Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 39


__ADS_3

Di lobby sebuah bangunan megah, seorang wanita hamil keluar dari mobil hitam mewah yang pintunya terbuka dengan bergeser ke samping. Wanita hamil itu lalu berjalan dengan anggunnya. Ana, yang tak lain adalah merupakan istri dari Presdir Ken yang terhormat.Wanita hamil itu selalu terlihat elegan meskipun pakaian yang ia kenakan tak pernah terlihat mencolok seperti istri seorang yang terhormat pada umumnya.


Kecantikannya yang natural semakin bersinar kala kandungannya semakin membesar. Setiap karyawan wanita di gedung Glory Coorporation itu sekarang mengidolakan sosok Ana yang cantiknya melebihi seorang aktris. Terutama para karyawan pria yang sebagian besar mengagumi anggun dan sederhananya wanita itu. Meskipun mereka harus berhati-hati dalam menunjukkan rasa kagumnya. Jangan sampai bos besar mereka mengamuk lantaran rasa cemburunya.


Ketika Ana berjalan, pasti ia akan membalas sapaan semua orang ditambah sebuah senyuman yang menenangkan hati. Oh, rasanya mereka seperti baru saja bertemu dengan ibu peri. Namun keinginan mereka untuk dekat hanya bisa sampai di situ. Karena tidak diizinkan satu orang pun mendekati nyonya dari perusahaan tempat mereka bekerja ini. Ada raja singa yang setiap saat memantau tanpa mereka ketahui.


Kepribadian Ana memang seperti itu, ia akan selalu baik dan ramah kepada setiap orang tanpa pandang bulu. Dan tentu saja itu ada atas ajaran mendiang Tuan Danu, ayahnya. Sehingga dimana pun Ana berada, dia akan selalu disegani dan disukai semua orang.


"Ambil ini untuk makan siang kalian!", Ana meletakkan tiga kotak makanan di atas meja resepsionis sambil tersenyum ramah.


Kebiasaan ini tidak bisa ia hilangkan. Ketika ayahnya masih ada, Ana memang biasanya akan membawa beberapa makanan untuk ia berikan kepada siapa pun yang ia temui di kantor. Karena sekarang Tuan Danu sudah wafat, giliran karyawan suaminya yang merasakan kebiasaan baiknya ini. Hingga mereka merasa sungkan sendiri. Karena Ana terlalu baik kepada mereka.


"Terima kasih banyak, Nona!", dua orang resepsionis itu membungkukkan tubuh mereka.


"Ingat! Aku tidak menerima penolakan! Yang satu lagi kalian bebas memberikannya kepada siapa pun!", Ana buru-buru bicara saat ia melihat raut wajah salah satu di antaranya ingin menolak pemberiannya. Kemudian ia berlalu pergi begitu saja sambil tersenyum senang.


"Bukannya aku ingin menolak! Hanya saja aku merasa tidak enak karena ini sudah ketiga kalinya Nona Ana memberiku makan siang. Sedangkan aku belum memberikan Nona apa pun sebagai balasan. Tapi,, harus aku akui kalau masakan Nona Ana memang sangat enak. Mengalahkan rasa masakan ibuku!", salah satu resepsionis itu bercerita pada temannya dengan wajah semangat.


"Benar! Ini kedua kalinya bagiku mencicipi masakan Nona Ana! Memang benar enak sekali masakannya! Tuan Ken benar-benar beruntung memiliki istri seperti Nona Ana! Sudah cantik, baik, pintar masak lagi!", puji yang satunya lagi seraya mengambil kotak-kotak itu dari atas meja.


"Aku akan memberikan yang satunya kepada petugas kebersihan itu! Bagaimana menurutmu?", tanyanya lagi sambil menunjuk seorang petugas kebersihan yang sudah cukup umur sedang mengepel lantai di depan mereka.


"Kenapa tidak!", yang satunya menjawab tanpa beban. Kebaikan Ana memiliki efek domino, sehingga mereka melakukan kebaikan kepada yang lainnya.


***


Kini, kehamilannya itu menginjak usia dua puluh delapan minggu atau sekitar enam bulan. Dan kebetulan hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutinnya. Biasanya Ken tidak berangkat ke kantor dan akan menemaninya. Namun, karena hari ini ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan, makanya Ken akan menyelesaikan pekerjaan itu dulu. Lalu barulah ia akan menemani istrinya itu menjalani pemeriksaan.


