Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 177


__ADS_3

"Kakak ipar!", Sam merajuk manja sambil memegangi telunjuk Ana yang terasa bagai pisau baginya. Sam merasa seperti ditodong dengan sebilah pisau kecil saat melihat kemarahan di mata Ana.


Ya, hukuman. Sam sempat melupakan hal itu. Ia telah menyakiti hati Sarah. Dan Ana selaku sahabat yang sangat protektif tentu akan membuat perhitungan dengannya. Belum lagi tabiat Ana ketika marah, Sam sudah merasa nyawanya berada di ujung tenggorokan. Padahal Ana baru hanya mengacungkan telunjuknya. Dia tau sendiri bagaimana singa betina jika sudah marah. Bisa hancur dunianya, apalagi kakaknya itu tidak akan mau membelanya sama sekali jika sudah seperti ini. Lagipula siapa yang berani melawan singa betina yang satu ini.


"Wah Ana, kau ini benar-benar sama dengan Bundamu, ya. Sama,,, galaknya! Heee", celetukan Tuan Dion lantas membuat semua orang mengembangkan senyumnya. Kecuali Ana yang kemudian melipat telunjuknya ke dalam lalu menolehkan wajahnya ke depan dengan rona merah di wajahnya. Ana jelas malu saat ini, sifat aslinya sedang dibahas oleh ayah mertuanya.


"Ayah! Jangan begitu! Kita para wanita memang harus seperti ini untuk mendidik kalian,,, para lelaki!", begitu mendengar ucapan Nyonya Rima, Ana segera menoleh sambil mengulas senyum penuh kemenangan.


"Bunda yang terbaik!", kini Ana mengacungkan dua ibu jarinya untuk Nyonya Rima.


Ketiga pria Wiratmadja saling melirik satu sama lain. Ini memanglah suatu keajaiban dunia. Dulu, Ana dan Nyonya Rima mengawali hubungan mereka dengan sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Tapi coba lihat sekarang, mereka malahan jadi paling kompak di antara keluarga Wiratmadja yang lainnya. Bagi ketiga pria itu tak masalah, karena yang utama bagi mereka adalah keharmonisan keluarga. Ketiganya mengembangkan senyumnya sambil melihat ke arah yang berbeda.


Setelah merasa senang untuk sesaat, Ana kembali mengingat tentang hukuman yang belum dia berikan kepada Sam, adik iparnya. Otaknya bekerja, menimbang-nimbang hukuman apa yang bagus untuk memberi pelajaran kepada pria itu.


"Sam!", Ana menoleh seraya memanggil adik iparnya.


"Ya!", Sam pun refleks menjawab.


"Aku belum memberimu hukuman! Kau harus ingat itu!", ucap Ana dengan nada tegas tak terbantahkan.


glek


Sam kesulitan menelan salivanya. Iya,, dia sangat tau hukumannya kali ini pastinya akan sangat sulit untuk ia terima. Tapi tak apa, ia harus menerima konsekuensi ini. Karena secara tidak langsung memang ia telah menyakiti hati sahabat kakak iparnya itu. Dan,,, dengan ini juga Sam berharap supaya semua orang mengerti dengan keseriusannya saat ini terhadap wanita yang telah dia pilih.

__ADS_1


"Iya, aku siap menerima hukuman darimu kakak ipar! Asalkan kau mau membantuku memperbaiki hubunganku dengan Sarah!", Sam melebarkan senyumnya. Berharap idenya kali ini akan disetujui oleh kakak iparnya.


"Jangan harap! Urus saja wanita-wanita genitmu itu dulu!", jawab Ana dengan begitu ketusnya.


"Kakak ipar pelit!", sahut Sam tak terima dengan jawaban Ana yang tak mendukung dirinya.


Selama perjalanan, obrolan ringan beserta canda tawa tak henti mengiringi perjalanan mereka. Tuan Dion memperhatikan Ana, ia menatap menantunya itu dalam-dalam. Dirinya merasa begitu bersyukur bahwa Ana masuk ke dalam keluarganya. Dulu, tak ada kehangatan semacam ini di dalam keluarga mereka. Dulu, mereka semua selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Dulu, saat bertemu pun tetap kepentingan mereka masing-masing yang diutamakan. Dulu, putra sulungnya hampir tak pernah mengumbar senyumnya.


