
"Kau,,,", berani sekali wanita muda yang belum memiliki banyak pengalaman itu menantang dirinya.
Dia, Tuan Alexander melempar tatapan penuh kebencian pada Ana. Karena dengan kehadiran wanita itu, semua permulaan kehancuran hidup putrinya dimulai.
"Jika Tuan masih belum selesai, aku akan dengan sabar menunggu keluhan seorang ayah yang putrinya sekarang sudah setengah gila!", Ana tersenyum sinis pada pria paruh baya itu.
"Kurang ajar!", Tuan Alexander terpancing emosinya.
Ia maju ke arah Ana dengan tangan yang sudah melayang di udara. Tak ada ketakutan sedikit pun pada wajah Ana. Tatapan matanya malahan makin memprovokasi kemarahan Tuan Alexander.
Namun belum sempat tangan itu sampai pada wajah Ana, sebuah tangan sudah mencekal tangan Tuan Alexander dengan begitu kuat. Lalu Ken bergerak menjadi tameng bagi istrinya itu. Tak ada yang boleh menyakiti istrinya walau seujung kuku pun.
"Kau sudah berani membuat rencana untuk menyakiti istriku dan bahkan berusaha menghilangkan nyawa anakku yang masih di dalam kandungan. Dan sekarang,, kau terang-terangan ingin menempatkan tangan kotormu pada wajah istriku?! Jangan terlalu serakah, Tuan Alexander!", mata Ken menyipit dengan ribuan silet tajam yang menerjang wajah lawannya. Rahangnya mengeras dengan emosi yang siap membuncah.
Meskipun bersikap tak gentar, namun di dalam hati pria paruh baya itu, sesungguhnya ada ketakutan nyata saat di tatap oleh pria yang sudah mempunyai nama dengan khas sikap dinginnya. Cekalan di tangannya juga semakin kuat dan sebenarnya itu menimbulkan rasa nyeri baginya.
"Sabar, Sayang! Kau tidak boleh bersikap tidak sopan pada orang,, tua! Sebagai yang muda, sudah sewajarnya kita menunjukkan sikap agar yang tua bisa mengerti dan paham!", Ana menyentuh lengan suaminya yang masih mencengkeram tangan Tuan Alexander.
Meskipun nada suara itu begitu lembut mengalun di telinga raja singanya itu, ia memberikan penekanan bahwa orang itu sudah cukup tua untuk melawan mereka semua. Dan lagi,,, tatapan yang Ana berikan padanya itu berbanding terbalik dengan nada bicaranya yang merdu. Tatapan mata wanita itu sangat khas singa betina yang siap menyerang mangsanya.
Sebagai suami yang selalu mendengarkan istri tercintanya itu, Ken segera menghempaskan tangan Tuan Alexander dengan kasar. Tubuh pria paru baya itu bahkan sampai mundur beberapa langkah karena hilang keseimbangan.
Dan Sam dengan sigap menahan tubuh itu agar tidak terjungkal ke belakang. Adik dari Ken itu memegangi kedua bahu Tuan Alexander lalu membantunya untuk berdiri tegak kembali.
Tapi sayangnya, dengan sikap angkuhnya tidak memperbolehkannya terlena dengan sikap baik orang-orang ini. Tapi memang benar, senyuman yang Sam tunjukkan padanya setelah itu, sungguh dipenuhi hawa kelicikan baginya.
__ADS_1
"Sepertinya Anda memang sudah tua, Tuan!", Sam tersenyum mengejek orang itu saat tangannya dilepaskan secara kasar.
"Tuan Alexander! Jadi Anda menyalahkan kami dengan apa yang terjadi pada putri Anda saat ini?!", Ana lalu mulai bicara.
"Ya, tentu saja ini semua salah kalian! Memangnya salah siapa lagi!", dengan angkuhnya Tuan Alexander mengangkat dagunya.
"Lalu bagaimana dengan cara yang dia lakukan untuk mendapatkan cintanya? Bagaimana menurut Anda cara Joice berusaha melenyapkan aku di saat hari pernikahanku dan Ken tidak lama lagi? Bagaimana putrimu menghalalkan segala cara, bahkan dengan merayu seorang pria untuk memuluskan rencananya? Bagaimana menurutmu Tuan, dengan putrimu yang menjual tubuhnya demi menghilangkan nyawa seseorang? Dan bahkan putrimu itu membahayakan nyawa orang yang dicintainya sendiri? Bagaimana Tuan?", Ana mulai emosional.
Ia maju satu langkah sambil mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. Ada air mata di sana, namun sebisa mungkin masih ia tahan. Saat ini ia masih ingin terlihat kuat dan tegar.
Ben memandangi adik tersayangnya itu sambil mengingat masa-masa sulit yang dilewati adiknya saat itu. Beruntung tidak ada Relly saat ini, karena mungkin anak buahnya yang satu itu pasti akan sangat malu jika mendengar Ana mengangkat masalah ini kembali. Pria eksentrik itu menaikkan salah satu sudut bibirnya memikirkan hal itu.
"Lalu,,, lalu bagaimana dengan nasib ayahku?! Bagaimana dengan perasaan seorang ayah yang saat itu harus mendengar kabar bahwa putrinya telah tiada? Bagaiamana Tuan, katakan padaku bagaimana jika itu terjadi pada dirimu?!", Ana mulai tak tahan dan air matanya lolos membasahi wajahnya. Setiap kalimatnya terdengar bergetar penuh penyesalan dan kesedihan.
