
Dan,,, akhirnya Sarah menyeret tubuh Sam yang tergeletak di lantai bagaikan sebuah bangkai. Upss, tapi Sarah tak akan meminta maaf untuk hal ini. Yang penting ia bisa membawa pria itu sampai ke kamarnya. Masalah teknik itu bebas, kan. Hehe
***
Seseorang berjalan menuju area parkir apartemen Sam. Tangannya sedang menekan-nekan layar ponselnya. Lalu ia letakkan benda pipih itu di samping telinganya sambil menunggu panggilannya tersambung.
"Halo, Tuan!", sapanya pertama.
"Semuanya sudah beres, Tuan!", setelah beberapa kali mengangguk seperti diberi arahan oleh yang meneleponnya, pria paruh baya itu menutup panggilannya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Fiuhh!", pria paruh baya itu menghela nafas lega. Meskipun melelahkan, tapi akhirnya ia bisa lepas juga dari masalah. Bahkan ia bisa membantu menyelesaikan masalah. Hehe
Senyumnya terkembang puas. Ia sangat puas hingga sesekali bersenandung lagu-lagu klasik pada jaman mudanya dulu. Membuka mobil lalu menjalankannya dan meninggalkan area apartemen itu dengan ceria.
"Semoga berhasil, Tuan", gumam pria itu dalam hati.
***
Dengan jerih payahnya yang menguras cukup banyak keringat, akhirnya Sarah berhasil menyeret tubuh Sam sampai di kamarnya. Bahkan pria itu sudah ia dudukkan di lantai sambil bersandar ke pinggiran ranjang. Dia yang kelelahan memutuskan untuk duduk juga dengan posisi yang sama di sebelah Sam. Inginnya hanya sebentar.
"Hah!", wanita itu tengah mengumpulkan segenap oksigen untuk ia masukkan ke dalam rongga paru-parunya. Sarah seperti hampir kehabisan nafas saat ini. Rasanya tubuhnya pun terasa sangat lelah sekarang. Jangan kira pria jangkung ini tidak berat mentang-mentang tubuhnya tidak besar. Namun sepertinya tubuh itu tidak jauh lebih berat daripada beban hidupnya. Dengan alasan itulah Sarah menyemangati dirinya agar bisa membawa tubuh Sam sampai tujuan.
Sarah menoleh ke arah pria yang tengah terpejam matanya sambil sesekali bergumam tidak jelas. Kesadarannya masih belum pulih karena efek mabuknya. Dengan wajah gemas dan kesal wanita itu menoyor kepala Sam ke samping. Memanfaatkan keadaan saat pria itu yang sedang tidak sadar.
"Kenapa aku harus terlibat lagi denganmu, sih?! Tadi kau bilang semua kekesalanmu karena wanita yang bernama Megan itu, kan?! Nah biar kau tau ya, gara-gara kau, aku jadi lelah begini. Gara-gara kau, aku jadi harus meninggalkan pekerjaanku malam ini. Gara-gara kau, larut malam begini aku malahan terjebak dengan pria bodoh sepertimu ini. Semua kekesalanku itu gara-gara kau, asal kau tau itu!", kini Sarah menoyor pipi Sam ke samping berulang kali. Hingga wajah pria itu terus menoleh dan menoleh lagi ke samping lagi.
"Gara-gara kau, aku jadi membuka hatiku kembali. Gara-gara kau, aku merasakan cinta lagi. Tapi gara-gara kau juga, aku merasakan patah hati lagi. Gara-gara kau Sam, gara-gara kau!", Sarah menjadi histeris. Ia memukul-mukul pelan bahu dan dada Sam yang dapat ia gapai. Sarah sudah kalah lagi dengan tangisannya. Siapa sangka malam ini ia malahan bertemu dengan pria yang tak ingin ditemuinya itu. Dan malahan terjebak dalam situasi canggung seperti ini. Kacau, hatinya kacau. Ingin luluh melihat betapa kacaunya pria itu karena dirinya. Tapi mengingat semua hal yang terjadi di belakang, apalagi pesan ibunya yang mengatakan untuk menjauhi Sam. Hati Sarah benar-benar kacau saat ini. Ia menangis sambil menyandarkan keningnya pada bahu Sam yang masih belum reda dari efek mabuknya.
