Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 84


__ADS_3

Ken menatap Ana dengan tatapan tajam seraya melepas pelukannya. Membuat Ana menjadi takut-takut untuk menatapnya.


"Ken!", ucap Ana dengan suara lemah seraya menundukkan kepalanya. Ia merasa tindakan Ken itu sangat berlebihan. Namun ia juga tau jika ia membantah apa yang Ken lakukan, maka akibatnya akan menjadi seperti sebelumnya. Mereka bertengkar hingga Ana menangis tak henti.


Ken mengulum bibirnya dengan keras. Ia berusaha menahan tawanya. Lagi-lagi Ken selalu mempunyai cara untuk menjahili Ana. Ia meraih dagu Ana dengan dua jarinya, mendongakkan kepalanya hingga mereka saling bersitatap.


"Tak ada yang terlalu berlebihan untukmu, sayang!", ucap Ken begitu lembut.


"Tapi Ken,,,,,".


"ssstthh", Ken menempatkan telunjuknya pada bibir Ana agar wanita itu berhenti bicara.


"Aku tak ingin mendengar apa pun lagi. Aku berjanji tak akan melukai mereka", Ken menatap Ana dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Janji yang ia sebutkan adalah janji yang bisa Ana pegang. Terakhir kali mereka bertengkar membuat Ken mengerti bagaimana jalan pikiran Ana. Namun ia tak dapat menoleransi sepenuhnya apa yang telah dilakukan oleh keluarga pamannya itu.


"Tapi,, Jika mereka melukaimu terlebih dulu, maka aku tak dapat menjanjikan apa pun, Ana!", Ken membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan dengan tatapan yang begitu tajam dan raut wajah yang kejam.


Ana mengerti maksud ucapan Ken. Ia paham bagaimana perasaan Ken saat ini. Maka yang bisa ia lakukan hanya meredam amarah yang membuncah pada diri prianya ini. Ana beringsut langsung memeluk tubuh Ken.


"Terima kasih", ucap Ana begitu tulus seraya menyandarkan kepalanya pada sebelah bahu Ken.


Ken menipiskan bibirnya sambil menatap Ana, ia tersenyum walau tatapannya masih sangat tajam. Ia sudah berucap dalam hatinya bahwa siapa pun yang menyakiti wanitanya ini akan menerima balasan yang lebih dari ia bayangkan.


***


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah Ana. Han keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Ken dan juga Ana. Setelah keluar mobil, Ken dengan santainya berjalan mendahului mereka ke arah dalam rumah.


"Ayo masuk! Buatkan aku kopi ya!", ajaknya pada Ana yang masih terdiam di sisi mobil. Lantas Ana melempar pandangannya kepada Han seolah bertanya ada apa, namun Han hanya mengedikkan kedua bahunya isyarat bahwa ia tak mengetahui apa pun.


"Tuanmu terlihat sudah seperti seorang suami", ucap Ana pelan pada Han.


"Maaf Nona!", ucap Han sopan.


"Kenapa kau harus minta maaf?! Tak ada yang bersalah di sini. Aku hanya berbicara saja", ucap Ana sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian ia melangkah menyusul Ken ke dalam rumah.


"Haish, salah bicara aku rupanya!", batin Ana seraya menepuk dahinya.

__ADS_1


***


Hari menjelang petang, mereka sudah mandi dan berpakaian santai. Ken sudah mempersiapkan pakaiannya di rumah tadi untuk ia bawa ke sini.


"Silahkan Tuan diminum kopinya!", ucap Ana dengan suara yang dibuat-buat seolah ia adalah salah satu pelayan di rumahnya.


Ia sedang sibuk dengan benda pipih di tangannya, ia sedang mengecek beberapa laporan dari anak perusahaan yang lainnya. Ia begitu serius sehingga tak memperhatikan siapa gerangan yang mengantarkan kopi untuknya.


"Emmh!", sahut Ken begitu saja tanpa menoleh ke asal suara.


"Kau bisa pergi sekarang", ucapnya lagi saat merasa masih ada kehadiran hawa manusia di samping tubuhnya.


Ana masih tak bergeming dari posisinya. Ia malah menggunakan nampan yang ia bawa untuk menutupi wajahnya. Ia sedang menahan tawa agar tak menguar. Ana tersenyum puas saat mengetahui bahwa dirinya berhasil menjahili kekasihnya itu.


"Hey! Apa kau tuli?! Aku sudah menyuruhmu,,,", Ken menghentikan ucapannya setelah melihat siapa orang yang sedari tadi berada di sebelahnya dan membuatnya hampir hilang kesabaran. Ia menyeringai, mengerti maksud dari tingkah singa betinanya yang masih menutup wajahnya dengan nampan. Pelan-pelan Ken mengendap-endap berjalan dan berdiri tepat di balik tubuh Ana.


Merasa suasana makin hening, Ana menurunkan nampannya dan sedikit terkejut karena Ken tidak ada di tempatnya semula. Ia mengedarkan pandangannya mencari-cari dimana sosok lelaki yang sedang ia kerjai sebelumnya.


"Huh, kemana dia?", Ana mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena rencananya gagal untuk membalas tingkah konyol raja singanya.


Sontak Ana langsung memegang tengkuknya karena merasa bulu kuduknya telah berdiri. Ia memeluk nampan yang ia pegang dengan begitu erat dengan raut wajah putus asa.


