Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 105


__ADS_3

Ken dan Ana telah selesai melakukan sesi foto prewedding. Mereka juga sudah berganti dengan pakaian sebelumnya. Dua insan itu memutuskan untuk kembali karena Ken masih ada beberapa hal yang perlu diurus di kantor. Begitupun dengan Ana yang sudah memiliki janji dengan Manajer Toni maupun Tuan Reymond untuk menyelesaikan beberapa hal.


"Silahkan Tuan Puteri!", Ken membukakan pintu untuk Ana dengan bergaya sambil membungkukkan badan.


"Astaga! Kau ini!", Ana mencubit pipi Ken dengan gemasnya dan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.


"Ken! Kau sudah selesai?", sebuah suara menyapa mereka dari arah belakang.


Ana menghentikan gerakannya dan memilih untuk menoleh ke asal suara bertepatan dengan Ken yang juga menoleh ke arah yang sama.


"Iya!", jawab Ken pada bundanya.


"Baiklah, hati-hati ya sayang!", Nyonya Rima memeluk Ken dan segera melepaskannya.


"Baiklah Bunda, aku pamit. Bunda juga hati-hati!", Ken beranjak dan menghela Ana untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, Ken!", ucap Joice kemudian yang ditanggapi dengan wajah dingin dan tatapan tajam dari Ken.


Pria itu berlari kecil memutari mobil untuk masuk ke dalam sana. Ia segera menghidupkan mesinnya dan melesat meninggalkan Nyonya Rima dan Joice yang menatap kepergian mereka dengan pikirannya masing-masing.


"*Aku tetap tidak merestui kalian!", batin Nyonya Rima.


"Kau bahkan tidak bertanya siapa calon pengantinku! Heh! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan, Ken! Aku tak akan menyia-nyiakan usahaku selama bertahun-tahun ini!", ucap Joice dalam hatinya*.


"Mari Tante!", Joice mempersilahkan Nyonya Rima masuk ke dalam mobil. Sambil menutup pintu untuk Nyonya Rima, ia menguarkan seringai liciknya dengan tatapan yang begitu tajam. Kemudian mereka pun melaju meninggalkan tempat itu.


***


Tak jauh setelah meninggalkan butik itu, Ken merasa ada yang salah dengan mobil yang ia kendarai. Keringat dingin keluar membasahi seluruh keningnya. Gurat kekhawatiran muncul di wajahnya. Ken mencengkram kuat kemudinya menahan emosi dan rasa takut yang membaur menjadi satu.


"Sial!", Ken memukul kemudi itu dengan keras.


"Ada apa Ken?", tanya begitu khawatir. Sedari tadi ia telah memperhatikan perubahan wajah Ken.


"Seseorang menyabotase mobil ini. Remnya blong, Ana!", ucap Ken dingin dengan sorot mata tajam mengarah ke depan.


"Apapun yang terjadi nanti aku akan menyelamatkan mu, Ana!", Ken menggenggam erat tangan Ana dan mendapat sebuah anggukan dari wanitanya itu. Mereka memang harus menghadapi hal ini dengan tenang. Entah musuh yang mana yang sudah berani melakukan hal kotor seperti ini untuk menyingkirkan mereka.


"Segera hubungi Han dan beritahu situasi kita saat ini. Perintahkan dia untuk mengikuti kita melalui sinyal gps yang terhubung ke ponselnya. Dan kerahkan tim untuk segera menemukan lokasi kita nanti", ucap Ken seraya menyerahkan ponselnya kepada Ana supaya Ana mengikuti perintahnya untuk meminta bantuan.


"Halo, Han! Ini aku Ana!", ucap Ana setelah sambungan itu terhubung.


"Ada apa, Nona? Mengapa ponsel Tuan ada bersama anda?", tanya Han heran. Wajahnya berubah serius karena ia merasakan hal buruk akan terjadi.


