
Ana mengikuti langkah Ken dan ayahnya menuju meja makan. Dan mereka pun makan siang dengan beberapa obrolan dan candaan. Ken memandangi kedua ayah anak itu sambil tersenyum damai. Begitu bahagianya dia berada di tengah keluarga yang hangat ini.
***
Setelah makan siang dan sedikit berbincang, Ken memutuskan untuk mengajak Ana keluar. Ana segera mengambil tasnya di kamar dan berlari ke arah teras rumahnya. Di sana Ken dan ayahnya sudah menunggu.
"Kau itu masih seperti anak kecil saja, berlarian ke sana kemari!", tegur Tuan Danu sambil menggeleng pelan. Senyumnya terurai melihat binar wajah Ana saat bersama dengan Ken.
"Tidak ada hubungannya ayah, antara berlari dan anak kecil! Ya sudah aku pergi dulu ya, ayah. Jangan terlalu sibuk bekerja, ini masih akhir pekan, ingat ayah!", Ana berpamitan pada ayahnya. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh Ken.
"Aku pinjam putrimu dulu, Paman. Mungkin kami pulang agak larut. Setelah ini aku akan langsung mengajaknya makan malam di rumah orang tuaku", kini giliran Ken yang berpamitan sekaligus meminta ijin pada ayah dari kekasihnya itu.
Tuan Danu memandangi mobil Ken yang sudah pergi menjauh. Perasaannya kini campur aduk. Antara bahagia, sedih dan marah berbaur di dalam relung hatinya. Bahagia melihat putrinya bisa tersenyum seindah itu. Sedih lantaran sebentar lagi dia akan melepaskan putrinya kepada orang lain. Marah akibat ancaman yang diberikan oleh adiknya. Karena bagaimanapun juga ia tahu, ancaman itupun menyangkut nyawa putrinya juga.
***
Mereka menuju ke Rosie Gold Boutique. Sebuah butik kenamaan yang hanya menerima pesanan dari kaum papan atas di seluruh negeri. Mereka hanya menjual produknya dalam edisi terbatas, jadi tak sembarang orang bisa memilikinya. Pasalnya harga setiap potongnya bernilai puluhan hingga ratusan juta.
Setelah sampai di sana, semua pelayan langsung membentuk barisan memberi hormat pada Ken dan Ana yang baru saja memasuki tempat mereka. Keluarga Ken sudah menjadi langganan tetap butik ini dan mereka merupakan salah satu pelanggan VIP yang tentunya selalu mendapat pelayanan lebih, apalagi dengan posisi Ken yang begitu terkenal di kota ini.
"Selamat datang, Tuan Ken!", sapa manajer butik.
"Keluarkan gaun-gaun keluaran baru kalian untuknya. Ingat jangan yang terlalu terbuka!", perintahnya kemudian duduk di salah satu sofa dekat ruang ganti. Ken mengambil salah satu majalah untuk mengusir rasa bosannya nanti.
__ADS_1
Ana sudah mencoba hampir semua gaunnya, tapi belum ada juga yang memuaskan mata Ken. Ana terus menahan sabarnya sambil meremas ujung gaun yang ia coba, pasalnya Ken dengan santainya akan mengatakan ganti setiap kali tidak cocok di matanya.
Akhirnya setelah semua stok gaun terbaik telah habis Ana coba semua, kini tinggal gaun terakhir yang akan ia tunjukkan pada Ken.
"Lihat saja! Jika ini dia masih tidak setuju juga, akan aku cabik-cabik wajahnya. Memangnya dia pikir mudah untuk terus berganti pakaian seperti ini", gerutu Ana sambil berjalan ke arah Ken.
"Tuan!", seorang pelayan yang mendampingi Ana memanggil Ken.
Ken meletakkan kembali majalah yang ia baca dan mengangkat wajahnya ke arah suara pelayan itu. Mulutnya otomatis terbuka, Ken menganga melihat tampilan Ana yang begitu anggun. Kini Ana memakai gaun berwarna campaign tanpa lengan dengan taburan berlian kecil di sekitar bahunya. Gaun itu memiliki panjang selutut dan mengembang dari bagian pinggang Ana. Gaun yang cukup sederhana, namun begitu indah saat melekat pada Ana yang sudah cantik alami. Dan rambut Ana dibiarkan tergerai dengan sedikit gelombang di bagian bawahnya.
