
Tak luput pemandangan itu dari mata Ken. Ia tersenyum sinis memandang Joice yang sama saja dengan wanita-wanita lain di luar sana yang mendekati Ken dengan tujuannya masing-masing.
***
"Sudahlah! Percuma saja Ken panjang lebar menjelaskan kepada bunda mengenai semua ini. Lagipula ini merupakan masalah keluarga kita. Tidak baik jika sampai ada orang luar yang mengetahuinya", ucapan Ken dengan nada menyindir sambil melirik tajam ke arah Joice yang mulai kikuk karena sadar ucapan Ken bermaksud pada dirinya.
"Joice bukan orang lain, Ken! Dia calon istrimu!", bentak Nyonya Rima yang mengerti dari maksud ucapan putranya.
"Bunda cukup! Tak ada yang bisa mengatur hidupku. Jika bunda masih ingin menikmati semua ini, maka berhenti mengatur hidupku. Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku pilih, yaitu Ana", Ken berucap sambil mengeraskan rahangnya. Ada penekanan saat dia berucap tentang Ana.
Ken memandangi bundanya dengan tatapan yang ambigu. Ia sudah tak tau lagi apa yang dirasakannya saat ini. Bahkan di saat bundanya sudah mengetahui siapa Ana sebenarnya, ia masih saja bersikeras menjodohkannya dengan wanita pilihannya. Tidak, Ken tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupnya.
"Dan jika bunda tidak merestui kami,, maka aku tidak peduli! Jangan berusaha lebih keras lagi bunda, karena jika sampai aku mengetahuinya maka aku akan melepaskan semua yang telah aku capai dan kita bisa hidup sederhana di luar sana!", ucapan Ken lembut namun bernada ancaman.
Sebenarnya kata-kata terakhirnya bukan ditujukan pada bundanya. Tapi lebih kepada Joice yang ia tau sangat menginginkan menjadi Nyonya di keluarga ini. Tujuannya sudah terbaca oleh Ken. Tak ada ketulusan dalam niatannya menjadi istri Ken kelak.
Joice bergidik ngeri hingga bulu kuduknya berdiri pada seisi tubuhnya saat mendengar ucapan Ken barusan. Ia tak habis pikir jika Ken bersedia hidup miskin hanya demi wanita itu. Tentu saja Joice tak akan mau hidup sengsara seperti yang Ken katakan, seumur hidupnya Joice selalu berkecukupan bahkan selalu saja merasa tidak puas. Tujuannya masuk ke dalam keluarga Wiratmadja adalah untuk berada di puncak kehidupan sosialnya dan bukannya menjadi melarat dan hidup mengerikan pikirnya.
"Jika kita jatuh miskin, bunda yakin wanita itu juga pasti akan meninggalkan mu Ken!", ucap Nyonya Rima dengan wajah sinis.
"Heh! Dia berbeda bunda! Bahkan dia tidak mengenali siapa aku saat kami pertama bertemu. Begitu juga dengan aku, aku tidak mengetahui siapa dia sebenarnya saat itu. Dia bukan wanita gila harta dan kehormatan seperti yang lainnya, bunda!", lagi Ken mengucapkan kalimatnya dengan nada menyindir. Entah ditujukan kepada siapa kalimat itu, pada bundanya kah atau pada Joice. Ia tak peduli siapa yang merasa tersindir di sana.
"Sepertinya kakak sudah banyak bicara! Harusnya itu adalah bagianku, tau!", ucap Sam pada Ken dengan gaya congkaknya.
"Ayo, bukankah kita masih punya pekerjaan!", ajak Sam yang sudah melangkah lebih dulu ke arah mobil Ken terparkir.
"Aku pergi ayah!", pamitnya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
Ken beralih ke arah ayahnya untuk berpamitan dan memeluknya. Dan semarah apa pun dirinya saat ini, Ken tetap berpamitan dengan bundanya. Tapi ia melewati Joice begitu saja tanpa mempedulikan kehadirannya. Ia berjalan menapaki jejak langkah Sam yang sudah lebih dulu sampai di dekat mobilnya yang terparkir di sana.
__ADS_1
"Sedang apa kau?! Minggir!", ucap Ken ketus sambil menyingkirkan tubuh Sam yang bersandar tepat pada pintu pengemudi.
"Aku ikut!", Sam berucap manja seperti anak kecil dan memamerkan senyum lebarnya.
"Menjijikan!", Ken melempar kunci mobilnya pada Sam. Sebuah perintah agar ia menjadi supirnya saat ini.
"Uugh, aku kan berniat menumpang bukannya menjadi supir!", gumamnya seraya memasuki mobil. Mereka meninggalkan kediaman orang tuanya dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Aku sudah menempelkan pelacak pada tas Ana. Segera ikuti mereka!", Ken melemparkan ponselnya yang sudah terhubung dengan pelacak pada tas Ana.
"cekk! Apakah bahkan kau tidak mempercayai kakak iparku?!", Sam berdecak sebal.
