Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 162


__ADS_3

Ana juga bingung harus menjawab apa. Pasalnya ia juga belum mendengar rahasia apa yang belum Sarah ungkapkan kepadanya. Dan lagi mengenai bagaimana perasaan Sarah yang sebenarnya terhadap Sam pun Ana belum mengetahuinya dengan jelas dan pasti. Jadi sampai tahap ini yang ia bisa lakukan adalah ber'Oh saja sambil memberikan adik iparnya itu semangat.


"Jika kau benar-benar mencintainya, maka kejar dia! Aku tidak bisa membantumu lebih banyak karena Sarah sendiri menutupi sesuatu dariku. Entah apa itu, coba kau cari tau sendiri. Hanya itu saran yang bisa aku berikan padamu!", ucap Ana jujur meski ia tidak mengungkapkan tentang keberadaannya.


"Tidak apa-apa, kakak ipar! Aku sudah amat bersyukur kau tidak marah padaku!", Sam sudah menyangka sebelumnya jika ia menceritakan hal ini pada Ana mungkin pukulan akan mendarat di kepalanya. Tapi siapa sangka, kakak iparnya yang notabene adalah sahabat dari wanita yang sedang diincarnya itu malahan menatap iba terhadapnya terlebih lagi juga memberinya dukungan penuh. Hal itu membuat Sam makin bersemangat untuk mengejar Sarah.


"Sayang, bolehkan aku membeli cemilan dan beberapa minuman di minimarket di depan rumah sakit ini?", Ana memutar tubuhnya yang masih terduduk ke arah Ken yang sedang serius dengan pekerjaannya. Lalu ia berucap dengan manja kepada suaminya itu, karena ia merasa haus dan membutuhkan beberapa makanan ringan.


"Biar Han yang membelinya!", jawab Ken beserta perintahnya.


"Biar aku saja, ya! Han tidak akan tau apa yang aku inginkan", Ana bersikeras. Kini ia sudah duduk di pinggiran sofa di samping suaminya, lalu mengecup singkat pipi pria itu sebagai uang muka agar keinginannya dituruti.


"Baiklah, Han akan menemanimu!", ucap Ken dengan wajah merona. Ia sempat mendesah kesal karena tak dapat membalas perlakuan Ana barusan. Jika saja saat ini mereka di rumah, mungkin sudah akan dilahap habis istrinya itu.


"Terimakasih, sayang!", lagi ciuman singkat mendarat di pipi Ken yang sudah merah barusan.


"Hey! Apa kalian menganggap kami di sini?!", seru Sam yang selalu tak terima dengan kemesraan sepasang pengantin baru ini.


"Daaahhh!", Ana malahan dengan sengaja melambaikan tangan ke arah Sam dengan senyum manis tanpa dosa lalu disusul dengan Han di belakangnya dengan wajah biasa saja.


"Hah!", Ken mendesah lega. Entah dia beruntung atau tidak. Di saat ia akan mencari-cari alasan agar ia bisa tinggal di kamar itu hanya dengan adiknya. Tiba-tiba istrinya itu malahan memiliki ide sendiri untuk keluar dari sana, bahkan sendiri tanpa dirinya. Tadi ia hanya memancing sifat keras kepala istrinya, karena mau bagaimana Ken melarang, untuk hal kecil seperti ini Ana pasti akan tetap pada pendiriannya. Maka dari itu, sejak awal ia sudah tau bahwa Ana akan tetap memilih untuk pergi sendiri.


"Ada hal yang ingin ku sampaikan padamu!", seru Ken setelah duduk di tempat bekas istrinya. Di hadapan adiknya ia duduk dengan congkaknya, namun nada bicaranya menunjukkan perhatiannya sebagai seorang kakak.


"Ini mengenai, Sarah!", imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Ada apa, kak? Kenapa kau tiba-tiba membicarakan tentang wanita lain?", tanya Sam penuh selidik.


"Diam! Atau aku tak akan memberimu informasi sedikitpun!" tatapan tajam Ken membuat adiknya menutup mulutnya rapat-rapat.


