Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 170


__ADS_3

Ken menghempas tangan wanita itu dengan sangat kasar hingga tangan Megan terpental ke udara. Sejenak wanita itu menatap Ken tak percaya. Bagaimana bisa ada pria yang berani berbuat seperti ini kepadanya. Ternyata Megan belum mengenal Ken rupanya, ia tidak mengetahui bagaimana Ken akan menyikapi tindakannya kali ini.


Ken memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap ke arah Megan yang sedang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Dengan gerakan tak sabar, ia membuka jas yang semula ia pakai. Lalu ia memberikan kepada adiknya di ranjang tanpa melihat ke arahnya, karena matanya sedang sibuk menatap tajam ke arah wanita itu.


"Singkirkan jas itu! Aku tak ingin istriku mencium aroma wanita lain di sana. Jas itu sudah terkontaminasi dan harus dibuang!", ujar Ken tajam juga dengan tatapan yang menjijikan. Jika mereka tidak mengenal Ken mungkin hal ini hanya terlihat kejam. Tapi mereka yang sudah mengenalnya hanya akan menggelengkan kepalanya, mewajari tingkah Ken yang tak bisa dirubah sejak lama.


Megan terhenyak, ia masih diliputi keterkejutannya saat ini. Bagaimana bisa ada seorang pria yang menganggapnya jijik layaknya kotoran dan kuman yang tak dapat disentuh lagi. Baru kali ini ada pria yang benar-benar menatapnya dengan aura kejam yang kental hingga membuatnya bingung harus berbuat apa.


"Dengar! Hanya istriku seorang yang boleh menyentuhku! Jika tanganmu mulai lancang kembali, aku pastikan kedua tangan itu tak akan dapat melakukan tugasnya", Ken sedikit menundukkan kepalanya memberi tatapan super tajam hingga mengorek mata wanita lancang itu.


"Tuan!", Megan membuat sebuah strategi. Kini ia memakai wajah memelasnya. Tangannya tak juga kapok setelah mendapat perlakuan seperti itu. Megan masih berusaha menyentuh lengan Ken kembali.


brugh


Sebelum tangan nista itu sampai ke lengan Ken, pria itu sudah lebih dulu menepisnya dengan sedikit kekuatan. Tapi hal itu sudah bisa membuat wanita itu tersungkur ke lantai Dan makin memelas juga wajah Megan saat ini. Tapi dalam hatinya ia benar-benar mengutuki apa yang dilakukan Presdir Ken ini padanya.


Sam yang melihat hal itu pun merasa sudah cukup hukuman yang kakaknya berikan pada Megan. Meskipun Sam memiliki kekesalan yang sama, tapi rasanya tidak pantas saja mereka menunjukkan warna asli mereka di depan kedua orangtuanya. Maka dari itu, ia memberi isyarat kepada Nyonya Rima untuk segera mengeluarkan wanita itu dari ruangan ini sebelum kakaknya semakin bertindak lebih, terlebih lagi wanita itu sepertinya cukup keras kepala dan tidak tau malu.


"Sudah! Lebih baik kau cepat pergi sekarang!", Nyonya Rima membantu Megan berdiri lalu menariknya sampai ke depan pintu kamar.


"Jangan tunjukkan lagi batang hidungmu jika kau masih ingin karirmu baik-baik saja!", ucapan Sam lantas membuat Megan menghentikan langkahnya di ambang pintu ruangan itu. Ia menoleh sebentar tanpa bersuara. Tapi sebenarnya berulang kali ia mengumpat dalam hati.


"Sial!", batinnya berkata begitu.


"Sudah sana pergi! Pergi, ayo cepat pergi!", setelah mendorong tubuh Megan sampai di luar Nyonya Rima lalu mengibaskan tangannya benar-benar mengusir wanita itu.


Sejujurnya Nyonya Rima sudah muak melihat wanita itu masih berada di ruangan putranya. Maka ketika Sam memberikan isyarat, Nyonya Rima segera bergegas menarik wanita itu keluar. Bukan karena iba atau rasa empati terhadapnya. Melainkan karena rasa jengah yang sudah ia tahan sejak pertama. Nyonya Rima sudah tidak tahan dengan matanya yang kotor karena terlalu lama melihat wanita itu di hadapannya.


"Katakan? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sarah tidak bersamamu, Sam?", Nyonya Rima melanjutkan interogasinya. Ia masih ingat betul pembahasan apa yang mereka lakukan sebelum mengusir Megan dari hadapan mereka seperti yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Emmhh,, bagaimana ya aku menjelaskannya?", Sam menggaruk pangkal hidungnya sambil tersenyum canggung.


"Jelaskan saja, bodoh! Ini memang menjadi salahmu, kan?!", Ken melipat kedua tangannya di depan sambil bersandar di dinding tepat di samping ayahnya.


"Kakak! Apakah kau tidak akan membantuku?", ujar Sam manja. Sebenarnya ia sedikit takut untuk menjelaskan duduk permasalahannya kali ini, karena ia yakin setelah ini semua orang akan menjadi menyalahkan masalah ini atas dirinya.


