
Okeh teman-teman, karena kita sudah mulai masuk cerita tentang Sarah dan Sam, maka author akan mulai mengulik lebih dalam lagi tentang dua orang itu. Terutama masa lalu Sarah yang akan author bahas pada episode kali ini. Dan tenang aja, untuk selanjutnya author akan tetap menceritakan kelanjutan rumah tangga Ken dan Ana, meski ga sampai detail banget kaya dulu ya.. Tapi author jamin Ana pasti hamil kok,, hehe
Yaudah yuk kita lanjutin ceritanya,,
Happy reading ya teman-teman π
***
"Aaaaahhkk!", lalu tiba-tiba Sarah menjerit histeris di kamarnya.
Ibu Asih yang sedang menata makanan di dapur pun menjadi terkejut. Ia tak mempedulikan lagi pekerjaannya di dapur saat ini. Refleks ia lempar sendok yang ada di tangannya begitu saja. Lalu dengan wajah panik, ia berlari menuju kamar putrinya.
dor,, dor,, dor
Berulang kali Ibu Asih mengetuk keras pintu kamar putrinya yang terkunci dari dalam itu. Dan setiap kalinya tak mendapat jawaban dari dalam sana. Hanya suara jeritan isak tangis yang membahana terdengar sampai ke ruang keluarga.
"Sarah! Ada apa denganmu, nak? Tolong buka pintunya!", entah itu sudah panggilan yang ke berapa. Tapi Ibu Asih tidak akan menyerah. Setelah sekian lama, Sarah baru menangis seperti ini lagi hari ini. Hal itu sungguh membuat naluri keibuannya merasa tersayat-sayat.
"Sarah! Ibu mohon keluarlah! Ceritakan pada ibu, nak apa yang sebenarnya terjadi!", pinta Ibu Asih lagi dengan suara parau akibat menahan tangisnya.
Menyerah, bukan menyerah, Ibu Asih hanya akan menunggu sampai Sarah membukakan pintu untuknya. Wanita paruh baya itu menurunkan tubuhnya hingga terduduk di lantai dengan bersandar pada pintu kamar Sarah yang masih tertutup rapat. Dan akhirnya ia pun tak kuasa menahan air matanya lagi mendengar putri sulungnya itu masih terus saja menangis di dalam sana.
Sudah satu jam, keadaan masih sama. Kedua wanita itu masih menangis tapi di tempat yang berbeda. Bahkan tangan Ibu Asih mencengkeram pakaiannya di bagian dada. Ia meremas pakaiannya demi menahan nyeri yang menghujam dada karena bahkan ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada putrinya.
"Ibu!", seruan suara pria membuat Ibu Asih menoleh dengan lemah.
"Sandi!", jawab Ibu Asih lirih.
"Ada apa, Bu? Kenapa ibu duduk di lantai seperti ini?", Sandi berjongkok sambil membantu ibunya berdiri. Lalu ia mendengar suara tangisan yang cukup keras dari dalam kamar kakaknya, tepat dimana dirinya saat ini berdiri. Ia berspekulasi bahwa ibunya menunggu Sarah membuka pintu untuk mendengar alasan kakaknya itu menangis seperti ini.
"Tapi apa yang membuat kakak jadi begini?", gumam Sandi dalam hati.
"Kakak kenapa, Bu?", tanya Sandi sambil menopang tubuh ibunya yang lemah karena terlalu lama menangis sambil duduk di lantai dingin rumahnya itu.
"Ibu tidak tau, San! Kakakmu pulang sudah sembab matanya. Dia bilang tidak apa-apa, maka ibu pikir untuk membiarkan dia menenangkan diri dulu agar nanti mau bercerita dengan ibu. Tapi saat ibu di dapur, tiba-tiba kakakmu berteriak dan jadi seperti ini. Sudah satu jam ibu menunggunya di depan pintu, tapi kakakmu belum mau membukanya", jelas ibu lemah yang sekarang sudah duduk di ruang keluarga.
"Tunggu sebentar, Bu. Biar Sandi ambilkan minum dulu untuk ibu", lalu pria muda itu segera berangsur ke arah belakang.
"Ini Bu, diminum dulu agar ibu lebih tenang!", Sandi menyerahkan segelas air putih kepada ibunya.
"Ibu tenang saja. Masalah kakak biar Sandi yang urus!", pria itu membiarkan ibunya beristirahat di ruang keluarga sedangkan dirinya berjalan menghampiri kamar kakaknya.