"Dengar!", Ken membuat tubuhnya agak condong ke depan dengan wajah serius sambil menautkan kedua jemarinya.


"Tadi malam Ana dan Sarah melakukan panggilan secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Sepertinya itu permintaan dari wanitamu. Entah apa yang mereka sembunyikan sampai aku sendiri tidak diizinkan untuk mengetahui hal itu.Tapi sepertinya Ana memang belum tau jelas mengenai hal yang Sarah sembunyikan itu".


"Sepertinya sangat penting, sehingga bahkan Ana tidak tau menahu. Sekilas aku mendengar lusa mereka akan bertemu. Itu saja yang bisa aku sampaikan kepadamu", Ken kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang.


"Tapi apa yang sebenarnya Sarah sembunyikan? Aku benar-benar tak dapat berpikir saat ini", ucap Sam frustasi.


Ken juga tak dapat membantu lebih banyak, karena hanya sampai di situ hal yang ia ketahui. Setelah ini biar adiknya yang berjuang sendiri mengejar cintanya yang baru bersemi.


***


Sore ini dokter telah memutuskan bahwa Sam sudah bisa pulang. Karena orang itu terlalu bersikeras, jadi dokter memutuskan untuk melakukan rawat jalan terhadap lukanya yang masih basah. Ada Tuan Dion, Nyonya Rima dan juga Ana yang sedang bersiap-siap membereskan barang-barang Sam untuk dibawa pulang. Pria itu akhirnya mengalah, tak bisa bersikeras lagi untuk pulang lebih awal.


"Ana, apa Ken akan menjemputmu?", tanya Nyonya Rima setelah mereka duduk bersama.


"Sepertinya tidak, tadi Ken bilang akan ada rapat mendadak sore ini. Jadi aku akan pulang dengan supir saja, Bunda", jawab Ana dengan senyuman.


"Anak itu terlalu bekerja keras! Bagaimana jika kau makan malam di rumah saja, sayang? Biar Ken menjemputmu nanti malam. Kita belum pernah menghabiskan waktu lebih lama, kan?", Nyonya Rima memberi tawaran dengan lembut tanpa pemaksaan. Ia hanya ingin kenal lebih dekat dengan menantunya ini. Hitung-hitung memperbaiki hubungan juga yang sebelumnya belum terlalu baik.


"Wah benar kak, setuju saja! Biar kakak ipar yang memasak makan malam kita nanti, Bunda. Masakan kakak ipar yang paling enak, selain masakan Bunda tentunya!", Sam menyela pembicaraan kedua wanita itu dengan ceria. Namun tatapan matanya penuh maksud.

__ADS_1


"Kau terlalu berlebihan, Sam!", Ana merasa malu dan tak enak hati terlalu di puji di depan mertuanya seperti saat ini.


"Baiklah, kita akan tau Sam yang melebih-lebihkan atau memang masakan menantuku ini sangat enak!", seru Tuan Dion dari arah belakang lalu merangkul bahu Ana.


"Yes, kakak ipar tidak mungkin menolak!", batin Sam girang.


"Baiklah! Sepertinya itu ide yang bagus! Tapi jangan salahkan aku ya jika nanti Ayah dan Bunda sakit perut karena masakanku!", Ana akhirnya setuju dengan ajakan mertuanya. Mau bagaimana lagi, akan tidak sopan jika Ana menolak ajakan mertuanya itu. Dan pemikiran Ana pun sama dengan Nyonya Rima, mungkin dengan hal ini hubungan mereka akan semakin dekat antara menantu dan mertua.


"Jika Sam yang memasak mungkin aku akan sakit perut!", seruan Tuan Dion lantas menimbulkan gelak tawa di antara ketiganya.


"Hey, kalian tidak tau saja!", seru Sam tidak terima. Ia ikut tersenyum, namun senyumannya jelas penuh makna.


-


-


-


-


-


masih ada satu lagi ditunggu ya 😉


author sudah crazy up nih

__ADS_1


jadi jangan lupa kasih like sama votenya ya 😁


__ADS_2