
"Apa perlu aku yang menjelaskan semuanya?!", Ben pun mengeluarkan suara. Menawarkan bantuan pada adik kesayangannya itu.
"Tidak perlu, Kakak! Aku bisa melakukannya sendiri!", Ana tersenyum yakin padanya.
"Apa kalian masih ingin mengobrol atau kau sudah ingin menjelaskannya sekarang, istriku!", Ken memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh peringatan.
Selain kesal karena Ana yang masih belum juga memulai ceritanya. Tentu saja putra sulung Keluarga Wiratmadja itu sedang termakan api cemburu saat ini.
Latar belakang perasaan cinta Ben yang mendalam terhadap Ana membuatnya tidak tahan setiap kali melihat mereka berdua berinteraksi dengan penuh kasih sayang. Meskipun bagi keduanya itu merupakan sebuah perasaan sebagai adik kakak saja, namun Ken yang buta karena kecemburuannya pun tidak dapat melihat hal itu dengan benar.
"Ya,, ya,, baiklah! Aku akan mulai menceritakannya, Suamiku! Jangan sering-sering marah, nanti kau cepat tua!", Ana mencubit gemas dagu runcing milik suaminya. Sedikit menggodanya agar suasana hati pria itu menjadi lebih baik.
Melihat adegan sepert itu terjadi lagi, semua orang dengan kompaknya membutakan mata mereka untuk sesaat. Membuang pandangan mereka ke segala arah, asalkan bukan ke arah Ken dan Ana.
#FLASHBACK ON
Lalu mulailah Ana menceritakan semuanya dari awal. Semua hal ini dimulai pagi tadi saat Ana akan menyiapkan kopi dan sarapan untuk suaminya. Ia mendengar seseorang sedang berbicara di salah satu sudut.
Rasa penasarannya membimbing langkah kakinya untuk mengikuti arah sumber suara itu berasal. Itu suara seorang wanita, Ana menyadarinya sejak awal. Lalu Ana dapat melihat dengan jelas, bahwa itu adalah salah satu pelayan di rumah mereka, ketika jarak Ana dan wanita yang membelakanginya itu hanya tinggal beberapa meter saja.
Meskipun terkejut, sebisa mungkin Ana tetap berusaha tenang. Lalu ia pun mencari tempat untuk bersembunyi.
Suara guci yang sedikit bergoyang membuat pelayan wanita itu merasa curiga. Di dekatnya memang ada sebuah guci besar, sangat besar hingga bahkan dua orang bisa memasukinya secara bersamaan. Ana bersembunyi di balik guci itu.
Jantungnya berdegup semakin kencang saat wanita itu mulai mencari sesuatu yang dicurigainya. Namun sayangnya, ia tak berhasil, tak ada satupun hal mencurigakan yang ditemukannya. Jadi ia pun kembali ke tempat semula dimana sebelumnya ia sedang menerima sebuah panggilan.
Ana akhirnya bisa bernafas lega. Ia juga sempat mengelus dadanya yang berdebar hebat.
"Maaf, Tuan! Saya pikir tadi ada yang mencoba menguping pembicaraan ini!", pelayan wanita itu sudah meletakkan ponselnya kembali di telinga.
"Tidak ada siapa-siapa, Tuan! Tenang saja!", lanjutnya lagi menjawab suara di ponselnya yang tak dapat Ana dengar.
"Baik, Tuan! Saya akan menjalankan rencananya! Saya akan membuat Nona Ana kehilangan bayinya", mata Ana langsung terbelalak lebar, wanita itu pun membungkam mulutnya rapat-rapat agar tak menimbulkan suara keterkejutannya saat ini.
Siapa yang begitu tega memiliki niat jahat seperti ini kepadanya?! Dan Ana menyimpan banyak pertanyaan lainnya di dalam hati.
__ADS_1
Ia sungguh bersedih karena hal ini. Bayi yang akan menjadi teman hidupnya setelah tak satupun keluarga kandung yang ia punya, Ana berjanji tidak akan membiarkan hal itu terjadi padanya. Sambil menatap perutnya yang belum membuncit itu, Ana mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Tapi, Tuan! Tolong jangan lakukan apa pun pada kelurga saya! Saya akan melakukan tugas apa pun yang Tuan berikan, asal Tuan tidak melakukan apapun pada keluarga saya. Saya akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan dengan sebaik mungkin", lalu Ana mendengar pelayan wanita itu memohon dengan amat menyedihkan.
Dan hati Ana tidak bisa tidak prihatin dengan hal ini. Ia tersenyum penuh ironi di tempat persembunyiannya itu.
***
Sepasang suami istri itu sedang menikmati roti bakar yang telah Ana siapkan untuk mereka berdua. Wajah Ana tidak bisa membohongi Ken jika saat ini istrinya itu memiliki sebuah pemikiran sendiri di dalam benaknya.
"Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?", tangan mereka yang saling bersentuhan pun kini saling menggenggam.
"Emhh,, ini karena kau akan pulang larut nanti malam!", Ana memberikan senyumannya sambil menggelengkan kepala. Memberikan wajah imutnya yang sedang protes agar suaminya itu dapat percaya.
Tapi sudut mata Ana menangkap jika pelayan wanita itu sedang mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka saat ini. Baiklah, ia akan mengikuti permainan ini.
