
"Dengar Sarah, ini semua kami lakukan untuk membuat kalian berhenti menyiksa diri kalian masing-masing. Jika memang cinta kenapa tidak dipersatukan saja, begitu pikir kami. Jadi kumohon, kau jangan berpikiran bahwa kami telah menghianatimu ya. Kami hanya terlalu peduli kepada kalian berdua", Ana menguatkan dirinya untuk bangun dari sandarannya lalu memegangi kedua bahu Sarah untuk meyakinkan sahabatnya itu.
Akhirnya pagi itu terlewati dengan banyak rasa. Ada perasaan kesal, sedih, bahagia, semua membaur menjadi satu sejak mereka mengawalinya di dalam apartemen milik Sam itu. Sarah pun telah mengerti alasan apa yang Ana berikan. Terlebih lagi saat mereka menjelaskan betapa hancurnya Sam belakangan ini. Hati Sarah juga seakan diremas saat mengetahui kenyataannya. Ia pikir hanya dirinya saja yang dibuat rindu dan menderita seperti itu, tapi lelaki itu ternyata juga merasakan hal yang sama.
Dan mengenai ibunya, Sarah merasa terharu karena mereka semua mau maju untuk menemui ibunya dan menjelaskan semuanya kepada ibunya itu. Tapi apa pun keputusan ibu nanti, Sarah akan tetap menerimanya. Karena semasa hidupnya, Sarah tak pernah menolak apa yang ibunya inginkan. Sarah yakin keputusan ibu selalu demi kebahagiaan dirinya juga.
Sam, pria itu dengan wajah datarnya bukan sedang terkejut atau takut saat mereka mengatakan bahwa akan menemui ibunya Sarah sekarang juga. Dirinya hanya tidak percaya bahwa prosesnya akan menjadi semudah dan secepat ini. Padahal sebulan kemarin itu berlalu dengan sangat menyakitkan untuknya. Dan terasa sangat lama ketika dirinya tak bisa bertemu dengan Sarah sama sekali. Tapi, mungkinkah ini ganjaran yang ia terima karena telah menunggu setelah sekian lama. Maka Sam pun terus mengucap syukur dalam hatinya bahwa semua orang juga ternyata turut membantu mempersatukan dirinya dan juga Sarah.
***
"Ana, apa suamimu tidak pergi ke kantor?", Sarah berbisik di kursi belakang kepada sahabatnya itu.
Mereka akhirnya berangkat menuju mansion Krystal, dimana Ibu Asih dan juga Krystal sendiri telah menunggu mereka untuk datang. Nyonya Rima dan Tuan Dion berada di dalam mobil yang terpisah dengan Ana , Ken, Sarah dan Sam. Putra-putrinya berada di dalam satu mobil dengan Ken dan Sam yang berada di bangku depan. Sedangkan Ana, tadi ia bersikeras untuk duduk dengan Sarah di kursi belakang. Awalnya Ken menolak karena ia masih ingin menjaga istrinya secara langsung melihat wajah Ana yang masih lemah saat ini. Tapi karena istrinya yang keras kepala itu sulit untuk menurut selama masa kehamilannya ini, maka Ken membiarkan saja. Yang terpenting ia akan tetap memantaunya dari dekat.
"Kenapa tidak bertanya langsung saja, Sarah! Sebentar lagi kau juga akan menjadi adik iparku!", tidak biasanya sekali Ken menggoda sahabat temannya itu. Tapi tetap saja, Ken ya Ken, ia berucap dengan wajah datarnya saat berbicara dengan orang lain.
"Tuan!", Sarah jadi malu sendiri saat Ken ternyata mendengarnya bertanya seperti itu. Bukan apa-apa, Sarah hanya tidak enak hati karena masalah dirinya semua orang jadi meluangkan waktu berharga mereka untuk mengurusi masalah yang ia alami.
"Sayang, jangan menggodanya!", perintah Ana dari kursi belakang dengan nada manja khas dirinya namun menuntut untuk dituruti permintaannya.
"Baiklah!", Ken menurut dengan begitu saja.
"Tenang saja, Sarah! Mereka berdua ini adalah bos di perusahaan. Jadi jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu ya", Ana memegang lengan Sarah untuk membuat sahabatnya itu terlalu banyak berpikir.
