Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 43


__ADS_3

Baru beberapa detik Ken bicara, bibir Ana yang lembut sudah menyentuh bibirnya. Ken memperhatikan Ana yang tengah memejamkan matanya dengan keras hingga menimbulkan kerutan di sana. Ken tersenyum penuh kemenangan di bibir Ana.


***


Ana menengadahkan telapak tangannya ke arah Ken. Dia menantikan Ken akan memberikan gantungan kunci itu padanya. Tapi seakan tak mempedulikan Ana, Ken masih asik memandangi gantungan kunci itu.


"Ken!", seru Ana agar Ken mengalihkan perhatiannya.


"Emm!", Ken menyahutinya singkat.


"Ken!".


"Emm!", belum ada perkembangan dari sikap Ken yang membuat Ana geram.


"Berikan itu padaku, Ken!" ucap Ana dengan meninggikan intonasinya.


"Ini milikku, Ana!", ucap Ken dengan wajah datarnya yang tak dapat terbaca.


"Tapi kau tadi sudah berjanji akan memberikannya, Ken. Jika aku sudah me,, itu,, men,, itu", ucapan Ana terputus karena dia begitu malu untuk meneruskannya. Semburat merah sudah mulai hadir di pipinya yang putih.


"Men,, Apa?", Ken sengaja memancing Ana untuk mengucapkannya sendiri. Dia melipat bibirnya dalam untuk menahan senyumnya sejenak, tapi kemudian dia memasang wajah datarnya lagi.


"Menciumu!", seru Ana cepat. Kontan pipi Ana sudah terasa panas dan memerah seperti tomat.


Ken memperhatikan perubahan wajah Ana masih dengan menahan tawanya dengan memasang ekspresi datarnya. Sebenarnya ingin sekali dia mencium Ana lagi sekarang, dirinya begitu menggemaskan bagi Ken jika sedang merona pipinya.


"Apakah aku perlu mengencangkan AC nya? Sepertinya kau kepanasan!", ucap Ken dengan nada meledek.


"Keeenn!", seru Ana dengan intonasi tinggi dan matanya yang sudah membulat besar. Kini ia memalingkan wajahnya ke arah jendela dan mengerucutkan bibirnya sambil menggerutu pelan.


Ken terkekeh menanggapi respon Ana. Dia mendekatkan dirinya ke arah tempat duduk Ana, kemudian Ken memeluknya dari samping secara tiba-tiba.


"Kenapa kau sangat menggemaskan sekali, sih! Apakah kau benar-benar menginginkan gantungan kunci ini?", ucap Ken sambil mengangkat benda itu ke hadapan wajah Ana.


Ana mengangguk pasti, tapi dia tak mengubah ekspresi wajahnya yang tengah mengerucutkan bibirnya. Dia mencoba meraih gantungan itu, tapi Ken malah sengaja mengangkatnya lebih tinggi lagi. Ana mengubah posisinya menghadap Ken sambil melempar tatapan kesalnya.


"Jika kau menginginkannya, maka berusahalah mengambilnya sendiri!", ucap Ken dengan seringai liciknya.

__ADS_1


Ken mengangkat gantungan kunci itu ke atas sampai mengenai atap mobil. Ana terus berusaha mengambilnya dengan susah payah. Postur tubuh Ken yang lebih tinggi darinya menjadi kendala bagi Ana untuk dapat meraihnya. Tanpa sadar, Ana terus mendekatkan tubuhnya ke arah Ken agar memudahkannya menjangkau tangan Ken yang terangkat ke atas. Ken menyadari usaha Ana itu menyeringai, dia memutuskan untuk merebahkan dirinya perlahan agar Ana bisa mencapai tangannya dengan mudah.


"Yes!", ucap Ana girang setelah meraih gantungan kunci yang masih ada di tangan Ken. Tapi sedetik kemudian kegembiraannya berubah menjadi rasa malu karena dirinya kini sudah berada di atas tubuh Ken. Ana melupakan gantungan kunci itu dan berusaha bangkit untuk duduk. Tentu saja tak semudah itu bagi Ken, dia mendekap tubuh Ana erat kemudian menghadiahinya beberapa kecupan kecil di bibir Ana.


"Blush", pipi Ana bersemu. Ana menahan malunya dengan menundukkan kepalanya dalam sampai menyentuh dada Ken.


"Jadi kau benar-benar menginginkan ini?", tanya Ken pada Ana yang kini sudah duduk kembali. Ana mengangguk pasti.


"Tapi ini memang milikku, Ana!", ucap Ken.


"Ini milikku, Ken!", seru Ana merasa yakin bahwa itu memanglah miliknya.


"Ini milikmu, Ana!", Ken menunjukkan gantungan kunci milik Ana yang masih bergelayut manja pada resleting tasnya.


Ana memandangi gantungan kunci miliknya yang masih menggantung di tasnya, kemudian dia memandangi gantungan kunci milik Ken yang sedang dimainkan oleh Ken di udara. Ana memandanginya bergantian dengan tatapan tak percaya.


"Kau masih menyimpannya, Ken?", tanya Ana begitu gembira.


"Jangan berpikir terlalu berlebihan! Aku hanya kebetulan menyimpannya saja, karena ku pikir ini adalah benda berharga!" ucap Ken dengan santainya.


"Aku serius, Ken!", ucap Ana dengan nada memohon.


