
Sudah waktunya bagi kedua wanita itu untuk memulai langkah mereka di atas karpet merah yang telah digelar panjang. Maka tak sempat berkomentar pula Krystal dan Risa d belakang mereka. Baik Krystal maupun Risa saling melemparkan pandangan, tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Lalu berjalan mengekori kedua ratu mereka malam ini.
Krystal juga Risa jelas tau pasti apa yang dirasakan Sarah saat ini. Wanita itu pasti luar biasa gugup menghadapi perayaan yang menurut dirinya itu sangat luar biasa. Dia pernah memimpikan hal ini di dalam hidupnya. Tapi dia tidak cukup gila untuk mendambakan memiliki pernikahan yang sempurna dan luar biasa megah seperti ini. Sarah sadar betul siapa dirinya. Bisa menikah dengan pria yang dicintainya saja sudah cukup bagi wanita biasa itu.
Jangan juga berprasangka jika Ana, si ibu hamil itu tidak gugup. Tentu saja ia gugup. Bagaimana pun juga ia dan Ken belum pernah melakukan resepsi secara besar-besaran seperti ini. Apalagi ibu mertuanya sangat ingin ia dan Sarah benar-benar merasakan menjadi seorang ratu malam ini. Ana merasa impian masa kecilnya menjadi nyata. Dimana ia memimpikan menikahi seorang raja. Ya, raja singa! Haha
Maka dari itu, ia menggoda Sarah untuk mengusir rasa gugupnya. Dan hal itu juga diketahui oleh Krystal dan Risa. Maka itulah, kedua pengiring itu menggelengkan kepala bersama melihat tingkah jahil si ibu hamil.
Sama seperti saat kedua raja hadir, kini saat para ratu mulai berjalan pelan dengan anggun dan elegan, para kerabat mulai menaburi mereka dengan hamburan kelopak bunga yang akhirnya meenutupi hampir seluruh karpet merah itu. Gaun putih yang Ana dan Sarah gunakan juga pada akhirnya menyapu mereka dan membuat kelopak-kelopak bunga itu kembali terbang rendah.
Ana dan Sarah, setelah mereka saling melempar pandangan seraya tersenyum, keduanya memejamkan mata mereka sesaat. Menikmati setiap momen yang luar biasa indah ini.
Dimana bisa mereka lihat dari mata para gadis dan juga wanita lainnya. Selain kekaguman saat menatap ke arah mereka, ada juga sedikit rasa iri, ingin mereka memiliki pernikahan indah yang seperti ini juga. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memiliki kenangan indah dalam momen pernikahan mereka seperti apa yang Ana dan Sarah miliki ini.
Sungguh betapa bersyukurnya mereka saat ini. Memiliki hari pernikahan yang indah. Lalu ada suami yang luar biasa menanti mereka di ujung sana.
Di lain sisi itu, para raja kembali menuruni tangga. Keduanya bersiap menyambut pasangan mereka masing-masing di ujung karpet merah itu.
Hanya sekitar dua meter lagi jarak antara para raja dengan ratu mereka. Lalu kedua pria itu pun membungkukkan tubuh mereka. Melipat satu tangan di belakang, dan mengulurkan satu tangan lagi ke depan.
Dan satu persatu, tangan mereka sudah disambut oleh tangan para ratu yang berbalut sarung tangan putih sampai lengan mereka. Para raja itu sudah menggandeng ratu mereka masing-masing. Saling melempar pandangan dengan senyum yang menghangatkan.
__ADS_1
Lalu para pengiring juga kembali kepada pasangan mereka masing-masing. Mereka turut senang dan bahagia. Bisa bergabung dalam perhelatan akbar seperti ini, sangat luar biasa bagi mereka semua.
***
Kini sesi pelemparan bunga pun dimulai. Masih ingat saat pernikahan Ana dulu, Benny Callary, pria itu yang mendapatkan buket bunga itu. Dan pria itu sempat tertegun sejenak sebelum menyadari dengan benda apa yang sebenarnya saat itu ada di tangannya.
Sekilas kenangan itu muncul dalam benak Ana. Kenangan tentang wajah kakak tersayangnya yang begitu terkejut, padahal awalnya lelaki itu tidak peduli untuk mendapatkannya atau tidak.
Sambil mengedarkan pandangannya, sebenarnya ia berharap dalam hati, jika kakak tersayangnya itu bisa datang hari ini. Meskipun pria itu sudah menghadiri pernikahannya yang saat itu. Tapi di perayaan yang besar ini, Ana masih berharap satu keluarganya itu hadir dan memberinya ucapan selamat.