Ken tidak tega melihat istrinya yang sekarang mulai bersedih mengingat mendiang ayah mertua yang sangat dicintainya itu. Ia mengusap punggung Ana berusaha membuat istrinya itu lebih tenang. Ken tau, ia tak bisa menghentikan Ana kali ini. Jadi biarlah Ana menumpahkan seluruh keluhan di hatinya yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
Semua orang di sana saling berpegangan pada pasangan mereka masing-masing. Dan para wanita yang paling merasakan apa yang Ana rasakan saat ini. Nyonya Rima, Sarah maupun Krystal, semua wanita itu ikut menangis mendengar resah yang Ana utarakan saat ini.
Ana yang mereka kenal sebagai sosok yang paling kuat di antara mereka semua sudah tidak ada lagi. Kini hanya tinggal Ana yang rapuh dengan kesedihan yang mendalam. Bahkan Megan yang biasanya hatinya mati pun ikut menitihkan air mata. Ternyata ada kisah pilu dibalik bahagianya keluarga besar itu.
Ana, hatinya saat ini terasa sakit kembali mengenang kejadian saat itu. Luka yang sudah ia simpan baik-baik, terpaksa ia buka untuk membuka mata seseorang di hadapannya ini. Meskipun dadanya sesak, meskipun terasa pengap, tapi Ana ingin orang itu tau bahwa orang itu masih lebih beruntung dari pada dirinya.
"Hingga akhirnya ayahku menyerah dengan penyakitnya dan kesedihannya. Bahkan di akhir hayatnya dia belum mengetahui kenyataan bahwa putrinya masih hidup!", air matanya tidak dapat berhenti mengalir, tapi sesekali ia menyekanya dan melanjutkan apa yang ingin hatinya samapikan.
"Saat itu aku harus bersembunyi setelah menghilang untuk beberapa waktu karena koma. Dan itu semua karena putrimu. Aku harus bersembunyi demi membongkar apa yang telah putrimu perbuat padaku. Dia mencoba merebut priaku dan juga menyebabkan aku kehilangan ayah yang sangat menyayangiku", Ana berusaha menghentikan air matanya sambil berjalan mendekat ke arah Tuan Alexander.
__ADS_1
"Apakah kau tau siapa diriku? Aku,, Keana Winata, putri dari Danu Winata, pemilik Winata Group dan merupakan mantan Ketua geng mafia Harimau Putih", Ana menyipitkan matanya menatap pria itu.
"Latar belakang yang ku miliki tidak sesederhana yang kau pikirkan, Tuan! Dan aku memiliki seorang kakak yang mewarisi jabatan ayahku di dalam geng mafia itu. Jika aku mau, jika aku tidak melarang kakakku. Saat itu, ketika aku belum bertemu dengan Ken lagi, mungkin nyawa putrimu sudah dihabisi. Putrimu tidak akan terselamatkan sejak lama. Tapi apa... aku masih mengampuninya dengan memilih untuk penebusan dosanya secara hukum", penuturan Ana pun berakhir bersamaan dengan air matanya yang berhenti mengalir pula.
Ia menghela nafasnya amat panjang seraya berbalik. Ia melangkah mendekat ke arah Ken. Ana membutuhkan pelukan suaminya saat ini. Tenaganya baru saja dikuras sesaat tadi.
Dan Ken, pria itu masih mengusap lembut punggung istrinya. Ia berusaha menenangkan Ana yang sempat sangat emosional tadi. Ken merasakan nyeri yang teramat sangat menghujam jantungnya melihat kesedihan yang kembali Ana sampaikan mengenai insiden kala itu.
Sambil memeluk erat istri tercintanya, Ken menatap tajam Tuan Alexander. Orang itu lantas menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan semua ucapan Ana tadi.
"Kau masih beruntung karena putrimu masih hidup! Orang yang kau sayangi masih ada di hadapan matamu!", ucap Ken dingin pada Tuan Alexander.
Pria itu mengangkat kepalanya menatap Ken dengan pandanga yang sulit dibaca. Terlalu banyak emosi di dalam tatapan itu. Namun Ken tak peduli dan memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau sudah salah jalan, kawan!", Tuan Dion pun turut prihatin dengan apa yang dilakukan oleh temannya itu.
"Anda bahkan berusaha melenyapkan orang-orang yang tak bersalah, Tuan!", meskipun Sarah adalah korban yang ia targetkan, tapi hati wanita itu tidak bisa mengeras melihat ada penyesalan yang besar di mata pria paruh baya itu. Sarah bukan menyindir, ia bermaksud mengingatkan bahwa orang itu telah melakukan banyak kesalahan.
"Bukan salah Ana yang merebut pria yang dicintai putrimu sejak lama. Tapi sejak awal memang pria yang dicintai putrimu itu tidak pernah menaruh hati padanya. Kakakku tidak melihat putrimu sebagai seorang wanita. Jadi seberapa keras usaha yang putrimu lakukan, itu tidak akan ada gunanya sama sekali meskipun saat itu Joice berusaha melenyapkan kakak iparku", Sam merangkul Sarah dengan lembut. Meneruskan peringatan yang tadi Sarah sampaikan agar mata pria itu terbuka.
Tuan Alexander bingung dengan pikiran dan perasaannya saat ini. Kacau, sangat kacau seperti ada badai besar di dalam hatinya. Ia meraup kasar wajahnya dengan sangat frustasi. Apakah benar atau salah sebenarnya apa yang telah ia lakukan?!
"Tidak, aku tidak salah!", kembali egonya melahap habis rasionalitas yang dimilkinya saat ini.
ddorr
__ADS_1
Lalu suara tembakan berbunyi nyaring di dalam ruangan yang semula sunyi.