Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 289


__ADS_3

Beruntungnya ponsel istrinya itu tidak dikunci. Ada rasa senang dan puas menyelinap ke dalam hati pria itu. Dengan begitu percaya dirinya Sam menyimpulkan jika Sarah melakukan hal ini untuk dirinya. Apalagi mereka sudah menikah sekarang. Mungkin saja saat ini istrinya itu mencoba lebih terbuka padanya.


Ia membuka pesan yang masuk itu. Bajingan #1 itu nama yang tertera pada nama si pengirim. Lalu berubah kesal lagi wajah pria itu saat mengetahui nama si pengirim pesan. Siapa gerangan orang ini?! Sam ingin sekali menghajarnya.


Belum sempat membuka isi pesan itu, lalu masuk lagi satu pesan pada ponsel yang ia pegang. Bajingan #2 juga mengirimi Sarah sebuah pesan. Dan hal itu membuat Sam makin geram.


Ia memandangi wajah Sarah yang sudah terlelap dengan ekspresi yang sulit dibaca. Yang jelas kilatan tajam sedetik ada di dalam bayang matanya.


"Aku tidak akan mengampunimu, Sayang! Jika kau memang terbukti bermain di belakangku!", Sam berucap kejam.


Satu persatu ia buka isi pesan itu. Dan Sam juga sempatkan melihat isi pesan sebelumnya. Ia mengintip keseluruhan isi percakapan antara istrinya itu dengan dua orang tersebut.


Wajah yang semula mengeras, sangat marah. Kini berubah merah lantaran ia berusaha keras untuk menahan tawa. Bajingan #1 yang dimaksud adalah Ana, kakak iparnya. Dan Bajingan #2 adalah Krystal tentunya. Tak ada satu orang mencurigakan pun yang ia maksud.


Yang ingin membuatnya tertawa bukan tentang siapa sebenarnya orang-orang yang mengirimi Sarah pesan. Tapi apa pesan yang terdapat di dalamnya. Isi percakapan mereka yang ingin membuat pria itu terpingkal.


Jadi Sarah mengirimi kedua orang itu foto isi kopernya, dimana di sana banyak sekali gaun malam yang seksi dan transparan. Di bawah foto itu ada makian yang Sarah tujukan pada kedua sahabatnya itu. Sam jadi mengerti situasinya.


Apa yang Sarah pakai dan juga isi koper itu memang bukan gaya istrinya sama sekali. Karena Sarah yang ia tau suka sekali mengenakan kaos oblong kebesaran dan juga hotpants untuk mengiringi tidurnya. Jadi Sam berpikir jika saat ini Sarah paling bagus akan mengenakan piyama dengan celana.


Lalu ada sebuah pesan yang membuat Sam terus mengembangkan senyumnya. Itu pesan terakhir yang istrinya itu kirim pada keduanya.

__ADS_1


Aku sangat gugup saat ini!


Dan kedua sahabatnya itu membahas dengan kalimat yang sama, entah mereka janjian atau tidak.


Semangat, Sarah!


Yang ia tidak habis pikir adalah, apakah semua wanita akan mengeluhkan hal ini juga kepada sahabat mereka. Apakah setiap hal harus dibicarakan termasuk hal semacam ini?! Sam menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.


Setelah menyingkirkan ponsel istrinya itu, Sam membenarkan posisi Sarah. Membaringkan tubuh wanita itu ke posisi nyamannya, sehingga Sarah mengerang, meregangkan otot tangan dan punggungnya yang terasa kaku di tengah lelapnya. Lalu kembali diam setelah cocok dengan kenyamanan yang dia temukan.


Seulas senyum teduh hadir pada bibir pria itu. Sam merasa seperti dejavu karena pernah mengalami hal seperti ini juga sebelumnya. Ia mengingat saat pertama kali membawa Sarah ke apartemennya. Dan membiarkan wanita itu tidur di ranjangnya, sedangkan ia sendiri tidur di sofa. Meskipun pada saat itu entah bagaimana ia tidka tau karena pada pagi harinya ia sudah berada di atas satu ranjang yang sama dengan Sarah.


Rasanya sangat berbeda sekali dengan saat ini. Karena saat itu ada perasaan was-was dan yang lebih parahnya banyak pukulan yang ia terima setelah wanita itu membuka matanya.