__ADS_1
"Sudah sini, lebih baik kau pijat pundak ku! Sepertinya anakku menginginkan pijatan aunty nya!", dengan paksa Ana meletakkan tangan Sarah ke atas pundaknya sambil memamerkan senyum imutnya yang ia yakini bahwa Sarah akan luluh dibuatnya.
"Heh! Kau memang selalu menggunakan nama anakmu untuk mendapatkan keuntungan dari kami", Sarah menyindir tapi kemudian mereka tertawa bersama.
Ya sudahlah, jika memang ia masuk ke dalam sebuah jebakan. Maka ia akan berusaha untuk baik di dalam lubang itu. Dan sepertinya ini adalah jebakan terindah yang pernah dialaminya. Dirinya dijebak oleh orang-orang yang mempedulikan dirinya. Dirinya dijebak demi kebahagiaan dirinya sendiri yang tak ia pikirkan sama sekali. Maka sepertinya ia harus bersyukur karena telah masuk ke dalam jebakan ini.
"Hey, ada apa denganmu?", Ken bertanya pelan pada adiknya yang terlihat sangat tegang.
"Bagaimanapun juga aku sangat gugup saat ini, Kak! Katakanlah ini sama saja dengan aku akan melamar Sarah kepada ibunya. Jelas saja aku gugup, aku takut ibunya Sarah akan menolakku. Semua orang tentu tau masa laluku. Tapi tidak semua orang bisa menerima masa laluku!", lirih Sam berucap dengan wajah sedihnya.
"Hey, brother! Tunjukkan saja ketulusanmu. Aku yakin ibunya Sarah akan mengerti", Ken menepuk bahu adiknya yang sedang menyetir itu sambil menganggukkan kepalanya. Ia juga sedikit tersenyum untuk membuat hati adiknya itu menjadi lebih tenang.
"Aku akan mencobanya", Sam kembali menatap lurus ke depan setelah sekilas melirik ke arah kakaknya. Baiklah, kali ini adalah gilirannya untuk berjuang membawa cintanya menuju masa depan yang ia inginkan.
***
"Sayang, aku pusing! Ini terlalu silau!", Ana melindunginya matanya dengan telapak tangannya saat sudah berdiri di luar mobil.
"Sepertinya kau terlalu lemah setelah muntah tadi. Semua yang kau makan keluar lagi. Setelah ini kau harus makan yang banyak ya, supaya istri dan anakku menjadi kuat!", dengan lembut Ken mengusap perut istrinya yang masih rata itu. Mereka juga saling menularkan senyuman hangat kepada satu sama lain.
"Apa kau kuat berjalan?", tapi tanpa menunggu jawaban dari istrinya itu Ken sudah langsung mengangkat tubuh istrinya itu untuk digendongnya.
"Ken, turunkan aku! Malu, Ken!", Ana memukul lengan suaminya lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah pada dada bidang suaminya itu.
__ADS_1
"Cekk! Pasangan itu benar-benar tidak mengenal tempat!", Sarah berdecak seraya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan Ken pada Ana.
Kemudian pandangannya jatuh pada pria yang sedang berdiri di hadapannya. Ia menatap punggung pria itu lalu menyapu pandangannya dari atas hingga ke bawah. Di luar sifatnya yang kekanakan dan konyol, pria ini memanglah sosok pria yang gagah. Kenapa Sarah sulit sekali mengakui hal itu. Bukan, ia sedang menyangkalnya bukan tidak mengakuinya.
Sesuatu mencuri perhatiannya, Sam mengepalkan tang kuat-kuat dan tetap berdiri di tempat. Sedangkan Nyonya Rima dan Tuan Dion yang berada di mobil lain saja sudah menyusul langkah Ken menuju teras.
Sarah menutup pintu mobil yang berada di sisinya dengan perlahan agar tak menimbulkan bunyi yang mengganggu orang yang sedang berdiri memunggunginya. Beberapa kali sebelah tangan pria itu disandarkan pada badan mobil untuk menopang kepalanya sambil bergumam tidak jelas.
-
-
-
-
-
masih ada satu lagi ya teman-teman 😊
semoga menghibur ya,,
jangan lupa like, vote sama komentar kalian juga ya 😘
__ADS_1