
"Kau memang anak yang tidak tau diri, Ken!", umpat Tuan Dion marah.
Wajah Ken juga sudah berubah tak kalah dinginnya. Ekspresinya kini sudah kembali kepada Ken yang seperti sebelumnya. Ken yang dingin dan keras tak terbantahkan. Tangan Ken mengepal kuat siap membela istri tercintanya mati-matian jika memang kedua orangtuanya itu tidak merestui pernikahan mereka.
plakk
Sarung tangan karet yang tadi Nyonya Rima gunakan untuk berkebun melayang ke arah kepala Ken. Pria itu tertegun begitu pun halnya dengan Sam yang masih mengawasi situasi ini di balik tubuh kokoh ayahnya.
"Harusnya kau memberitahu kami saat kau akan menikah! Apakah kau pikir kami tidak akan datang ke acara pernikahan putra kami sendiri?! Harapan orang tua adalah menyaksikan anak-anaknya menikah dan memiliki cucu-cucu yang lucu tentunya sebelum ajal menjemput mereka. Dan kau, dengan kurang ajarnya kau melangsungkan acara pernikahan tanpa sepengetahuan kami! Kau benar-benar keterlaluan, Ken!", Tuan Dion dengan tidak sabar mengucapkan kata-katanya seperti sedang mengomel kepada putranya yang masih kecil.
"Aishh, benar-benar! Membuat kepalaku pusing saja!", Tuan Dion lalu memijit pangkal alisnya yang terasa pening.
"Ken!", seru Nyonya Rima dengan mata berkaca-kaca.
"Huh! Apalagi yang harus kuhadapi?!", rintih Ken dalam hati.
Seberapa pun keras hatinya, ia tetap tidak sanggup melihat ibunya sendiri menangis. Terlebih lagi dirinya lah yang menjadi penyebab air mata berharga itu jatuh dari mata orang tercintanya. Ken sungguh tak mampu menanggung penyesalan itu. Wajah Ken berubah murung lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Bunda ingin sekali bertemu dengan menantu kami! Bisakah Bunda melihatnya?", ucap Nyonya begitu lembut pada Ken yang dengan sigapnya mengangkat kepala untuk menatap wanita paruh baya di depannya ini.
"Ap,, apa maksud Bunda?", Ken masih menerawang maksud dari ucapan ibunya itu. Tiba-tiba ia menjadi bodoh dalam mencerna kalimat seseorang.
"Bawa menantu kami ke rumah ini, Ken. Aku dan Bundamu telah sepakat sebelumnya saat menyaksikan sendiri betapa hancurnya dirimu saat kehilangan Ana waktu itu. Siapa pun nanti yang kau pilih, kami akan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu kepadamu. Kami hanya ingin kau bahagia, Ken!", Tuan Dion mengambil alih kewajiban ut untuk menjawab di saat ia melihat istrinya yang terlihat kelu tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Tapi sebelumnya kenapa Bunda masih mendorong Ken untuk bersama Joice?", tanya Ken dengan pandangan menyelisik.
"Karena kau sangat sulit dekat dengan wanita, Ken. Sampai saat ini selain Ana, hanya Joice yang dekat denganmu!", tutur Nyonya Rima tulus.
__ADS_1
"Seandainya saat itu kau kembali menolak Joice pun Bunda tak akan memaksa. Karena Bunda hanya ingin kau bahagia, sayang. Bunda begitu sedih saat itu melihat kau tak dapat bangkit karena kehilangan Ana. Hati Bunda juga ikut hancur Ken. Bunda menyadari kesalahan Bunda karena sebelumnya berperilaku buruk kepada Ana bahkan sebelum mengenalnya. Bunda pikir saat itu kau hanya bermain-main dengan wanita tidak jelas dan hanya membawanya sebagai alibi agar tidak jadi Bunda jodohkan dengan Joice. Tapi setelah melihat kau begitu kehilangan dirinya, Bunda makin menyesal karena telah merenggut kebahagiaanmu, Ken!", Nyonya Rima tidak tahan hingga akhirnya ia menangis di dalam pelukan suaminya.
"Apa pun keputusanmu, kami akan mendukungmu!", tutur Tuan Dion dengan wajah serius sambil tangannya menepuk-nepuk bahu istrinya agar tangisannya mereda.
"Jadi bisakah kau membawa menantu kami ke sini, Ken?!", Nyonya Rima melepaskan diri dari pelukan suaminya lalu memegangi kedua bahu putranya untuk memohon dengan tulus.
Ken menatap ibunya itu lekat, mencari kejujuran dan ketulusan yang amat ia butuhkan sejak lama. Mata yang semula tajam, kini berubah teduh menatap ibunya. Ken tau jika saat ini Nyonya Rima benar-benar tulus dengan apa yang ia ucapkan. Lalu ia menarik kedua tangan ibunya itu sehingga ia dapat memeluknya erat.
