
Ana melangkah dengan anggun ke arah Nyonya Rima. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk menyambut menantu pertamanya. Sambil tersenyum hangat Ana pun menerima uluran tangan itu. Dan kini ketiganya berdiri berdampingan dengan Sarah dan Ana yang mengapit di sisi kanan dan kiri Nyonya Rima.
"Bunda!", Ana mengangguk sambil tersenyum sebagai permohonan izin kepada ibu mertuanya supaya dia sendiri saja yang memperkenalkan dirinya kepada media.
"Baiklah!", Nyonya Rima melepaskan rangkulannya pada pinggang Ana. Mempersilahkan menantunya untuk berbicara. Ia sudah tau kepribadian menantunya itu, jadi ia percaya bagaimana Ana akan membawa dirinya.
"Katakan saja jika kalian ingin mengenalku, bukan?! Jangan membuat spekulasi sendiri jika kalian belum mengetahui faktanya. Padahal aku akan menjawab dengan sukarela jika kalian menanyai aku dengan pertanyaan yang sewajarnya", setelah puas menyindir wartawan itu Ana pun maju satu langkah ke depan.
Melihat tingginya kepercayaan diri yang Ana miliki, Ken tak bisa tidak tersenyum bangga. Meskipun tidak begitu lebar, namun diam-diam pria itu menipiskan bibirnya. Biarlah dunia mengenal siapa mutiara yang ia sembunyikan selama ini. Keberanian yang selalu ia gambarkan sebagai singa betina pasangannya, sejujurnya Ken sudah sangat ingin mengenalkan Ana kepada semua orang.
"Baiklah! Aku adalah Ana, Keana Winata. Aku putri dari mendiang Danu Winata, jika kalian kenal. Aku dan Ken sudah menjalin hubungan sejak setahun terakhir. Dan kami menikah tiga bulan yang lalu. Memang benar aku hamil, tapi jangan kalian pikir aku hamil lebih dulu. Usia kehamilanku baru saja memasuki minggu keenam. Sebenarnya kupikir, tidak perlu menjelaskan ini semua kepada kalian. Karena bagaimanapun juga akan selalu ada statement negatif mengenai diriku. Kalian hanya harus melihat kapan aku akan melahirkan nanti. Membuat kalian mengerti bukanlah tanggung jawabku", jelas Ana dengan acuh tak acuh.
Suara Ana begitu lantang, seakan menantang para wartawan di hadapannya. Karena hanya dirinya dan semua orang di sekitarnya saja yang mengetahui kebenarannya. Ana tak peduli apakah orang-orang itu harus percaya padanya atau tidak. Buktikan saja! Begitulah pikirnya.
Indera pendengaran wartawan-wartawan itu jelas menangkap apa saja yang Ana ucapkan barusan. Jika Sarah berasal dari kalangan biasa, tapi wanita yang kini berdiri paling depan bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Nona muda Winata dimana mendiang ayahnya adalah pemimpin Winata Group. Tidak besar, namun perusahaan itu cukup terkenal. Dan dari mimik wajah wanita itu, mereka menilai tak ada keraguan sama sekali dari setiap ucapannya.
"Apa kalian perlu bukti?", suara Nyonya Rima membuat Ana menoleh ke arahnya. Bukan hanya Ana tapi semua anggota keluarga kecuali Tuan Dion tentunya.
__ADS_1
"Bunda?", Ana mundur satu langkah. Ia menyentuh lengan ibu mertuanya itu sambil mengernyitkan alisnya.
Bukti apa?! Semua tentu ingin tau termasuk putranya sendiri. Ken mendekat ke arah Ana juga sambil melemparkan wajah penuh tanda tanya pada ibunya itu. Tapi yang ditatap malahan menguarkan senyuman konyol yang tak terbayangkan. Tuan Dion tersenyum di belakang, menoleh ke samping seakan tidak tau apa-apa.
"Jangan pura-pura tidak tau, Ayah!", sahut Sam tiba-tiba seraya melangkah mendekat ke arah Sarah. Ia melihat gelagat mencurigakan ayahnya itu.