"Bagaimana jika aku mengantarmu ke rumah Sarah atau Krystal? Seperti biasa, jadi kau tidak akan kesepian! Atau kau ingin ikut ke kantor saja bersamaku?", dengan tulus Ken memberikan banyak pertimbangan.
Ia sangat tidak ingin membuat istrinya itu sedih. Ken akan melakukan apapun asalkan istrinya itu bisa selalu tersenyum, apalagi di masa kehamilannya ini. Sangat rentan mood seorang wanita hamil. Maka dari itu, sebagai suami yang baik, ia harus menjaga mood Ana harus tetap baik sepanjang waktu.
Permainan ini harus berhasil. Jika Ken mengetahuinya, akan menjadi tidak seru. Suaminya itu terlalu paranoid, jadi mungkin ia akan langsung menyingkirkan pelayan wanita itu tanpa tau siapa dalang dibalik orang itu.
"Apakah kau yakin?", Ken menatap istrinya itu dengan begitu serius. Ia masih belum yakin, karena biasanya Ana akan terus merengek tidak ingin ditinggalkan di rumah sendirian.
"Benar, aku yakin!", untuk mengalihkan fokus suaminya, Ana sengaja naik ke atas pangkuannya. Duduk nyaman di sana sambil memeluk bahu suaminya itu.
"Kau sedang menggodaku, Sayang?!", pria itu membalas perilaku istrinya itu dengan mengurungnya dengan kedua tangan. Dimana salah satunya sudah meremas pinggang istrinya itu dengan gemasnya.
Senyuman Ana yang menggoda dan menawan, tak tertahankan lagi. Ken pun segera melahap bonus sarapan paginya. Dan membuat dirinya sangat kenyang di pagi ini. Segelas kopi hangat, roti bakar, dan juga ciuman manis dari istri tercintanya.
"Baiklah, kalau begitu aku sudah siap untuk bekerja sekarang!", ucap Ken setelah melepaskan tautan bibir mereka. Matanya yang membesar, berbinar penuh dengan kepuasan. Tawa kecil lolos dari bibirnya yang sangat bergembira.
"Dasar kau ini!", Ana pun segera bangkit dari pangkuannya sambil memukul bahunya pelan.
Usahanya berhasil membuat lelakinya itu lupa bagaimana ia harus benar-benar merasa yakin untuk meninggalkan istrinya ini sendirian. Permainan ini harus berhasil, tidak boleh gagal.
__ADS_1
***
Siang telah menjelang, Ana turun dari lantai atas bermaksud untuk memulai permainannya. Ia mencari-cari keberadaan pelayan wanita itu.
Dan ini sangat pas ketika ia melihatnya sedang berada di dapur. Dengan cepat, Ana memiliki ide di kepalanya. Ia ingin tau permainan macam apa yang akan wanita itu lakukan.
"Hei, Nona!", sapa Ana dengan wajah yang tenang seperti tidak terjadi apapun.
"Eh, iya Nona!", sempat terperanjat wanita itu pun segera membalikkan badannya menghadap ke arah Ana.
"Maaf Nona, panggil saja saya Susi! Ada apa, Nona? Apa ada yang bisa saya bantu?", sungguh pelayan itu tidak pandai sama sekali dalam berakting.
Sikapnya yang terlihat gugup membuat Ana ingin sekali mengirimnya pada Krystal untuk belajar akting pada sepupunya itu. Pelayan wanita yang sedang menunduk itu tidak tau jika saat ini Ana sedang tersenyum dingin ke arahnya.
"Itu, rasanya aku ingin sekali minum jus alpukat. Bisakah kau membuatkannya untukku?", sangat ramah sikap Ana hingga pelayan wanita itu tidak menyadari kepura-puraannya.
"Ten,, tentu saja, Nona! Saya akan membuatka mengantarkannya nanti!", Ana dapat melihat jika wanita itu tersenyum penuh arti. Sepertinya permainan akan segera dimulai.
"Oh,, bagaimana jika aku menunggu di sini saja?!", Ana mencoba menguji pelayan wanita itu. Yang ia tau sebenarny apa itu jawabannya.
"Sebaiknya Nona menunggu di depan saja atau Nona mau menunggu di ruang depan saja?!", kembali tergagap rupanya wanita itu.
"Kau seperti sedang mengaturku sekarang!", dan hal ini membuat Ana tidak tahan untuk terkekeh saat itu juga. Pelayan wanita itu pun menjadi tegang wajahnya.
"Sudah-sudah! Kerjakan saja tugasmu! Kenapa wajahmu jadi tegang begitu?!", sambil meneruskan tawanya Ana menepuk bahu pelayan wanita itu lalu pergi dari sana.
"Hah! Untunglah!", akhirnya pelayan wanita itu bisa bernafas juga.
Tadi itu oksigen di sekitar dirinya seperti sangat terbatas. Sangat sedikit, sehingga dadanya sempat terasa sesak dan ia jadi kesulitan bernafas.
***
Sebenarnya Ana tidak benar-benar pergi dari sana, ia hanya berbelok saat pelayan wanita itu lengah. Lalu bersemunyi di balik dinding. Kebetulan sekali kepala pelayan kepercayaan suaminya lewat. Ia segera menarik wanita paruh baya itu.
"Non,,,,", sebelum itu Ana sudah membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Diam dan perhatikan!", bisiknya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Susi yang sedang membelah buah alpukat.