"Dasar pria bodoh! Dasar pria gila! Kau harus tau, ini semua gara-gara kau! Karena dirimu Sam!", Sarah kembali mengangkat wajahnya dan ia juga kembali mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada tubuh Sam lagi.
"Sarah! Sarah! Sarah!", gumam Sam yang masih mabuk itu. Matanya terpejam tapi mulutnya terus meracau sambil mengumandangkan nama Sarah berulang kali. Mata pria itu terbuka, ia langsung menoleh ke samping. Ke arah wanita yang sedang mematung karena keterkejutannya melihat dirinya membuka mata. Sam langsung memegangi kedua pergelangan Sarah yang masih setia menempel pada tubuhnya.
"Sarah! Sarah! Sarah!", Sam terus menyebutkan nama wanita itu sambil terus mencondongkan wajahnya ke arah Sarah.
"Aku merindukanmu, Sarah! Aku mencintaimu!", ucap Sam tepat di depan wajah wanita itu.
Sapuan nafas hangat dan bau alkohol dari mulutnya sangat terasa di wajah Sarah. Wanita itu, yang sedari tadi sedang terbawa perasaannya pun menjadi diam tak berkutik. Sebenarnya kalimat itu sungguh indah di telinganya. Kata-kata itu bagai mantra sihir yang membuatnya mematung menatap dalam pria yang kini makin mendekatkan wajahnya. Kata-kata itu bagaikan angin semilir yang meniup lukanya. Sarah merasa hatinya berdesir mendengar Sam mengucapkan kata-kata itu.
Tangan Sam yang satu sudah menangkup sebelah wajah Sarah. Ibu jarinya membelai lembut pipi Sarah hingga ke bibirnya. Tatapan keduanya penuh damba pada bibirnya masing-masing. Keduanya sudah saling membuka mulutnya, bersiap saling menyalurkan perasaan satu sama lain.
hoek,,, hoek,, hoek
Yang terjadi adalah Sam malahan memuntahkan seisi perutnya tepat di wajah Sarah. Dan untungnya wanita itu dengan sigap mundur sedikit. Namun malangnya, baju dan celana Sarah malahan jadi terkena muntahan pria itu. Tak terkecuali juga sama dengan pakaian yang Sam gunakan.
"Hissh! Dasar pria bodoh", Sarah menggeram marah. Ia kembali menoyor pipi Sam, sementara pria itu kembali memejamkan matanya dengan kepala yang bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri dengan lemahnya. Sarah menatap jijik ke arah dirinya maupun Sam dimana pakaian mereka terkena muntahan.
"Air! Aku mau air!", gumam Sam lirih.
__ADS_1
Sarah menoleh ke samping, tepat di atas nakas itu terdapat segelas air putih. Segera Sarah mengambilnya dan memberikannya kepada Sam.
"Ini minum!", Sarah menyodorkan gelas itu ke wajah Sam dengan muka galaknya.
Pria mabuk itu malahan mencondongkan wajahnya mendekat ke arah gelas, bibirnya mengerucut sambil membuka dan menutup mencari-cari dimana letak gelas itu berada dengan mata yang masih terpejam. Sudah seperti ikan cucut saja gerutu Sarah tak sabar.
"Heh!", ia mendesah kesal. Tapi dengan sabar ia membantu pria itu meminum air di gelas itu dengan memegangi kepala pria itu agar tetap stabil saat meminumnya.
Sarah kembali memindai keadaan pakaiannya maupun pakaian Sam yang terkena muntahan tadi. Hah, lagi-lagi ia mendesah pasrah. Kenapa nasibnya malam ini sungguh malang sekali. Belum cukup mengantar pria mabuk ini pulang. Sekarang malahan terkena muntahan, dan belum lagi dirinya sudah pasti harus membersihkan bekas menjijikan ini. Sarah memijit keningnya yang merasa pusing dengan situasi dan keadaan ini.
Baiklah, ia menyerah! Sarah menyerah dengan keadaan saat ini. Mau tak mau ia memang harus mengurus hal ini. Karena bagaimana mungkin juga ia pulang dalam keadaan kotor begini.
