
Di dalam ruangan itu hanya menyisakan dua insan yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing. Sarah sedang duduk di depan meja rias milik pria itu. Ia sibuk memoles wajahnya dengan beberapa alat make up, tipis-tipis saja yang penting wajahnya terlihat lebih fresh dan tak perlu mencolok. Karena bagi Sarah itu hanya akan merusak pemandangan matanya saja.
Sarah segera menyadari bahwa dari pantulan cermin itu sejak tadi ada sosok yang selalu memperhatikan dirinya. Untung saja itu masih manusia, karena jika bukan maka Sarah sudah akan berteriak dengan kerasnya.
Sosok di pantulan cermin adalah Sam. Pria yang tengah duduk di sofa itu tengah mengancingkan kemeja yang ia pakai lalu tangannya bergerak memakai sepatu hitamnya yang mengkilat itu. Selama kegiatannya, Sam tak melepaskan pandangannya pada Sarah dalam pantulan cermin itu. Memandangi keindahan ciptaan Tuhan dengan wajah merona yang tak malu-malu untuk Sam sembunyikan. Ia biarkan pipinya yang bersemu nampak jelas di mata Sarah.
Wanita itu melihat dengan jelas bagaimana meronanya wajah pria itu. Tapi bukannya kesal, rona merah itu seakan menular kepada wajah Sarah. Mungkin iya Sarah berdecak saat ini, tapi bukan kesal karena Sam, tapi kesal kepada dirinya sendiri karena tak mampu mengendalikan perasaannya saat ini.
Sarah sibuk mengalihkan pandangannya dengan membereskan alat make up dan memasukkannya ke dalam tas kecil miliknya. Tiba-tiba sebuah tangan telah bermain-main di atas kepalanya. Tepatnya pria itu sedang menggosok rambut Sarah yang masih setengah basah.
"Aku bisa melakukannya sendiri!", Sarah ingin mengambil alih handuk itu tapi tangannya langsung ditepis oleh Sam dengan lembut tanpa kekerasan.
"Diam!", nadanya sangat tegas sehingga Sarah hanya mampu menurut dan diam sambil memandangi wajah serius pria yang tengah berdiri di belakangnya.
Setelah dirasa agak cukup, Sam melempar handuk itu ke ranjang. Wajahnya belum berubah dari mimik seriusnya.
"Kau butuh hair dryer atau mau langsung disisir saja?", tanya Sam masih dengan raut wajah yang sama.
__ADS_1
"Sudah agak kering, aku lebih suka langsung disisir saja!", entah kenapa dengan raut wajah yang seperti ini Sarah menjadi sangat patuh pada pria konyol dan gila ini.
"Mana sisirnya?", telapak tangannya terbuka di samping wajah Sarah. Ekspresi wajahnya tetap datar dan seolah sedang menunggu.
Wanita itu merogoh tasnya lalu mengeluarkan sisir berwarna pink di tangannya. Sisir itu seperti sisir biasa pada umumnya, hanya saja menjadi begitu imut karena memiliki motif beruang-beruang kecil di sekitarnya. Sisir itu lebih cocok untuk dipakai oleh anak-anak, sehingga Sarah cukup malu untuk memberikannya kepada Sam. Hanya saja tangan pria itu sedikit digerakkan dengan gaya tidak sabar. Lalu buru-buru lah wanita itu meletakkannya di atas telapak tangan prianya.
Hey, dimana dirimu yang mengesalkan itu! Batinnya menjerit sendiri. Sungguh jika seperti ini terus, rasanya Sarah benar-benar akan mati muda karena tak dapat mengontrol detak jantungnya yang berpacu semakin cepat dan cepat. Jika Sam sedang menampilkan gayanya yang seserius ini, dada Sarah seakan mengembang dan siap meledak kapan saja. Ia tak dapat menangani Sam yang diam namun sangat perhatian. Tapi ia akan dengan mudah menangani Sam yang sedang bertingkah konyol dan berpikiran gila. Hanya dengan memukul kepalanya itu sudah cukup. Tapi Sam yang seperti ini, maka ia harus bagaimana?! Berulang kali Sarah menjerit sendiri.