"Ken pasti akan membawa Ana secepatnya!", pria itu tersenyum bahagia di dalam pelukan ibunya. Matanya terpejam menikmati kasih sayang dari ibu tercintanya. Lalu matanya terbuka menatap Sam yang juga sedang tersenyum dengan wajah teduhnya.
"Terima kasih, Ken!", ucap Nyonya Rima tulus.
"Iya Bunda, terima kasih juga karena telah menerima Ana!", balas Ken lalu ia melepaskan pelukan itu. Namun ia tak melepas tatapan tajamnya pada orang di belakang ibunya itu.
"Sepertinya Ken juga harus berterima kasih kepada seseorang karena telah membongkar rahasia yang semestinya Ken sendiri yang mengatakannya. Mulutnya telah lancang membuat keputusan tanpa ijin dari Ken sendiri!", pria itu menghela ibunya supaya ia bisa berjalan mendekat ke arah adiknya dengan tatapan membunuh yang khas.
"Kalau saja Sam tidak mengatakannya tadi, kami mana tau jika kau sebenarnya sudah menikah!", ucap Tuan Dion ketus.
"Jangan ganggu adikmu!", perintah Nyonya Rima tak kalah tegasnya sambil berdiri bersisian dengan Tuan Dion. Mereka kini bagai tameng untuk Sam yang sedang meringkuk di belakang mereka saat ini.
"Aishh!", Ken memijit keningnya yang pening. Sudah begini ia mana bisa melakukan apapun kepada adiknya itu meski ia sangat kesal.
"Dasar Sam sialan!", umpat Ken dalam hatinya.
Sedangkan yang dilindungi, ia sedang tertawa penuh kemenangan. Karena jarang-jarang orang tuanya itu membela dirinya. Biasanya ayah dan ibunya selalu memarahi Sam yang selalu menjahili kakaknya itu.
"Jadi bagaimana dengan rencana kita sebelumnya? Apa kau akan tetap menikahi Joice?", tanya Nyonya Rima tiba-tiba.
__ADS_1
"Mana mungkin, Bunda!", seru Ken nyaring.
"Lalu apa yang kau lakukan sampai sejauh ini? Apa maksudmu Ken?", Tuan Dion mengernyitkan alisnya heran.
"Apa ini juga salah satu dari rencana kalian?", Nyonya Rima mencoba menerka-nerka.
"Yap, benar Bunda!", kali ini Sam telah berdiri di samping kakaknya.
"Lalu bagaimana dengan foto prewedding ini? Apa ini rencana kalian juga?", lagi Nyonya Rima mencoba mengetahui situasi saat ini.
"Nanti aku akan menjelaskannya nanti. Jadi bagaimana jika sekarang Bunda ikut aku ke sana", ucap Ken yang sejak awal memang akan membawa ibunya itu ke sesi foto prewedding dirinya dan juga Joice.
"Jangan main-main, Ken!", sebenarnya Nyonya Rima sedikit tidak setuju dengan cara yang Ken pilih. Tapi mengingat saat itu Joice sempat membahayakan nyawa putranya, Nyonya Rima tiba-tiba menggeram marah.
"Baiklah, ayo! Bunda akan ganti baju dulu!", Nyonya Rima segera berlalu ke arah dalam menuju kamarnya untuk segera mengikuti apa yang tengah direncanakan putranya itu.
"Aku ikut! Tapi bisakah aku makan siang terlebih dulu, aku sangat lapar!", seru Sam dengan wajah memelas.
"Awas kau Sam, aku belum membuat perhitungan denganmu!", ancam Ke seraya berjalan menjauh ke arah dalam rumah itu.
"Kakakmu selalu bisa membuat ayah bangga!", ucap Tuan Dion sambil menatap punggung putra sulungnya yang pergi menjauh.
"Jadi ayah tidak bangga kepada Sam?!", Sam berpura-pura memelas dengan tingkah konyolnya.
"Tentu ayah bangga padamu juga! Hanya saja kau belum membawa calon menantu ke rumah ini, jadi nilaimu masih kalah jauh dari kakakmu!", balas Tuan Dion seraya berjalan masuk ke dalam. Ia tak menunggu jawaban dari Sam, karena ia tau putra bungsunya itu akan bertingkah dengan mulutnya yang selaku aktif dalam berbicara.
"Aku juga sedang berusaha ayah!", ucap Sam kesal seraya mengikuti mereka semua masuk ke dalam rumah karena tinggal hanya dirinya yang tersisa di luar rumah.
__ADS_1