Dengan hati-hati Sarah membuka helai demi helai pakaian yang Sam gunakan. Jasnya, dasinya dan kemejanya. Lalu ia beralih dengan membuka sepatu dan kaos kaki yang Sam gunakan. Tapi kemudian wajahnya berubah khawatir melihat celana yang Sam gunakan juga terkena muntahannya juga. Sarah sungguh dibuat pusing oleh keadaan ini.
Hey, dirinya masih seorang wanita yang suci dan murni. Jika melihat seorang pria dengan celana pendek atau dalaman pun, itu hanya adiknya. Tak ada perasaan apapun Sarah pada saat melihatnya, yang ada pasti wanita itu akan marah-marah karena tindakan sembrono adiknya.
Tapi untuk pria dewasa lainnya, bahkan saat bersama dengan calon suaminya pun dulu hubungan mereka tidak sejauh itu untuk bisa melihat hal yang lebih dalam seperti ini. Ya ampun, apa yang harus ia lakukan sekarang. Kepalanya berputar hingga membuatnya tak dapat berpikir dengan benar. Tapi tidak mungkin juga ia membiarkan pria itu dengan pakaian kotornya hingga besok pagi.
Baiklah tak ingin berlama-lama lagi, sedangkan pakaiannya sendiri pun juga sama kotornya dengan yang Sam kenakan. Akhirnya ia membuka kemeja yang ia gunakan karwna tekena muntahan tadi hingga menyisakan dirinya yang hanya menggunakan tank top hitam dengan renda di bagian atasnya. Kemeja miliknya pun sangat bau ketika kita mulai mengendusnya. Sempat takut karena berpenampilan seperti ini, tapi ya sudahlah pria itu juga masih pingsan kan, sampai saat ini. Maka Sarah berusaha tak mempedulikan hal ini terlebih dahulu.
Dengan jantung yang berdegub kencang, dengan tangan yang gemetar karena rasa gugupnya, Sarah mulai membuka kancing celana panjang yang Sam gunakan. Saking takut dan canggungnya, ia sampai memejamkan mata dan membuang wajahnya ke samping, menghindari dirinya melihat hal-hal yang tidak seharusnya.
ttek
Kancing celananya telah terlepas. Baru begitu saja ia nafasnya sudah terengah-engah. Bukan karena baru saja melakukan tindakan yang macam-macam, tapi karena sejak awal ia memutuskan untuk melakukan hal ini, Sarah sudah mulai menahan nafasnya. Kembali ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi rongga dadanya dengan segenap oksigen yang ia punya. Perlahan ia turunkan resleting celana Sam. Tangannya gemetar hebat bahkan peluhnya juga bercucuran pada dahinya.
"Hello, Sarah! Kau ini sedang menolong orang, bukan sedang melakukan tindakan kejahatan!", Sarah menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
"Aakhh!", Sarah memekik karena saking terkejutnya. Ia belum pernah melihat hal seperti ini dari jarak dekat. Meskipun itu adiknya, Sarah tak pernah memperhatikannya sedetail ini tentunya. Lagipula untuk apa coba. Kembali Sarah memejamkan matanya kuat-kuat, takut melihat akan hal itu, ia juga takut jika ternyata Sam tidak memakai celana boxer atau semacamnya, hingga langsung memperlihatkan celana terdalamnya.
Ia memundurkan diri untuk mempermudah menarik celana bahan yang lelaki itu kenakan. Dan matanya pun masih setia menutup dengan kuatnya. Karena tidak bisa melihat maka tangan Sarah pun meraba-raba mencari bagian pinggang celana Sam. Ia bermaksud menurunkan celananya dari bagian atas dulu. Tapi siapa sangka,,, tangannya menyentuh sesuatu yang tidak semestinya.
"Aakhh", teriaknya sambil memegangi tangannya yang telah ternodai itu. Sarah bersedih, karena kini tangan kirinya sudah tidak suci lagi.
Berulang kali mengumpat sendiri, akhirnya Sarah memutuskan untuk menarik celana Sam dari bagian bawah saja. Ia berusaha keras menarik celana itu hingga perlahan tubuh Sam pun terbawa.
ddakk
Dan bahkan sampai Kepalanya terbentur ke lantai. Sarah hampir panik ketika Sam mulai memegangi bagian belakang kepalanya sambil mendesis kesakitan. Tapi ketika melihat mata pria itu masih terpejam, maka buru-buru ia menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Dan akhirnya,,,, semua pakaian kotor milik pria itu sudah berhasil terlepas semua dan hanya menyisakan Sam beserta boxernya.
