Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 110


__ADS_3

"Permisi, permisi!", ucap Sam yang sedang mendorong kursi roda yang Ken naiki. Sedangkan Han menghela beberapa orang di sana untuk memberi jalan kepada mereka.


Setelah berada di hadapan Louis dan Krystal yang masih berusaha menutupi diri mereka dari kilatan-kilatan flash kamera ponsel pengunjung, Ken memberi isyarat dengan tangannya supaya Han dan Sam segera membereskan masalah yang terjadi dengan mengusir orang-orang itu pergi.


"Tuan Louis!", tegur Ken kemudian.


Louis menolehkan kepalanya dan segera membalikkan badannya setelah mengetahui siapa yang baru saja menyebutkan namanya.


"Tuan Ken!", sapa Louis dengan wajah yang sedikit terkejut.


Krystal mendengar nama yang ia kenal pun segera mengintip dari balik punggung prianya itu. Dirinya benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran Ken di hadapan mereka. Matanya membulat besar saat bisa berhadapan langsung dengan orang yang selama ini ia kagumi. Ken masih terlihat tampan dengan balutan kemeja hitamnya. Meskipun saat ini ia sedang duduk di kursi roda seakan tak berdaya, namun tak menghilangkan kesan kharismatik pada dirinya. Tapi semua yang ia rasakan hanya rasa kagum lantaran saat ini yang memenuhi hatinya hanya nama Louis seorang.


"Nona Krystal!", sapa Ken datar.


"Ah iya, Tuan!", Krystal sedikit terperanjat mendengar namanya disebutkan. Ia masih menyembunyikan dirinya di balik tubuh Louis. Tangannya mencengkram kemeja pria itu pada bagian lengannya karena ia sedikit gugup harus bertemu Ken secara langsung. Karena yang ia inginkan hanyalah datang ke sini dan berdoa untuk mendiang Tuan Danu, pamannya tanpa siapa pun mengetahui kedatangan mereka.


Louis yang mengetahui gelagat Krystal pun langsung menggenggam jemari wanitanya itu dan mengusapnya pelan. Memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.


"Ada perlu apa seorang public figure seperti kalian datang ke tempat ini?", tanya Ken dingin dengan nada sedikit menyindir.


"Apakah ada larangan bahwa seorang seperti kami tidak bisa datang ke tempat ini?", Louis malah membalikkan pertanyaan itu kepada Ken dengan nada menantang.


Ken tak bergeming, ia malah menatap tajam kepada kedua orang itu.


Krystal paham apa yang Ken maksudkan. Ia mengerti, pasti seorang Presdir Ken yang memiliki hubungan baik dengan pamannya itu tidak akan menerima dengan mudah kehadiran dirinya di tempat ini. Apalagi ia baru saja mengetahui kenyataan bahwa sebenarnya Ken adalah kekasih Ana selama ini. Dan ia sempat malu mengingat dulu dirinya begitu sombong pada Ana yang mengatakan akan menjadi nyonya muda dari Keluarga Wiratmadja. Saat diperjalanan tadi, akhirnya Louis menjelaskan semuanya kepada Krystal. Toh, Ana sudah meninggal dunia, jadi menurutnya tak apa untuk memberi tahukan kenyataan yang sebenarnya kepada Krystal yang ia rasa sudah banyak berubah.


"Tu.. tuan Ken! Sa.. saya.. ingin mengatakan sesuatu ten.. tentang Ana?", tanya Krystal terbata-bata setelah menggeser tubuhnya ke samping tubuh Louis berada.


Ken masih tak bergeming, ia juga tak mengatakan sesuatu. Kali ini ia mengarahkan pandangannya tajamnya pada Krystal yang nampak gugup berbicara dengannya. Setelah kecelakaan yang menimpanya, Ken belum mengetahui siapa dalang di balik ini semua. Ia hanya bisa menaruh curiga pada siapa pun yang ditemuinya. Krystal, ia sebelumnya memiliki hubungan yang tidak baik dengan Ana, jadi wajar saja jika Ken juga menaruh curiga kepadanya.


"Kami ingin berbicara serius dengan anda, Tuan! Bisakah kita menepi sekarang!", ucap Louis dengan nada yang sedikit tajam. Ia paham tatapan apa yang Ken berikan pads Krystal saat ini. Maka dari itu, ia harus segera meluruskan keadaan ini. Ia tak ingin Krystal jadi disalah pahami oleh Ken dan yang lainnya lagi.


Ken mengangguk dengan tatapan dingin pada keduanya. Ia segera membalikkan kursi rodanya. Louis berinisiatif untuk membantunya, namun segera Ken menolaknya mentah-mentah.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri!", ucap Ken dingin.


"Baiklah!", ucap Louis dengan santainya.


"Ayo, sayang!", ajak Louis pada Krystal yang masih gugup.


Hal itu tertangkap dengar oleh Ken. Sejenak ia mencerna apa yang Louis ucapkan barusan pada Krystal. Namun ia kembali mengabaikannya lantaran menurutnya hal itu tidaklah penting saat ini.


Mereka bertiga sudah berada di bawah pohon nan rindang di tepi jalan masuk pemakaman. Krystal baru saja menyampaikan apa yang ia lihat saat akan masuk tadi. Sejenak Ken membuang pandangannya ke depan dengan tatapan dingin dan ekspresi tak terbaca.


