Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 108


__ADS_3

"Tuan Ken!", panggil Bi Rani sambil berlari dengan wajah begitu panik. Untung saja Ken mendengarnya, padahal mereka sudah menekan tombol turun lift itu. Dan ia pun segera menoleh ke asal suara.


"Taun Danu, Tuan! Tolong Tuan Danu! Jantungnya berhenti berdetak, Tuan! Apa yang harus aku lakukan, Tuan!", Bi Rani mulai terisak.


"ddak,, ppakk,, ddak,, ppak", suara langkah kaki mendekat. Beberapa tim medis setengah berlari ke arah ruangan Tuan Danu.


"Mari kita ke sana, Bi!", ajak Ken berusaha tenang. Mereka semua kembali menuju ruangan Tuan Danu.


Para tim medis memeriksa keadaan Tuan Danu setelah pintu tertutup. Suasana nampak tegang di sana. Mereka telah berupaya semaksimal mungkin, namun nyawa pasien tak dapat tertolong. Tuan Danu Winata menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.


"Siapa keluarga dari pasien?", tanya salah satu dokter setelah membuka pintu ruangan itu.


"Saya dokter!", sahut Bi Rani cepat. Selain sebagai majikannya, Tuan Danu telah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Jadi saat ini sungguh terasa berat pula baginya menghadapi situasi seperti ini.


"Maaf Nyonya, kami sudah berusaha. Tapi kehendak Tuhan berkata lain, nyawa pasien tak dapat tertolong lagi!", ucap dokter itu dengan wajah menyesal.


"Astaga!", Bi Rani membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia masih tak percaya dengan kenyataan ini. Kejadian yang datang bertubi-tubi membuatnya terjatuh ke lantai, ia terduduk lemas.


"Pertama Nona Ana yang pergi, lalu sekarang Tuan Danu! Salah apa mereka sebenarnya, Tuhan! Mereka adalah orang-orang baik", Bi Rani bersimpuh sambil terisak di atas dinginnya lantai rumah sakit itu.


Han bergegas mendekat ke arah Bi Rani untuk membantunya berdiri dibantu oleh dokter itu.


"Maafkan kami Nyonya. Kamu turut berduka cita!", dokter itu mengelus lembut lengan Bi Rani sebelum meninggalkan mereka di sana.


"Sungguh tragis takdir mereka!", gumam Nyoya Rima dalam hatinya.


"Ayah, kasihan sekali keluarga mereka!", ucap Nyonya Rima pada Tuan Dion. Keduanya menatap iba pada Bi Rani yang sedang menangisi majikannya yang baru saja meninggal dunia.


"Han, urus semua prosedur rumah sakit dan pemakaman Ayah Danu!", perintah Ken dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Jauh di lubuk hatinya ia merasa sangat sedih dan kehilangan. Karena bagaimanapun juga Tuan Danu adalah sosok yang dekat dengannya. Sudah sejak lama, mereka berhubungan layaknya sebuah keluarga sendiri. Dan terutama, beliau lah yang membantunya bangkit dari keterpurukannya saat itu.


"Tuan Danu telah menyiapkan tempat pemakaman nya sendiri. Ia memilih tempat pemakaman yang sama dengan mendiang istrinya dan juga Nona Ana, letaknya berada di antara makam keduanya. Tuan Danu pernah bilang bahwa saat beliau tiada nanti, ia ingin dimakamkan di antara orang-orang yang sangat dicintainya itu", tutur Bi Rani yang masih terisak begitu pilu.


"Baiklah, kau bisa mengaturnya Han sesuai permintaan mendiang Ayah Danu!", perintah lagi Ken yang masih berusaha meredam kesedihannya.


***


Di pemakaman.

__ADS_1


Mendung. Pagi itu langit nampak redup tanpa sinar mentari yang biasanya menyinari. Beberapa petugas telah selesai menggali sebuah lubang di sana. Tak lama sebuah mobil jenazah datang beserta iring-iringannya. Jenazah itu ditandu oleh beberapa petugas dan di belakangnya terdapat Bi Rani dan beberapa pelayan kediaman Tuan Danu sedang menangisi kepergian majikannya.