"Ken! Kau dimana? Aku takut di sini sendirian", Ana berucap setengah memohon. Ken yang berdiri di belakangnya pun berusaha keras menahan tawa setelah melihat tingkah wanitanya.


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Ana. Tubuhnya menegang, ia memaku dirinya di tempat dengan wajah yang sudah sangat ketakutan.


"Ke,, Ken", panggil Ana dengan suara tercekat. Kali ini ia sudah benar-benar putus asa. Ana sangat membutuhkan kekasihnya di sini untuk melindunginya dari gangguan hantu ini. Hanya nama itu yang tersemat di pikiran Ana saat ini. Ia gemetar ketakutan bukan main.


"Sayang!", panggil Ken begitu lembut di telinga Ana.


Ana melonjak kaget dan segera berbalik. Matanya membelalak lebar dan tangannya sudah berkacak pinggang. Wajah ketakutannya telah berubah menjadi garang.


"Ken!", teriak Ana emosi. Dan pria itu malah asik tertawa begitu girang setelah berhasil mengerjai kekasihnya habis-habisan.


"Awas saja kau!", Ana memukuli bahu Ken dengan gemasnya, melampiaskan emosinya. Ia sangat kesal karena Ken selalu saja berhasil menjahilinya sedangkan dirinya malah selalu gagal.

__ADS_1


Ken menangkap kedua tangan Ana dan menggenggamnya erat, menahannya agar tak bergerak. Ia tersenyum menang pada Ana.


"Jangan coba-coba mengerjaiku lebih dulu. Kau akan tau akibatnya, heh!", ucap Ken dengan senyum mengejek.


"Kau ya, benar-benar!", Ana mencoba memberontak lagi. Namun usahanya tetaplah sia-sia. Tenaga Ken yang jauh di atasnya bisa menahan gerakan Ana.


Mereka saling menatap tanpa mengedipkan mata. Ana menelan salivanya ketika hidung mereka sudah bersentuhan. Masih saja ia begitu gugup di saat-saat seperti ini. Bibir mereka pun bertemu dan saling bersentuhan. Ken tersenyum di sana sambil memandangi wajah Ana yang selalu menggemaskan itu. Baru saja mereka akan melakukan kegiatan mesra, tiba-tiba ponsel Ken bergetar di atas meja.


"drret,, drret,, drret!", bergetar hingga menimbulkan bunyi yang khas.


"Ken, ponselmu!", ucap Ana sedikit menjauhkan wajahnya.


Di sana terlihat Han melakukan panggilan. Ken tak mempedulikannya karena ia masih ingin meneruskan hal yang tertunda barusan. Ia mengecup bibir Ana lembut. Namun ponsel itu kembali bergetar. Ana mendorong bahu Ken untuk menghentikan aktifitasnya.


"Mungkin saja itu penting, sayang!", Ana membelai lembut pipi Ken untuk memberi pengertian padanya.


Ken mendengus kesal sebelum akhirnya ia menjauhkan diri dari Ana dan menyambar ponselnya yang terus saja bergetar. Ia menggeser tombol jawab dan menyalakan tombol loud speaker.


"Ya, ada apa?", ucapnya begitu dingin.


"Beberapa saat yang lalu, Tuan Danu sempat sadar. Baru saja saya akan mengabarkan Tuan dan Nona Ana, tapi tiba-tiba kondisinya kembali kritis. Entah apa yang terjadi. Sebaiknya Tuan dan Nona segera datang ke sini", jelas Han di seberang saluran dengan nada agak panik.


"brruk", Ana terduduk lemas. Ia mencengkram pinggiran sofa tunggal dengan tubuh gemetar. Rahangnya mengeras dengan rona kesedihan meliputi wajahnya. Ia menahan sesak di dadanya sekuat tenaga untuk tidak menangis terisak lagi.


Sejenak Ken memperhatikan perubahan ekspresi Ana. Ia juga merasa sakit melihat Ana saat ini. Lalu ia meneruskan panggilannya dengan mematikan tombol loud speaker dan menjauh dari sana. Sebelum melangkah ia mengelus pelan kepala dan wajah Ana.


"Katakan sebenarnya apa yang terjadi?", kini raut suram telah tertera pada wajah Ken.


"Lima belas menit yang lalu Tuan Danu sempat sadar, beberapa dokter yang menanganinya datang untuk memeriksa. Kemudian tak lama setelah semua dokter keluar, saya memastikan sendiri bahwa Tuan Danu telah baik-baik saja. Lalu saya keluar untuk mengabari Tuan sekalian kembali ke ruangan Risa, baru saja saya berada di depan depan lift tiba-tiba alarm dari kamar Tuan Danu berbunyi. Dan saya segera berlari ke ruangan itu lagi dan mendapati beliau sudah tak sadarkan diri lagi, dan alarm yang menyatakan kondisi Tuan Danu dalam kondisi kritis itu terus berbunyi. Saya menjadi panik dan segera menghubungi Tuan setelah beberapa dokter kembali memeriksa keadaannya", tutur Han dengan hati-hati.


"Baiklah, kau tetap di sana! Perketat penjagaan, termasuk dengan ruangan Risa. Aku akan segera ke sana!", perintah Ken tegas sambil menahan amarah.


"Baik Tuan dan terima kasih. Saya akan memerintahkan orang untuk menyiapkan jet pribadi Tuan agar cepat sampai ke sini", ucap Han.


"Ya baiklah!", Ken meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan wajah yang sudah sangat marah.

__ADS_1


__ADS_2