Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 135


__ADS_3

"Kalian yang berada di ruangan ini dilarang keras mengungkapkan kejadian ini keluar. Terutama berita mengenai Nona muda kita yang masih hidup saat ini!", seru Yohan di tengah kerumunan pegawai itu.


"Eherm.. eherm!", Ana berdehem dengan suara yang agak keras hingga semua mata melihat ke arahnya. Ia mengambil posisi di tengah tepat di hadapan mereka semua, lalu ia tersenyum tulus kepada semuanya.


"Terima kasih atas dedikasi kalian selama ini kepada perusahaan. Saya akan sangat menghargai pilihan kalian saat ini untuk tidak membocorkan satu berita pun mengenai kejadian yang baru saja kita saksikan bersama-sama. Masih ada beberapa hal yang harus saya urus, jadi demi kepentingan kita bersama saya harap kalian bisa menyimpan baik-baik memori kalian yang melihat. kehadiran saya saat ini. Dan untuk dedikasi kalian ini, saya akan memberikan bonus pada kalian semua di akhir bulan ini. Saya ucapkan terima kasih atas kerja sama kalian selama ini!", Ana membungkuk hormat kepada seluruh pegawai yang hadir di ruangan itu.


Mereka semua tertegun melihat ketulusan dari kata-kata Nona muda mereka. Dan lagi sikap Ana yang bersahaja sungguh membuat mereka kagum dengan sosok dari mendiang bos mereka sebelumnya. Sungguh mirip, Ana sungguh mirip dengan mendiang Tuan Danu yang selalu memperlakukan pegawainya dengan hormat namun tetap tegas dalam kepemimpinannya. Sungguh berbanding terbalik dengan sikap arogan Tuan Bram yang selalu memandang remeh mereka semua dan selalu memperlakukan mereka layaknya budak bagi dirinya.


"Tentu saja, Nona! Kami akan mengunci mulut kami rapat-rapat dan tak akan membiarkan kejadian ini diketahui oleh siapapun", ucap salah satu pegawai pria dengan lantangnya.


"Benar Nona, Anda bisa memegang ucapan kami. Kami akan selalu membantu Nona kapanpun Nona butuh bantuan kami", seru lagi seorang pegawai wanita di ujung yang satunya.


Semua pegawai bersorak dengan kalimat yang sama. Mereka bersedia bekerja sama untuk menyembunyikan kejadian kali ini. Namun dari nada mereka terdengar sebuah ketulusan dari hati mereka masing-masing untuk membantu Nona muda mereka saat ini. Yohan tak bisa menahan senyumnya melihat pemandangan langka yang belum pernah ia lihat sebelumnya selama bersama Tuan Bram di sisinya.


"Baiklah! Sekali lagi saya ucapkan Terima kasih! Kalian bisa meneruskan pekerjaan kalian lagi!", Ana menyunggingkan senyum ramahnya saat memberi titah.


Semua orang akhirnya meninggalkan ruangan itu satu persatu. Dan yang tinggal di sana adalah, Ana sendiri, Yohan dan Risa yang ternyata ikut bergabung dengan kerumunan itu sejak tadi.


"Terima kasih!", ucap Ana pada Yohan yang tengah merapihkan ruangan rapat yang sedikit berantakan.


"Anda tidak perlu sungkan, Nona! Tuan Ken telah menjanjikan hal yang sangat penting bagi saya. Hal itu sudah cukup untuk saya membayarnya dengan melakukan hal yang sudah semestinya", balas Yohan sopan kepada Ana.


"Memangnya apa yang Ken janjikan kepadamu?", tanya Ana penasaran. Ana duduk tak jauh dari Yohan menopang dagunya dengan satu tangan dan menatapnya dengan penasaran. Ia sudah merubah sikapnya menjadi lebih santai. Tak peduli jika dia adalah seorang petinggi perusahaan ini.


"Tuan Ken berjanji akan menyelamatkan ibu dan adik saya yang selama ini ditahan oleh Tuan Bram supaya saya selalu setia dan menurut kepadanya", jawab Han dengan tenang. Namun Ana dapat menangkap sedikit amarah masih Yohan simpan, apalagi saat menyebutkan nama rubah tua yang licik itu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang? Apakah Ken sudah menyelamatkan mereka?", lagi-lagi Ana melontarkan pertanyaan seperti anak kecil yang amat penasaran.


"Kau ini kenapa jadi banyak bertanya?!", tegur Risa yang berada di sebelahnya.