"Kakak! Buka pintunya, kak! Ini aku kak, Sandi!", teriak pria itu di depan pintu kamar.
Satu kali
Dua kali
Tiga kali
Usahanya masih gagal tanpa membuahkan hasil apapun. Kekhawatirannya makin menjadi, ia takut kakaknya akan melakukan tindakan bodoh di dalam kamarnya. Seperti kemungkinan buruknya misalnya adalah bunuh diri. Meskipun enggan membayangkan hal itu, tapi mendengar tangisan kakaknya yang begitu pilu, mau tak mau ia jadi berpikiran ke arah situ.
__ADS_1
brrak
Akhirnya Sandi berhasil mendobrak pintu kamar itu. Ia tak peduli jika pintu itu akan rusak, saat ini yang terpenting adalah keadaan kakaknya. Sandi langsung menghambur memasuki kamar kakaknya. Dan tubuhnya langsung mematung melihat kacaunya keadaan Sarah saat ini. Kamar itu sudah berantakan, bantal dan sprei sudah terhempas kemana-mana. Wajahnya yang basah juga rambutnya yang berantakan, membuat Sandi paham bahwa masalah ini amat berat untuk kakaknya hadapi. Segera ia mensejajarkan diri dengan kakaknya itu, lalu memeluk erat sambil menepuk-nepuk bahu kakaknya supaya lebih tenang.
"Sudah, kak! Jangan menangis lagi! Ada aku di sini", Sandi terus berusaha menenangkan kakaknya.
Setelah beberapa lama, akhirnya tangisan Sarah mereda di dalam pelukan adiknya. Baju Sandi sampai basah kuyup dibuatnya. Setelah kepergian ayahnya, ia tau bahwa hanya tinggal dirinya laki-laki di rumah ini. Maka sejak itu ia berjanji untuk selalu menjaga dua wanita yang paling berharga di dalam hidupnya itu.
"Kakak mau cerita?", tanya Sandi lembut masih memeluk kakaknya. Sarah mengangguk sambil melepaskan pelukannya.
"Tunggu sebentar!", Sandi bergegas keluar kamar. Dan beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan segelas air minum untuk kakaknya agar lebih tenang saat bercerita nanti.
"Minum dulu, kak!", Sarah menerima gelas itu dari tangan adiknya. Lalu segera ia teguk habis air di dalam gelas itu.
"Sudah bisa bercerita?", tanya Sandi lagi sambil membenarkan rambut kakaknya yang berantakan. Ia menatap kakaknya penuh kasih sayang. Pria itu juga selalu mendapatkan kasih sayang yang sama dari kakaknya, maka dari itu kali ini seperti saatnya untuk membalas apa yang pernah kakaknya lakukan untuknya.
"Ada apa, kak?", tanyanya lagi memancing Sarah membuka suara.
"Seseorang terluka karena kakak", ucap Sarah setelah hening beberapa saat.
"Dia mengorbankan dirinya untuk kakak, San! Nyawanya hampir terancam karena kakak", ucap Sarah setengah menangis. Ia kembali teringat insiden di villa tadi dan juga saat di rumah sakit.
"Kakak memang pembawa sial, Sandi! Kakak telah menyebabkan orang itu hampir kehilangan nyawanya", ucap Sarah seraya menangis pilu mengingat wajah Sam yang lemah saat dia dikeluarkan dari ruang operasi.
"Pertama ayah, lalu Reyhan, dan sekarang orang itu. Siapapun yang dekat dengan kakak pasti akan celaka. Kakak memang pembawa sial, Sandi! Pembawa sial!", jerit Sarah sambil mencengkeram lengan kaos milik adiknya.
FLASHBACK ON
Sepuluh tahun lalu, ayahnya Sarah sebenarnya meninggal karena sebuah kecelakaan saat sedang beristirahat di tempat kerjanya. Pria itu melihat seorang penjual bunga di seberang tempatnya bekerja, lalu ia teringat Sarah yang sangat menyukai bunga mawar. Maka dengan semangat ayahnya segera menuju penjual bunga itu. Ayah Sarah membeli setangkai bunga mawar merah bermaksud untuk ia berikan kepada putrinya itu. Tapi saking semangatnya ia tak melihat ke kanan dan ke kiri saat menyebrang jalan, hingga akhirnya kecelakaan itu tak terhindarkan. Ayah Sarah tertabrak sebuah mobil yang melaju cukup kencang. Tubuhnya terpental dan kepalanya membentur trotoar hingga mengeluarkan darah yang tidak sedikit. Dan ayah Sarah pun dinyatakan meninggal di tempat.