Sedangkan Ken beserta keluarga berada di urutan selanjutnya. Sarah juga hadir sambil mendorong kursi roda Risa, karena Han kini tengah mendorong kursi roda yang Ken naiki. Dan beberapa di antaranya lagi adalah teman dan kolega mendiang sebelumnya yang turut hadir. Tuan Danu adalah sosok yang ramah dan berhati mulia, wajar saja jika di saat pemakamannya ini banyak yang hadir untuk mengantar kepergiannya, untuk yang terakhir kalinya.


Prosesi pemakaman telah selesai berlangsung. Beberapa pelayat mulai meninggalkan tempat, Tuan Dion dan Nyonya Rima pun memutuskan untuk kembali lebih dulu. Tinggallah di sana Ken di kursi rodanya beserta Han dan Sam di belakangnya dan juga Risa bersama dengan Sarah. Setelah memanjatkan doa untuk Tuan Danu, mata Ken menangkap sebuah batu nisan dengan nama seseorang yang ia sangat tau.


Ken memaksakan diri untuk turun dari kursi rodanya. Ia berlutut tepat di hadapan batu nisan itu, kemudian meletakkan sebuah buket bunga mawar merah besar di sana dan mengusap batu nisan itu dengan wajah penuh kerinduan.


"Ana!", ucapnya lirih dengan suara parau sambil menahan tangisnya.


"Maafkan aku, sayang! Maaf!", akhirnya air mata itu terjun bebas pada wajah pria tampan itu. Ia memegang batu nisan itu dengan kuat, meluapkan emosinya yang campur aduk juga sambil menopang tubuhnya yang masih lemah saat ini.


Sarah pun ikut berlutut di hadapan makam itu. Dengan deraian air mata yang sudah mengalir sejak tadi, ia juga meluapkan rasa rindunya yang teramat sangat kepada sosok yang sudah begitu baik mau menganggapnya sebagai sahabat. Dan entah sudah berapa kali wanita ini selalu membantunya dikala dirinya mengalami kesulitan. Kesedihan juga menyelimuti dirinya kini.


Sam yang tak luput dari rasa sedih pun berinisiatif membantu Sarah untuk berdiri. Memeluknya dan memberinya sebuah ketenangan untuk Sarah. Ia paham apa yang Sarah rasakan saat ini, sebuah rasa kehilangan yang mendalam. Bukan bermaksud mengambil keuntungan saat ini, tapi sisi kemanusiaannya lah yang bergerak untuk menuntun dirinya mendekat ke arah Sarah yang memang membutuhkan sebuah sandaran.


Sedangkan Han dan Risa hanya bisa saling menggenggam tangan dengan erat. Air mata juga membasahi wajah Risa. Bagaimanapun juga sudah bertahun-tahun ia bekerja dengan mendiang Tuan Danu dan sudah menganggap Ana seperti adiknya sendiri. Jadi rasa kehilangan sungguh ia rasakan saat ini. Apalagi mendiang Tuan Danu merupakan bos yang sangat baik dan pengertian. Entah dimana ia bisa mendapatkan sosok seperti itu lagi.


Di tengah kesedihan yang masih menyelimuti beberapa orang di sana. Sepasang mata memantau mereka dari kejauhan. Seseorang dengan pakaian serba hitam. Ia menggunakan hoodie hitam untuk menutupi kepalanya, ia juga melengkapi dirinya dengan masker dan kaca mata hitam. Sebuah tameng yang amat lengkap untuk menutupi jati dirinya.


Orang itu bersandar pada mobil hitam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sedari awal acara pemakaman itu dimulai, ia sudah berdiri di sana sambil memperhatikan dengan seksama. Memaku tubuhnya dan tak bergerak kemanapun. Sesekali ia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Untuk yang terakhir kalinya, ia melepas kacamata hitamnya dan mengusap kasar air mata yang membasahi wajahnya hingga mengering.


"Emmhh!", orang itu yang diperkirakan adalah seorang wanita menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Ayo!", ajak suara berat itu lagi supaya wanita itu masuk ke dalam mobil.


