Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 244


__ADS_3

Saat ini mobil yang keduanya kendarai sudah berhenti di depan halaman mini rumah sederhana milik Sarah dan keluarganya. Sam keluar pertama untuk membukakan pintu untuk wanitanya itu. Lalu tanpa ragu Sarah menerima uluran tangan Sam yang membantunya untuk keluar dari mobil itu. Tak lupa tangan yang satunya lagi Sam gunakan untuk melindungi kepala Sarah agar tidak mengenai bingkai pintu mobil itu.


"Kau tidak mampir?", Sarah melihat Sam hanya tersenyum dan bergeming di tempatnya. Karena biasanya pria itu akan seenaknya masuk terlebih dulu daripada yang punya rumah.


"Aku takut tidak bisa pulang!", Sam menyeringai dengan konyolnya. Membuat Sarah ingin sekali memukulnya saja.


"Maksudmu apa?", Sarah sudah berkacak pinggang dengan mata melotot dan hampir keluar.


Uuhh, menggemaskannya! Sam mencubit dagu Sarah kecil sampai giginya merapat semua saking gemasnya.


"Satu langkah saja aku masuk ke dalam sana. Rasanya aku seperti terjebak dan tak dapat lagi menemukan pintu keluar!", Sam maju satu langkah ke arah Sarah.


Ia menyibak rambut panjang Sarah yang menutupi bahu wanita itu ke belakang. Tatapan mata pria itu sudah lebih serius sekarang. Entah kemana senyum konyolnya itu pergi.


Menatap wajah pria itu yang semakin tampan saat sedang serius seperi sekarang ini membuat tangannya tergelincir dari pinggagnya. Apalagi saat tangan pria itu menyibak rambutnya dan tak sengaja jari-jariitu menyentuh kulitnya. Amarah wanita itu segera padam.


Manisnya ucapan Sam itu bahkan membuat malu supir pribadinya yang tak sengaja mendengar. Karna saat ini jendela kaca pengemudi itu sedang terbuka. Pembicaraan kedua makhluk yang berdiri di samping mobil pun otomatis dapat didengarnya. Tuannya ini sangat pandai membuat hati wanita luluh lantak. Tapi memang hanya kepada Nona Sarahnya ini saja.


Selama menyandang gelar playboy dan membawa berbagai macam wanita bersama tuannya itu, mana pernah ada sekali saja tuannya itu berkata manis seperti gulali kepada kekasih-kekasihnya di masa lalu?! Tuannya itu akan selalu bersikap tenang dan keren. Meskipun semua orang memang tau jika Tuan Samnya ini sangat ramah. Tapi tidak,, jika menyangkut soal wanita.


Sam tak ingin ada yang mengganggunya menikmati ciptaan Tuhan yang bergitu indah ini untuknya. Ia ingin lamat-lamat memandangi wajah cantik Sarah, wanita yang ia akan menjadi calon istrinya itu.


Mulai malam ini ia harus menjaga jarak dengan calon istrinya ini. Itu adalah pesan para orang tua demi menjalankan tradisi lama. Apalagi nanti,, seminggu menjelang hari pernikahan, mereka tidak diizinkan sama sekali untuk bertemu.

__ADS_1


Jadi Sam pikir mulai dari sekarang ia harus mulai belajar membiaskan diri dengan hal itu. Takutnya ia tak dapat menahan keinginannya untuk terus bertemu dengan Sarah setiap hari, setiap saat, setiap waktu. Bahkan sebenarnya jika bisa,, ia ingin sekali membuat tubuh Sarah mengecil lalu mengantunginya. Jadi ia bisa membawa wanita itu kemana pun ia pergi.


"Jika sudah di dalam sana, aku tak akan mau keluar lagi. Maunya langsung tidur saja sambil memelukmu", benar-benar ucapan dan senyuman pria itu membuat wajah Sarah memerah seketika.


Sam segera menarik Sarah dan mendekapnya. Kedua tangan pria itu sudah melingkatr pada pinggangnya. Membuatnya sulit bergerak atau bahkan melepaskan diri. Apalagi saat Sam mengutarakan hal itu, jadilah satu pukulan melayang pada bahu pria itu. Sarah jadi ingat terakhir kali Sam menginap di sana. Pria itu menyelinap ke dalam kamarnya dan jadilah mereka kembali tidur bersama. Ingat, tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Tapi Sam suka.


"Yasudah kalau begitu pulang sana! Kau juga belum makan malam, kan! Jangan lupa makan malammu, jika tidak aku akan memukulmu lagi nanti!", Sarah mengalungkan tangannya pada bahu pria itu.


