
"Ahh, sepertinya Tuan Ken butuh istirahat!", ucap Ben menengahi situasi yang ingin Ken ciptakan saat ini. Ia juga sama geramnya dengan Han. Adik dari seorang Presdir Ken yang terhormat mengapa bisa begitu bodoh, pikirnya.
"Tolong kau cek tekanan darahnya, sekarang!", Ben menghela tubuh Ana. Ia memberikan sedikit tenaga pada tangannya untuk mendorong tubuh Ana maju ke arah Ken.
Namun wanita itu seakan tak terima dengan perintah yang Ben berikan, ia malah menoleh dengan wajah penuh harap sambil menggeleng pelan. Ben tak menghiraukan isyarat itu, malah terus mendorongnya hingga akhirnya Ana pun pasrah. Ia berjalan ke arah nakas untuk mengambil alat pengukur tekanan darah, lalu berjalan ke arah Ken dengan tatapan tak suka.
Setelah tepat berada di belakang Joice, Ana pun menguarkan ekspresi dinginnya sambil berucap, "Permisi, Nona! Saya akan mengukur tekanan darah Tuan".
Dengan sigap Joice beranjak dan menempatkan dirinya di sebelah Nyonya Rima. Baru kali ini ia merasakan hawa dingin yang persis seperti Ken miliki. Hawa dingin yang siap membekukan seseorang hanya dengan sekali tatap meski target tak melihatnya secara langsung.
Ana mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Ia melakukan pengecekan tekanan darah dengan profesional tanpa melihat ke arah wajah Ken sedikitpun. Ia tak ingin luluh dari rasa kesalnya. Karena jika sebentar saja ia memandang wajah kekasihnya yang amat tampan itu, Ana yakin hatinya otomatis meleleh dan rasanya ia ingin langsung menghambur ke dalam pelukan prianya itu. Ia masih ingin menang dengan harga dirinya saat ini.
Ken menikmati setiap sentuhan tangan Ana pada dirinya selama wanita itu melakukan kegiatannya. Ia menggeram pelan hampir tak terdengar, lantaran sikap acuh Ana padanya. Wajah menggemaskan itu rasanya ingin sekali ia lahap dengan sekali *******.
"Sabar Ken, sabar! Tunggu saja, sayang! Aku akan membuat perhitungan dengan wajah menggemaskanmu itu!", gumam Ken dalam hatinya.
"Bagaimana hasilnya?", tanya Nyonya Rima terlebih dahulu.
"Tekanan darahnya sedikit rendah. Ada baiknya jika Tuan beristirahat saat ini", jawab Ana seraya berdiri dan berjalan menjauh ke sisi sebelah Ben berada.
"Ahh baiklah! Aku akan pulang sekarang. Tapi sepertinya Ken membutuhkan dirimu untuk menjaganya", ucap Nyonya Rima kemudian.
Bagai boomerang yang malah menyerang balik dirinya. Ken malah merasakan kepalanya amat sakit setelah mendengar penuturan bundanya. Ia mendesis sambil memijit keningnya.
Sedangkan Ben, ia tak bisa menahan senyumnya melihat pemandangan yang memuaskan hatinya itu. Rasanya sangat senang melihat wajah Ken yang kesal.
"Aku akan menjaga kakak!", seru Sam tiba-tiba seraya mendekat.
"Aku akan menjaga kakak di sini. Jadi kalian bisa langsung mempersiapkan segala sesuatunya tentang pernikahan kakak dan Joice mengingat waktunya hanya tinggal satu minggu lagi. Bagaimana menurut bunda?", Sam tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cemerlang saat mendengar bahwa kakaknya akan berduaan saja dengan wanita licik itu. Ia sungguh tak rela jika sampai hal itu terjadi. Sam tak akan memberi celah sedikitpun kepada Joice untuk memenangkan kakaknya yang amat tidak mungkin terjadi itu.
"Kadang kau memang pintar, Sam! Tapi hanya terkadang!", batin Ana.
Ia tak bisa tak menahan senyumnya yang lolos begitu saja melihat tindakan impulsif dari adik iparnya. Pria itu amat menghargai hubungan dirinya dan juga kakaknya. Sebagai seorang calon kakak ipar yang sesungguhnya, ia merasa amat bangga pada sosok calon adik iparnya itu.
