
******Okeh, kisah Ana dan Ken sudah hampir tamat ya teman-teman.. Dan untuk lanjutan kisahnya Sam dan Sara maupun Han dan Risa, aku belum putuskan akan aku teruskan di novel baru atau diteruskan di sini.
Aku minta pendapat kalian dong gimana menurut kalian soal dua pasangan yang belum sah itu 🤠kapan mereka menyusul Ken dan Ana ya 😅****
***
Tepat saat Sam masuk, Sarah meletakkan semua jepit rambut yang berada di telapak tangannya. Rambut Ana kini sudah terurai semua, hanya saja rambut indah itu belum tersisir rapi. Sarah buru-buru meninggalkan sepasang pengantin baru itu, lalu ditariknya tangan Sam ke arah luar. Sarah tak menoleh lagi, tak peduli ekspresi siapapun yang melihat apa yang ia lakukan pada salah satu pimpinan perusahaan besar ini.
"Hey kemana kau akan membawaku pergi?", tanya Sam yang sudah penasaran sejak tadi. Ia melihat ke arah pergelangan tangannya yang sedang ditarik dengan senyum bahagia.
"Diam!", bentak Sarah dari arah depan.
"Wah kau galak sekali! Aku jadi makin suka!", ucap Sam riang tanpa beban.
"Diam! Atau aku sumpal mulutmu!", ancam Sarah tanpa menoleh. Karena jelas saat ini wajahnya itu sudah mulai merona.
"Dengan bibirmu? Tak masalah! Sepertinya menyenangkan!", sahut Sam dari belakang masih dengan keriangannya.
Sarah tiba-tiba menghentikan langkahnya dan dengan cepat memutar tubuhnya, ia sudah tidak sabar ingin memarahi pria bodoh yang berada di belakangnya ini. Tapi baru saja akan mengumpat, keningnya sudah mendapatkan sebuah kecupan lantaran Sam yang tak dapat mengerem langkahnya dengan sempurna. Dan refleks, Sarah malahan menahan tubuh pria itu dengan mencengkeram jas yang Sam kenakan pada kedua bagian pinggangnya. Dan tubuh pria itu mendarat sempurna tanpa terjatuh ke lantai namun tengah didekap erat oleh Sarah.
Senyum riang Sam menghilang tiba-tiba saat tatapan mata mereka bertemu. Wajah Sam kini sudah sangat serius, ia menatap Sarah dengan intens. Dalam hatinya, Sarah telah menjerit bahwa saat ini yang ia lakukan tidaklah benar. Namun tubuhnya seakan tak mau di ajak bekerja sama. Malahan matanya tiba-tiba menutup ketika hembusan nafas hangat menerpa wajahnya lantaran wajah Sam yang kian mendekat. Tinggal sedikit lagi, bibir mereka hampir bertemu, tapi sesuatu menghentikan gerakan Sam.
prriitt,,, prriitt,,,, prriitt
Petugas parkir yang berdiri tak jauh dari mereka tengah memarkirkan mobil yang akan keluar dari area butik itu. Keduanya menoleh ke arah yang sama dengan posisi wajah yang masih amat dekat. Wajah keduanya sama-sama terperangah, yang satu senang dan yang satu lagi kesal.
"Cekk! Sumpah demi apapun! Jika dia adalah karyawanku maka hari ini adalah hari terakhirnya!", umpat Sam pelan namun tetap dapat terdengar oleh Sarah karena posisi wajah mereka yang masih sangat dekat.
Masih belum puas menertawai Sam, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria itu. Sam membawanya masuk ke dalam mobil yang tadi ia bawa. Mendekat ke arah Sarah yang masih terdiam, ia memasangkan sabuk pengaman untuknya tanpa bersuara. Sejenak ia menghentikan gerakannya, hanya menoleh namun tanpa ekspresi. Lalu kembali ke tempat duduknya di balik kemudi, memasangkan sabuk pengaman untuk diri sendiri dan melajukan mobil untuk pergi. Sarah benar-benar menahan nafasnya, ia tak sanggup menerima bahwa tubuhnya ternyata bereaksi kepada Sam. Sudah terlanjur begini, ia tak peduli jika tadi Sam benar-benar mendengar detak jantungnya yang sedang berpacu si arenanya.
"Kau akan membawaku kemana?", tanya Sarah yang masih terheran-heran dengan sikap Sam yang tiba-tiba berubah menjadi diam.
"Jika kau membawa mobil ini, lalu bagaimana dengan mereka di sana?", tanya Sarah lagi karena memang yang ia ketahui bahwa Ken beserta ibunya itu datang dengan mobil ini.
"Mereka akan naik dengan mobil kakak ipar!", jawab Sam datar.