"Sesuatu terjadi, Han. Seseorang menyabotase mobil kami dan rem mobil ini blong. Dengar, cari lokasi kami melalui sinyal gps dan kerahkan tim untuk menemukan lokasi kami nanti. Segera selamatkan kami, Han!", perintah Ana mengikuti arahan dari Ken.


"Baik, Nona!", sambungan itu pun terputus.

__ADS_1


"Ken!", Ana menggenggam erat tangan Ken dengan sedikit gemetar. Tangannya dingin dan berkeringat, ia juga tak dapat menutupi rasa khawatirnya saat ini.


"Tenanglah sayang! Aku akan berusaha meminimalisir efek dari kecelakaan yang akan timbul nanti. Aku tidak akan membiarkanmu terluka, sayang!", Ken mengecup punggung tangan Ana dan menatapnya lembut.


"Aku mencintaimu, Ken!", ucap Ana sambil tersenyum getir.


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang!",


balas Ken dan kembali mencium punggung tangan Ana.


Mereka saling melempar senyuman sebelum akhirnya Ken fokus untuk mengemudi. Beruntung sejak awal Ken mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, jadi saat ini yang Ken bisa lakukan adalah meminimalisir kejadian yang akan terjadi dengan tidak menambah kecepatannya.


Ana menatap ke depan dengan tatapan tajam. Perasaannya campur aduk saat ini. Ada rasa marah yang membuncah mengingat seseorang sedang bermain-main dengan nyawa mereka saat ini. Suatu anugerah Tuhan yang tak seharusnya menjadi keputusan seorang manusia biasa. Namun kesedihan juga tak luput dari hatinya. Baru saja mereka berbahagia bahkan akan menyambut hari yang sudah begitu dinanti, tapi kini tiba-tiba takdir kembali menguji kehidupan mereka. Ana tak berharap banyak, jika mereka berdua selamat maka ia akan sangat bersyukur akan hal itu.


Tiba-tiba sebuah mobil box menyenggol mobil mereka dari arah belakang. Mobil itu terus mendorongnya seperti sesuatu yang disengaja. Kacanya gelap sehingga Ken tak dapat melihat sosok yang mengemudikan mobil tersebut.


Ken berusaha mengendalikan emosinya agar tak terpancing. Ia tetap mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Namun tepat di sebuah tikungan tajam, mobil itu sengaja mendorong mobilnya dan Ken pun kehilangan kendali. Mobil yang mereka tumpangi terperosok ke dalam jurang dan terus berguling ke bawah.


Ken menoleh ke arah Ana yang sudah tak sadarkan diri akibat benturan di kepalanya. Keningnya sudah mengeluarkan cairan segar berwarna merah. Sedangkan dirinya tak jauh berbeda dengan kondisi Ana. Luka lebam menghiasi sebagian besar wajah Ken saat ini.


Dalam kondisi mobil yang terus berguling dan dengan sisa tenaga yang ia miliki segera Ken melepaskan sabuk pengamannya kemudian beralih ia berusaha melepaskan sabuk pengaman yang Ana pakai. Na'asnya mobil terguncang hebat karena terbentur batu besar hingga mengakibatkan Ken terlempar keluar. Ia terbanting keras ke tanah.


"Uughh!", Ken melenguh kesakitan memegangi tangannya yang sepertinya patah. Kemudian ia menatap nanar mobil yang masih berguling ke bawah.


"Ana!", serunya ketika sadar bahwa wanitanya masih berada di dalam sana.


"Ana! Ana! Ana!", panggil Ken dengan tatapan penuh ironi. Dirinya berusaha mengejar mobil dimana Ana masih berada di dalamnya. Ia berusaha keras menyeret kakinya menuruni jurang itu dengan sisa tenaga yang hampir habis dan sambil menahan sakit di sekujur badannya.


"Ana! Ana!", panggil Ken lagi dengan suara yang makin melemah. Kakinya mulai lemas, tubuhnya sudah tidak kuat mendukung keinginannya untuk menggapai dan menyelamatkan kekasih hatinya.