Ana dan juga pelayan di sebelahnya menahan senyum saat melihat ekspresi Ken. Ana memberi isyarat dengan tangannya kepada pelayan untuk membiarkan mereka berdua saja. Kemudian dia melangkah maju ke hadapan Ken.
"Ken!", panggil Ana lembut sambil menahan senyumnya. Tapi Ken tak merespon, dia masih sibuk memandangi Ana.
"Ken!", Ana memanggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya tepat di hadapan Ken. Akhirnya Ken terkesiap dan sadar akan sikapnya barusan.
"Ee,, ya, ya?!", Ana terkekeh ketika melihat Ken yang gelagapan.
"Air liurmu, Ken!", Ana melipat bibirnya kuat-kuat, saat melihat Ken yang memandang ke arahnya dengan tatapan serius.
Spontan Ken langsung mengelap sudut-sudut bibirnya dengan ibu jarinya. Meskipun tetap terlihat elegan, namun tetap saja layak menjadi bahan tertawaan. "Cekk!", Ken berdecak kesal saat tahu dirinya tengah dikerjai oleh Ana lagi.
"Kau!", Ken menarik tangan Ana hingga Ana duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Kau senang sekali ya mengerjaiku! Aku harus memberi mu hukuman lagi rupanya!", Ken tersenyum licik sambil mendekap pinggang Ana dengan erat.
"Ken lepaskan!", Ana berusaha membebaskan diri dengan mendorong dada Ken menggunakan kedua tangannya. Namun usahanya sia-sia, ya karena tahu sendiri yang dilawan adalah si raja singa.
"Siapa suruh, kau duluan yang mengerjai aku. Seluruh gaun di butik ini sudah ku coba, tapi kau seenaknya saja memerintahkan ku untuk terus ganti. Tahukah kau bahwa itu sangat melelahkan?!", Ana memilih menyerang Ken dengan kata-katanya.
"Tapi kau lihat sendiri kan selera ku pasti sama dengan selera mu", ucap Ken sambil menaik-turunkan alisnya dan memasang senyum terbaiknya.
Ana memperhatikan gaun yang dipakainya. Memang benar gaun ini sesuai dengan karakternya yang sederhana, tapi tetap menonjolkan sisi elegannya. Ana memasang senyumnya pada Ken dan "cup", Ana mencium pipi Ken tiba-tiba. Kemudian dia langsung melarikan diri secepat mungkin agar Ken tidak melihat pipinya yang sudah seperti tomat.
Ana begitu senang karena Ken begitu memahami dirinya. Ana telah bertekad untuk mengenal Ken lebih jauh lagi. Dia berjanji akan belajar mencintai dan memahami Ken untuk ke depannya. Ana meremas telapak tangannya di udara, dia berjanji dalam hati pada dirinya sendiri. Kali ini Ana kelihatan sudah bertekad.
***
Senja telah menjelang, langit telah berubah menjadi lautan jingga. Dan kilauan mentari hampir hilang ditelan awan. Ken dan Ana memutuskan untuk langsung menuju kediaman orang tua Ken. Ken dan Ana terlihat begitu serasi. Ana memakai gaun campaign nya dan Ken memakai jas dengan warna senada dengan kemeja hitam tanpa dasi dan dia membuka dua kancingnya hingga sedikit terekspos dada bidang milik Ken. Ana hampir saja mengeluarkan liurnya saat tadi melihat tampilan Ken yang begitu fresh untuk pertama kalinya. Tapi ia langsung mengembalikan kesadarannya karena tak ingin jadi bahan tawa seperti Ken tadi.
Sedari masuk ke dalam mobil, Ana memandangi sebuah kotak merah besar di bangku penumpang dengan tatapan menyelidik.
"Buka saja jika kau begitu penasaran", ucap Ken yang sedari tadi memperhatikan arah pandangan Ana.
"Boleh kah?", tanya Ana polos sambil memiringkan kepalanya menghadap Ken.
Ken mengangguk sambil mengurai senyum penuh arti pada Ana. Ana mengambil kotak itu dan membukanya. Matanya terlihat menyelidik ke arah Ken dan bergantian ke arah isi dari kotak itu. Tapi Ken dengan tenang memasang wajah datarnya menghadap ke arah depan, seolah tak peduli dengan isinya.
__ADS_1
"Ken ini?", tanya Ana yang sudah berkerut alisnya.