Semua orang menghitung mundur dari tiga ke saat. Para lajang, baik yang pria maupun yang wanita terlihat antusias mengulurkan tangannya ke atas berlomba-lomba untuk mendapatkan buket bunga yang jumlahnya ada dua itu.
Ana dan Sarah pun tak ingin kalah kompaknya dengan mereka semua. Ana, setelah menyingkirkan pikirannya tentang kakaknya itu, ia membuat isyarat dengan Sarah agar mereka melemparkan bunga mereka secara bersamaan.
Lalu sambil membelakangi para hadirin yang kelihatannya sudah sangat bersiap, Ana dan Sarah melemparkan bunga yang mereka punya ke belakang.
Kedua bunga itu melambung tinggi tak tentu tujuan. Semua orang hanya bisa menaruh harapan mereka pada ujung-ujung jari mereka yang direntangkan ke atas. Sangat berharap bunga itu akan mendarat di tangannya.
Dan ya, akhirnya kedua bunga itu jatuh pada dua orang wanita. Yang satu seorang wanita paruh baya. Dan yang satunya lagi seorang wanita muda belia. Mereka masih kerabat dari keluarga mempelai.
"Hey ada apa dengan mata kalian?!", seru wanita pruh baya yang mendapatkan bunga itu pada semua orang yang sibuk memperhatikan dirinya. Lalu wanita itu acuh berjalan ke arah seseorang.
__ADS_1
Bukannya bermaksud ingin menikah lagi, wanita paruh baya itu mengikuti acara pelemparan bunga. Tapi,, ia ingin mendapatkan bunga itu untuk ia serahkan kepada putrinya yang sudah berumur namun belum menikah juga.
Mendengar hal itu, semua orang pun tertawa. Mereka telah salah paham rupanya. Ternyata itu adalah seorang ibu yang baik hati dan begitu menyayangi putrinya.
Jangan tanya kemana perginya para pengiring itu. Dua pasangan itu memilih untuk menyingkir. Lawan mereka kali ini terlalu banyak dan pasti akan sangat merepotkan untuk berebut di kerumunan yang lumayan besar itu.
Lagipula, takdir telah ditentukan sendiri. Acara pelemparan bunga itu hanyalah bentuk penyemangat bagi seseorang yang belum menikah untuk menemukan jodohnya dengan segera.
***
"Apakah kau lelah?", tanya Ken memperhatikan istrinya yang tengah hamil muda itu mulai memijit sedikit kakinya.
"Sedikit! Ini wajar, Ken! Bahkan Sarah saja sudah mengeluh sejak tadi pada Sam!", Ana mengurai senyumnya sambil menunjukkan arah matanya kepada Sarah yang memang saat ini terlihat sedang mengeluh pada adik iparnya itu.
Ana tau kekhawatiran Ken saat ini. Pasti suaminya itu memikirkan kondisi dirinya yang sedang mengandung ini. Tapi Ana tak ingin menyerah begitu saja. Ini adalah acara yang diadakan seumur hidup sekali di dalam hidupnya. Ia tak ingin mengecewakan banyak pihak jika dirinya memilih untuk cengeng dan menyerah.
Sambil menguatkan dirinya, Ana juga membisikkan sesuatu dalam hati pada calon bayinya. Agar anaknya itu ikut membantunya memberi semangat. Agar dirinya bisa kuat melewati acara ini sampai akhir. Sambil terus tersenyum pada semua orang yang rela mengikuti antrian panjang, demi mengucapkan sepatah dua patah kata kepada mereka.
Yang bahagia atas pernikahan mereka bukan hanya diri mereka seorang. Tapi banyak orang yang turut berbahagia karenanya. Meski tak ada hubungan darah pun, mereka senang. Karena berharap doa yang mereka sampaikan pada para mempelai dapat berbalik kepada diri mereka sendiri.
Ana mengerti jika dalam acara pernikahan ini bukan hanya tentang mereka yang menjadi raja dan ratu dalam semalam. Tapi juga tentang para undangan dan tamu kehormatan yang tidak boleh dikecewakan. Juga tentang banyaknya harapan dan doa yang ingin disampaikan secara langsung kepada mereka para pengantin malam ini.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Ken!", Ana memegang lengan suaminya saat kekhawatiran itu tak kunjung hilang. Tersenyum begitu damai hingga suaminya itu bisa menghempaskan beban di hatinya.
"Tunggu sebentar!", pria itu tiba-tiba melesat bagaikan raja singa yang sudah mengunci target mangsanya.