langkahnya yang panjang, tubuh tegapnya, pria itu makin terlihat jumawa dengan setelan yang ia kenakan saat ini.
Mata Krystal tidak dapat berpaling dari kilaunya pesona pria itu. Namun itu hanya sesaat, ketika rasa sakit mengetuk hatinya kembali. Demi berjalannya acara ini, Krystal berdiri sambil melengkungkan senyumnya yang begitu indah. Tapi matanya tetap saja tidak dapat berbohong. Sorot matanya itu seperti sedang tenggelam dalam lautan lara yang belum juga disirami hujan saat ini. Masih terasa begitu menyakitkan dan perih.
"Kenapa pakaiannya seperti itu, sih?! Kami jadi kelihatan serasi, kan, kalau begini!", gumam Krystal pelan. Meskipun ia kesal, tentu saja ia tidak bisa terang-terangan saat ini. Padahal dia sudah berharap jika penampilannya malam ini tidak serasi sama sekali dengan lelaki itu. Ia sedang tidak ingin terus-terusan disandingkan dengan lelaki itu sekarang.
Pemandangan itu, tentu saja Louis dapat menangkapnya. Ia tahu jika senyuman indah itu hanyalah sebuah kepalsuan. Pelan, ia mendengus tak berdaya. Ini memang salahnya. Krystal, seandainya dia tahu jika saat ini Louis begitu merindukannya. Rasanya bahkan, saat ini ia ingin berlutut untuk mendapatkan permohonan maaf dari wanita itu.
***
Setelah satu jam, konferensi pers itu pun akhirnya sampai dipenghujung acara. Kini giliran semua orang untuk berfoto bersama. Tentu saja yang paling dinantikan adalah foto bersama dari para pemeran utama, yaitu Krystal dan Louis.
"Kuberi kau waktu lima detik! Jika kau masih tidak melepaskan tanganmu, maka aku akan menginjak kakimu dengan keras!", bisik Krystal sangat pelan sambil menggeser tubuhnya sedikit ke arah Louis. Ia sangat kesal, karena dengan lancangnya pria itu melingkarkan tangannya di pinggangnya. Bahkan sengaja menggeser tubuh Krystal sehingga lebih merapat lagi dengannya.
"Injak saja! Maka aku akan berteriak dengan kencang! Mungkin kau memang lebih suka jika masalah kita terekspos ke luar!", balas Louis dengan berbisik juga. Mereka berdua tentu saja masih memamerkan senyum palsu mereka kepada media. Suara jepretan kamera begitu ramai terdengar menyambangi telinga semua orang di sana.
"Dasar licik!", Krystal menggeram menahan emosinya.
Pria itu mendengus dengan senyum kemenangan yang ia samarkan. Tak sia-sia usahanya menahan diri selama seminggu ini. Akhirnya ia bisa merangkul kekasihnya lagi, akhirnya ia bisa menghirup aroma wangi khas dari kekasihnya ini. Meskipun ironinya adalah saat ini kekasihnya itu pasti sedang membenci dirinya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Sayang!", bisik Louis di belakang kepala wanita itu. Ia menyampaikan perasaan yang selama ini tertahan di dalam hatinya.
"Omong kosong!", Krystal menolehkan kepalanya ke samping. Tak ragu ia menatap pria itu dalam kebencian. Namun itu hanya sesaat karena ia harus memasang senyum palsunya lagi. Di sampingnya, lelaki itu hanya bisa mendesah tak berdaya dalam hati
***
Acara itu sudah selesai. Seluruh awak media juga mulai bubar satu persatu. Krystal memegangi wajahnya yang terasa kaku karena sejak tadi memaksakan senyumannya. Mendadak tangannya ditarik oleh seseorang sehingga tubuhnya berbalik ke belakang.
"Bisakah kita bicara?", tanya Louis dengan lembutnya.
"Lepaskan!", Krystal enggan menanggapi pria itu. Ia hanya ingin tangannya dilepaskan saja. Lalu dia bisa pergi meninggalkan orang itu.
"Bukankah terlalu terlambat untuk bicara sekarang?! Lepaskan! Aku sungguh muak bertemu denganmu lagi! Dasar pengecut!", seru Krystal tak menahan emosinya lagi, namun ia masih berusaha menjaga intonasi suaranya.
"Biarkan artisku beristirahat! Kalian bisa menyelesaikan masalah kalian besok! Di sini masih ada banyak orang! Jangan membuat kalian menjadi pusat perhatian!", Krystal merasa lega ketika Manajer Felix datang mendekat. Ia merasa tertolong kali ini. Karena setelah itu Louis benar-benar melepaskan cekakan tangannya yang begitu erat itu.
"Ayo, Krystal!", ajak Manajer Felix tanpa mempedulikan keberadaan Louis di hadapannya. Ia lalu memberikan jas yang ia pakai untuk menutupi tubuh Krystal yang agak terbuka itu.
Melihat punggung kedua orang itu menjauh, Louis nampak kebingungan. Ia menggaruk kepalanya dengan keras.
"Sebenarnya apa yang orang itu lakukan?! Dan apa yang Ana katakan padanya?! Apa jangan-jangan orang itu tidak mau mengikuti ucapan Ana?!", gumam Louis agak kesal seraya menerka-nerka.
Sudah pusing, ia juga merasa sangat frustasi. Lelaki mana yang tidak kesal jika wanitanya mendapatkan perhatian dari laki-laki lain, meskipun itu adalah atasannya sendiri. Louis merasa manajer kekasihnya itu seperti sedang memprovokasinya. Dengan begini, ia jadi takut rencananya ini tidak akan berjalan dengan baik.
-
selamat membaca ya semuanya 😘
keep strong and healthy ya 🥰
__ADS_1
aku mau lanjut nulis babang Ben dulu,, okeh 😉