Apalagi saat sebuah sentuhan di kepalanya mulai terasa. Sam menyisir rambut Sarah yang masih sedikit basa dengan lembut dan perlahan, takut-takut nanti akan membuat wanita itu kesakitan saat mengenai rambutnya yang sedikit kusut. Sam menaik-turunkan tangannya yang memegang sisir dan tangan yang satunya membelai sambil merapihkan.
Itu bukan apa-apa sebenarnya, hanya sentuhan sisir di kulit kepalanya, kan. Tapi rasanya kenapa sampai menimbulkan senyar aneh sampai ke punggungnya. Sesekali bahkan tangan besar itu menyentuh kulit tengkuknya, membangunkan bulu-bulu di sana, hingga Sarah harus meremas ujung dress yang dipakainya untuk menahan gelenyar yang memabukkan jika diteruskan.
Sam memandangi Sarah dari pantulan cermin dengan wajah datar dan santai, tapi di matanya seolah ada samar tanda tanya. Sarah tak menghiraukan hal itu, dan tetap melanjutkan tujuannya. Ia mengambil sisir itu dari tangan Sam tanpa melihat ke arahnya. Sebuah senyum kecil yang hampir tak terlihat tampil di sudut bibir Sam saat melihat wanita itu sedang berperang dengan rasa gugupnya.
"Rasakan! Aku akan membuatmu merasakan benar-benar jatuh cinta padaku, Sarah! Jika kau tau aku hanya sedang berakting, mungkin kau akan langsung memukulku. Tapi hanya dengan begini kau baru bisa menyadari betapa besarnya perasaanmu padaku. Sama seperti diriku begitu mencintaimu", batin Sam sambil memandangi wajah Sarah yang sedang tenggelam ke bawah.
Ya, Sarah sedang tenggelam dalam pemikiran dan perasaannya saat ini. Wajahnya ia tundukkan karena ia tau saat ini sedang timbul rona merah di pipinya sana. Bahkan untuk melihat dirinya sendiri di cermin saja Sarah sungguh merasa malu. Apalagi jika Sam sampai mengetahui hal ini. Sarah sungguh tidak mampu. Ia tidak akan bisa bersikap arogan seperti biasanya. Ia terlalu gugup dalam hal ini.
__ADS_1
Sibuk dengan semua itu, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan sesuatu ke hadapan wajahnya. Itu tangan Sam, dan di tangannya terdapat sebuah dasi berwarna merah tanpa motif tapi tetap terkesan bahwa dasi itu adalah dasi mahal dalam sekali lihat saja. Mau tak mau Sarah menengadahkan kepalanya menatap wajah pria yang sedang mengambang di atas wajahnya.
"Aku sudah membantu menyisir rambutmu, sekarang bantu aku memakaikan dasi untukku!", pinta Sam dengan wajah datarnya.
"Cih! Pamrih sekali!", mulutnya menggerutu padahal dalam hati ia gugupnya setengah mati. Ia sangat tau ini adalah salah satu adegan romantis di beberapa film yang sering ditontonnya. Ia juga tau akan bagaimana dekatnya dan gugupnya ia saat akan melakukan adegan ini nanti. Sedikit ragu tangan Sarah terulur mengambil dasi itu dari tangan Sam.
"Menjeritlah, Sarah! Menjeritlah! Kau pasti ingin marah, kan! Tapi maaf ya, sayangnya kau tidak akan bisa. Kau hanya perlu menikmati adegan romantis ini, sayang!", gumam Sam dalam hati.
Perlahan Sarah bangkit dari duduknya. Ia sudah berdiri tapi masih menghadap ke depan, ke arah cermin. Sarah memandangi wajahnya di sana. Hah, sudahlah! Mau bagaimana lagi, ia memang harus melakukannya, bukan. Perlahan ia memutar tubuhnya sehingga kini Sarah sudah berhadapan dengan pria gilanya. Saat ini entah suara jantung siapa yang terdengar jelas di sana.
-
-
-
-
__ADS_1
-
masih ada satu lagi ya,, tunggu aja ,,okeh 😉tapi tetep jangan lupa dong kasih like sama vote kalian, biar aku tambah semangat ya nulisnya 🤭😁