Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 258


__ADS_3

"Hey, bagaimana jika kita menemui wanita itu sekarang? Jadi nanti biarkan Tuan Sam dan Tuan Ken yang membuat keputusan hukuman apa yang akan diberikan kepada siluman itu!", Krystal tiba-tiba memberi saran karena ia sudah merasa bosan duduk-duduk saja di sana.


Rasa penasarannya sudah membumbung tinggi di dalam hatinya. Krystal sudah sangat ingin melihat Megan Aira dalam keadaan tidak berdaya. Seperti apa tampangnya saat ini?! Apakah masih sombong seperti biasanya?!


"Tapi,,,,!", sedangkan Sarah nampak berpikir.


Sebenarnya ia juga sudah penasaran untuk melihat wanita rubah itu secara langsung. Namun ia merasa bingung saja harus bagaimana. Menuruti rasa pensarannya kah?! Atau menuruti apa kata Tuan Ken saja yang memerintahkan mereka untuk tetap menunggu?!


"Sudah, jangan banyak berpikir lagi! Mereka bisa memberi kabar kepada Tuan-tuan itu nanti!", Krystal sudah bangun dari duduknya lebih dulu. Lalu ia menarik tangan wanita di sebelahnya dengan tidak sabar.


"Ayolah! Tak akan ada bahaya lagi! Bukankah wanita itu sudah tertangkap?! Jadi apalagi yang harus dikhawatirkan?!", kembali Krystal menarik tangan Sarah. Tak mau menyerah hingga wanita itu bangun dari posisi duduknya.


"Baiklah!", Sarah akhirnya menyerah dan mengikuti langkah Krystal yang terlihat sangat bersemangat.


Wanita itu mendesah sambil menggelengkan kepalanya di belakang punggung Krystal. Ia tak mengerti mengapa sahabatnya itu begitu tidak sabar untuk melihat wanita rubah, si Megan Aira itu.


"Katakan padanya jika kami melihat wanita itu lebih dulu!", Sarah menoleh memberi perintah pada pengawal yang berjalan di belakangnya. Dia yang Sarah maksud tentu adalah bos mereka, Tuan Sam mereka.


"Baik, Nona!", pengawal itu mengangguk dengan sopan. Ia juga segera mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada bosnya itu.


***


Di sebuah ruangan yang sangat mewah, masih di dalam club malam itu, beberapa orang sedang berbincang serius. Termasuk juga dengan Ken dan Sam di sana. Namun seperti biasa, wajah Ken selalu enggan jika ia sedang berada di tempat seperti ini. Jadi, sebenarnya sejak tadi itu lebih banyak Sam yang meladeni orang-orang itu.


drret,, drret,,,


Di tengah perbincangan itu, sebuah ponsel bergetar di dalam saku sebuah jas.


"Kakak, ponselmu bergetar!", Sam berbisik sebentar pada kakaknya yang duduk di sebelahnya itu. Karena mereka duduk berdekatan, jadi Sam bisa merasakan dengan jelas getaran pada ponsel itu.

__ADS_1


"Ya, aku tau! Tunggu sebentar!", dengan acuhnya Ken segera berdiri untuk menerima panggilan masuk itu.


Itu telepon dari Ana, istri tercintanya. Tentu saja ia harus segera mengangkatnya. Tidak ada urusan yang lebih penting ketimbang urusan yang bersangkutan dengan istrinya. Lagipula ini jam paling malam dimana ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda itu sendirian di rumah. Meskipun Ana mengatakan tak apa-apa, tapi tetap saja Ken mengkhawatirkannya.


"Kakakku ada panggilan penting sepertinya!", Sam mewakili kakaknya itu berbicara pada orang-orang di hadapannya. Ia tersenyum canggung di depan mereka semua.


Siapa pula yang berani menegur Presdir Ken yang terhormat itu. Bertindak sesuka hati adalah salah satu ciri khasnya sekarang, atau mungkin sejak dulu sepertinya. Jadi orang-orang itu pun hanya bisa membalas ucapan Sam dengan senyuman yang sama.


***


"Halo, Sayang!", sapa Ken pertama setelah menggeser tombol jawab.


Kini ia telah keluar dari ruangan itu dan sedikit menyingkir, mencari tempat yang paling tenang untuk berbicara dengan istrinya ini.


"Keeennn! Kau ini memang suami yang keterlaluan yaaaa!", dan yang didapat adalah sebuah teriakan dari seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya sendiri, Nyonya Rima.


"Bun,, Bunda?!", nada suara itu kurang yakin.


Istri tercinta,,, benar itu adalah Ana yang memanggilnya. Sambil mengernyitkan alisnya, Ken menjadi berpikir bagaimana bisa ponsel Ana memiliki suara ibunya! Atau mungkin telah terjadi sesuatu pada istrinya itu?! Apalagi istri tercintanya itu sedang hamil muda saat ini.