Sekali lagi tubuhnya terasa berat untuk bergerak, bahkan seperti ada magnet yang membuatnya ingin sekali mendekat ke arah makam yang masih basah itu.


"Ayo!", suara itu kembali berseru dengan sedikit penekanan.


Wanita itu menatap sekilas ke arah makam dan Ken beserta kerumunannya, sebelum akhirnya ia mengenakan kaca matanya lagi dan memutar tubuhnya untuk memasuki mobil itu.


Bertepatan saat wanita itu akan memakai kaca mata, mata tajam Ken menangkap sosok itu berdiri di sana. Ken tertegun, pandangannya memaku sebuah tujuan yang tak lain adalah mata dari wanita misterius itu.


"Ana! Matanya mirip sekali dengan Ana. Aku sangat mengenal mata itu", gumam Ken dalam hatinya.


Ken masih memaku wajahnya hingga wanita itu memasuki mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan jejak keraguan dalam hati Ken mengenai kematian Ana. Ken menyipitkan matanya ke arah mobil yang makin menjauh. Kelebatan ingatan saat ia tak sengaja memandang ke arah mata itu, membuatnya refleks berdiri. Ia memandang dengan tatapan penuh selidik ke arah mobil yang kian menjauh.


"Itu pasti Ana! Aku yakin itu!", alam bawah sadarnya langsung membawa langkahnya untuk mengejar mobil hitam yang makin menghilang dengan langkah terseok-seok. Tubuh Ken masih lemah saat ini, tapi ia paksakan karena rasa penasaran yang melandanya begitu hebat. Hingga langkahnya terhenti setelah mobil itu benar-benar menghilang dari pandangannya bersamaan dengan tubuhnya yang mulai lunglai tak berdaya, ia menyandarkan tangannya pada sebuah batang pohon besar untuk menopang tubuhnya yang kian melemah.

__ADS_1


Tingkah Ken yang tiba-tiba sontak membuat semua yang ada di sana memandang heran dan segera bergegas menyusul langkah kaki Ken. Dari raut wajahnya, mereka memiliki pertanyaan yang sama, apa yang terjadi sebenarnya.


"Ada apa kak?", tanya Sam setelah menepuk bahu kakaknya yang sedang mengatur nafasnya. Ia merangkul kakaknya, membantunya menopang tubuhnya yang lemah saat ini.


Han datang bersama kursi roda milik Ken dan disusul Risa juga Sarah yang mendorong kursi rodanya. Segera Sam membawa Ken mendekat ke arah kursi roda dan mendudukkan kakaknya di sana.


"Ada apa kak? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kakak begitu terburu-buru?", pertanyaan Sam mewakili apa yang ingin disampaikan oleh semua orang dengan raut wajah khawatir.


"Di sana,, Mobil itu! Di dalam mobil itu,,,", Ken menarik nafas untuk memberinya kekuatan supaya kuat meneruskan penjelasannya tanpa terbata seperti sekarang ini. Ekspresi keterkejutannya belum hilang dari wajahnya.


"Ya, kak! Di mobil itu kenapa?", tanya Sam lagi begitu Sabar.


"Di dalam mobil itu ada Ana!", jelas Ken cepat tanpa terputus. Hingga semua orang nampak terkejut dan membulatkan mata mereka seolah tak percaya.


-


-


-


-


-


-


-


Hallo teman-teman semuanya!!! ☺️


aku mau menjawab pertanyaan kalian yang begitu banyak tentang Ana nih ya...


Ana belum meninggal


Karena kalo Ana meninggal sudah habis dong ceritanya. Dan buat yang suka nyuruh ending aja ceritanya, tenang aja novel ini memang sedang memasuki bab-bab terakhir. Dan di episode sebelumnya aku juga pernah bilang kalo ini adalah konflik terakhir sebelum Ana dan Ken menikah. Jadi jangan banyak tanya lagi ya.


Terus dukung novel aku ya 😊


jangan lupa untuk like, vote sama komentarnya 😊

__ADS_1


Terima kasih 🀭😘


__ADS_2