
Sam mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia menyusul orang-orang yang sudah terlebih dahulu masuk menuju ruang makan.
***
Ken dan Sam tengah membicarakan beberapa masalah pekerjaan sambil duduk-duduk santai di meja makan. Sedangkan Ana dan Sarah mempersiapkan beberapa bahan makanan untuk digunakannya memasak. Ana dan Sarah sama-sama wanita yang sudah terbiasa dengan semua aktifitas di dapur.
Sarah yang notabene merupakan seorang wanita dari keluarga biasa, ditambah lagi ia yang merupakan seorang sulung sudah terbiasa berbagi tugas dengan ibunya untuk mengurusi pekerjaan rumah termasuk memasak. Meskipun yang ia masak hanya masakan rumahan yang biasa. Ya mau bagaimana lagi, sudah bisa makan saja mereka akan sangat bersyukur.
Sedangkan Ana, meskipun ia merupakan nona muda dari keluarga terhormat. Kepribadiannya yang rendah hati dan selalu penasaran akan sesuatu hal yang baru membuatnya pandai dalam mengolah beberapa macam masakan. Para pelayan di rumahnya sampai merasa tidak enak hati lantaran nona mudanya itu kerap kali memasak untuk dirinya sendiri maupun untuk ayahnya, Tuan Danu. Mereka sebenarnya pun sangat bangga memiliki tuan dan nona muda yang sangat baik dan tidak sombong.
"Hey, sebenarnya siapa target cintamu itu Sarah?", tanya Ana setengah berbisik. Ia sudah sangat penasaran, siapa pria yang sudah mengambil hati sahabatnya itu.
"Nanti akan ku beritahu!", jawab Sarah datar sambil meneruskan memotong beberapa sayuran.
"Baiklah jika kau tak ingin memberitahu ku! Besok kau tidak usah lagi bekerja di tempat ayahku", ucap Ana acuh tak acuh. Ia sengaja memancing Sarah agar mau mengatakan yang sebenarnya.
"Maksdmu, kau akan memecatku? Heh, kau memang sangat pandai untuk mengancamku", Sarah mengerucutkan bibirnya.
"Kau hanya perlu menjawab?", ucap Ana santai sambil mengedikkan kedua bahunya.
Sejenak Sarah membayangkan wajah Han yang sangat mempesona hatinya. Pria tampan dengan rambut ikal yang khas membuatnya mengalihkan pandangannya malam itu.
"Emm,, dia,, itu adalah,, ", Sarah menghentikan ucapannya lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tak ada orang lain lagi selain mereka berdua.
"Asisten kekasih mu, Tuan Han!", Sarah terkekeh di akhir pengakuannya. Pipinya merona, ia menunduk menahan malu.
"Astaga Sarah, kenapa harus dia?!", Ana menepuk keningnya. Ia tak menyangka sahabatnya akan menyukai Han yang tak pernah sekalipun ia kenalkan dengannya.
"Apa? Memangnya kenapa?", tanya Sarah heran. Memangnya apa yang salah dengan menyukai seseorang. Dia merasa memiliki kebebasan untuk menyukai siapa pun.
"Ku pikir kau dan Sam..", Ana menghentikan kalimatnya saat ia melihat Ken dan Sam sudah berdiri tak jauh dari mereka untuk menjangkau dengar pembicaraan antara dirinya dan Sarah.
Ken menempatkan jari telunjuknya pada bibirnya sambil menggeleng pelan, memberi isyarat agar Ana tak memberitahukan keberadaan mereka saat ini. Sedangkan Sam menatap Ana dan Sarah dengan tatapan datar namun menyelidik.
__ADS_1
Ana tak bergeming namun mengerti maksud Ken. Sarah yang sedang mengerutkan alisnya menatap bingung pada Ana yang tiba-tiba menghentikan ucapannya. Ia mencoba menoleh ke arah pandangan mata Ana. Tapi buru-buru Ana menghentikan Sarah dengan menjaga kedua lengan Sarah agar tetap menghadap ke arahnya.
"Sebenarnya ada apa? Mengapa kau menghentikan ucapanmu?", tanya Sarah heran. Ia masih bersikeras berbalik tapi Ana juga tetap menahannya.
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan kau dan Sam. Karena ku pikir kau dan Sam saling menyukai", jawab Ana cepat berusaha menutupi kegugupannya.
"Tidak, aku mana menyukai pria gila itu!", jawab Sarah histeris. Ia menampik ucapan Ana dengan begitu semangat.
Sam menaikkan satu sudut bibirnya, ia tersenyum jengkel mendengar ucapan Sarah.
"Tapi aku akui, dia memang tampan dan juga baik hati. Buktinya beberapa waktu lalu dia mau membantu membiayai perawatan ibuku. Dia juga tidak...", jawaban Sarah menggantung.
