Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 38


__ADS_3

Hening melingkupi mereka hingga tak terasa mobil telah memperlambat lajunya dan berhenti di sana.


***


Terlihat sebuah mansion megah dengan tema eropa berdiri kokoh di hadapannya. Ana refleks akan keluar dari mobil dan berhenti di ambang pintu saat sebuah tangan terulur untuk membantunya keluar. Ana mencebik kesal melihat tangan itu kemudian dia tak menghiraukannya dan memilih untuk bangkit sendiri. Ken tak bergeming dengan respon Ana terhadapnya. Ana masih terpukau dengan penampilan mansion yang ada di hadapannya.


"Sudah selesai melihatnya?", sebuah suara menyadarkan dirinya. Ken sedang menatapnya dengan wajah datar tak terbaca.


Ana tak menjawab, dia malah memalingkan wajahnya. Ana menyuarakan kekesalannya melalui tindakan. Dia masih marah saat ini.


Ken kembali menariknya, tapi kali ini dia tak sekasar tadi. Pegangan tangannya pun sedikit lebih longgar tak menyakiti seperti tadi. Ana memandangi tangannya yang ditarik Ken, dia otomatis mengikuti langkah Ken.


"Kenapa sih dia suka sekali menarik orang!", gerutunya dalam hati.


Pandangannya teralihkan dengan dekorasi rumah yang sangat mewah namun tetap terasa nuansa maskulinnya. Sejenak pikirannya tersita untuk memperhatikan detail-detail rumah yang ditinggali oleh seorang pria yang kini tengah menariknya.


Ana tak memperhatikan kemana Ken membawanya. Hingga saat langkah Ken terhenti, Ana jadi menabrak punggungnya. Dan seketika itu pula akhirnya dia sadar Ken membawanya ke sebuah kamar mandi yang sangat luas. Ana sejenak tertegun oleh kemewahan yang bahkan masuk sampai ke kamar mandinya. Tapi kemudian dia sadar, ini bukan tempat yang benar bagi dua orang berbeda jenis ini.


Ken membalikkan tubuhnya menghadap Ana. Dia menatap Ana dengan ekspresi yang sulit dibaca. Hal itu membuat Ana semakin waspada terhadapnya. Ana takut-takut memandang ke arahnya.


Ken mendekap pinggang Ana agar lebih dekat dengannya. Ana mencoba melepaskan diri dengan mendorong dada Ken dengan kedua tangannya. Lagi-lagi usahanya sia-sia karena melawan raja singa. Ana menyerah, saat ini dia hanya bisa mengawasi apa yang akan Ken lakukan selanjutnya.

__ADS_1


Ken mengarahkan tubuh mereka hingga berada di bawah sebuah shower. Ken mengendurkan dekapannya. Dia memegang kedua bahu Ana dan menatap manik mata Ana dalam. Kini hatinya telah menguasai pikirannya. Rasa sesal telah menyadari tindakan bodohnya. Mata Ken berubah sendu. Ana pun menangkap perubahan tatapan Ken padanya.


Ken menurunkan tangannya dari bahu Ana dan berlabuh dengan menggenggam kedua jemari Ana. Ken mengangkatnya dan mencium jemari Ana dengan lembut. Ken melihat pergelangan tangan Ana yang merah akibat ulahnya yang menarik tangan Ana dengan kasar tadi. Perasaan bersalah muncul makin besar dalam hatinya. Kemudian dia mencium dengan lembut bagian tangan Ana yang memerah.


Ana masih terus mengawasi setiap gerakan Ken. Dia tidak ingin tersakiti lagi. Dia sudah melihat benda-benda di sekelilingnya yang bisa dia gunakan untuk melindungi diri saat Ken akan menyakitinya lagi nanti.


Tapi pikirannya kacau saat tiba-tiba Ken berperilaku manis terhadapnya. Tubuh Ana menegang setiap kali Ken menyentuhnya. Bahkan saat Ken mencium pergelangan tangannya yang memerah pun, Ana bisa merasakan ada sesuatu yang menggelitik di dalam hatinya.


Ken menarik tangan Ana hingga dia dapat memeluknya. Ken mendekap tubuh Ana dengan erat. Dia menghujani pucuk kepala Ana dengan ciumannya.


Sesaat Ana masih dilingkupi kekesalannya, tapi kemudian dia sadar sepertinya lelaki ini sedang menyesali perbuatannya. Ana membalas pelukan Ken. Dia merengkuh punggung kokoh si raja singa.


"Maafkan aku. Maafkan aku, Ana!", ucap Ken dengan mata sendunya dan mencium kening Ana dalam.


"Maafkan aku karena telah menyakitimu. Maaf aku telah melukaimu. Maaf karena emosiku menguasai diriku. Maaf karena...", belum sempat Ken meneruskan ucapannya Ana sudah menutup mulut Ken dengan satu jarinya.


"Ssstts", Ana berdesis agar Ken menghentikan ucapannya.