Sambil menatap keluar jalanan, ia berterima kasih dalam hati pada mendiang Tuan Danu yang telah mempercayakan Ana kepada keluarga mereka. Kini Ana sudah menjadi sesuatu yang berharga bagi hidupnya dan juga keluarganya.


***


"Sayang!", Ken memanggil nama istrinya yang kini tengah berada di pelukannya.


Malam ini Ken bekerja keras untuk mengisi benih-benihnya di perut Ana. Pergulatan panas pun terjadi setelah sesi makan malam selesai. Rasanya masih saja lapar setelah menunaikan makan malam itu. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk melahap istrinya lagi hingga kenyang. Menyatukan cinta mereka bersama peluh yang bercucuran di sekujur badan.


"Kapan kau akan memberitahu Sam tentang keberadaan Sarah?", tanya Ken hati-hati sambil memainkan ujung rambut Ana dengan jarinya.


"Nanti, ini belum saatnya! Ini adalah hukuman dariku untuknya karena telah berani menyakiti Sarah!", Ana tiba-tiba membuka matanya menatap tajam ke arah Ken seakan ucapannya tak ingin dibantah oleh siapapun kali ini.


"Baiklah, aku mengerti!", untuk masalah ini Ken belum ingin ikut campur. Paling-paling ketika Ana meminta bantuannya, maka Ken akan dengan sigap membantu apa pun yang istrinya butuhkan. Selain itu juga karena Ken telah berjanji akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Ana. Tapi mengenai Sam yang juga merupakan adiknya, biarlah saat ini dia menikmati hukuman ini. Nanti setelah Ken rasa cukup, ia pasti akan bertindak untuk membantunya. Karena bagaimanapun juga Sam tetaplah adiknya. Ken juga ingin Sam bahagia. Tapi ia juga tak bisa melawan istrinya terang-terangan. Bisa-bisa tak ada jatah lembur malam. Huh


"Ayo kita tidur!", Ken mempererat pelukannya pada Ana. Sebelum terjebak dalam mimpi, ia sempatkan memberi kecupan paling dalam di atas kening istrinya itu.

__ADS_1


"Iya!", Ana tersenyum seraya memejamkan matanya. Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya sambil mencari kenyamanan di dalam pelukan suaminya itu.


Ya, ini sudah satu bulan berlalu setelah hari itu. Setelah Sam terakhir kali melihat Sarah di rumah sakit. Dan sejak hari itu, Sam tak pernah melihat Sarah barang sedetikpun. Usaha apa lagi yang belum dia kerjakan. Semuanya, segala cara telah ia kerahkan untuk mencari Sarah di seluruh kota. Tapi Sam tetap tak menemukannya. Bahkan di rumah lamanya pun tak ada. Tetangga mereka mengatakan bahwa Sarah beserta keluarga telah pindah ke luar kota. Tapi Sam tak ingin percaya begitu saja seperti terakhir kali. Hatinya mengatakan bahwa Sarah masih ada di sini, di kota ini. Tapi dimana, Sam sungguh sudah frustasi kali ini.


Ana sebagai sahabat sekaligus kakak iparnya mengaku tidak tau menahu akan hal ini. Tentu saja, itu Ana lakukan atas permintaan langsung dari sahabatnya. Ia tak akan membiarkan sahabatnya terluka lagi. Maka dari itu, biarlah dulu keduanya menenangkan diri dulu. Dan untuk Sam, Ana berharap dengan ini, dengan hilangnya Sarah dari pandangan matanya, ia berharap adik iparnya itu berubah dan mengurusi wanita-wanita yang biasanya selalu ada di sekitarnya. Apalagi sampai saat ini Ana belum sempat membuat perhitungan dengan si wanita genit yang tempo hari datang sehingga membuat Sarah terpuruk. Megan Aira, dia belum mendapat gilirannya.


-


-


-


-


-


-


maaf ya kalo crazy upnya jadi terlambat,,aku nya ketiduran 🤭🤭😁😁


tapi aku tetep bakalan nepatin janji aku buat crazy up ...okeh


jangan lupa like sama vote kalian yah 😘

__ADS_1


__ADS_2