Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 214


__ADS_3

"Tuan Sam, kau tau, aku merindukanmu!", wajahnya berubah bak penyihir yang akan mengeluarkan mantranya untuk mengutuk pangeran tampan yang tak menerima cintanya. Sangat kejam, hingga wanita itu tak sadar karena bahkan saat ini wajahnya telah berubah menjadi merah padam.


Mesin mobil ia nyalakan, derunya menambah suasana mencekam di dalam sana. Wanita yang sedang marah itu lalu menjalankan mobilnya meninggalkan kemarahannya di tempat itu. Dan mengisi benaknya dengan rencana-rencana yang masih ia rancang dari mulanya.


***


Seminggu telah berlalu, kini giliran dua pasangan beda status melakukan fitting baju pengantin. Seperti biasa, keluarga nomor satu itu memilih untuk memesan gaun beserta seragam resepsi nanti di Butik Aslan. Butik ternama di kota yang selalu memuaskan hati pelanggannya, meski harus mengeluarkan kocek yang sesuai. Mereka selalu memuaskan.


Pasangan pertama sudah sampai terlebih dahulu. Itupun dikarenakan Ana sudah ikut ke kantor bersama dengan Ken sejak pagi. Ia malas dan enggan ditinggalkan di rumah sendirian. Semenjak mengetahui kehamilannya ini, ia jadi tidak begitu suka berada di rumah jika tidak ada Ken. Sesuatu mendobrak keinginannya untuk selalu berada di luar rumah. Dalam artian bahwa ia harus menempatkan bokongnya di tempat lain, selain di rumahnya. Meskipun itu hanya duduk-duduk santai di halaman belakang milik Krystal. Tapi begitu saja ia sudah sangat senang. Dan demi kenyamanan suasana hati ibu hamil ini, Ken memperbolehkan saja apa yang Ana inginkan. Asal Ana tetap menjaga kesehatan dirinya dan juga calon bayinya. Dan pada sore hari jika Ken tidak sibuk, pria itu akan menjemput istri tercintanya.


Siang ini, keduanya tengah duduk berdampingan di ruang tunggu butik ini sambil menikmati makan siang mereka. Padahal tadi Ken sudah mengajak Ana makan di restoran favoritnya, tapi wanita hamil itu tidak mau. Katanya ia sedang ingin bersantai sambil menikmati makan siangnya di butik saja. Maka Ken memutuskan orangnya untuk memesankan makan siang untuk mereka berdua.


Berbagai macam hidangan telah disajikan di depan mata keduanya. Dan yang paling Ana tunggu adalah udang yang meliuk menggugah seleranya. Dengan saus asam manis, warna merah berpadu dengan jingga membuat Ana jadi kesusahan menelan salivanya.


"Bukankah kau biasanya tidak terlalu suka udang? Kenapa matamu sekarang seakan ingin melahap udang itu sekaligus, sayang?!", goda Ken seraya memberikan pelukan sayang kepada istrinya dari samping.

__ADS_1


"Entahlah! Sepertinya udang itu sedang memanggilku untuk segera ku makan. Mungkin ini keinginan anakmu, sayang!", wanita itu terkekeh sambil membenamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Baiklah, kalau begitu jadi patuhlah dan diam! Biar suamimu ini melayanimu dengan sepenuh hati!", ucapan Ken lantas membuat Ana tertawa. Setelah melepaskan pelukannya pada Ana, sebagai suami yang baik ia dengan telaten mengupas udang itu satu persatu agar kulitnya nanti tidak menyakiti tenggorokan istrinya. Sebelumnya pria itu telah melepaskan jasnya dan menggulung ke atas kemeja yang dipakainya. Ken meninggalkan jabatannya sebagai seorang presdir ternama menjadi seorang suami yang penuh kasih dan sayang.


"Kalau begitu sekarang kau juga makan!", Ana menyodorkan sesendok penuh makanan ke mulut suaminya. Menurutnya pembagian tugas ini cukup adil, dimana Ken sedang sibuk mengupas udang untuknya maka ia yang akan menyuapi suaminya itu.


Pemandangan harmonis dan sedap di mata ini harus terhenti tatkala Tuan Dion dan Nyonya Rima datang. Kedua orang tua itu tak bermaksud mengganggu, tapi mau kemana lagi mereka di saat mereka mendengar bahwa yang baru datang baru Ken dan Ana saja. Mau tidak mau, mereka juga datang ke ruang tunggu.


