Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 243


__ADS_3

"Ken!", Ana kembali mendorong dadanya karena pria itu masih saja diam.


"Kumohon, Sayang! Aku akan melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Aku berjanji tidak akan menyakiti anak kita, oke!", Ken menangkap salah satu tangan Ana di depan dadanya. Tatapan


pria itu kini makin terlihat putus asa.


"Apa kau benar-benar tega akan menyiksa suamimu ini, Sayang?! Rasakan ini, jantungku sudah berdebar sangat cepat sekarang. Jika ini gagal, maka ini sungguh akan sangat menyiksa", pria itu memohon dengan teramat sangat. Ia tempatkan tangan Ana yang terkepal itu pada dadanya yang kini sedang berdebar hebat.


"Percayalah padaku, Sayang! Aku tidak akan menyakiti anak kita!", Ken kecup kepalan tangan Ana yang ia tangkap. Dengan tatapan merayu dan penuh harap itu, Ken akhirnya berhasil saat Ana mulai mengangguk pelan meski juga memiliki keraguan di sana.


Sesungguhnya Ana tak tau keputusannya ini benar atau tidak. Hanya saja melihat tatapan suaminya yang begitu putus asa itu, ia sungguh tidak tega. Apalagi ia juga tau bagaimana sulitnya seorang pria meredam api yang membakar tubuhnya itu. Dan alasan lainnya adalah bahwa ia juga selalu menyukai cara Ken memperlakukannya dengan penuh cinta.


"Terimakasih, Sayang!", lalu ia daratkan satu kecupan pada kening Ana sebagai pembuka untuk yang kedua kalinya ini.


Lalu mulailah semua pembukaan jatuh pada sekitar wajah Ana. Kecupan demi kecupan dari bibir suaminya yang dingin itu datang membuat Ana kini memejamkan matanya. Ken memang selalu pandai membuatnya dengan senang hati menerima sentuhan yang akan suaminya itu berikan.


Jatuhlah kecupan lembab itu pada leher dan tulang selangka milik Ana. Membuat punggung wanita itu menegang diiringi suara-suara yang membuat Ken semakin bersemangat.


Ken menepati janjinya untuk melakukannya dengan lebih lembut lagi dari pada biasanya. Menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar hingga menimbulkan nyanyian cinta yang sangat merdu dari sepasang insan manusia itu. Lantunan cinta itu memenuhi seluruh isi kamar. Hingga pelayan yang lewat menjadi malu sendiri sampai wajah mereka memerah. Ken sisipi lirik-lirik rayuan yang manja dan memabukkan. Dan itulah yang selalu disukai oleh Ana. Suaminya itu memang sangat luar biasa.


Setelah beberapa saat melodi cinta mereka telah selesai. Ken telah memberikan cintanya malam ini pada Ana. Begitu pun juga sebaliknya. Pria itu menutup semua itu dengan kecupan hangat pada kening istrinya. Keduanya tersenyum bahagia luar biasa. Meskipun saat ini paru-paru mereka sedang kekurangan oksigen di dalam sana.

__ADS_1


Nafas mereka tersengal, dada mereka masih naik-turun dengan tarikan nafas yang pendek-pendek. Ken menarik selimut sampai ke dada untuk menutupi tubuh mereka yang saat ini masih polos. Ana menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Keduanya masih berusaha menetralisir tubuh mereka yang dipenuhi peluh sisa percintaan mereka tadi.


"Kau curang, Ken!", wanita itu memiringkan tubuhnya hingga kini ia memeluk tubuh suaminya dari samping.


"Curang bagaimana?", Ken pun ikut memiringkan tubuhnya, dan mereka pun kini saling berhadapan. Tangan bebas pria itu menyingkirkan beberapa rambut yang menutupi kecantikan dari wajah istrinya itu sambil tersenyum.


"Aku kan sudah mandi tadi. Sedangkan kau belum mandi sama sekali!", tawa Ken pecah mendengar jawaban dari istrinya itu. Melihat wajah imut istrinya yang sedikit cemberut , rasanya ia ingin memakannya lagi dan lagi.


"Kalau begitu kau bisa mandi lagi, Sayang!", pria itu mengelus hidung istrinya dengan punggung jari telunjuknya yang ia tekuk ke dalam.