"Apa kau yakin dengan yang kau lihat?", tanya Ken lagi tanpa menoleh ke arah Krystal.


"Aku sangat yakin, Tuan! Aku sangat mengenal Ana sejak kecil. Aku tau itu pasti Ana!", ucap Krystal bersungguh-sungguh.


Bertepatan dengan itu juga, Sam dan Han datang ke arah mereka. Dan tentunya hal itu terdengar ke telinga mereka berdua. Di belakang mereka menyusul Risa dan juga Sarah yang juga mendengar apa yang Krystal katakan.


"Apa maksud ucapanmu, Nona?", tanya Sam dengan nada tak senang. Kemudian ia memposisikan dirinya di belakang Ken, memegangi kursi rodanya.


"Aku melihat, Ana! Dan aku sangat yakin itu pasti Ana. Sayangnya, aku tak bisa mengejar mobil itu untuk memastikannya", jelas Krystal lagi pada semua orang yang berada di sana.


Louis menyadari tatapan semua orang pada Krystal pun menjadi iba dan merasa bersalah. Ia segera berdiri di depan Krystal dan membelakanginya, menjadikan dirinya tameng bagi Krystal dari pandangan semua orang yang akan menyakiti hati wanitanya itu. Ia sudah menggenggam erat jemari Krystal saat ini.


"Aku tak ingin kalian salah paham lagi terhadap Krystal. Yang perlu kalian tahu, Krystal adalah kekasihku saat ini. Kamu saling mencintai. Dan terlebih lagi, ia sudah banyak berubah sekarang. Mungkin dulu iya, Krystal memiliki hubungan yang tidak baik dengan Ana. Tapi itu hanyalah masa lalu. Krystal yang sekarang sangat kehilangan Ana dan pamannya. Dan aku bisa menjamin apa yang baru saja aku katakan, bahwa kami tak memiliki niatan buruk apa pun saat ini", tutur Louis sambil terus menggenggam tangan Krystal.


Wanita itu merasa terharu karena baru kali ini ada orang yang mau dengan tulus membelanya di hadapan semua orang yang sedang memandang dirinya dengan tatapan tak suka bahkan menuduh dan memojokkan dirinya. Air matanya kembali menetes perlahan akibat rasa bahagia yang tak terkira. Cintanya pada Louis makin bertambah, lantaran Louis selalu saja bisa membuatnya bahagia.


"Tapi Tuan Bram adalah ayahnya. Dan dia selalu memiliki rencana jahat terhadap Paman Danu dan juga mendiang kakak ipar", sahut Sam masih merasa tidak yakin dengan ucapan Louis barusan.


Krystal maju selangkah dan mensejajarkan dirinya dengan Louis sebelum mengucapkan kata-katanya. Ia akan membela dirinya sendiri saat ini.


"Aku tak peduli apa pun penilaian kalian terhadapku saat ini. Cukup bagiku dengan Louis saja yang mempercayai kesungguhan diriku ini. Masalah papa, aku menyadari tindakan papa memang sangat keterlaluan sebelumnya. Jadi, aku akan menerima apa pun keputusan kalian terhadapnya nanti. Biarlah hukum yang bicara, asal jangan beri dia hukuman mati. Aku tak mampu melihatnya menderita seperti itu nanti", tutur Krystal dengan wajah serius.


"Dan mengenai Ana. Aku sungguh-sungguh melihat Ana tadi. Aku sangat bahagia jika memang Ana masih hidup. Karena dengan hal itu, aku masih memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepadanya. Meminta maaf atas nama diriku dan juga papa", lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Terlepas dari itu semua, jika kalian masih tidak mempercayai aku, bukan masalah bagiku. Cukup dengan kepercayaan Louis yang aku miliki", sambungnya lagi.


"Itu saja yang ingin aku sampaikan. Kami permisi", ucap Krystal lagi seraya menarik tangan Louis yang berada di genggamannya.


Awalnya Louis terhenyak dengan penuturan Krystal barusan. Ia merasa sangat bahagia karena Krystal hanya membutuhkan kepercayaan darinya. Ia terharu bahagia. Kemudian ia sedikit menundukkan kepalanya kepada semua orang yang berada di sana, memberi hormat seraya pamit undur diri tanpa berkata.


"Bisakah kita mempercayai ucapannya?", ucap Sarah tiba-tiba dengan tatapan kosong dan wajah datarnya.


Semua menoleh ke asal suara yang berada di belakang Risa. Semuanya nampak ragu untuk berkata ia maupun tidak. Pasalnya mereka belum memiliki bukti apapun yang menyatakan bahwa Krystal benar-benar telah berubah, juga mengenai hubungannya dengan Louis Harris.


"Han!", suara Ken memecah keheningan itu.


"Ya Tuan!", jawab Han.


"Periksa kembali mayat yang kau temukan. Cari dokter terbaik yang bisa memeriksa ulang mayat itu dengan hasil yang akurat!", perintah Ken dengan nada tenang. Namun tatapannya masih begitu dingin dan tak terbaca.


Semua yang hadir di sana membuka matanya lebar-lebar mendengar keputusan yang Ken ambil untuk mempercayai apw yang Krystal katakan. Akhirnya mereka hanya bisa saling melempar pandangan dengan argumen mereka masing-masing.


"Aku juga yakin kau masih hidup, sayang!", gumam Ken dalam hatinya.


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like, vote sama komentarnya ya πŸ˜‰β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2