"Ayah, Bunda! Apakah baru saja tiba?", Ana tiba-tiba berdiri menyambut kedua mertuanya yang baru saja tiba di sana. Ia tersenyum canggung seperti merasa tertangkap basah sedang melakukan hal yang salah.


"Sudah,, sudah! Kau lanjutkan saja makan siangmu! Kebetulan kami sudah makan siang tadi!", jawab Nyonya Rima pertama seraya mendudukkan dirinya di sofa lain di hadapan mereka.


"Oh! Hai Ayah! Hai Bunda!", sapa Ken datar. Ia menoleh sebentar ke arah kedua orangtuanya, lalu melanjutkan kembali aktifitasnya yang semula. Dengan wajah santai dan tanpa beban, bahkan terlihat begitu menyenangkan.


"Ck,, anak itu! Sejak kapan dia berubah! Aku seperti tidak mengenalnya saja", Tuan Dion bergumam sambil menggeleng pelan. Hal itupun disetujui oleh istrinya yang tak lain adalah ibu dari Ken sendiri.

__ADS_1


Pria hebat itu selama ini hanya kesan dingin yang selalu ia tunjukkan sejak kecil. Kharismanya sebagai pemimpin pun sudah terpancar sejak saat itu. Auranya membuat orang segan kepadanya, bahkan keluarganya sendiri. Hanya Sam saja yang memiliki nyali besar untuk selalu bisa menghadapi raja singa yang kadang menunjukkan cakarnya kepada adiknya sendiri. Tapi Sam pun tau jika di dalam hati kakaknya itu, keluarga adalah segalanya baginya. Ken sangat peduli terhadap keluarganya. Maka begitulah pria itu sekarang ini, menjadi suami yang begitu menyayangi dan mencintai istrinya dan calon anaknya nanti.


Pasangan yang lebih tua menikmati pemandangan yang menghangatkan hati. Sedangkan pasangan yang muda menikmati makan siang mereka dengan suka cita hati.


***


Sarah sudah dijemput oleh supir pribadi Sam di rumahnya. Sam sendiri tengah sibuk dengan pekerjaannya di kantor, maka ia mengirim supirnya itu untuk menjemput calon istrinya. Kemudian barulah Sarah diantar ke kantor Sam untuk menjemput prianya itu.


Wanita itu sedikit mempermasalahkan dress yang dipakainya sekarang. Ia agak tidak nyaman karena merasa dress itu agak pendek dari dress yang biasanya ia pakai. Saat ini ia mengenakan dress selutut berwarna putih susu dengan tali spaghetti dan ia tambahkan outer berwarna coklat susu untuk menutupi bagian belakangnya yang sedikit terbuka. Ia suka dress ini karena terkesan manis. Tapi setelah dipakai panjangnya ini yang membuatnya gelisah sejak duduk di kursi penumpang.


Tangannya bergerak untuk menarik-narik bagian bawah dress itu, berpikir jika itu akan menjadi lebih panjang dari sebelumnya. Dan yang diharapkannya saat ini adalah bahwa nanti prianya itu tidak akan menertawai dandanannya saat ini. Sedikit lebih seksi pikir Sarah. Jika pria itu berani meremehkannya sedikit saja, maka lihat apa yang akan ia lakukan nanti pada pria itu.


Sarah mengembuskan nafasnya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja. Sambil memandangi jalanan di luar jendela, tangannya merapatkan outer yang menutupi sebagian lagi tubuh bagian atasnya.


Tak sengaja melihat gerak-gerik Sarah yang gelisah, supir yang menjemputnya sangat yakin jika Sarah sedang tidak percaya diri saat ini. Pria paruh baya itu tersenyum, biasanya wanita yang tuannya bawa akan sengaja membuat pakaian mereka lebih terbuka. Tapi wanita ini memang berbeda. Hanya sebatas lutut saja pakaian yang wanita ini gunakan, namun ia sudah terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


"Nona Sarah, Anda sangat cantik hari ini! Tuan Sam pasti makin terpesona nanti. Sungguh beruntung Tuan Sam memiliki Nona Sarah", supir pribadi itu memuji. Bukan bermaksud kurang ajar, itu sebuah kalimat yang tulus. Kalimat yang orang itu gunakan untuk membuat Sarah lebih percaya diri.


"Bapak bisa saja! Tapi,,, terimakasih ya Pak atas pujiannya. Aku yang beruntung memiliki Sam di sisiku", Sarah membalas kalimat supir itu tak kalah tulusnya. Ia menyunggingkan senyumannya seraya membayangkan wajah pria yang masuk ke dalam dialog mereka saat ini.


__ADS_2