"brukk!", Ken terjatuh ke tanah. Tangannya menggapai-gapai ke udara. Seperti keinginan yang besar untuk merengkuh Ana ke dalam dekapannya.


"Ana!", suara parau itu terdengar sangat pelan dan lemah. Ken mulai menutup matanya, ia pingsan dan tak sadarkan diri.


"dduuaaarrr!", tiba-tiba mobil itu meledak di detik terakhir Ken menutupkan matanya dengan sempurna.


***


"Anaaa!", Ken berteriak histeris saat tiba-tiba terbangun dari tidur panjangnya. Saat ini ia tengah terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis terpasang ke tubuhnya, sudah dua minggu Ken mengalami koma.


***


FLASHBACK ON


Saat itu setelah mendapat kabar dari Ana, Han langsung bergerak sesuai dengan perintah. Wajah Han yang biasanya tenang kali ini benar-benar terpampang gurat khawatir di sana. Perasaannya sungguh tidak nyaman membuatnya makin gelisah.


Lima belas menit setelah sambungan telepon itu, tim yang Han bawa sampai di lokasi kecelakaan. Mereka menyisir tempat itu dan menuju sebuah kepulan asap yang begitu tinggi. Dan beberapa meter sebelum mencapai sumber asap, mereka menemukan Ken tergeletak tak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Han melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan satu orang lagi yang tak lain adalah Ana. Ia memerintahkan orang-orang yang ia bawa untuk menyisir sekitar lokasi dan sisanya segera membawa Ken ke rumah sakit agar bisa segera ditangani. Dan untuk dirinya sendiri, ia lebih memilih untuk mengawal pencarian ini sekaligus memastikan apa yang sudah terjadi sebenarnya kini.


Han mendekati mobil yang masih terbakar dengan kobaran api yang begitu besar. Segera ia memerintahkan beberapa orangnya untuk memadamkan api itu dengan peralatan seadanya karena mobil pemadam kebakaran yang ia panggil sebelumnya belum juga datang.


Selang sepuluh menit, mobil pemadam kebakaran datang. Mobil yang sedang berkobar mereka taklukan dengan cepat. Mobil itu sudah gosong berwarna kehitaman dan sudah tak berbentuk lagi. Sisa besi-besi yang masih panas, membuat mobil itu mengepulkan asap tebal. Ia memerintahkan beberapa petugas untuk mengecek keadaan mobil dan mencari keberadaan Ana. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah mayat dalam kondisi gosong.


"Bawa mayat itu! Kita harus memeriksanya!", perintah Han pada beberapa orang di sana.


FLASHBACK OFF


***


"Ken!", seru Nyonya Rima dari sofa rumah sakit tak jauh dari sana dan bergegas menghampiri putranya.


"Akhirnya kau sadar juga, Ken!", Tuan Dion bernafas lega. Ia juga segera bangkit mengekor di belakang Nyonya Rima.


"Apa ada yang sakit, nak?", tanya Nyonya Rima dengan raut wajah yang begitu khawatir.


Ken tak menjawab, ia masih memulihkan isi otaknya yang masih tertinggal oleh kejadian terakhir yang menimpanya dan Ana. Ya, Ana, akhirnya ia terlintas nama itu di benaknya.


-


-


-


-


-


-


-


-


**Hai semuanya,,,


Maaf ya bukan maksud hati mengulur cerita, tapi konflik yang ini memang sudah author set sejak awal. Dan tenang saja ini konflik terakhir sebelum akhirnya Ana akan menikah dengan Ken. Author sedikit sedih karena novel ini akan memasuki bab-bab akhir.


Selamat membaca ya,,


Jangan lupa untuk selalu like, vote dan kasih komentar ya 😊


Dan aku selalu mengucapkan beribu terima kasih untuk dukungannya kepada novel ini ☺️


Terima kasih

__ADS_1


Terima kasih


Terima kasih 😘😘😘**


__ADS_2