"Paling tidak kau telah menyesal saat ini. Dan kuharap kau tak akan mengulangi hal ini lagi, Ken. Aku tak pernah mendapatkan perlakuan seperti tadi selama hidupku. Jadi kumohon berjanjilah untuk tidak menyakiti ku lagi", ucap Ana dengan tenang.


Tapi ucapan Ana bagaikan pisau yang menusuk hati Ken. Hatinya sakit saat ini, saat mengetahui bahwa dia juga orang yang pertama yang telah berperilaku kasar terhadap Ana. Seharusnya dia tahu, setelah membaca informasi tentang Ana harusnya dia tahu bahwa Tuan Danu tak pernah membiarkan putrinya disakiti oleh siapa pun. Tapi emosi telah melingkupi otaknya tadi. Otaknya tak mampu bekerja sama dengan hatinya. Perasaan bersalah kian menjalar dalam dirinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ana. Sungguh maafkanlah kebodohan ku! Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji", ucapan Ken begitu dalam seraya mengecup kening Ana. Ana memejamkan mata merasakan permohonan maaf yang begitu dalam dari kecupan Ken pada keningnya.


Mata mereka bertemu setelah Ken melepaskan kecupannya pada kening Ana. Mereka saling menatap hingga menembus manik mata mereka masing-masing. Tanpa sadar wajah mereka kini semakin dekat.


Ken sudah membungkukkan kepalanya agar wajahnya semakin dekat dengan wajah Ana. Ana membiarkan perasaannya menguasai dirinya saat ini. Dia memejamkan mata mencoba menerima perasaan Ken padanya.


Ken tersenyum saat Ana telah memejamkan matanya. Tanpa ragu Ken mengecup bibir Ana dan menyesapnya lembut. Ken meraih tengkuk kepala Ana dan mendekap pinggangnya hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. Ken mencium bibir Ana penuh perasaan. Dan Ana pun membalas apa yang Ken lakukan. Mereka saling merasai bibir mereka masing-masing.


Ciuman penuh perasaan kini telah berubah menjadi ciuman penuh hasrat dan lebih panas. Ana melingkarkan tangannya pada leher Ken. Ken mendorong tengkuk Ana untuk memperdalam pagutannya. Ken menekan bibir Ana agar membuka, kemudian Ken mengabsen setiap rongga mulut Ana dengan lidahnya.


Ken terus merasai bibir Ana hingga tanpa sadar tangannya menyenggol tuas shower dan membuatnya menyala. Mereka masih terus memadu perasaan mereka dalam guyuran air yang keluar dari shower. Ciuman penuh hasrat itu telah membangunkan naluri lelakinya. Ken segera menghentikan aktifitasnya dengan memberi gigitan kecil pada bibir Ana. Dia harus segera mendinginkan dirinya sebelum berbuat lebih jauh. Ken masih menghormati Ana saat ini, karena mereka juga baru saja menyatakan perasaannya masing-masing. Ken tak ingin menyakitinya lagi.


Ken menautkan keningnya pada kening Ana. Berusaha menetralisir nafsunya sambil terengah-engah. Begitu pun Ana yang terpejam matanya dan dadanya yang naik turun menandakan dia sedang butuh banyak sekali oksigen untuk mengisi rongga paru-parunya.


Ken memegangi bahu Ana kuat. "Mandilah! Aku juga tak ingin masih ada sisa aroma pria lain pada dirimu!", ucapnya dengan terengah-engah. Kemudian dia berbalik pergi meninggalkan Ana yang tertegun mendengar penuturan Ken.


"Apa?! Apa maksudnya?!", gumam Ana disisa nafasnya yang tersengal.


Ana berjalan menuju sebuah cermin besar yang menampakkan dirinya dari atas kepala hingga kakinya. Dia membuka blazernya dan kemejanya hingga dia hanya menggunakan tanktop hitam dengan renda. Dia menatap dan menyentuh bekas kissmark yang Ken tinggalkan saat di mobil tadi. Kemudian dia menyentuh bibirnya yang merah dan bengkak akibat pagutan penuh hasratnya dengan Ken barusan. Dia tersenyum, Ana tahu Ken sedang menekan hasratnya untuk berbuat lebih. Karena bagaimanapun juga, Ken merupakan lelaki dewasa yang normal. Pasti insting lelakinya akan membawanya untuk segera melahap Ana. Ana sangat tersentuh ketika Ken menghentikan aksinya dan memilih untuk menghormatinya. Meskipun sebenarnya Ana juga merasakan nafsu mulai menguasainya dan mungkin akan menyerah pada si raja singa. Tapi sungguh Ana merasa terharu oleh keputusan yang Ken ambil, dia sangat bijaksana.


Kemudian dia kembali mengingat ucapan terakhir Ken. Pikirannya melayang mengingat-ingat sesuatu yang terjadi sebelumnya. Di bagian mana yang salah hingga Ken bisa semarah itu. Pikiran Ana masih terus menerawang sambil menatap cermin besar.

__ADS_1


__ADS_2