"Ahh, benar! Kau memang benar, Sam! Waktunya tidak banyak untuk mengurus hal besar ini! Ayo Joice, bantu tante mempersiapkan acara pernikahan kalian!", seru Nyonya Rima begitu bersemangat setelah pikirannya mengikuti arahan dari Sam.
Joice yang awalnya kegirangan karena bisa mendekatkan diri dengan pria pujaan hatinya itu. Akhirnya hanya bisa menurut. Apalagi kenyataan bahwa waktu untuk mengurus semua hal merepotkan itu tidaklah banyak lagi, ia segera mengiyakan perintah dan ajakan dari calon ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Baiklah, Sam. Jaga kakakmu baik-baik. Bunda pamit dulu, oke!", ucap Nyonya Rima lalu memeluk Ken dan juga Sam secara bergantian.
"Aku pamit, Ken!", Joice refleks akan memeluk Ken lagi. Tangannya sudah setengah melayang di udara, namun mengingat sikap Ken yang masih dingin padanya lalu dia menurunkan tangannya lagi dan lebih memilih untuk mengusap lengan Ken dengan lembut. Tapi pria itu lagi-lagi menarik tangannya menjauh. Lalu sejenak ia menampilkan senyum penuh ironi kepada Ken sebelum akhirnya dirinya maupun Nyonya Rima beranjak dari sana.
"Ayo Bunda, aku akan mengantar sampai depan", Sam maupun Han mengikuti langkah Nyonya Rima keluar kamar itu untuk mengantarnya sampai area parkir rumah besar itu.
Setelah hanya tinggal mereka bertiga di ruangan itu. Suasana kembali hening sesaat. Namun langkah kaki Ana melantun dengan berirama membuyarkan keheningan itu. Kini Ana berdiri di hadapan Ken sambil melipat kedua tangannya di depan, lalu menatap Ken dengan ekspresi tak terbaca.
"Adakah yang ingin kau jelaskan, sa, ,yang?!", tanya Ana sambil menyeringai seram.
"Baiklah, aku akan menyetujui dan membantu rencana kalian!", jawab Ken tenang.
"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?", tanya Ana penuh selidik.
"Apa sekarang kau sudah merubah pikiranmu dan lebih memilih untuk bersama dengan wanita rubah itu, heh?!", tambahnya lagi dengan nada menyindir.
"Ya,, mungkin bisa dibilang begitu!", ucap Ken dengan santainya sambil menaikkan salah salah satu alisnya.
"Keeennn!", pekik Ana begitu nyaring. Ia sudah berkacak pinggang dengan wajah murka.
Dengan sigap Ken menarik salah satu tangan Ana hingga wanitanya itu terjatuh di atas tubuhnya. Lalu ia menyeringai penuh kemenangan.
Sontak Ana langsung bangkit, berdiri menatap Ken dengan kesalnya. Hari ini emosinya naik turun bagai roller coaster. Dan sebagian besar adalah akibat ulah kekasihnya itu. Sambil berdiri, tangannya berusaha membenarkan pakaiannya yang sedikit tersingkap dan mulutnya terus menggerutu pelan. Wah, sungguh tampilan wajah yang sangat menggemaskan menurut Ken.
"Aku akan mengikuti rencana kalian. Tapi dengan satu syarat, dan itu mutlak!", ketenangan dalan ucapan Ken tetap menyiratkan sesuatu yang tak terbantahkan.
***
Fajar mulai menyingsing menghasilkan siluet jingga di kelamnya sisa langit semalam. Angin dingin menusuk ke tulang tak menghalangi kegiatan yang tengah dijalankan beberapa orang di sana. Beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan sebuah acara di sebuah villa megah di pinggir pantai yang jauh dari pusat kota. Pilar-pilarnya di dekorasi dengan bunga-bunga rambat indah nan cantik. Dan sebagian besar sudut-sudut telah dihiasi oleh bunga warna warni yang indah dan sedap di mata.
Di salah satunya kamarnya terdapat seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono saja. Wajahnya terlihat segar dan rambutnya yang masih basah digulung ke atas dengan menggunakan handuk yang lebih kecil. Bahkan penampakannya yang baru saja selesai mandi yang tanpa menggunakan make up sekalipun terlihat cantik natural.
Tiba-tiba seorang wanita lagi menerobos masuk ke dalam kamar itu. Ia menghampiri sahabatnya yang masih saja duduk santai pada bingkai jendela kamar yang langsung menampakkan pemandangan pantai.