"Bunda?! Ini Bunda?! Lalu dimana Ana? Kenapa ponsel Ana bisa ada pada Bunda? Apakah terjadi sesuatu pada Ana? Ana baik-baik saja kan saat ini? Tolong katakan yang sebenarnya pada Ken, Bunda!", pria itu segera memberondong ibunya dengan banyak pertanyaan.


Kekhawatiran tiba-tiba meledak di dalam hatinya saat ini. Dan itu akan segera mereda setelah ia mengetahui kabar istrinya itu dari Bundanya.


"Hey,,, sejak kapan putra sulung Bunda menjadi cerewet seperti ini?! Diam dulu! Bunda yang akan berbicara sekarang!", dan segera Nyonya Rima memutus rentetan kalimat kekhawatiran Ken yang seperti tiada habisnya itu.


"Ana baik-baik saja saat ini!", sambungan Nyonya Rima membuat Ken dapat bernafas lega.


"Tapi Bunda yang tidak baik-baik saja sekarang!", rasanya Ken menyesal telah menghembuskan nafas leganya. Karena ternyata masih ada kekhawatiran lainnya. Punggungnya tegap lagi setelah sebelumnya sudah bisa lebih santai.

__ADS_1


"Bunda kenapa? Apa yang terjadi pada Bunda?!", tentu saja anak itu khawatir pada ibunya.


Tapi yang terjadi adalah seorang anak yang hanya bisa diam saat ibunya sedang memarahinya. Nyonya Rima tidak sengaja mampir ke rumah putranya setelah menghadiri pertemuan dengan beberapa rekannya. Dan setelah sampai, betapa murkanya wanita paruh baya itu setelah mengetahui bahwa putra sulungnya itu tidka ada di rumah dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda.


Meskipun Ana sudah menjelaskan bahwa dirinya merasa tak masalah. Namun orang tua itu tetap keras kepala dan meminta menantunya itu untuk menelepon putranya.


Panjang, lebar dan sangat padat isi ceramah orang tua itu pada putranya. Namun wajah pria itu tetap tenang saat mendengarkan dan menanggapi setiap ucapan yang ibunya berikan. Paling tidak ia tau betapa ibunya ini sudah sangat menyayangi Ana seperti putrinya sendiri.


"Kalau begitu Bunda akan menginap di sini! Bunda akan tidur dengan Ana!", Ken langsung membulatkan matanya.


Apa?! Mana bisa ia tidur jika tidak bersama istrinya. Tidak! Ia tidak mau dipisahkan dengan istri tercintanya itu. Meskipun itu adalah ibunya sendiri, tapi ia tidak mau kedinginan malam ini. Ia tidak bisa tidur jika tidak ada Ana di sampingnya.


"Hehe,,, Bunda pasti bercanda, kan?! Lebih baik Bunda pulang saja! Kasihan Ayah ditinggal sendirian di sana!", Ken yang kaku sedang mencoba merayu ibunya itu.


"Tidak ada kompromi lagi! Ini sudah keputusan Bunda! Dan ini adalah hukuman untukmu karena telah meninggalkan istrimu sampai malam!", dengan tegas Nyonya Rima menetapkan keputusannya. Tidak bisa diganggu gugat lagi.


Begitu juga Ana yang kini sedang berada di sebelah Nyonya Rima. Ia juga membulatkan matanya lebar-lebar tanpa sepengetahuan mertuanya itu. Ini terlalu mendadak baginya. Tapi mau bagaimana lagi, keputusan orang tua sangat sulit untuk dinegosiasi. Jadilah Ana hanya bisa pasrah saja. Paling-paling ia hanya bisa berempati saja pada suaminya itu.


ttut,,, ttut,,, ttut,,,


"Tapi,,,", dan sebelum Ken melanjutkan ucapannya, telepon itu sudah diputus sepihak.


"Siaga 1!", Ken bergumam sambil berpikir keras. Siapa yang harus ia mintai bantuan untuk masalahnya kali ini?! Ia tidak ingin dipisahkan dengan istri tercintanya itu.


"Ah,, ayah! Aku bisa minta bantuan ayah!", lalu ia mengetik beberapa kalimat untuk ia kirimkan pada ayahnya itu.


Dikirim kepada : Tuan Besar


Bunda berencana menginap di rumahku! Bahkan ingin tidur dengan istriku! Apa ayah tidak keberatan tidur sendirian malam ini?!

__ADS_1


Setelah itu ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Pria itu menyeringai dengan kepuasan. Ia juga sangat tau jika ayahnya itu sama seperti dirinya. Pria tua itu tidak akan mau ditinggalkan oleh istrinya. Ya, Ken mempunyai kartu As yang bagus ternyata.


__ADS_2