Waktu berlalu dan Sarah pun kembali ke sekolah lagi dengan usaha keras ibu dan adiknya dalam menyemangati Sarah selama ini. Ia sudah ceria lagi, sudah kembali menjadi Sarah yang seperti sebelumnya. Jika mengingat ayahnya, Sarah hanya akan tersenyum sambil lalu.
Dan ini adalah tiga tahun lalu, Sarah pernah membangun sebuah hubungan yang sudah serius dengan seorang pria bernama Reyhan. Mereka sudah berpacaran selama setahun lamanya. Dan karena merasa saling cocok, maka mereka memutuskan untuk menabung bersama untuk keperluan pernikahan mereka nanti. Hal itu mereka lakukan karena mereka sadar bahwa keduanya bukanlah dari kalangan yang berada. Jadi mereka harus bekerja lebih giat lagi untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Baik keluarga Sarah maupun keluarga Reyhan sudah mengenal satu sama lain. Mereka sudah menyatakan keseriusan mereka di hadapan keluarga masing-masing. Bayangan pernikahan impian pun sudah di depan matanya, dimana ia mempunyai seorang suami yang sangat mencintainya.
Dan satu hari itu kembali mengubah hidupnya. Suara hari mereka pergi berkencan ke sebuah taman di pusat kota. Mereka lakukan kencan itu seperti pasangan pada umumnya. Makan bersama, membeli es krim, dan juga mengobrol sambil bercanda ceria. Tiba-tiba kegaduhan terjadi di tempat yang tak jauh dari mereka. Ternyata ada seorang pencuri yang sedang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.
Pencuri itu membawa tas jinjing kecil di tangan kirinya dan sebuah belati di tangan kanannya. Ia berlari sambil sesekali menoleh ke arah belakang dimana para petugas keamanan masih mengejarnya. Pencuri itu tanpa sengaja menabrak Sarah dan Reyhan dari belakang. Lalu karena panik, pencuri itu menjadikan Sarah sebagai sandera. Ia menodongkan belatinya pada leher Sarah. Dan kepanikan itu menular kepada para petugas keamanan dan pengunjung lainnya, juga kepada Reyhan tentunya.
Mereka sempat bernegosiasi agar Sarah dilepaskan dari tangannya. Pencuri itu hanya meminta untuk tidak ditangkap. Ia meminta kepada para petugas keamanan dan yang lainnya untuk membiarkan pergi begitu saja dari sana, maka ia akan membebaskan Sarah juga.
Demi mengelabui pencuri itu akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Perlahan Reyhan mendekat untuk meraih Sarah dari tangan pencuri itu. Dengan perlahan pula si pencuri melepaskan tautan belatinya pada leher Sarah. Tapi tak dinyana, seorang petugas keamanan berusaha menyergapnya dari arah belakang. Si pencuri berusaha menarik kembali Sarah ke dalam dekapannya. Hingga akhirnya si pencuri dan Reyhan melakukan aksi tarik-menarik dengan tubuh Sarah. Reyhan berusaha melindungi Sarah dari belati yang dilayangkan ke udara oleh pencuri itu ke arah tubuh Sarah.
jleb
Belati itu akhirnya malahan menusuk ke arah perut Reyhan. Dan si pencuri pun bisa dilumpuhkan oleh pihak petugas keamanan karena sempat tertegun sendiri lantaran belum bisa percaya bahwa dirinya telah menusuk seseorang. Reyhan pun ambruk ke tanah. Sarah langsung menangis histeris melihat kejadian ini. Untungnya sebuah mobil ambulans segera datang dan membawanya ke rumah sakit.
Selama di perjalanan, Sarah terus menangis lantaran darah terus saja mengalir dari perut Reyhan. Wajah pria itu sudah pucat pasi. Sarah tak mampu menutupi kekhawatiran dan ketakutannya saat itu. Tangannya yang gemetar ia usahakan untuk terus menggenggam tangan Reyhan untuk memberinya sedikit kekuatan untuk bertahan. Tapi sayangnya, nyawa Reyhan tak tertolong sesaat sebelum mereka sampai di rumah sakit.