Sam membelai wajah damai istrinya itu dengan punggungn tangannya dengan tatapan penuh kasih sayang dan cinta.


"Baiklah! Aku akan melepaskanmu malam ini! Sepertinya kau sangat lelah! Maaf telah membuatmu menunggu lama! Selamat malam, Istriku!", Sam mengecup kening Sarah pertama.


Lalu ia turunkan bibirnya dan singgah untuk mengecup ujung hidungnya. Lalu turun lagi, ia kecup bibir ceri yang segar itu. Sepertinya tak cukup jika hanya menyapukan bibirnya di sana. Jadi untuk beberapa saat, Sam menikmati bibir Sarah dengan egois. Tak apa istrinya itu tidak membalasnya, karena Sam hanya ingin menikmati makanan penutupnya sebelum tidur.


Dan ternyata ia belum merasa cukup juga, jadilah ciuman Sam itu berlanjut ke daerah leher. Pria itu mengecupi sekitar leher dan tulang selangka milik Sarah. Menghirup aroma wangi istrinya itu dalam-dalam.

__ADS_1


Lalu sebuah tangan meremas sprei di belakang tubuh Sam yang sedang menuduk ke arahnya. Itu Sarah yang sedang berjuang keras menahan geli dan senyar yang kini mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.


Sarah sebenarnya tidak benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura tidur karena panik. Ia bingung harus bagaimana menghadapi Sam setelah keluar dari kamar mandi. Bagaimana mereka harus melewati malam ini?! Sarah tidak mengerti, jadilah ia spontan melakukan hal ini. Meskipun ada rasa bersalah karena telah membohongi suaminya itu.


Setelah memberikan sebuah tanda merah di leher wanita itu, Sam pun menghentikan kegiatannya. Benar-benar untuk yang terakhir kalinya, Sam mencium bibir istrinya itu.


"Selamat malam, Sayang! Maaf, tapi dengan begini nasib kita akan terselamatkan besok pagi!", Sam berbisik di atas wajah Sarah. Ia berbicara mengenai tanda kepemilikan yang baru saja ia buat.


Pria itu sangat tau mulut orang-orang yang akan mempertanyakan apa saja yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Jadi demi menyelamatkan nama mereka berdua juga untuk membungkam mulut-mulut itu, Sam harus melakukan hal ini.


Pria itu mengangsur dirinya berbaring di sebelah Sarah, lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekapnya di dada, seakan-akan dia tidak ingin kehilangannya. Kemudian memutuskan untuk menyusul istrinya itu yang sudah menuju alam mimpi terlebih dahulu.


Sarah yang sebenarnya belum tidur itu pun merasakan sesak karenan pelukan Sam yang terlalu erat. Ingin melonggarkan tangan pria itu, tapi tangan Sam terasa sekeras batu. Jadi ia hanya bisa bersabar sambil menikmati dada bidang telanjang yang kini berada di depan matanya.


Sarah jadi merasa bersalah karena tidak dapat menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Lalu mendengar penuturan Sam yang terakhir, membuat rasa bersalah itu semakin membesar.


Benar apa yang suaminya itu katakan. Masalah malam pengantin ini bukan hanya tentang mereka berdua. Tapi ada mulut orang-orang yang harus mereka bungkam.


Namun menyadari betapa mengertinya Sam untuk tidak memaksakan kehendaknya, Sarah sangat senang. Ia jadi merasa Sam benar-benar tulus mencintainya. Dan merasa dicintai seperti ini membuatnya sangat bahagia. Ia berjanji, setelah ini ia siap melaksanakan kewajiban yang memang sudah seharusnya. Ia tidak akan membuat suaminya itu kecewa atau pun menunggu lama.


Setelah merasa pelukan itu mengendur, Sarah pun melepaskan kekangan Sam pada dirinya. Suaminya itu sudah terlelap rupanya. Lalu Sarah beranikan diri untuk mencium bibir suaminya itu.

__ADS_1


"Selamat malam, Suamiku!", sambil tersenyum malu-malu Sarah kembali ke posisinya.


Kini giliran Sarah yang memeluk suaminya itu dengan begitu erat. Sambil mencari kenyamanan pada dada bidang suaminya itu, Sarah pun memejamkan matanya seraya tersenyum bahagia.


__ADS_2