Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 263


__ADS_3

Ken sudah sampai di lobi rumah sakit. Ia segera membuka pintu mobilnya dengan tidak sabar. Lalu berjalan ke arah dalam dengan tergesa-gesa.


Wajahnya saat ini berwarna abu-abu, kepanikan yang melanda dibarengi dengan amarah yang siap meledak, bersatu mewarnai wajah Presdir Ken yang terhormat itu.


Lelaki itu telah merapalkan sumpah serapahnya sejak tadi saat dalam perjalanan. Bahwa akan dengan tangannya sendiri ia menghukum orang yang telah membahayakan nyawa istri dan calon anaknya.


Ia tak akan ragu jika tangannya memang harus bersimbah darah. Orang itu benar-benar harus membayar apa yang telah dia lakukan pada keluarganya. Ken tak akan membiarkan orang itu hidup. Namun sebelum itu, ia akan membiarkan orang itu merasakan sakitnya meregang nyawa.


***


Ken lalu menjejakkan kakinya keluar dari dalam lift yang pintunya sudah terbuka itu dengan wajah resah dan gelisah. Sungguh ia berharap tak akan ada yang terjadi pada istri dan calon anaknya.


Pria tampan yang biasanya terlihat rapih dan rupawan itu selalu memiliki penampilan yang sempurna di mata setiap orang yang melihatnya. Namun tampilannya saat ini benar-benar membuat beberapa suster yang lewat mengernyit heran melihat Ken yang berantakan.


Dasi yang sudah dilonggarkan pada kerah kemejanya. Kancing jas yang sudah terbuka hingga menampakkan kemeja yang sudah berantakan di dalamnya. Lalu tatanan rambut yang sudah tidak berbentuk bersamaan juga dengan wajahnya yang kusut.


Ada Louis dan juga Tuan Dion yang sedang duduk di luar ruangan. Mereka terlihat duduk dengan tenang saat ini. Lalu disusul dengan Han yang baru saja keluar dari ruangan di seberang kedua orang itu.


"Anda sudah datang, Tuan! Saya baru saja melihat kondisi Nona Ana!", ucap Han sembari menutup pintu ruangan itu.


Ken rasanya tak ingin menghentikan langkahnya barang sedetik pun. Ia ingin segera masuk dan mengetahui kondisi istrinya itu dengan kedua matanya. Jadi ia menghiraukan sapaan Han dari mulai memegang kenop pintu dan akan membukanya.

__ADS_1


"Tunggu, Ken!", tiba-tiba Tuan Dion menahan tangannya yang sudah memegang kenop pintu itu. Hingga terlepaslah tangan Ken dari sana.


"Ada apa, Ayah? Apakah terjadi sesuatu pada Ana? Bagaimana kondisi istri dan anakku, Ayah?", Ken mengeluarkan pertanyaannya dengan tidak sabar.


Tuan Dion memiliki ekspresi yang sulit dibaca oleh putra sulungnya itu. Ekspresi anehnya ini bahkan hampir sama dengan yang dimiliki oleh dua orang lainnya, Han dan Louis tentunya. Ken menatap mereka semua dengan wajah luar biasa bingung saat ini. Ada apa sebenarnya?!


Sebelum menjawab, Tuan Dion saling bertatapan dengan Louis. Ia meminta pendapat lewat tatapan matanya. Harus bagaimanakah ia menjelaskan ini semua kepada putra sulungnya ini?!


"Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah malah diam? Katakan padaku apa yang terjadi?", air muka pria itu menjadi tegang.


Bayangan hal-hal buruk mulai terlintas di dalam benaknya. Tapi ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Tidak,,, tidak boleh terjadi sesuatu pada Ana!


"Katakan, Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi?", Ken memegangi kedua bahu ayahnya, bahkan iai sedikit meremasnya. Banyak harapan juga sangkalan akan semua hal buruk itu tertera pada wajah Ken saat ini.


"Ana baik-baik saja, Tuan!", meskipun sempat tersentak oleh bentakan keras itu, Louis masih berusaha menjawab dengan wajah tegang.