Oh iya, Sarah lupa bahwa tadi ia pun berangkat karena dijemput oleh Ana dengan supir yang diperintahkan Ken untuk menjaganya.
Hening membentang karena Sam yang biasanya cerewet alias banyak omong, kini benar-benar terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan karena lelah, Sarah pun lebih memilih untuk tertidur sambil menghadap keluar jendela. Sekali Sam menoleh ke arah wanita di sampingnya saat nafasnya yang teratur terdengar ke telinganya. Sam tersenyum, lalu sejenak ia membelai sayang pucuk kepala wanita itu.
***
Ken mendekat ke arah istrinya yang masih sibuk membersihkan riasannya. Bibirnya melengkung saat melihat wajah istrinya itu yang masih menampilkan wajah kesal. Ken berinisiatif mengambil sisir di meja rias itu dan mulai membantu Ana menyisir, merapihkan rambutnya yang sudah tergerai semua. Dengan lembut Ken mulai melakukan kegiatannya, tangannya naik dan turun perlahan pada kepalanya.
"Aku bisa melakukannya sendiri!", seru Ana setelah dirasa riasannya telah terhapus sempurna. Ia berusaha meraih sisir yang berada di tangan suaminya.
"Benarkah?", tangan Ken naik ke atas menjauhkan Ana dari sisir yang ingin diraihnya.
__ADS_1
Ana segera berdiri merapat ke arah Ken masih dengan wajah garangnya.
"Iya, aku bisa!", jawab Ana ketus dengan penekanan bahwa ia masih kesal saat ini. Lalu ia melompat mencoba meraih sisir itu.
cup
Setelah mendapatkan bibir istrinya, Ken memberikan apa yang istrinya minta tanpa syarat. Tapi bibirnya sejenak menampilkan seringainya, seperti ide lain telah terbesit dalam benaknya.
"Baiklah!", sambil menyerahkan sisir itu ke tangan Ana yang sedang benar-benar jengkel karena Ken selalu saja punya cara untuk menjahili atau mendapatkan keunggulan darinya.
"Apa dia tidak tau, aku sedang benar-benar marah sekarang!", gerutu Ana dalam hati.
Segera Ana berbalik pergi dan mulai melangkah. Na'asnya, gaun itu memiliki ekor yang lumayan panjang, jadi ada bagian yang terinjak oleh Ken entah sengaja ataupun tidak. Tubuh Ana terhuyung ke depan, tapi dengan cepat Ken menariknya hingga ia akhirnya mendekap Ana dari belakang.
"Dapat!", ucapnya seraya tersenyum menang.
"Apa belum cukup yang aku katakan tadi?! Semua yang ada pada diriku adalah hanya untukmu, sayang! Bahkan wanita lain tidak kuberi kesempatan untuk menyentuhku!", bisik Ken di telinga belakang Ana hingga menimbulkan getaran pada tubuh wanitanya.
Sesaat Ana memejamkan mata menikmati senyar yang menjalar. Tapi bukan di sini tempat untuk menikmatinya lebih lanjut. Ini tempat yang salah, pikir Ana.
"Lalu barusan apa? Kau baru saja melakukan sesi foto prewedding, kan?!", Ana membalikkan tubuhnya menghadap suaminya laku bertanya dengan nada manja.
"Aku merubah rencana, itulah kenapa alasannya aku memintamu untuk keluar lebih cepat. Aku bahkan tak ingin berlama-lama berada di satu ruangan dengan dirinya! Tenang saja sayang, aku sudah memakai jubah zirahku agar tak seorangpun dapat menyentuh tubuh suciku ini yang hanya tercipta untukmu", ucap Ken pelan dan lembut. Dengan nada mendayu-dayu mampu membuat Ana merona dan tersenyum seketika.
"Hey, sejak kapan kau jadi pandai merayu seperti ini, Ken!", Ana memukul pelan bahu suaminya lalu mereka sama-sama tertawa.
"Tapi, kemana perginya Sarah?!", tanya Ana sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Mau kubantu mengganti pakaianmu?", tanya Ken sambil menaikkan kedua alisnya yang tebal. Matanya nyalang menatap Ana penuh harap.
"He,, tidak bisa, sayang! Kau akan membuat semua orang menunggu. Wanita masih menunggumu di sana", jelas ucapan Ana langsung membuat mood Ken memburuk.
Benar saja, mereka sedang berada dimana. Jika saja saat ini mereka sedang berada di kamar mereka, pasti Ken sudah menandaskan seluruh pakaian Ana dan melahapnya. Apalagi melihat tulang selangka Ana yang terbuka, membuatnya ingin sekali tenggelam di daerah sana. Akhirnya Ken hanya bisa berdecak kesal lalu menjauhkan diri dari istrinya itu. Ana terkekeh melihat wajah suaminya yang langsung suram seketika.