Hari ini tidak bisa ia membiarkan Ana pergi sendiri, meskipun memang ia tidak pernah melewatkan jadwal pemeriksaan rutin istrinya itu. Sebab hari ini merupakan hari yang spesial dimana mereka telah sepakat untuk melihat jenis kelamin calon jabang bayi mereka nanti. Ken tidak bisa melewatkan hal sepenting itu untuk membiarkan istrinya tahu pertama seorang diri. Ia juga ingin menjadi orang pertama yang tahu jenis kelamin anaknya. Laki-laki atau perempuan sebenarnya tak masalah. Sebagai orang tua baru, mereka hanya penasaran saja.


"Dia di dalam?", tanya Ana pada Han yang segera bangun untuk memberi hormat ketika melihat ia datang.


"Benar, Nona! Tuan ada di dalam! Mari saya antar!", asisten pribadi suaminya itu lekas meninggalkan pekerjaannya di meja lalu memimpinnya menuju pintu ruangan Presdir Ken yang terhormat itu.


"Biar saya yang bawa, Nona!", tanpa permisi Han mengambil kotak makanan yang berada di tangan Ana. Ia tidak ingin membuat istri bosnya itu kelelahan karena sudah membawa beban yang berat. Sudah begitu, bosnya pasti akan langsung menyalahkannya jika hal itu terjadi. Lalu Ana tersenyum tak berdaya untuk menolak.


"Silahkan Nona!", ucap Han ramah sambil membukakan pintu untuk Ana.

__ADS_1


Ana masuk ke dalam ruangan dan langsung disambut oleh sebuah senyuman dari suaminya. Begitu mendengar pintu terbuka tanpa izin, ia sudah tahu jika yang datang pasti istrinya. Karena untuk tamu yang ingin bertemu dengannya, Han harus meminta persetujuannya terlebih dahulu meskipun mereka sudah membuat janji sejak beberapa waktu sebelumnya. Ana pun melambaikan tangannya seraya mendekat ke meja kerja suaminya itu.


"Jika Nona dan Tuan membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saya!", Han pamit undur diri dari ruangan itu setelah meletakkan kotak makan yang Ana bawa di meja di depan sofa yang berada di depan meja kerja bosnya.


"Terima kasih, Han!", ucap Ana ramah sebelum lelaki itu benar-benar membalikkan tubuhnya. Han membungkukkan kepalanya sebentar lalu pergi meninggalkan ruangan untuk sepasang suami istri itu menghabiskan waktu.


"Apakah kau lelah?", Ana meletakkan tas jinjingnya di ujung meja, kemudian dengan perhatian ia memijit bahu suaminya itu.


"Sudahlah! Aku tidak apa-apa! Justru kau yang baru sampai. Pasti kau yang merasa lelah sekarang!", Ken mengambil jari-jari Ana yang masih bertengger di bahunya. Kemudian menarik tangan wanita itu, membimbingnya untuk duduk di pangkuannya.


"Jangan begini, Ken! Nanti kalau Han masuk bagaimana?! Aku malu!", Ana ingin bangun namun ditahan lagi oleh lelaki itu.


"Memangnya kenapa?! Aku hanya sedang memijat bahu dan lengan istriku saja! Tidak ada yang salah, kan?!", dan lelaki itu enggan melepaskan istrinya yang sejak pagi baru ia temui.


Tangannya yang lelah mengurusi berkas-berkas membosankan di atas meja, sekarang dengan telaten sedang memberikan pijatan ringan di sekitar bahu dan lengan Ana. Dan jujur memang sangat nyaman pijatan yang Ken lakukan untuknya itu. Ia hanya keberatan dengan posisi mereka saat ini. Terlalu ambigu untuk dilihat orang lain. Siapa yang mengira apa yang sebenarnya mereka lakukan sekarang!


"Tapi sekarang aku berat, Ken!", wanita itu mencoba mencari alasan.


"Kau dan anakku tidak berat sama sekali!", dari belakang pria itu mengusap perut istrinya yang sekarang semakin membesar. Permukaan perut yang membulat itu terasa lembut dan enak sekali untuk diusap. Ken suka sekali menggerakkan telapak tangannya di sana.


