Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 37


__ADS_3

"Ting!", tiba-tiba pintu lift terbuka. Sepasang mata menatap tajam ke arah mereka.


***


Ken keluar dari lift sambil melempar pandangan tajamnya pada dua orang yang sedang berpelukan. Aura dingin nan pekat sudah mengelilinginya. Wajah Ken suram dengan mata menyipit menatap lurus ke depan. Hatinya bergemuruh, rasa cemburu telah menguasai dirinya.


"Aku pergi, bye!", ucap Louis sambil berdadah ria meninggalkan Ana dengan senyum cerianya.


"Bye", Ana membalas Louis dan tersenyum memandang kepergian temannya itu.


Ana merinding, dia meraba tengkuknya dan merasakan bulu kuduknya yang sudah berdiri. Ana merasakan hawa dingin menerpa bagian belakang tubuhnya. Ana menggigil ketakutan, lututnya sudah mulai lemas.


"Apakah ada hantu di siang bolong seperti ini!", gumam Ana sambil memeluk dirinya sendiri. Dia berbalik untuk memastikan keberadaan makhluk yang membuatnya merinding saat ini.


"Ken!", ucap Ana dengan suara tercekat. Ana bernafas lega. "Hah, untunglah!", dia mengelus dadanya.


"Jadi aku hantu!", ucap Ken dingin yang tak mengubah ekspresinya.


"Tidak,, emm,, bukan begitu Ken!", ucap Ana takut-takut.


Dengan tidak sabar Ken menarik tangan Ana dengan kasar. Selama perjalanan Ana mengaduh kesakitan, tapi Ken tak bergeming. Dia menulikan telinganya terhadap Ana. Saat ini sebuah api besar tengah membara di matanya, sehingga mematikan fungsi indera yang lainnnya.


"Ken lepaskan aku, Ken!".


"Ken sakit, Ken!".

__ADS_1


"Ken ada apa denganmu?! Kumohon berhentilah Ken", keluhan Ana yang terakhir telah bercampur dengan isak tangis. Karena baru kali ini dia mendapatkan perlakuan kasar dari seseorang. Selama ini ayahnya selalu menyayanginya dan melindunginya. Ayahnya tak membiarkan satu orang pun akan menyakiti putrinya. Tapi saat ini yang terjadi sungguh ironi, tangan Ana tengah ditarik secara paksa hingga menimbulkan bekas merah di sana. Bisa dibayangkan kekuatan Ken saat menariknya.


Ken membawanya ke arah tempat parkir. Di sana terlihat supir Ken tengah memainkan ponselnya sambil bersender pada sisi badan mobil. Dia menangkap aura dingin bosnya mendekat. Mulutnya mengaga, dia begitu terkejut saat melihat bosnya yang tak pernah menyentuh wanita pun tengah menarik seorang wanita secara paksa. Hampir saja ponsel yang dia pegang terjatuh karena terlalu fokus melihat bosnya.


Ken memberi isyarat mata pada supirnya untuk segera menjalankan mobilnya. Si supir langsung mengembalikan kesadarannya dan melakukan tugasnya dengan cepat.


"Ke rumah!", perintahnya cepat masih dengan aura yang sama. Aura yang selama ini ditakuti oleh setiap orang yang berada di sekelilingnya. Pun termasuk dengan rekan dan juga lawan bisnisnya. Itulah mengapa Ken selalu disegani dan dihormati oleh yang lainnya. Dia memiliki aura agar orang lain tunduk kepadanya.


Ken membuka pintu penumpang dan setengah melempar Ana ke dalam. Ana terjerembab di kursi, Ken tak peduli. Dia ikut masuk dan menggeser tubuh Ana agar mendapatkan tempat di sebelahnya. Mobil pun melaju meninggalkan tempat parkir. Ken menekan tombol agar sekat pembatas dengan kursi pengemudi tertutup.


Ana membenarkan posisi duduknya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia mencengkeram roknya untuk menahan sakit hatinya sambil terisak. Baru saja orang yang berada di sebelahnya bersikap manis padanya, tapi sedetik kemudian dengan cepat dia berubah menjadi sangat menakutkan. Sungguh ironi yang menyayat hatinya. Ana masih terus terisak hingga sebuah tangan menaikkan dagunya.


Ken mendekatkan wajahnya ke wajah Ana. Dia memiringkan kepalanya untuk mempermudah mencium Ana. Tapi saat jarak bibirnya sudah cukup dekat, Ana malah memalingkan wajahnya. Ana menghindari Ken.