"Dasar bodoh! Tentu saja aku percaya. Hal ini aku lakukan demi keamanannya. Kau tau sendiri, situasinya saat ini mulai genting", ucap Ken setelah memukul kepala adiknya yang selalu kosong.
***
Ana tengah khusuk melihat keluar jendela mobil menikmati pemandangan jalanan yang bermacam-macam. Pikirannya terus terbayang akan setiap kata yang Nyonya Rima ucapkan padanya. Dimana dia dihina dan dicaci maki seenaknya. Apalagi saat nyonya itu membawa-bawa mendiang ibu yang sangat dicintainya ke dalam hinaan yang ditujukan untuknya.
Tapi memang benar jika masih ada ibu di sisinya, mungkin saja ibunya akan melarang Ana habis-habisan untuk bekerja di club malam milik ayahnya itu. Tapi apa mau dikata, semua sudah memiliki jalan takdirnya masing-masing. Akhirnya Ana menghembuskan nafasnya sangat panjang, untuk mengusir penatnya.
"Kau bilang apa tadi?", tanya Ana yang sebenarnya mendengar Sarah berbicara ke arahnya. Tapi ia tak dapat mendengar dengan jelas karena ia sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Apa aku masih marah padaku?", tanya Sarah ragu. Tapi sebenarnya mentalnya sudah siap untuk menghadapi situasi seperti ini. Karena sejak dia menerima untuk datang makan malam, maka sejak itu pula ia harus menyiapkan alasan yang tepat untuknya menjelaskan duduk permasalahannya keoada Ana.
"Katakan! Mengapa kau bisa mengenal Sam dan bahkan datang ke dalam kediaman keluarga Wiratmadja?", tanya Ana penuh selidik sambil menyipitkan kedua matanya.
"Katakan dulu, apa kau masih marah padaku?", tanya Sarah memastikan ekspresi wajah Ana yang terlihat serius.
"Tidak! Sudah cepat ceritakan!", perintah Ana yang sudah mulai tak sabar.
__ADS_1
"Janji ya jangan marah?!", Sarah memohon dengan wajah memelas.
"Iya iya! Tapi awas aja kalau sampai kamu macam-macam dengannya!", tetap saja Ana makin tidak sabar.
Sejujurnya saat ini Ana sangat khawatir pada apa yang akan Sarah ceritakan padanya. Isu bahwa Sam yang seorang playboy sudah terdengar sampai ke telinga Ana. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri jika hal buruk menimpa sahabatnya itu.
FLASHBACK ON
Di suatu malam beberapa hari yang lalu, Sam baru saja berkumpul dengan teman-temannya di club malam milik ayah Ana, Dragon Night. Mereka adalah Roy, Billy dan Sera tunangan dari Roy. Mereka akan masuk ke salah satu ruang VIP di sana. Billy sudah ditemani seorang wanita cantik dan tentu saja pria tampan seperti itu sudah ditemani dua wanita di kanan dan kirinya yang bergelayut manja pada lengan Sam.
"Hey Sam kudengar ada rumor yang mengatakan bahwa kakakmu itu tidak suka dengan wanita!", ucap Billy tiba-tiba.
"Cihh! Jangan bicara sembarangan kau! Bahkan dia sudah mempunyai calon istri. Jika kakakku sampai dengar ucapanmu, habis sudah riwayatmu!", ucap Sam dengan peringatan di akhir kalimatnya.
"Berarti kaulah orang Glory Coorporation yang tidak suka dengan wanita!", ledek Roy diiringi kekehan dari Sera di sebelahnya.
"Apa ini belum cukup untuk menjadi bukti?!", ucap Sam dengan wajah sebal. Bisa-bisanya dirinya dikatakan tidak menyukai wanita. Tentu dia bukan kakaknya yang sangat kaku pada seorang wanita. Ia masih suka bermain-main dengan mereka, meskipun tak ada satu wanita pun yang pernah menyentuh hatinya.
"Semua wanita sama saja. Paling-paling mereka hanya akan memandangku dari harta dan kehormatan yang ku punya. Cih! Itu sangat membosankan!", tambahnya lagi.
"Hey, masih ada di dunia ini wanita yang tidak gila harta seperti ucapanmu! Sera adalah buktinya!", Roy menaikkan intonasinya tidak sependapat dengan ucapan Sam.
"Ya, ya baiklah! Mungkin kau dan kakakku adalah orang yang beruntung bisa mendapatkan wanita baik-baik", ucap Sam malas.
"Jika masih ada wanita seperti itu lalu bagaimana?", tanya Sera sambil memiringkan kepalanya untuk melihat ekspresi Sam.
"Ya jika memang ada, mungkin aku akan menjadikannya istri", jawab Sam asal. Karena menurutnya mana mungkin di jaman seperti ini masih ada wanita yang akan tulus mencintainya.
"Brughh!", seseorang menabrak Sam dan jatuh dalam pelukannya.
__ADS_1