Setelah beberapa lama, akhirnya pihak keluarga Reyhan sampai di rumah sakit itu. Kedua orangtuanya sangat terpukul dengan kepergian Reyhan yang mendadak ini. Terutama bagi mamanya, Reyhan adalah putra sulung dari tiga bersaudara. Bisa dibilang dia merupakan harapan terbesar orang tuanya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya secara ekonomi. Maka dari itu, rasa kehilangan terasa amat besar dirasakan oleh keluarganya itu.
__ADS_1
"Kenapa harus putraku yang pergi?! Kenapa tidak kau saja?", teriak mamanya Reyhan dengan nada benci ke arah Sarah yang masih menangis di seberangnya.
"Sabar, ma! Sabar! Jangan berbicara seperti itu! Tidak baik didengar orang!", papa Reyhan berusaha menenangkan istrinya yang sedang histeris itu.
"Biar! Biar semua orang tau! Gara-gara dia, Reyhan membatalkan rencananya kuliah lagi ke luar negeri dan lebih memilih untuk menikahi wanita ini. Harusnya dia bisa melanjutkan kuliahnya lalu menjadi orang sukses esok hari. Jika saja Reyhan tidak bertemu dengan wanita ini, mungkin putra kita akan menjadi orang yang lebih sukses!", tutur mamanya dengan nada sebegitu bencinya kepada Sarah.
"Mama!", ucap Sarah lirih. Ia lipat bibirnya dalam-dalam sambil menahan tangisnya yang hendak keluar lagi.
"Jangan panggil aku mama, aku bukan mamamu! Gara-gara kau Reyhan ku meninggal. Dasar kau wanita pembawa sial!", jerit mama Reyhan sambil menangis histeris.
"Sudah, ma! Sudah!", suaminya yang masih setia mendampingi berusaha membuat istrinya itu berhenti bicara. Karena semua orang yang melewati lorong rumah sakit itu mulai melihat ke arah mereka.
Sarah sudah tidak kuat lagi. Tangannya mencengkram pakaiannya di samping kanan dan kirinya. Wajahnya mulai basah kuyup oleh air mata. Ia tak dapat menyanggah ucapan mamanya Reyhan karena memang benar adanya, bahwa kekasihnya itu meninggal karena berusaha melindungi dirinya. Ia hanya bisa menerima semua ucapan mamanya Reyhan dengan hati yang bertambah hancur.
"Sarah! Sebaiknya kau pulang. Keberadaanmu di sini akan menambah runyam keadaan. Maaf bukan maksud papa mengusirmu. Hanya saja, papa harap kau bisa mengerti situasi saat ini", pinta papa Rehyan yang terdengar santun namun penuh peringatan.
Sarah mengangguk mengerti, tak bersuara karena mulutnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Sambil berderai air mata ia melangkah menjauh dari keluarga yang tengah berduka itu. Sakit, dadanya sakit, hatinya nyeri, orang terkasihnya kembali pergi. Tempo dulu ayahnya, dan saat ini adalah kekasihnya yang akan menjadi suaminya.
Wanita itu menyeret langkahnya keluar dari rumah sakit itu. Beberapa orang melihat ke arahnya yang sedang berjalan dengan langkah yang lemah pun juga dengan derasnya air mata yang tak mampu ia tahan. Sarah tak peduli dengan pandangan orang-orang itu. Saat ini yang menjadi fokusnya adalah rasa sakit yang kembali ia rasakan setelah bertahun lamanya itu.
Dan setelah kejadian itu, Sarah memilih untuk menutup diri untuk dekat dengan pria manapun. Apalagi kalimat mamanya Reyhan yang selalu terngiang di telinganya.
"Gara-gara kau Reyhan ku meninggal! Dasar wanita pembawa sial!".
Kalimat itu seperti tertanam di lubuk hatinya yang terdalam. Apalagi kalimat itu seperti nyata saat mengingat kematian kedua orang terkasihnya itu meninggal karena dirinya. Selama setengah tahun Sarah pergi dari kota ini untuk menenangkan diri. Karena selama kurun waktu satu minggu keadaan Sarah sudah seperti mayat hidup, ia seakan hidup segan mati pun tak mau. Hingga keluarga besarnya terus mendorongnya untuk bangkit, dan akhirnya Sarah sempat tinggal bersama dengan pamannya di luar kota untuk menjernihkan pikirannya.
# FLASHBACK OFF
-
-
-
-
-
-
maaf ya baru sempat update,, author ga enak badan semalem soalnya π
jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya π
**baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku tuk di @adeekasuryani,, dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya π₯°**