Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 36


__ADS_3

"Kalian sudah kembali!", serunya balik pada anak dan istrinya yang dikawal oleh dua orang pria bawahannya.


Tuan Sanchez memandangi semua orang dengan hati besar. Benar memang jika orang yang berkumpul dengan Keluarga Harris itu adalah dari kalangan orang berada. Ia bisa melihat dari apa saja yang mereka kenakan. Sayangnya, ia tidak mengenali identitas masing-masing orang. Ia juga merasa tidak perlu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah membuat Keluarga Harris bertekuk lutut lagi padanya. Sehingga ia bisa meneruskan perjodohan putrinya lagi dengan putra mereka.


Meskipun sesungguhnya ia tidak terlalu menyukai Louis karena terlihat tidak bisa apa-apa dalam mengelola bisnis keluarganya itu. Penilaiannya berdasarkan keputusan Louis yang memutuskan untuk terjun ke dunia hiburan ketimbang mengurus perusahaan milik ayahnya.


Padahal ia bisa saja mengenalkan Alleta dengan pria muda hebat yang sudah dikenalnya dengan baik. Dan masa depan putrinya itu pasti akan terjamin dengan baik. Tapi,, asalkan putrinya senang, perasaan tidak sukanya itu bisa ia ke sampingkan.


"Kak Louis, ini?!", Alleta menahan pertanyaan di tenggorokan saat melihat semua hal di depan matanya.


Cincin yang melingkar di kedua tangan orang itu, juga gumpalan merah besar yang berada di tangan prianya. Alleta merasa bisa menebak apa yang baru saja terjadi. Maka ia tak meneruskan pertanyaan yang akan menyakiti perasaannya sendiri. Hanya saja ia tidak bisa menahan diri untuk tidak marah. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya lantaran posisi itu telah direbut oleh wanita lain.


Seharusnya dia yang mendapatkan itu semua. Cinta dari Kak Louisnya, kasih sayang dari keluarga mereka, juga lamaran romantis dan buket bunga mawar merah itu seharusnya adalah miliknya. Miliknya! Maka ia menggeram dengan marah sambil mengepalkan tinjunya di samping.


Nyonya Sanchez yang melihat hal ini pun menyentuh dengan lembut tangan putrinya itu yang mengeras. Ia mengerti bagaimana kesal dan marahnya Alleta saat ini. Tapi ia juga pahami jika jodoh sudah di atur oleh Tuhan. Jadi biar pun mereka tetap bersikeras, jika Alleta dan Louis memang tidak berjodoh maka mau berbuat apa pun, mereka tetap tidak akan bersama. Jodoh tidak bisa dipaksakan begitu saja, Nyonya Sanchez mengerti akan hal itu.


Setelah sama-sama berhadapan, ia menguarkan senyum sapanya kepada Nyonya Harris. Saling menyapa dengan senyuman, sebab mereka tahu situasi di antara keluarga mereka sedang tidak baik. Namun di samping itu, mereka masih menyadari betapa kentalnya pertalian darah. Sehingga mereka tidak bisa memutuskan hal itu, bagaimana pun juga mereka masih bersaudara.


Suasana tegang dan mencekam di sana segera berakhir setelah Ken menerima sebuah panggilan. Kemudian pria itu berkata kepada yang lainnya, "Ayo, sudah saatnya kita berangkat!".


Semua orang mulai berpamitan kepada Tuan dan juga Nyonya Harris dengan perasaan hangat di tengah tatapan dingin Tuan Sanchez dan Alleta. Mereka seolah tak menganggap orang itu ada.


Merasa diabaikan oleh seseorang untuk pertama kalinya, Tuan Sanchez merasa akan meledak di tempat. Seumur hidupnya ia begitu dihormati. Namun saat ini, berani sekali orang-orang itu menganggapnya seperti patung, bahkan seolah seperti angin yang tak berwujud di antara mereka semua.


Tapi bom itu berhasil dijinakkan oleh istrinya. Saat ini tugas Nyonya Sanchez begitu berat karena harus meredam kemarahan dari putri dan juga suaminya.


