Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 161


__ADS_3

"Sekarang giliranku!", ucap Ana dingin. Ken dan Han memilih untuk menyingkir ke sudut ruangan dimana terdapat sofa empuk di sana. Lagipula ada beberapa hal yang harus mereka bahas mengenai masalah di perusahaan.


Nyali Sam yang semula membara, menentang orang tuanya secara terang-terangan, kini tiba-tiba menciut seperti balon yang kehabisan udara. Tubuhnya sedikit meringkuk sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping agar tak bertemu mata dengan kakak iparnya. Garis lengkung di bibirnya menjuntai ke bawah, kekuasaan atas dirinya terasa akan direnggut kali ini oleh sang permaisuri.


"Ayo makan!", tak dinyana, nyatanya Ana malahan duduk di kursi yang tadi sempat ditempati oleh Tuan Dion. Ia mengambil sepiring nasi beserta lauk pauknya, lalu menyodorkan satu sendok penuh makanan itu dengan tangannya. Tatapannya bukan lagi tatapan garang khas singa betina yang seperti biasanya, kali ini tatapan wanita itu penuh kasih sayang seperti seorang kakak kepada adiknya.


"Ayo, buka mulutmu!", Ana menambah jarak sendok dengan mulut Sam sambil memerintah dengan sedikit kelembutan ketika adik iparnya ini masih terdiam dengan keterkejutannya.


"Buka mulutmu atau aku sobek dengan tanganku sendiri!", kali ini Ana menggeram memberi peringatan tentang batas kesabarannya.


hap


Sepersekian detik makanan itu hilang dari sendok dan masuk ke mulut Sam dengan pipi menggembung akibat asupan makanan yang terlalu banyak di mulutnya. Ia menatap Ana haru, rasanya amat senang memiliki seorang kakak perempuan. Merasa diperhatikan, tidak seperti kakak kandungnya yang selalu bersikap dingin dan galak kepadanya.


pletak


Sebuah pulpen melayang dan jatuh tepat di kening Sam saat pria itu hampir memeluk kakak iparnya.


"Aauuww!", pekik Sam kesakitan.


"Berani maju lagi, tau sendiri akibatnya! Sudah untung aku membiarkan Ana menyuapi dirimu!", ternyata sejak tadi tingkah istri dan adiknya itu tak luput dari pantauan Ken. Telinganya mendengarkan apa yang Han jelaskan, tapi matanya tetap mengawasi dimana istrinya berada.


Dan kedua orang lainnya sedang berusaha keras untuk tidak tertawa. Lagi-lagi mereka harus menyaksikan penganiayaan seorang kakak kepada adiknya yang masih saja begitu bodoh setelah sekian lamanya. Sudah tau kakaknya itu pencemburu berat, masih saja ia tidak memikirkan apa yang akan ia lakukan kepada kakak iparnya. Sambil berusaha menahan tawa, Ana dan Han juga tak lupa menggelengkan kepala.


"Kau pelit sekali, kak! Aku hanya terlalu bahagia memiliki seorang kakak perempuan yang begitu perhatian. Tak seperti dirimu! Dingin, angkuh, congkak dan ,,, galak! Huh!", Sam protes seperti anak kecil sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bicara lagi aku kirim kau ke Negara A!", ancaman andalan Ken keluarkan. Dan itu sukses membuat mulut adiknya itu berhenti bicara. Ana dan Han kembali melakukan gerakan yang sebelumnya, menggelengkan kepala.


Setelah terasa cukup damai tanpa suara Sam lagi, Ken kembali fokus dengan pekerjaannya bersama dengan Han. Sedangkan Ana, masih dengan perhatiannya menyuapi adik iparnya dengan tenang dan damai.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau berusaha keras untuk pulang sekarang?", tanya Ana pura-pura tidak tau duduk permasalahannya.


"Hah!", Sam mendesah kasar sambil memijit keningnya.


"Biar kutebak! Apa ini ada hubungannya dengan Sarah?", Ana masih berakting tidak tau menahu.


"Ya, ini memang tentang dia!", Sam menjawab dengan begitu berat.


"Ada apa?".


"Semalam dia datang menjengukku, kak", Sam menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Lalu?".