"Untuk apa?! Sudah jelas ini memang salahmu! Salahkan dirimu sendiri kenapa selalu dikelilingi oleh banyak wanita!", sindir Ken dengan gaya congkaknya.


"Ada apa, Sam? Bisa kan kau jelaskan saja?! Bunda sungguh sangat penasaran sekarang!", seru Nyonya Rima setelah memperhatikan interaksi di antara kedua putranya rasa penasarannya makin menjadi.


"Emmh, tapi Bunda janji tidak akan memarahiku setelah ini, ya?", Sam beringsut ke belakang. Menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Sebenarnya sih dia sedang mengambil jarak dengan ibunya. Agar ketika ibunya marah nanti, tangannya akan susah menjangkau dirinya karena terlalu jauh.


"Cepat katakan!", bentak Nyonya Rima tidak sabaran.


"Begini Bunda,,, ".


"Jadi begini,,, ", Sam menggaruk tengkuknya lagi. Sejujurnya ia belum siap menceritakan hal ini. Terlebih lagi ada kedua orangtuaku di sini. Jika hanya ada Ken saja mungkin dia akan lebih nyaman. Sam hanya menjadi makin takut saat ini. Takut benar-benar akan disalahkan.


"Jangan buat Bunda menjadi tak sabaran!", Nyonya Rima sudah melotot matanya.


"Hah! Baiklah!", Sam mendesah lemah sebelum memulai penjelasannya.


"Tadi kami hampir baikan, bahkan aku sudah menyatakan perasaanku padanya. Lalu kami bertengkar lagi, masalahnya adalah Sarah merasa di tidak pantas untuk aku. Bahkan Sarah mengatakan bahwa dirinya hanyalah membawa sial untukku".


"Emmhh,, ucapan macam apa itu? Mengapa dia menilai dirinya sendirilah seperti itu!", sahut Nyonya Rima tidak setuju dengan apa yang Sarah ucapkan tentang dirinya sendiri.


"Ya, aku juga memikirkan hal sama dengan Bunda. Tapi dia tetap merasa tidak pantas. Lalu mulailah membahas masalah yang itu,,, ", Sam menundukkan kepalanya dalam-dalam menahan bingung dan malu perihal skandalnya sendiri, yaitu Cap playboy keluarga Wiratmadja yang ia sandang sejak lama.


"Apa?", Nyonya Rima makin penasaran meski sebenarnya ia sudah mulai menerka. Di sisi lain, Tuan Dion dan juga Ken hanya berperan untuk mendengarkan saja kali ini. Mereka tak ingin mengganggu interogasi Nyonya Rima kali ini.

__ADS_1


"Dia keberatan dengan kehadiran banyak wanita di sekelilingku. Dia keberatan tentang hal itu. Tapi Sam meyakinkan Sarah bahwa Sam hanya mencintai dia. Dan semua wanita itu Sam bisa saja tidak menganggap mereka lagi. Tapi,,, ditengah perdebatan kami tiba-tiba datanglah si pengganggu itu. Sarah jadi makin salah paham sepertinya. Terlebih dengan kata-kata yang wanita itu lontarkan, Sarah makin kelihatan sedih sepertinya, Bunda. Lalu aku tidak tau apa yang terjadi lagi dengannya,,,, ", jelas Sam tertunduk sedih.


"Wanitamu kelihatannya begitu terpukul tadi. Kondisinya sangat buruk. Tadi Nona Krystal bersama Ana telah membawanya untuk mendapatkan perawatan. Coba kau ingat apa saja yang sudah wanita itu katakan kepada Sarah?! Kau ini sangat payah, mengurus satu wanita saja tidak bisa! ", sambung Ken dengan nada ketusnya.


"Ah ya, dimana menantuku?", Nyonya Rima mengedarkan pandangannya mencari-cari Ana.


"Ana sedang membawa Sarah agar bisa ditangani, Bunda. Ken menebak jika terjadi masalah dengan psikologi nya. Seperti orang yang mempunyai sebuah trauma. Tapi entahlah, itu hanya tebakan Ken saja. Yang jelas putra Bunda ini harus mempertanggung jawabkannya!", jelas Ken sambil memegangi dagunya sambil mencoba menerka situasi yang ada yang jelas ini sangat berhubungan dengan adiknya tentunya.


"Trauma,,,, ", gumam Sam pelan sambil berpikir.


-


-


-


-


-


**maaf ya teman-teman kalo crazy upnya ditunda dulu ya 🙏🙏🙏


jadi episode-episode yang sudah author rancang untuk itu akan author rilis sesuai kemampuan author ya,, semoga jaraknya ga lama-lama tapi yang jelas seharian ini bakal rilis semua 😊


ayo terus dukung cerita ini ya dengan cara kasih like, vote sama komentar kalian ,,,okeh 😉


terima kasih teman-teman 😘


keep strong and healthy ya 🥰**

__ADS_1


__ADS_2