"Terima kasih, Tuan Ken! Saya benar-benar sangat mengharapkan bantuan Anda!", ucap Tuan Harris saat menjabat tangan lelaki itu.

__ADS_1


"Pasti! Bagaimana pun kita adalah saudara! Sudah sepantasnya saling membantu!", ucap Ken tulus seraya mengguncang jabatan tangan mereka.


Meskipun begitu ucapan yang Ken maksud terdengar seperti sebuah sindiran bagi Tuan Sanchez. Sehingga pria paruh baya itu mencibir kesal di tempatnya. Bagaimana bisa ia dipermalukan oleh seorang anak muda?!


"Kami pasti akan membantu, Tuan!", Adam dan Sam mengangguk bersamaan. Kemudian mereka menjabat Tuan Harris bergantian.


"Tadinya aku berniat untuk langsung menikahimu!", ucap Louis lemah pada Krystal sambil menyerahkan buket bunganya. Wajahnya murung penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa! Aku mengerti! Selesaikan saja dulu yang ada di sini! Aku akan selalu menunggumu! Ayo, tersenyum!", Krystal mengusap wajah lelakinya dengan penuh kasih sayang. Ia juga mengharapkan begitu. Tapi masalah di perusahaan juga penting, jadi ia kan bersabar menunggu Louis menyelesaikan masalah itu kemudian barulah mereka memikirkan masa depan mereka berdua nanti.


Alleta di seberang menjadi amat geram dengan tontonan menjijikan itu. Ia membalikkan badannya dengan gusar, tak ingin melihat hal itu lebih lama lagi. Ia juga kesal dengan ayahnya. Mengapa pula mereka masih bertahan di sana?! Sungguh tidak ada gunanya! Hanya membuat dirinya semakin kesal saja.


"Aku janji, aku akan menyelesaikan masalah perusahaan secepat mungkin lalu terbang ke sana untuk meminangmu menjadi istriku!", Louis melantunkan ikrarnya dengan tegas pada Krystal. Matanya menyala penuh kobaran semangat dan keteguhan.


"Baiklah! Aku akan memegang janjimu!", Krystal tersenyum merasakan hangat menjalar ke setiap sudut hatinya yang terdalam saat mendengar pernyataan kekasihnya itu. Tentu saja ia akan bersabar untuk kebahagiaan mereka nanti.


Telinga Alleta semakin panas dan panas. Dari wajah sampai ke telinganya, saat ini sudah memerah dan mengepulkan asap tebal. Sungut lancip juga mulai tumbuh di atas kepalanya. Ia benar-benar tidak tahan dengan pembicaraan mereka berdua yang masih sampai ke telinganya. Ia sungguh ingin melarikan diri dari sana sekarang juga.


"Alleta!", Nyonya Sanchez memanggil nama putrinya yang tiba-tiba pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu.


Tuan Sanchez pun semakin geram setelah melihat jika putri kesayangannya itu semakin terluka. Tangannya sudah gatal ingin melibas habis mereka semua. Seandainya saja Alleta sudah tidak menginginkan Louis lagi, ia pasti sudah membumi hanguskan keluarga Harris itu.


Krystal sudah pergi bersama dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka terbang ke negara asal menggunakan jet pribadi milik Ken. Jadi yang tersisa dari gerombolan orang itu adalah perlawanan sengit antara Louis dan juga Tuan Sanchez.


"Jadi wanita muda tadi adalah orang yang kau pilih untuk menyingkirkan Alleta-ku?", Tuan Sanchez lalu bersuara dengan nada ketidaksukaannya.


"Apa maksud, Tuan? Sejak awal aku sama sekali tidak pernah memandang Alleta sebagai wanita! Dia hanyalah seorang saudari bagiku! Dan,, wanita yang aku cintai selama ini hanyalah Krystal. Hanya Krystal yang akan aku nikahi kelak!", Louis membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak takut sama sekali pada orang itu.

__ADS_1


Namun Tuan dan Nyonya Harris saling menggenggam di belakangnya. Mereka sama-sama tahu betapa tidak mudah ditangani orang itu. Jadi sekarang sudah jelas jika mereka baru saja menabuh genderang perang di hadapan musuh secara langsung.