"Siapa suruh kau tak memperbolehkan ayahmu untuk memberi tahu siapa pengirimnya", ucap Ken sambil mengedikkan bahunya. Karena memang saat itu Tuan Danu hanya mengatakan bahwa seseorang sangat mengaguminya dan menitipkan hadiah untuknya.


"Jadi kau yang menyukaiku lebih dulu, kan! Kau sudah menyukaiku sejak 5 tahun yang lalu,benar kan!", ucap Ken dengan nada menggoda.


"Aku dulu hanya mengagumi dirimu saja, Ken. Kau itu terlalu percaya diri, heh", ucap Ana dengan nada jengkel.


"Sama saja, Ana!", Ken terkekeh.


"Jelas beda, Ken. Kalau mengagumi itu semacam perasaan suka yang tak perlu dibalas. Tapi jika menyukai itu berarti perasaan suka yang,, yang,, ee, yang harus dibalas!", jawab Ana sekenanya.


"Bagaimana jika aku tak membalasnya?!", kilah Ken.


"Tapi kau kan, yang lebih dulu menyatakan perasaanmu padaku!", ucap Ana dengan senyum kemenangan. Setelah berkali-kali di goda, akhirnya dirinya berhasil melawan balik.


"Baiklah, untuk yang satu ini aki mengaku kalah pada singa betinaku!", ucap Ken sambil tersenyum lucu. Karena memang benar, Ken kini telah benar-benar jatuh cinta pada Ana.

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini! Singa betina apa, hah?! Kau memang sama saja dengan Sam. Jika aku singa betina, maka kaulah raja singanya", ucap Ana dan mereka pun tertawa bersama.


"Terima kasih, Ken!", ucap Ana tulus karena masih menyimpan pemberian darinya meskipun itu tanpa sengaja memang.


"Tak perlu berterima kasih, sayang. Aku akan menyimpan ini dengan baik. Karena mulai sekarang, gantungan kunci ini akan menjadi benda paling berharga untukku", ucap Ken dengan senyum tulusnya. Ana pun membalas senyumannya. Ken mengecup kening Ana dalam, dirinya mencurahkan rasa sayangnya pada Ana pada kecupan itu. Sedangkan Ana, ia meresapi kecupan itu dengan memejamkan matanya erat.


Setelah 15 menit, mobil yang mereka kendarai telah sampai di halaman kediaman Ana. Ken buru-buru keluar dan setengah berlari mengitari mobil agar bisa membukakan pintu untuk Ana.


"Silahkan tuan putri!", Ken mengulurkan tangannya seraya membungkukkan badan pada Ana yang akan keluar dari mobil.


Ana menyambut tangan Ken. "Terima kasih, Tuanku!", kemudian Ana membungkuk memberi hormat pada Ken. Mereka pun terkekeh dengan tingkah mereka sendiri.


"Masuklah!", ucap Ken setengah memerintah.


"Kau tidak ingin mampir? Masuklah dulu!", ucap Ana.


"Tentu saja aku ingin! Aku ingin langsung masuk ke kamarmu", ucap Ken dengan nada menggoda. Sontak Ana memukul pelan lengannya.


"Baiklah, kau masuk dan beristirahat lah. Setelah ini aku akan ada jamuan makan malam dengan investor dari negara J. Setelah itu aku akan mengabarimu lagi, oke", Ken mengecup kening Ana dan masuk ke dalam mobilnya.


"Bye! Hati-hati dalam perjalanan oke, sayang!", ucap Ana cepat setelah nya kemudian dia langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil menahan senyumnya.


Ken nampak tertegun oleh panggilan Ana padanya. Ini pertama kalinya dia mendengar Ana memanggilnya sayang dan terlebih lagi atas inisiatifnya sendiri. Setelah kesadarannya kembali, Ken memerintahkan supir untuk melajukan mobilnya. Ken meninggalkan kediaman Ana dengan senyum sumringah.


***


Ana setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya sambil bersenandung ceria. Terlihat begitu banyak rona bahagia dari wajahnya. Dia tak menyadari sepasang mata sedang mengawasinya dari ambang pintu ruang baca sambil tersenyum damai.


"Apakah kau sudah melupakan ayahmu setelah bertemu pria lain, hah!", ucap Tuan Danu dengan nada menyindir. Kini dirinya sudah berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan bersender pada lemari kaca dekat tangga.


Ana refleks menoleh pada sumber suara. Dia yang sudah hampir mencapai lantai dua, memutuskan kembali menuruni anak tangga untuk menggapai ayahnya. Ana langsung memeluk ayahnya erat dan menghujani pipi ayahnya dengan beberapa kecupan.


"Tentu saja tidak, ayahku! Ayah itu adalah cintaku, manisku dan juga kesayanganku tentunya!", ucap Ana manja sambil bergelayut di lengan ayahnya.


"Apakah kau bahagia?", tanya Tuan Danu singkat.


"Tentu saja ayah! Aku sangat,, sangat bahagia", Ana merentangkan tangannya dan memutar tubuhnya di tempat. Dia mengekspresikan kebahagian yang kini sedang dirasakannya.

__ADS_1


Tuan Danu memandangi putrinya dan tersenyum haru. Paling tidak di saat yang hampir genting ini, putri kesayangannya itu telah mendapatkan kebahagiaannya bersama orang yang tepat.


__ADS_2