Sarah berdiri ia akan meletakkan pakaian kotor milik Sam ke dalam keranjang yang ia lihat berada di depan kamar mandi. Tapi sebelum itu, ia sempatkan diri untuk menendangnya kaki pria yang membuatnya kesusahan di tengah malam begini.
Meskipun mulutnya seakan enggan untuk mengurusi pria ini. Tapi tangannya begitu terampil membuat pria ini begiryu bersih dengan mengelapnya menggunakan handuk kecil yang ia temukan di kamar mandi.
Saat merasa tubuhnya mendapatkan sentuhan-sentuhan sejuk dengan sesuatu yang lembut dan basah. Sam mulai menggeliat lagi. Bergumam tidak jelas sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing.
"Kepalamu sakit?", tanya Sarah sedikit ketus namun dari matanya ia sebenarnya sangat perhatian.
__ADS_1
"Hey, wanita! Kau kah itu?!", mata Sam setengah terbuka dengan kerutan kasar di keningnya. Sarah tak menjawab, ia takut pria itu mengetahui siapa orang yang berada dihadapannya ini. Ia hanya terus melanjutkan pekerjaannya membersihkan tubuh Sam yang terkena muntahan dengan handuk basah.
"Hey, wanita! Kepalaku pusing sekali!", keluh Sam sambil memegangi kepalanya.
"Mau berbaring di tempat tidur?", tanya Sarah seraya meletakkan handuk itu ke dalam wadah tempat menampung air panas yang digunakan untuk menyeka tubuh Sam.
"Memangnya di club malam ini ada tempat tidurnya?", tanya Sam polos sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan mata yang terbuka sebelah.
Ya ampun, Sarah menepuk jidatnya. Ia lupa jika pria ini masih dalam keadaan mabuk. Ya sudahlah,, maka ia ikuti saja alurnya.
"Tentu saja ada! Kau mau?", ucap Sarah antusias seperti sedang menawarkan sebuah permen kapas kepada seorang ana kecil.
"Iya, mau! Aku ingin tidur!", begitu pula dengan pria itu. Dalam kondisi mabuknya pun ia masih bisa setengah gila dengan bersikap manja seperti anak kecil yang lainnya.
"Ayo bangun! Aku akan mengantarmu ke sana!", Sarah membantu Sam berdiri. Ia lupakan sejenak jika dirinya tidak mau terlibat lebih dalam lagi dengan pria gila ini.
Ia menggandeng tangan Sam lalu menuntunnya berjalan. Dengan mata pria itu yang hanya membuka separuh saja, dan lagi dengan kesadarannya yang belum pulih benar, maka Sarah berniat memberinya sedikit pelajaran. Sambil membantunya berjalan, Sarah sengaja membuatnya hanya berputar-putar saja di tempat dalam beberapa putaran. Hingga akhirnya Sam malahan mengeluh lagi karena kepalanya bertambah pusing. Karena lama-lama ia tidak tega melihat Sam yang makin sempoyongan, maka Sarah pun menuntunnya ke arah tempat tidur yang sebenarnya.
"Tempat tidurnya jauh sekali ya! Kepalaku jadi tambah pusing karena berjalan cukup jauh barusan!", ucap Sam polos kembali sambil memijit keningnya yang bertambah pusing.
"Ya, jauuuuhhhh sekali!", jawab Sarah dengan nada yang dibuat-buat.
"Sudah jangan banyak bicara lagi! Lebih baik kau tidur, ya!", tambah Sarah sambil menutupi tubuh Sam dengan selimutnya.
"Sekarang tidur, ya!", Sarah mengelus rambut pria itu dengan penuh kasih sayang seperti kepada seorang pria kecil yang belum cukup dewasa. Dan dibalas dengan anggukan patuh dari pria itu.
Setelah terdengar suara nafas yang teratur, maka Sarah memutuskan untuk membersihkan dirinya yang sangat bau di dalam kamar mandi.
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya