Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 77


__ADS_3

"Krystal?", Ken mengerutkan keningnya.


"Ya Krystal begitu terobsesi denganmu, Ken. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Ia selalu iri padaku. Jika ia mengetahui bahwa kau sudah menikah denganku, maka entah permintaan apa yang akan ia ajukan pada ayahnya untuk menyingkirkan aku", Ana memberi jeda supaya Ken bisa mencerna ucapannya dengan jelas.


"Itu baru Krystal. Bagaimana dengan Joice? Bahkan kau tau sendiri bundamu sangat menyukainya, bukan?! Aku bisa melihat dari matanya bahwa dia juga sangat menginginkan dirimu, Ken. Joice juga berasal dari keluarga berpengaruh yang cukup memiliki kekuatan untuknya menyingkirkan aku yang hanya seorang diri ini", Ana mengakhiri ucapannya dengan suara yang melemah.


"Ken, aku memiliki alasan untuk setiap permintaan ku ini. Aku harap kau dapat menghormati keinginan ku. Bukan berarti aku tidak mencintaimu, Ken. Aku sangat mencintaimu, sangat Ken. Hingga rasanya sesak jika aku harus kehilanganmu juga", Ana menangkup wajah Ken dengan kedua tangannya. Matanya telah dipenuhi air mata yang siap terjun dengan sendirinya.


"Tapi nanti, jika saatnya sudah tepat. Jika aku sudah pantas berada di sampingmu. Jika sudah tidak ada lagi wanita yang mampu menyaingi ku. Maka, aku sendiri yang akan mengumumkan pernikahan kita", ucapan Ana sungguh tulus. Ia luapkan dari lubuk hatinya yang terdalam. Air matanya sudah mengalir tanpa izin darinya.


Kobaran amarah di dalam mata Ken, kini perlahan menghilang. Ia menatap sendu kedua bola mata Ana. Ia memberi kening wanitanya sebuah kecupan yang sangat dalam. Ken menarik kepalanya untuk memastikan ekspresi Ana saat ini. Dan melihat mata Ana yang masih terpejam dengan wajah yang basah, ia mengecup kedua kelopak mata wanitanya itu.


"Cukup! Berhenti menangis! Baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu. Tapi kau harus berjanji, jangan menangis lagi. Kau harus kuat, seperti yang biasa kau tunjukan padaku. Dan,, pada Sam tentunya yang selalu kau habisi!", Ken mengakhiri kalimatnya dengan gurauan untuk melihat wanitanya tersenyum.


Ana akhirnya tersenyum di tengah tangisnya. Ia menyeka air matanya dan mengusap wajahnya yang basah. Kemudian ia memukul ringan bahu Ken, namun senyumnya masih terkembang.


"Janji?!", pinta Ken lembut namun menyatakan sebuah tuntutan agar Ana benar-benar berhenti untuk bersedih lagi.


"Emmh,, emmh", Ana menganggukkan kepalanya pasti. Ken pun kembali mengecup pucuk kepala Ana dalam-dalam. Mereka melupakan seseorang di sana masih menjadi penonton bagi mereka.


"Kalian bisa menyewa hotel atau pulang mungkin, jika masih ingin meneruskannya", sindir Tuan Reymond seraya berjalan ke arah sofa lagi.


"Ide yang bagus, paman!", ucap Ken sambil menyeringai.


"Ken!!", tegur Ana yang sudah membulatkan matanya. Ia melepaskan dirinya dari dekapan Ken dan melangkah menuju Tuan Reymond.


Tentu saja Ken mengikutinya dengan senyum yang terkembang sangat lebar. Ia mendudukan dirinya di tempat semula, di sebelah Tuan Reymond.


"Baiklah, jadi kembali ke masalah perusahaan. Bagaimana kita akan menyikapinya?", tanya Tuan Reymond dengan wajah serius.


"Aku serahkan semua urusan perusahaan padamu, Ken. Aku belum pernah menjalankan perusahaan itu sedikit pun", ucap Ana dengan beberapa keraguan.


"Ana, justru ini adalah saatnya dirimu untuk belajar", ucap Tuan Reymond.

__ADS_1


"Bukankah kau mengatakan ingin menjadi pantas untuk berada di samping Ken. Maka tunjukkan lah pada mereka, putriku. Tunjukkan pada semua orang bahwa hanya kau yang pantas untuk bocah ini", tambahnya sambil menepuk-nepuk bahu Ken lagi.


"Paman, mengapa kau kuat sekali!", ucap Ken dengan suara berat karena menahan batuk akibat tepukan kuat dari Tuan Reymond.


"Aku tau kau itu cerdas. Itu pula yang menyebabkan ayahmu menyembunyikan dirimu, bukan!", tambah Tuan Reymond disela kegiatannya yang sedang menertawakan Ken. Ia begitu puas bisa memperlakukan pria yang sangat disegani orang itu dengan seenaknya.


Ana nampak berpikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan Tuan Reymond. Jika Ana ingin mencapai tujuannya, maka memang inilah permulaan yang bagus. Ia bisa mulai belajar secepatnya.


"Baiklah, aku setuju! Tapi aku juga butuh waktu beberapa hari untuk mempelajari perusahaan itu", ucap Ana memberi keputusan akhirnya.


"Oke, kalau begitu aku bisa membantumu", seru Tuan Reymond dengan begitu semangat.


Mereka bertiga menghembuskan nafasnya lega secara bersamaan. Wajah serius-serius itu berubah menjadi ceria. Mereka tertawa bersama. Seperti ada sebuah kelegaan kecil dalam hati mereka. Satu persatu masalah mulai terurai solusinya.


"Baiklah, aku punya rencana!", seru Ken dengan penuh semangat. Bibirnya tersenyum namun sorot matanya begitu tajam.


FLASHBACK OFF


***


Mari kita lupakan penampilan mereka dan fokus pada tujuan mereka berdua datang ke rumah sakit ini. Ken dan Han memasuki lift bersamaan. Namun setelahnya Han berpamitan pada Ken untuk keluar lift di lantai tiga. Tentu saja ia ingin segera menjenguk calon istrinya yang masih terbaring di sana. Dan tujuan utama Ken tentunya adalah untuk menemui Ana yang sudah sangat ia rindukan.


Ken keluar lift dan langsung membawa langkahnya menuju kamar rawat Tuan Danu. Ia membuka pintu setelah seseorang di dalam mempersilahkannya masuk.


"Ken!", Ana menghambur ke arahnya.


"Apa kau begitu merindukanku?", tanya Ken yang kemudian membalas pelukan Ana.


"Jadi kau tidak? Baiklah, pergi saja sana!", Ana akan berpaling darinya sambil mengerucutkan bibirnya yang terlihat imut itu.


Ken menarik lengan Ana dan mendekapnya lagi sambil menyunggingkan senyum puasnya. Ia sangat suka melihat ekspresi Ana yang begitu menggemaskan ini.


"Tentu saja aku sangat merindukanmu, sayang!", ucapnya lembut dan menghadiahi kening Ana dengan beberapa kecupan.

__ADS_1


"Aku sangat lelah hari ini!", ucap Ken memasang wajah memelas.


"Benarkah?! Kalau begitu ayo duduk dulu. Aku akan memijatmu, mungkin akan meredakan rasa lelah mu", ucap Ana sambil mendongakkan kepalanya.


Ken melipat mulutnya agar tertutup rapat. Ia berusaha keras menahan tawanya. Ia benar-benar gemas melihat Ana yang hingga sampai saat ini masih saja bisa dijahili oleh dirinya.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Kau pasti sedang mengerjai diriku lagi kan?!", Ana sudah memundurkan langkahnya untuk menatap wajah Ken dengan jelas. Ia sudah berkacak pinggang memasang wajah garangnya.


"Tidak sayang!", ucapnya dibuat selembut mungkin. Ia menarik pinggang Ana dengan satu tangannya agar mereka tak berjarak.


"Aku memang benar-benar lelah. Lelah memarahi jam tanganku yang bergerak sangat lama. Dia tidak paham juga bahwa aku sangat merindukanmu, seharusnya dia bergerak lebih cepat, kan!", ucap Ken diakhiri dengan senyuman polosnya.


"Uugh, kau ini! Selalu saja bisa mengerjai aku ya!", Ana mencubit gemas pinggang Ken.


"Ampun Nyonya, ampun! Baiklah aku berjanji tidak akan jahil lagi!", ucap Ken menahan nyeri yang pinggangnya sedang diberi hukuman oleh singa betinanya.


"Ampun, Nyonya!", lagi Ken mencoba melepas tangan Ana dari pinggangnya.


"Benar kau berjanji!", ucap Ana tegas tanpa melepas cubitannya.


"Benar, kau bisa memegang kata-kataku!", ucap Ken serius. Ana pun melepaskan tangan dari sana.


"Haahh!", Ken mengusap-usap pinggangnya yang nyeri.


"Kau sudah siap untuk besok, sayang?", tanyanya lagi sambil mengusap-usap lembut kepala Ana.


Mereka kini duduk di sofa dengan Ana yang bersandar pada lengan Ken. Ia menyuapi Ken beberapa potong buah apel yang baru saja dikupasnya. Dan Ken, sembari mengunyah potongan apel yang Ana berikan, ia menghirup aroma manis dari rambut Ana dalam-dalam. Menikmati harumnya yang sangat ia rindukan.


"Ken!", Ana menghentikan aktifitasnya dan menatap ke arah Ken.


"Emmhh", Ken enggan menjawab. Saat ini ia merasa sedang sangat sibuk. Sibuk menikmati aroma manis wanitanya.


"Aku gugup! Seandainya besok kau bisa ada di sampingku!", Ana kembali menyuapi Ken dengan potongan apel.

__ADS_1


"Kau pasti bisa, sayang!", Ken mengusap lembut kepala Ana.


__ADS_2