"Ahh! Ayo ke sini! Lihat apa yang aku bawa untukmu!", memang tidak akan mempan meski apa pun yang ia katakan. Tidak mudah lepas dari jerat suaminya itu. Jadi ia alihkan topik kepada kotak persegi yang masih tersusun rapi di atas meja sana. Ana kemudian menarik Ken untuk berpindah tempat duduk ke sofa.


"Pasti bukan hanya aku saja yang kau bawakan!", Ken merengut. Pria itu menyusut ke sandaran sofa dengan wajah lemas.


"Ahh, benar! Aku belum memberikan yang ini untuk Han!", Ana langsung teringat dengan kotak makanan yang tersusun paling bawah dan belum ia berikan kepada asisten pribadi suaminya itu.


Istrinya ini memang benar-benar! Tidak peduli sama sekali dengan perasaan tidak suka dibagi yang begitu besar ia rasakan. Ken hanya ingin perhatian Ana untuk dirinya seorang. Dan dia juga ingin masakan istrinya itu hanya ia yang menikmati saja. Namun,, istrinya itu selalu berbaik hati untuk memberikan kepada beberapa karyawannya. Sudah pasti mereka menjadi besar kepala! Dan pria itu tidak suka!


"Biar dia ambil sendiri!", Ken menahan tangan Ana yang sudah akan berdiri untuk memberikan kotak makanan itu kepada Han.


Ken mengirimkan pesan dengan ponselnya kepada Han dengan satu kata singkat. Kemudian ia melempar ponselnya ke samping dengan malas.


Masuk!


Hanya dalam hitungan detik, orang yang dituju membuka pintu ruangan itu. Meskipun tidak tahu apa-apa, namun Han tetap berwajah tenang.


"Ini untukmu, Han!", Ana langsung berucap bahkan sebelum Han membuka suaranya. Ken di samping segera bermuram durja. Ia menatap Han dengan pandangan sinis. Itu milikku! Ujar matanya jika mungkin bisa bicara.

__ADS_1


"Tidak usah, Nona! Terima kasih! Saya akan memesan makan siang sendiri!", Han menolak dengan sopan setelah melirik wajah bosnya yang suram itu. Ia sepertinya sedikit memahami mengapa bosnya itu berekspresi begitu. Pasti karena hal ini!


"Apa kau lupa, jika aku tidak menerima penolakan dari siapa pun!", ketika intonasi suara Ana meninggi Han pun menyadari wajah asli istri dari bosnya ini. Yang ketika hari-hari biasa saja sudah menyeramkan. Apalagi setelah menyandang status wanita hamil. Singa betina itu semakin buas jika sudah kesal karena ada sesuatu hal yang ia tidak suka.


Ken di sampingnya pun mendadak menegakkan punggungnya. Terkejut ia mendengar nada bicara istrinya itu. Jangan sampai marah! Arti tatapan Ken saat ini pada Han di seberangnya. Ken menggerakkan bola matanya menunjuk ke arah pintu. Ia ingin agar Han segera mengambil makanan dari Ana dan segera menghilang dari tempat ini.


"Terima kasih atas perhatiannya, Nona Ana!", seperti capung, Han melesat pergi setelah menyambar kotak makanan dari tangan Ana. Ia berlari tunggang langgang tak menoleh lagi. Meninggalkan ruangan itu secepat mungkin sebelum diamuk oleh si singa betina.


"Apa susahnya, sih! Dia hanya perlu memakannya saja, kan!", Ana menepuk tangannya beberapa kali seperti sedang menyingkirkan debu tak terlihat dari sana. Ia pun kembali menyiapkan bekal yang sudah ia bawa khusus untuk suaminya itu.


"Kau itu terlalu baik pada semua orang! Dan mereka menjadi kebingungan. Makanya jangan terlalu sering memberikan makanan kepada mereka, Sayang!", Ken pelan mengusap kedua lengan istrinya seraya menjatuhkan beberapa ciuman di belakang kepala wanita itu. Meredakan emosi singa betina tentu saja adalah keahliannya sebagai si raja singa.


Tidak tahu saja Ken, jika istrinya itu sudah merubah wajahnya yang kesal sejak tadi. Sejak Han bergegas pergi dari hadapannya. Seketika ia melupakan alasan mengapa ia marah. Kini yang ia ingat adalah untuk menyiapkan makan siang untuk suaminya itu. Wajah wanita itu sudah terlihat cerah, bahkan saat ini ia sedang diam-diam menyembunyikan senyumannya. Sesungguhnya Ana tahu maksud dari ucapan suaminya itu. Pasti dia sedang cemburu.