Wajah penasaran tentu dimiliki oleh hampir setiap orang. Tapi yang Sam lihat hanya ayahnya saja yang memiliki wajah santai seakan masalah ini sudah memiliki solusinya sendiri. Lalu mendapatkan teguran seperti itu, Tuan Dion hanya melebarkan senyumnya, ia tersenyum tak bersalah.
"Ayah harus ikut bertanggung jawab jika putra kita marah!", mendapat tatapan menuntut dari Ken mau tak mau Nyonya Rima membawa nama suaminya itu untuk menjadi tameng.
Semua wartawan riuh dan mula membidik buku nikah yang Nyonya Rima angkat di samping kepalanya untuk dijadikan objek pengambilan gambar. Tanggal yang tertera beserta pernyataan Ana barusan benar-benar sesuai. Dan wartawan yang tadi menyangka jika Ana hamil lebih dulu pun menjadi malu.
"Darimana Bunda mendapatkan buku nikah kita?", bisik Ken pada istrinya.
"Mana aku tau! Harusnya aku yang bertanya padamu! Kau itu kan putranya", bisik Ana lagi tapi sedikit kesal.
Lalu Ken melirik tajam ke arah ayahnya di belakang. Tatapan sengit ia layangkan untuk menginterogasi lewat udara. Tuan Dion tak dapat mengelak, ia melebarkan senyum di bibirnya sambil menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal sama sekali.
__ADS_1
"Dengar! Sebentar lagi aku akan memiliki dua menantu, ada Ana dan juga Sarah. Keduanya adalah wanita yang begitu dicintai oleh putra-putraku. Dan karena aku begitu mencintai mereka, jadi setelah ini, jika kalian masih ada yang berani mengusik salah satu di antara mereka, maka tanggung sendiri akibatnya. Bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi kehilangan segala-galanya. Kami, Keluarga Wiratmadja jangan kira tidak mampu untuk melakukan hal itu", kharisma yang dimiliki Nyonya Rima memanglah sangat luar biasa. Suara tegas dan lantangnya sungguh membuat dua wanita muda itu terkagum-kagum dibuatnya. Bahkan Krystal dan juga Ibu Asih yang berada di belakang pun ikut merasakan kekaguman itu.
"Sepertinya, kalian sudah bisa bubar, kan!", Tuan Dion menyela barisan putra, menantu dan istrinya. Lalu ia berdiri di sebelah istrinya itu.
Seringai tenang yang Tuan Dion keluarkan membuat semua wartawan merinding. Akhirnya semua orang itu memilih untuk meninggalkan tempat itu. Lagipula mereka juga sudah mendapatkan berita yang mereka inginkan. Bahkan ini akan jadi jauh lebih menghebohkan. Kini mereka semua tau darimana aura Tuan Ken dan Tuan Sam berasal. Tentunya gen yang dituruni oleh Tuan Dion begitu besar pada kedua putranya itu. Sehingga mereka terlihat tampan, itu sudah pasti. Tapi juga memiliki kharisma yang luar biasa, juga aura mendominasi yang kuat.
"Tunggu dulu!", semua wartawan itu menoleh kembali setelah Sam berseru.
"Ngomong-ngomong, terimakasih untuk konferensi pers gratis yang kalian berikan untuk keluarga kami!", nada bicara Sam terdengar mengejek namun wajahnya tenang dan datar.
Tak ada yang mampu menjawab kata-kata itu. Semuanya kembali melanjutkan langkahnya lagi. Nyali mereka sudah tak mampu menghadapi keluarga berpengaruh itu. Ternyata bukan hanya para lelaki Keluarga Wiratmadja yang menyeramkan, tetapi wanita mereka juga memiliki aura yang ama dinginnya.
"Bunda bisa memberiku penjelasan sekarang?", Ken sudah menghadap ke samping ke arah ibunya. Menatap dengan keseriusan dan Ana sedang berusaha menenangkannya di samping.
"Ayah!", Nyonya Rima segera menarik pakaian suaminya yang akan kabur itu.
"Ini ide ayahmu!", dengan wajah gugup Nyonya Rima langsung melemparkan bola panas itu kepada suaminya.
__ADS_1