"Astaga Anaaa!", ucap Sarah dengan suara yang agak keras. Wajahnya nampak kesal lantaran sudah hampir terang namun sahabatnya itu belum juga bersiap-siap.
Ya, hari ini adalah hari yang amat ditunggu oleh sepasang kekasih yang telah lama merencanakan pernikahan mereka, namun selalu terhambat oleh beberapa hal yang menghalangi jalannya rencana hari bahagia yang mereka impikan selama ini.
__ADS_1
#FLASHBACK ON
"Apa?", tanya Ana dengan nada menantang.
"Aku harap kau tak akan menyesali apa yang akan aku katakan, sayang! Karena apa akan aku sampaikan sebagai persyaratan adalah hal yang tidak menerima penolakan sama sekali", tutur Ken tajam kepada Ana.
"Ayolah Tuan, bisakah kau tidak bertele-tele! Katakan saja intinya!", ucap Ben yang sudah tidak sabar sejak tadi.
"Baiklah!", ucap Ken sambil mengedikkan kedua bahunya.
"Dengar ini baik-baik!", kini ekspresi wajahnya berubah serius.
"Aku ingin kita menikah,, besok!", ucap Ken perlahan dengan penuh penekanan.
Ben membulatkan matanya lebar-lebar setelah mendengar syarat yang Ken ajukan. Tak terkecuali Ana yang nampak syok sehingga ia hanya bisa memaku tubuhnya, tak bergeming dari tempatnya. Wajahnya masih diliputi keterkejutan sehingga ia tak menyadari bahwa kini dirinya sudah berada dalam rengkuhan tangan kekasihnya.
"Sepertinya kau sangat menantikan syarat yang aku ajukan, sayang!", Ken menarik pinggang Ana hingga menempel kepadanya lalu berucap dengan nada menggoda di balik telinga kekasihnya.
"Ken!", seru Ana seraya mendorong tubuh Ken menjauh. Wajah Ana sudah diliputi semburat kemerahan akibat terpaan nafas hangat di bagian sensitifnya itu. Lagi pula saat ini masih ada orang lain di ruangan itu. Tentu saja hal itu membuatnya bertambah malu. Rasanya ingin sekali ia menenggelamkan diri pada sebuah kolam dan tak ingin menunjukkan batang hidungnya sedikit pun.
"Ternyata seorang Presdir Ken yang terhormat otaknya sangat mesum!", sindir Ben yang sudah duduk santai di sofa ruangan itu.
"Tak masalah selama wanitaku menyukainya!", ucap Ken serata memamerkan deretan gigi putihnya ke arah Ana yang lagi-lagi membuat pipi wanita itu merona.
"Jadi bagaimana, apa kau menyetujui persyaratan yang aku berikan, sayang?!", tanya Ken lagi dengan penuh penekanan.
"Emmhh!", gumam Ana seraya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Ken dengan wajah enggan.
"Iya!", jawab Ana dengan suara malas. Namun sebenarnya ia sedang tersenyum ke arah Ben yang sedang memandang lurus ke arahnya.
"Coba katakan sekali lagi! Aku tidak mendengarnya dengan jelas!", ucap Ken seraya memeluk Ana dari belakang.
"Iya, iya, iya! Apa kau puas?!", Ana segera membalikkan badannya menghadap ke arah Ken.
"Terima kasih sayang! Terima kasih!", Ken sontak memeluk Ana lagi dengan begitu eratnya. Dan Ana pun membalas pelukan itu lalu tersenyum ke arah Ben seolah mengucapkan beribu terima kasih kepada kakak yang amat menyayanginya itu. Karena berkat dirinya, Ana bisa selamat dan bertemu lagi dengan Ken, pria yang sangat ia cintai. Dan bahkan sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.
Ben, pria eksentrik dalam balutan setelan seorang dokter itu menguarkan senyum damai ke arah sepasang kekasih yang tengah berbahagia itu. Dengan begini pula, ia sudah bertekad untuk menghapus Ana dari dalam hati sebagai wanita yang sangat ia cintai. Karena saat ini yang ada hanya Ana yang merupakan adik kesayangannya. Pilu masih sedikit terasa namun sudah tertutup oleh senyar kebahagiaan yang melingkupi sebagian besar hatinya.
__ADS_1
#FLASHBACK OFF