"Aku tidak percaya! Aku harus melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri!", kesabaran yang ia miliki sudah terkikis sejak tadi. Tak ada yang mau membuka suara, jadi dia harus membuktikannya sendiri.


"Tunggu, Ken!", Tuan Dion berusaha mencegah putranya dengan menahan tangan Ken yang sudah memegang kenop pintu.


"Tidak ada yang bisa menghalangiku, Ayah!", kekuatan Ken terlalu besar, sehingga tak ada satu orang pun yang berhasil mencegahnya untuk membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Ana!", serunya kemudian saat pintu sudah berhasil dibuka.


"Hahahaha,,, Bunda bisa saja,,,,", ucapan Ana harus menggantung di udara kala kegaduhan terjadi tepat di pintu ruangannya. Saat ini Ana sedang disuapi potongan buah oleh Nyonya Rima yang sedang duduk di pinggir ranjang.


Nyonya Rima dan Ana menoleh secara bersamaan ke arah itu dengan ekspresi polos yang sama. Ada apa dengan semua orang itu?!


Nyatanya, saat ini tangan Ken masih memegangi kenop pintu yang sudah terbuka itu. Lalu ada tiga orang yang berusaha menahan tubuhnya. Ada Tuan Dion yang sedang menahan tangan kanannya. Ada Han, asisten pribadi yang sedang menahan tangan kirinya. Lalu si aktor terkenal, Louis Harris itu sedang memeluk tubuh Ken erat-erat dari arah belakang.


"Kalian?!", Ana bertanya pelan dengan wajah yang belum hilang dari keterkejutannya. Pertanyaan ambigu untuk pemandangan ambigu yang ada di depan matanya ini.


Sontak semua orang yang berada di pintu segera sadar kembali. Adapun Ken yang segera menghentakkan tubuhnya sehingga orang-orang yang sedang bertindak sebagai benalu, menyingkir dari tubuhnya.


Lalu semua orang berdiri tegap sambil merapihkan penampilan mereka masing-masing. Terutama Tuan Dion yang merupakan pria paling senior di antara mereka semua. Tapi malahan tertangkap basah sedang melakukan hal konyol seperti tadi. Dan sedang ditatap dengan penuh pertanyaan oleh wajah istrinya itu.


"Bunda, sepertinya aku tau sekarang darimana sifat konyol Sam itu berasal!", seru Ana yang tak mengubah ekspresi datarnya sambil menoleh ke arah Nyonya Rima. Dan wanita paruh baya itu pun mengangguk setuju.


"Tadi,, eemh,, tadi Ken tidak sabar ingin langsung menemui Ana. Tapi kami belum berhasil untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi padanya. Jadi dia tidak sabar lalu berusaha untuk segera membuka pintunya! Yah,, kira-kira seperti itulah yang terjadi!", tak ingin cap konyol itu melekat pada dirinya, maka Tuan Dion yang pertama mengubah ekspresi serius di wajahnya.


"Ana! Ana, kau tidak apa-apa, sayang! Bagaimana dengan bayi kita? Apakah terjadi sesuatu dengannya? Mana, dimana yang sakit? Beritahu aku di bagian mana yang sakit?", setelah mendengar ayahnya berbicara, Ken jadi ingat tujuan utamanya datang ke sini.


Ia segera berjalan ke arah istrinya itu. Mengambil tangannya, lalu menggenggamnya erat. Ia mendudukkan diri di samping ranjang sehingga secara tidak sengaja ia harus menyingkirkan ibunya itu dari posisi yang sekarang ia tempati.

__ADS_1


"Cihh! Anak ini!", Nyonya Rima berdecak kesal karena posisinya tersingkirkan, tangannya menggantung di udara dengan sepiring potongan buah. Meskipun begitu, wanita paruh baya itu tetap tersenyum melihat putranya yang sangat mencintai istrinya itu.


"Jadi Ana?! Inikah tampilan suamimu yang sebenarnya? Begitu berantakan, heh! Masih lebih tampan diriku dari sudut manapun!", suara seorang pria menggelegar dari sudut ruangan itu. Mengaung di telinga Ken, hingga pria itu harus menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2