"Tapi kita harus berbuat baik kepada semua orang, Ken! Bukankah aku sedang mengajarkan sesuatu yang mulia terhadap anak kita?!", Ana tak menoleh, ia tetap sibuk menyiapkan makanan di atas meja.


Ah! Mengapa istrinya itu pandai sekali bicara?! Jika sudah begini, lalu alasan apalagi yang harus ia gunakan untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan?! Ia tidak ingin terbagi. Meskipun itu adalah karyawannya. Apapun yang Ana buat hanya boleh untuknya saja!


"Ini, minum air putih dulu agar pencernaanmu lancar setelah makan nanti!", Ana mengambil botol air mineral dari kulkas kecil yang menang tersedia di pantry kecil di sudut ruangan itu. Ia masih sengaja tidak memperhatikan wajah suaminya. Padahal ia tahu jika Presdir Ken yang terhormat itu tengah merajuk sambil mengerutkan bibirnya. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak tertawa.


"Ayo, makan!", Ana kembali mendudukkan diri di samping Ken. Ia masih tak mau melihat ke wajah orang itu. Setelah mendengar pria itu menenggak sedikit air putih, Ana menoleh untuk memberikan satu suapan besar ke arah mulut suaminya itu.


"Ayo buka mulutmu! Ini adalah masakan spesial yang aku buat dengan sepenuh hati. Berisi cinta dan kasih sayang, agar suamiku lebih kenyang dan bertenaga saat bekerja!", mulut manis Ana bekerja ketika suaminya itu masih merapatkan bibirnya. Seakan lelaki itu sedang melaksanakan aksi mogok makan.


"Biar ku beritahu sebuah rahasia!", Ana mencondongkan tubuhnya sambil terkekeh ringan.


"Makanan ini aku yang membuat dengan tanganku sendiri, untuk suamiku tercinta! Sedangkan untuk yang lain, aku membelinya di restoran langganan kita!", ia kemudian berbisik di telinga Ken sambil sesekali tertawa kecil mengingat apa yang telah dilakukannya.


Biasanya memang ia akan memberikan orang-orang masakan yang ia buat sendiri. Menunya sama dengan yang Ken makan. Maka dari itu yang menerima pemberian Ana pasti akan sangat senang, karena makanan mereka setara dengan bos besar mereka sendiri. Tapi kali ini,, ia memang memasak. Namun hanya cukup untuk Ken dan dirinya saja karena bahan baku di kulkasnya ternyata sudah menipis dan baru saja ada orang yang pergi untuk berbelanja.


Karena sudah terbiasa dengan kebiasaan ini, ia tidak bisa hanya membawa makanan untuk dirinya saja. Maka dari itu Ana memutuskan untuk memesan beberapa hidangan dari restoran langganan mereka untuk ia bawa dan ia berikan kepada siapa pun yang ditemuinya. Jadi sungguh beruntung yang menerima pemberian darinya itu. Mereka makan siang dengan menu restoran mewah. Sungguh luar biasa, jika seandainya saja mereka tahu!


"Anak pintar!", puji wanita itu ketika tanpa ia sadari Ken segera melahap makanan di sendok yang ia pegang. Ana pun mengelus kepala pria itu seperti mengelus kepala putranya sendiri. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas. Dan memang sudah waktunya bagi mereka untuk makan siang.


"Setelah menyelesaikan satu pekerjaan lagi, kita berangkat untuk pemeriksaan rutin kandunganmu!", putus Ken di tengah sesi makannya yang sedang disuapi oleh istrinya itu.


"Baiklah!", Ana tersenyum santai untuk menanggapinya. Bagaimana pun juga ia tahu jika lelakinya ini adalah seorang yang sangat sibuk dengan segudang pekerjaan. Jadi ia bisa pahami hal itu. Yang terpenting ia sudah lega karena suaminya itu sudah tidak memperhitungkan lagi masalah makanan yang ia bawa ini. Dilihat dari senyum cerahnya, suaminya itu tentu saja sudah puas dengan jawaban yang berikan.

__ADS_1


Lelakinya ini memang benar-benar! Bahkan ia bisa cemburu hanya karena masalah sepele seperti ini! Hanya karena perkara makanan wajah pria itu bisa langsung muram. Sungguh pencemburu akut! Pikir Ana di dalam hati.


__ADS_2