Ken sedikit menekan salah satu jari yang mencengkram dagu Ana agar wajah Ana menghadap Ken lagi. Ken menyelidik mata dan pipi Ana yang basah akibat hujan air mata.


"Jawab aku! Kenapa kau menangis?!", tanya Ken lagi masih dengan aura membunuhnya.


"Apakah kau menangisinya?!", tanya Ken lambat-lambat dengan nada menjengkelkan.


Wajah Ana memaku, alisnya berkerut dalam. Saat ini Ana pun sungguh tak tahu apa masalahnya dan apa salahnya hingga diperlakukan seperti ini.


"Apa maksudmu? Menangisi siapa maksudmu? Aku bahkan tak tahu dimana letak kesalahanku, Ken", Kini giliran Ana yang melempar tatapan tajam pada Ken. Singa betina ini sudah mulai melawan jantannya.


Tanpa aba-aba, Ken mencium Ana dengan rakusnya. Ken tak memberi Ana celah untuk melawan. Tangan yang satu ia gunakan untuk mencengkram kedua tangan Ana ke atas tubuhnya, sedangkan yang satu lagi ia gunakan untuk merebahkan tubuh Ana ke kursi. Ken memerangkap tubuh Ana dengan kedua kakinya.

__ADS_1


Kini ciuman Ken telah beralih ke leher Ana. Dia mencium dan menyesap kulit leher Ana dengan kuat sehingga menimbulkan bekas merah di sana.


"Katakan padaku! Dimana lagi dia menyentuhmu?! Di sini?! Di sini?! atau Di sini?!", ucap Ken sambil terus menyapu sekitar leher Ana dengan bibirnya.


Ana merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat Ken menyentuhnya. Hal seperti ini juga merupakan yang pertama kali baginya. Tidak, tapi ini tidak benar. Saat ini emosi tengah menguasai diri Ken. Ana harus menghentikannya sebelum Ken berbuat lebih jauh.


Ana mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Ken. Namun usahanya nampak sia-sia karena yang ia lawan adalah kekuatan dari si raja singa.


"Ken lepaskan aku, Ken. Kau menyakitiku, Ken", ucap Ana dengan suara tercekat.


Seperti disambar petir, Ken langsung menghentikan aktifitasnya pada Ana. Akal sehat mulai merasuki pikirannya. Dia melepas cengkeraman tangannya pada Ana. Kemudian tatapannya kosong memandang ke depan.


Ana mendapati belenggunya terlepas, langsung bangkit untuk duduk dan merapihkan diri.


"Apa-apaan ini ?! Dengan hanya satu kalimat dia segera melepaskanku?! Ya ampun, kenapa aku tidak melakukannya sejak tadi!", gerutu Ana dalam hati.


"Astaga! Apa yang kulakukan barusan. Mengapa emosi ini bisa begitu meledak dalam benakku?! Aku telah menyakitinya. Sungguh bodohnya aku, baru saja aku mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi sekarang aku malah menyakitinya. Bodoh, sungguh bodoh!", Ken merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Mereka berdua melempar pandangan ke arah keluar jendela. Mereka memilih untuk diam dan berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Aku kesal, sangat kesal, sangat sangat kesal! Pertama gara-gara gantungan kunci, kemudian dia malah memperlakukan ku seperti ini. Memangnya apa salahku, hah?!", racau Ana dalam hati.


"*Apa yang harus ku lakukan selanjutnya?! Bagaimana aku harus menghadapinya setelah ini. Aku sungguh menyesal telah menyakitinya, tapi aku juga benar-benar kesal saat ada laki-laki lain yang menyentuhnya", ucap Ken dalam hati.


"Apakah dia marah karena aku menyebutnya hantu?!", pikiran terakhir yang Ana sebut dalam hati*.

__ADS_1


Tak ada satu suara pun keluar dari mulut mereka. Hanya deru nafas yang terdengar dari diri mereka masing-masing. Mereka terus melihat keluar jendela, seakan menikmati pemandangannya. Tapi nyatanya, saat ini pandangan mereka kosong. Wajah mereka mengarah ke sana, tapi pikiran mereka menjelajah entah kemana.


Hening melingkupi mereka hingga tak terasa mobil telah memperlambat lajunya dan berhenti di sana.


__ADS_2