"Papa!", Nyonya Sanchez menahan lengan suaminya ketika ia melihat begitu marahnya suaminya itu. Ia menggeleng pelan sambil mengingatkan dimana mereka berada saat ini. Jangan membuat keributan di tempat umum!


Hah! Tuan Sanchez mendesah kasar sembari memijit pelipisnya. Benar, ia tidak boleh membaut namanya tercoreng. Walaupun sebenarnya ia sudah sangat geram ingin sekali meninju wajah anak muda yang tidak tahu malu itu. Ia ingin sekali melampiaskan amarahnya saat ini.


"Kalau begitu selamat!", Louis memandang aneh dan penuh kewaspadaan pada Tuan Sanchez yang tiba-tiba mengulurkan tangan ke arahnya.


Tapi demi memberi muka kepada orang itu, Louis pun menjabat uluran tangannya. Ia bisa merasakan jika saat ini tangannya tengah diremas dengan kuat. Tuan Sanchez malahan sampai menarik tubuhnya sehingga mereka saling menempel sekarang.


"Tapi,, takutnya kau tidak memiliki kesempatan untuk mengurus pernikahanmu kelak!", seakan-akan sedang memeluk Louis, Tuan Sanchez juga berbisik di telinga anak muda itu. Senyum dinginnya ia pamerkan pada kedua orang tua Louis yang berada di punggung anak mereka.


Tatapan liciknya membuat Nyonya Harris menggigil sesaat. Entah rencana apa lagi yang akan dilakukan orang itu terhadap mereka?! Namun wanita paruh baya itu memiliki keyakinan jika mereka tak akan kalah. Jadi ia tak menurunkan pandangannya ketika orang itu terus memandang ke arah mereka.


Louis tersenyum meremehkan. Jadi orang itu berpikir jika dia adalah orang yang lemah dan mudah ditindas?! Louis membalas kerasnya pegangan tangan Tuan Sanchez. Ia meremas tangan itu balik sembari mendorong lawannya menjauh.


"Tenang saja, Tuan! Wanita yang ingin aku nikahi tetaplah Krystal!", jawab Louis dengan nada lantang.


"Dan aku akan menikahinya secepat mungkin. Hingga kau tidak sadar betapa cepatnya waktu bergulir!", tambahnya lagi seraya melepaskan tangan Tuan Sanchez dengan kasar.


Ia tidak rela jika keluarganya ditindas lagi seperti bertahun-tahun sebelumnya, dimana ia tidak mengetahui hal ini sama sekali. Sekarang,, ia akan membuat dirinya dan juga perusahaan menjadi kokoh dan mampu berdiri dengan kaki sendiri. Tanpa bantuan dari orang yang pamrih seperti mereka. Sudah cukup bagi Louis penindasan terhadap keluarganya.


"Kami permisi!", ujarnya lagi sambil lalu di hadapan Tuan Sanchez langsung. Ia mengajak ibu dan ayahnya pergi dari sana.


Pria paruh baya itu memandang punggung Louis dengan perasaan geram yang luar biasa. Sombong sekali anak muda itu! Lihat saja, ia akan membuat anak itu berlutut sambil memohon di bawah kakinya!


"Sudah! Ayo kita berangkat! Kau bisa terlambat nanti!", peringatan istrinya mengakhiri pandangannya terhadap bayangan Keluarga Harris yang semakin menjauh.

__ADS_1


Masih berbalut amarah, ia tak menjawab ajakan istrinya. Hanya memulai langkahnya yang ia ketukan ke lantai dengan keras. Kebetulan hari ini Tuan Sanchez ada kunjungan ke luar kota. Karena tahu Alleta sedang tidak baik suasana hatinya, maka ia memutuskan untuk membawa istri beserta putrinya itu. Tapi siapa sangka mereka malahan bertemu dengan Louis dan yang lainnya. Sehingga perasaan Alleta semakin memburuk saja.


Nyonya Sanchez mengekorinya di belakang. Disusul dengan beberapa anak buahnya yang berjalan dengan patuh dan rapih. Seperti semut-semut yang berbaris.


__ADS_2