Ia teringat sudah dua kali dirinya dan Sam berbagi ranjang. Bahkan terakhir kali mereka saling berpelukan dalam lelap mereka. Hanya sebatas itu dan tak pernah terjadi apa pun di antara dirinya dan juga Sam. Sam benar-benar menghargai dirinya sebagai wanita. Padahal bisa saja Sam benar-benar mengambil keuntungan darinya saat Sarah sedang tidak sadar. Ada sedikit perasaan kagum muncul setitik dalam lubuk hati Sarah. Kali ini ia bingung sebenarnya siapa yang dia sukai, Han kah yang membuatnya berdebar saat pertama bertemu, atau Sam kah yang suka bertingkah namun baik hati. Sarah tenggelam dalam pikirannya.
"Apa? Tidak apa?", ketiga orang di sana menatap Sarah penasaran dari tempat yang berbeda.
"Ah, sudahlah! Kenapa kita jadi membahas diriku. Seharusnya kita membahas hubungan mu dengan Tuan Ken. Mau bagaimana ke depannya, dan lagi kau harus menghadapi ibunya yang belum menyetujui dirimu sebagai pasangannya", ucapan Sarah lantas membuat Ana memandang ke arah Ken sejenak. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajah Ana yang tadinya ceria berubah muram, mendung dan berkabut. Ia kehilangan gairahnya untuk menjawab ucapan Sarah.
"drret, drret, drret", ponsel Ken bergetar.
"Ada apa Han?", ucap Ken setelah menggeser tombol jawab pada ponselnya. Ia berjalan menjauh dari mereka. Sedangkan Sam masih berdiri di posisinya, menatap Sarah dengan intens.
Ana dan Sarah terkesiap setelah Ken mengeluarkan suaranya. Mereka langsung mengarahkan pandangannya ke arah Ken dan Sam berada. Ada perasaan aneh saat tatapan mata Sarah dan Sam bertemu. Sarah merasakan hal yang berbeda ketika ia menatap Han. Entah apa itu, Sarah belum bisa memastikannya.
Ana memandang Ken yang sedang berjalan menjauh dengan sendunya. Ia sangat mencintai Ken, tapi apa yang harus ia lakukan untuk membuat ibu dari Ken itu mau menerimanya. Ana juga tak ingin menyerah, ia tak ingin pasrah begitu saja menerima bahwa ia harus melepaskan pria yang dicintainya itu pada wanita lain. Tidak, Ana pun memiliki sisi posesifnya. Ia pun tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Lalu apa? Apa yang harus ia lakukan untuk membuktikan dirinya. Bahwa ia juga pantas untuk bersanding dengan Ken, seseorang yang sangat sukses dan disegani semua orang.
Mata Ana menatap tajam pada satu titik. Ia mengepalkan tangannya di samping. Ana telah membulatkan tekadnya untuk menjadi wanita yang patut untuk dibanggakan, bagi ayahnya terutama lalu untuk Ken dan selebihnya untuk membuktikan diri pada wanita tua itu juga pada khalayak bahwa ia, hanya ia bahkan yang pantas mendampingi Presdir Ken yang terhormat.
Ken kembali dengan wajah tak bersahabat. Ia mengerutkan alisnya sambil berjalan mendekat. Dengan kasar ia menarik kursi di sebuah mini bar dekat dapur. Kemudian ia memutar tubuhnya agar bersandar pada meja. Ia menengadahkan kepalanya. Pikirannya sedang bekerja sekarang.
Ana memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Mereka semua tersihir oleh aura Ken yang nampak suram. Mencekam, adalah gambaran suasana kali ini.
__ADS_1
Setelah mencuci tangannya dengan sabun, Ana bergegas menghampiri Ken. Ia meringsek ke dalam dekapan Ken. Ana memeluk Ken dari samping.
"Ada apa?", tanya Ana lembut.
Ken masih berdiam dengan pikirannya. Tak ada satu patah kata pun terlontar dari mulutnya. Ia hanya memandangi Ana sembari mengusap lembut pipi putih nan mulus milik Ana.
"Ken?", Ana merajuk menginginkan pria nya itu untuk bicara. Rasa penasaran membanjiri benak Ana.
"Tidak apa-apa, sayang!", ucap Ken lembut dan mencium pucuk kepala Ana.
"Hey, bisakah kalian menghormati kami yang masih berada di sini?! Kasihanilah aku yang masih sendiri ini kak!", ucap Sam sambil lalu meninggalkan mereka ke arah depan.
Sam juga dilanda rasa penasaran, namun ia urungkan untuk bertanya. Insting nya mengatakan bahwa ia harus menyingkir agar Ken dapat dengan leluasa berbicara padanya. Entah berita apa yang baru saja Ken terima, hingga auranya begitu suram dan mencekam.
-
-
-
-
-
-
-
-
jangan lupa untuk vote, like dan komentarnya ya 😉
terima kasih atas dukungannya selama ini ya 😘
__ADS_1