"Memangnya kenapa? Aku hanya penasaran apakah suamiku sudah melakukan tugasnya dengan benar", ucapan Ana sontak membuat Yohan maupun Risa tertawa bersamaan. Mendengar penuturan Ana dengan nada yang sangat imut dan ekspresi lugunya membuat dua orang itu tak dapat menyembunyikan tawa mereka.


"Hey, kenapa kalian menertawakan aku!", seru Ana tidak suka.


"Tidak apa-apa, Nona! Baru saja Tuan mengabari saya, bahwa ibu dan adik saya sudah ada di bawah perlindungannya. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuan dan Nona karena sudah mau membantu saya yang bukan siapa-siapa ini!", Yohan menghentikan kegiatannya lalu membungkuk hormat dengan kata-katanya yang terdengar tulus.


"Kau jangan sungkan seperti itu! Kita ini sesama manusia, sudah tugas kita bukan untuk saling tolong menolong", Ana membalas ketulusan kata-kata Yohan.


Lagi, Yohan dibuat kagum oleh sikap Ana yang santun dan bersahaja. Ia diperlakukan layaknya seorang manusia, hati siapa yang tidak tersentuh. Apalagi bagaimana selama ini ia diperlakukan oleh Tuan Bram, sungguh amat kontras pikirnya.


Yohan dan Risa tidak bisa tidak tersenyum dengan tingkah Ana. Wanita yang ada di hadapan mereka ini membuat mereka kehilangan kata-kata, banyak sisi yang membuat mereka menatap kagum pada punggung wanita yang sudah mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan terlebih dahulu.


***


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?", tanya Risa disela makan siang mereka.


Tadi sebelum berangkat, Ana menyempatkan diri untuk memasak makan siang untuk ia bawa ke kantor. Ia sengaja membawa bekal ini karena memang ia merindukan masa-masa dimana ia dan Risa sering menghabiskan waktu bersama. Saat ini mereka menikmati makan siangnya di kantor mendiang Tuan Danu yang sekarang akan menjadi kantor Ana.


"Besok, kita akan meneror wanita licik itu lagi! Karena hari ini yang bertugas adalah kakak dan Tuan Relly!", jawab Ana sambil menikmati makanannya.


***

__ADS_1


Petang telah menjelang, meninggalkan cerah mentari sebelumnya dengan semburat jingga yang menenangkan. Tapi hati Joice nampak tidak tenang sore itu. Karena malam ini ia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Tuan Relly. Ia memerintahkan supirnya menuju sebuah hotel mewah tak jauh dari kantornya, tempat mereka melakukan janji temu di sana.


krriing,,, krriing,,,


Ponsel Joice berdering, dan wajahnya berubah malas saat mendapati nama dari penelepon itu adalah orang yang akan ia temui nanti.


"Ya Tuan!", sapa Joice mencoba membuat mempertahankan nada bicaranya agar tetao terdengar sopan.


" Aku sudah sampai! Cepat datang kemari, atau aku akan menyusulmu ke sana!", Relly berucap tenang namun nadanya memiliki nilai gertakan.


"Tenang saja, Tuan! Sebentar lagi saya sampai!", sambungan itu langsung diputus oleh tuan yang meneleponnya barusan.


"Dasar sial!", umpat Joice seraya melempar ponselnya ke samping. Ia menutup wajahnya frustasi. Sesungguhnya ia tidak rela melakukan hal ini lagi, karena dalam bayang-bayangnya hanya Ken yang akan menyentuhnya nanti. Tapi apa mau dikata, ia harus melakukan ini daripada semua rencananya terbongkar dan gagal.


***


"Sial!", umpatan yang sama yang Relly ucapkan di sebuah kamar hotel. Lalu suara terbahak terdengar dari arah sudut kamar itu. Ben sedang tertawa senang melihat anak buahnya itu sedang menderita.


"Apa aku harus tetap di kamar ini untuk memastikan apakah aku bisa memegang kata-katamu?!" ucap Ben dengan seringainya.


"Cukup Tuan, jangan meledek saya lagi. Saya sudah berjanji bahwa saya tidak sudi menyentuh wanita itu lagi!", ucap Relly dengan wajah kesalnya.


"Apakah kau yakin?!", ucap Ben meragu dengan seringai. Ekspresi yang menjengkelkan bagi Relly untuk melihat wajah bosnya saat ini.


"Yakin!", Relly membelakangi Ben seperti anak kecil yang sedang merajuk.

__ADS_1


__ADS_2