"Ayah bertanya padaku tentang bagaimana perasaanku terhadap Sarah. Lalu saat aku baru saja menjawab, tiba-tiba dia datang tanpa suara. Dia mendengar kalimat awal yang membuatnya salah paham terhadapku. Lalu dia pergi begitu saja setelah memberikan bunga itu kepadaku. Itupun tanpa mau melihat ke arahku, kak. Dan kurasa dia menangis saat itu. Aku ingin sekali mengejarnya, tapi ayah menahanku. Aku kesal sekali jadinya karena tidak bisa menjelaskan apa-apa kepadanya", begitu Sam menjelaskan. Terdengar sekali nada penyesalan dan ketulusan saat ia berbicara. Ana merasa iba, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah berjanji kepada sahabatnya itu untuk tetap bungkam.


"Iya aku tau, kak. Tapi melihat Sarah pergi sambil menangis seperti itu membuat aku tidak tenang, kak. Apalagi itu sudah agak larut untuknya pulang sendirian", Sam begitu khawatir mengenai Sarah saat mengingat kejadian semalam.


"Memangnya apa yang kau katakan sehingga membuatnya menangis?", tanya Ana penasaran. Benar juga, ia belum tau jelas apa yang sebenarnya terjadi antara Sam dan juga sahabatnya.


"Aku baru saja berkata bahwa sejak awak aku yang ingin bermain saja dengannya karena sedang bosan!", sebuah sendok penuh dengan makanan masuk dengan kasar ke dalam mulutnya.


Ana melotot ke arahnya. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus yang mengeluarkan uap.


"Jelas saja Sarah menangis! Wanita mana yang tidak kesal mendengar perkataanmu itu, Sam!", Ana berucap dengan nada tinggi dan tidak sabar. Lalu ia berdiri sambil terus mendengus kasar seperti singa betina yang siap menerkam mangsanya.


"Dengarkan aku dulu, kak! Tenang dulu ya, kakak iparku. Ayo duduk, ayo duduk!", Sam menarik kedua tangan Ana sehingga kakak iparnya itu terduduk kembali.


"Dengarkan penjelasanku dulu, kak!", pinta Sam dengan nada memelas.

__ADS_1


"Apa?", sahut Ana cepat dengan angkuhnya. Ia akan menunggu untuk jawaban yang memuaskan hatinya. Tapu jika jawaban yang Sam berikan ternyata mengecewakan, jangan harap Ana akan memberikan ampun kepadanya.


"Seja awal aku memang hanya bermain saja kak, aku tidak serius karena terlalu bosan dengan wanita yang setiap hari datang hanya karena status dan kekayaan yang kumiliki", jawab Sam jujur.


"Ya, alasan yang sama seperti yang Ken katakan dulu", gumam Ana dalam hati.


"Sarah begitu galak di hadapanku. Tapi aku tau bahwa dia adalah wanita yang begitu naif dan polos, kak. Dia seperti dirimu, tak pernah mengharapkan apapun dariku meski bisa dibilang hubungan kami cukup dekat. Dia tak pernah memanfaatkan hubungan kami dari awal", Sam memandang lurus ke depan sambil menjabarkan isi hatinya.


"Ya, dia memang seperti itu. Sama halnya terhadapku yang merupakan sahabatnya. Ia tak pernah memanfaatkan keadaan seperti yang lain", Ana memang mengakui kelebihan Sarah yang satu ini. Karena dirinya sendiri pun merasakan hal yang sama.


"Dan hal itu yang lambat laun membuatku makin menyukainya. Bahkan aku sudah jatuh cinta padanya, kak! Aku mencintainya! Saat melihatnya menangis semalam, rasanya aku ingin memeluknya. Saat menyadari hari sudah malam, rasanya aku ingin menjaganya. Maka dari itu aku kesal, aku kesal pada diriku sendiri karena tak berdaya terhadapnya semalam", terlihat sangat sedih mata Sam. Sendu tatapan mata itu dan tak berani ia alihkan untuk menatap kakak iparnya.


"Baiklah, aku mengerti sekarang! Coba jelaskanlah kepadanya nanti. Tapi benar apa yang ayah katakan, sembuhkan dulu lukamu! Menurutku itu yang lebih penting saat ini", Ana hanya bisa mengucapkan hal ini. Karena tidak mungkin ia membongkar kesepakatannya dengan Sarah semalam.


"Aku tak peduli dengan lukaku! Aku hanya ingin bertemu dengan Sarah lalu menjelaskan semuanya!", ucap Sam keras kepala.


-


-


-


-


-


masih ada lanjutannya,, ditunggu aja ya 😊


tapi like, vote dan komentar jangan lupa ya😉

__ADS_1


__ADS_2