Hal yang sangat jarang wanita itu lakukan adalah bersikap manja seperti ini. Dan kata-kata lembut penuh perhatian itu bagaikan melodi indah di telinga Sam saat ini. Tau sendiri jika calon istrinya ini galaknya setengah mati. Tidak beda jauh dengan kakak ipar yang ia takuti itu.


"Inginnya makan malam denganmu. Tapi tidak, semakin lama aku menghabiskan waktu denganmu akan semakin sulit juga bagiku untuk melepaskanmu", Sam tak ragu untuk mempererat dekapannya pada Sarah.


"Kalau begitu jangan lepaskan aku!", ya ampun Sarah, sejak kapan mulutnya jadi semanis ini pada pria konyol itu. Ia jadi ingin memukul mulutnya berulang kali.


Tapi entah kenapa saat ini memang hatinya sedang merasa sangat mencintai pria ini. Mulutnya pun jadi bergerak sendiri mengikuti isi hatinya saat ini. Padahal jika setiap kata itu disaring oleh otaknya, tentu yang keluar hanya kalimat cetus saja yang cocok untuk menanggapi kekonyolan pria itu.


"Jangan menggodaku, Sarah!", Sam tersenyum kian dalam dengan tatapan menggodanya.


"Baiklah, kalau begitu pulanglah! Kau pasti sudah sangat lelah hari ini", Sarah menyugar rambut pria itu yang masih tertata rapi.


Begini saja lebih baik. Jika Sarah terus mengeluarkankata-kata manisnya lagi takutnya Sam akan mengurungkan niatannya untuk pulang. Karena bukan hanya Sam, tapi dirinya juga dipesankan oleh orang tua mereka untuk tidak sering bertemu sebelum hari pernikahan mereka nanti. Juga termasuk larangan bertemu seminggu sebelum hari itu. Sebagai anak yang baik tentu Sarah akan menuruti nasehat para orang tua.


"Jadi kau mengusirku, Sayang?!", Sam menipiskan bibirnya dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku, Sam", tiba-tiba Sarah menjadi tak enak hati. Memang bukan maksudnya untuk mengusir prianya ini. Hanya saja ia sedang mencoba menuruti nasehat orang tua mereka saat ini. Wajahnya pun berubah sedikit muram.


"Aku tau!", Sam berucap tenang. Lantas Sarah pun mengerutkan keningnya.


"Pasti karena perintah orang tua kita, kan?! Aku tentu mengerti, Sayang! Tapi kau harus ingat, saat kau sedang tidak bersamaku, kau harus menjaga sikapmu jika bertemu dengan laki-laki lain. Aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria selain diriku. Dan Sandi sebagai pengecualian karena dia adik kandungmu", Sam sedikit menundukkan wajahnya. Memberi ultimatum dengan wajah seriusnya.


"Iya,, iya,, aku mengerti!", wanita itu sedikit mendengus sambil menipiskan bibirnya. Lagi-lagi masalah ini. Tingkat kecemburuan pria dari Keluarga Wiratmadja memang sulit diatasi. Seperti kata Ana, sahabatnya itu yang sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan putra sulung dari keluarga mereka.


"Anak baik!", Sam melepaskan satu tangannya lalu ia gunakan untuk mengusap pucuk kepala wanitanya ini dengan penuh bangga. Tumben sekali wanita ini menjadi begitu penurut sejak tadi.


"Jadi,, apakah kita akan terus seperti ini sampai semua tetanggaku keluar dan kita menjadi bahan tontonan?!", Sam terkekeh sendiri saat menyadari beberapap orang lewat memandangi mereka sambil tersenyum sendiri.


"Baiklah, beri aku hadiah dulu baru aku akan pulang!", pria itu menunjuk bibirnya tanpa rasa tau malu sama sekali.


Sarah menghela nafasnya pasrah. Mau bagaimana pun ia berkilah tentu saja akan tetap kalah.


"Ayolah, Sayang! Semakinn lama kau berpikir, semakin banyak pula orang yang melihat kita!", Sam membuka suaranya lagi saat Sarah hanya diam saja.


Jika saja saat ini mereka sedang berada di lingkungan rumah Sam ataupun di sekitar apartemennya, mungkin pose mereka saat ini tak kan jadi masalah. Tapi sekarang mereka berada di depan rumah Sarah. Dimana di lingkungan seperti ini akan selalu ada saja gosip yang merebak tanpa sepengetahuannya.


"Lepas dulu jasmu!", Sarah mendapat ide di kepalanya.


"Untuk apa?".

__ADS_1


__ADS_2