"Kembalilah, Bunda dan wanita itu pasti sudah menunggumu di sana!", ucap Ana lembut sambil menangkupkan tangannya pada sebelah pipi suaminya.
"Lalu kita bisa meneruskannya nanti di rumah!", bisik Ana di telinga Ken lalu meniupkan udara hangat di sana.
Ken menggigit bibir bawahnya sambil mengumpat tanpa amarah.
"Ya ampun, Ana!", Ken frustasi karena kini istrinya ini benar-benar telah menggodanya.
"Ingat, kau harus menepati kata-katamu tadi!", ucap Ken seraya keluar dari ruangan itu.
"Astaga, dia pikir hanya dia saja yang tersiksa! Apa dia tidak tau aku juga tersiksa jika dia selalu berusaha menggodaku!", gerutu Ana sambil menggelengkan kepalanya. Tak lama seorang pegawai masuk untuk membantunya mengganti gaun yang ia kenakan saat ini.
***
__ADS_1
"Kau darimana saja, sayang?", tanya Nyonya Rima pura-pura tidak tau. Padahal ia jelas tau, kemana lagi putranya itu akan pergi jika bukan ke sisi istrinya yang amat ia cintai.
"Mencari Sam!", jawab Ken singkat.
"Kau pulang atau kembali ke kantor?", tanya Ken langsung ke intinya pada Joice yang sudah berganti pakaian.
"Aku tidak enak badan, sepertinya aku langsung pulang saja, Ken!", jawab Joice dengan mata penuh harap bahwa Ken akan memberi perhatian kepadanya.
"Baiklah!", nyatanya tidak. Ken malah menjawabnya dengan efektif dan efisien.
"Baiklah, aku pamit dulu Tante!", Joice memeluk Nyonya Rima.
Lalu ia mendekat ke arah Ken, tangannya sudah bergerak akan memeluk calon suaminya itu namun segera Ken mundur satu langkah berusaha menghindar darinya. Joice kecewa, hanya tinggal beberapa hari lagi mereka menikah, tapi Ken masih saja begitu dingin terhadapnya. Baiklah tak apa, ia masih akan tetap sabar sampai hari itu tiba, ketika Ken telah menjadi miliknya seutuhnya.
"Aku duluan!", Joice tersenyum lalu mulai melangkahkan pergi dari sana.
"Apa tidak terlalu berlebihan sikapmu kepadanya?", Nyonya Rima sedikit iba kepada Joice yang bahkan tak pernah mendapat satu persen pun perasaan dari putranya. Terlebih lagi putranya itu bagai dinding es yang kokoh saat berhadapan dengan wanita lain, begitu, dingin dan keras. Tak dapat ditembus oleh siapapun.
"Aku menjaga dan menghargai perasaan istriku, Bunda!", baiklah jawaban putranya ini memanglah sangat benar. Nyonya Rima mengalah.
"Dimana Sam?", Nyonya Rima mengalihkan topik yang membuat mereka hening sesaat.
"Sepertinya sudah pergi, Bunda! Kita tunggu Ana keluar, lalu kami akan mengantar Bunda pulang", jawab Ke seraya mendudukkan dirinya di sofa ruangan itu. Mereka saat ini masih berada di ruang ganti yang bersebelahan dengan ruangan Ana.
"Bagaimana bisa Ana tiba-tiba muncul di sana, Ken?! Trik kalian benar-benar hebat!", puji Nyonya Rima seraya mendudukkan diri di seberang putranya.
"Kami membuat cermin itu bisa bergeser dan membuat sebuah ruangan persis mirip sama ketika kita bercermin di sana. Lalu saat mati lampu, Sam menggeser cermin itu hingga Ana nampak di sana. Dan setelah selesai, Sam menggeser kembali cermin itu ke tempat semula. Itu sangatlah mudah, Bunda!", jelas Ken padanya.
"Apa harus sekejam itu kalian membalasnya?", tanya Nyonya Rima lagi yang masih merasakan iba.
"Itu masih jauh dari kata cukup untuk membayarnya!", geram Ken. Matanya lurus ke depan, menatap tajam hingga benda yang berada di hadapannya sudah siap untuk mode hancur.
-
-
-
-
-
-
teman-teman jangan lupa ikutin terus ya akhir-akhir cerita ini,, dan ikutin juga ya ceritanya Ben dan Rose di sana..
🌹"Hey you, I love you!"🌹
__ADS_1
Dan aku ingetin sekali lagi,, jangan pernah lupa buat kasih like, vote sama komentar kalian di sana maupun di sini ya teman-teman 😘
keep strong and healthy ya guys 😉