"Nah itu dia yang membuatku malas! Aku tadi sudah main air lama sekali. Dan lagi tubuhku sekarang lemas sekali, Ken! Kau juga pasti tau kan ini gara-gara siapa?!", Ana memainkan jari telunjuknya pada dada bidang Ken yang kini berada di hadapannya.


Wajahnya yang setengah kesal dan juga manja membuat Ken harus mengusir pikiran kotornya yang datang lagi saat ini. Pria itu menengadahkan kepalanya sambil memejamkan mata. Ia juga memijit keningnya yang sedikit pusing akibat hal ini. Jika saja Ana tidak sedang hamil sekarang, pasti ia tidak akan melepaskan istrinya ini begitu saja.


"Tidak apa-apa, Sayang! Aku tidak apa-apa!", pria itu lalu menurunkan pandangannya. Ia mencubit kecil dagu istrinya itu seraya tersenyum untuk mengusir kekhawatiran istrinya saat ini.


"Tapi tadi,,,", kekhawatiran Ana segera terputus oleh tingkah mendadak suaminya itu.


Ken buru-buru bangkit. Ia lalu membopong tubuh istrinya itu. Ia abaikan selimut putih yang jatuh terulur ke bawah ranjang.


"Malu, Ken!", Ana menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya itu.

__ADS_1


Nyatanya saat ini adalah keduanya tidak mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Ken menggendong Ana dengan tubuh yang sama polosnya menuju ke dalam kamar mandi. Meskipun tidak ada orang yang melihat mereka saat ini, tapi tetap saja ini sungguh memalukan baginya. Lemari, meja, kursi seperti sedang menguliti mereka berdua dengan tatapannya.


"Malu pada siapa, Sayang?! Mereka semua hanya benda mati!", Ken seakan mengerti isi pikiran istrinya itu saat Ana mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar.


"Kebiasaan!", Ana memukul bahu suaminya pelan diiringi dengan senyuman malu-malu.


Ken tersenyum penuh kemenangan. Suaminya ini memang selalu tidak bisa dikalahkan jika sudah berdebat untuk masalah seperti ini. Dan jadilah Ana hanya bisa pasrah saja. Toh, ia juga merasa senang dengan perlakuan manis Ken ini dimana hanya ia yang dapat merasakannya. Karena hanya dialah istrinya.


Pria itu memilih untuk segera menyiram tubuhnya dengan air dingin untuk meredam api yang siap membakar tubuhnya lagi. Ana sedang hamil muda sekarang. Jadi meskipun mereka mandi bersama sekarang tidak ada lagi melodi indah seperti tadi. Ken harus lebih bersabar demi calon anaknya nanti.


Tapi,,, jika hal itu tidak boleh dilakukan terlalu sering, maka momen mandi bersama ini tidak ia lewatkan untuk menggoda tubuh molek istrinya itu. Hingga wanita itu kesal dan berulang kali memukulnya sebagai pelampiasan. Dan hal itu tentu membuatnya semakin gencar untuk terus menggoda istri tercintanya itu.


***


Ken terlihat duduk tegap di sofa dengan celana bahan hitam panjang tanpa baju yang menutupi tubuhnya. Ia sedang membuka layar laptopnya untuk memeriksa beberapa laporan.


Sedangkan Ana, wanita itu baru saja kembali dari kamar mandi untuk meletakkan pakaian kotor milik Ken yang berserakan tadi. Ia kini mulai membereskan ranjang tempat mereka tidur nanti. Ranjang mereka terlihat berantakan dengan sprei dan bantal yang sudah berada tidak pada tempatnya.


"Kau bisa melakukan itu nanti, Sayang! Jangan terlalu lelah.Tunggu makan malam datang baru kau lanjutkan lagi membereskan itu!", pria itu menasehati istrinya itu dari sofa di seberang.


Ken tak dapat mencegah Ana dalam hal ini. Istrinya itu paling tidak suka melihat ranjang yang berantakan. Meskipun mereka sendiri yang membuat ulah dengan mengacaukan ranjang itu. Tapi setelah membersihkan diri seperti ini, Ana pasti akan langsung membereskannya. Kecuali,,, Ken tak memberikannya istirahat saat malam hari.

__ADS_1


"Sebentar, Ken! Ini tidak akan lama!", Ana menyahuti dengan tangan sibuk bergerak ke sana ke sini.


Makan malam datang, sesuai pesanan yang Ken berikan pada kepala pelayannya. Ia tak ingin membuat istrinya semakin lelah dengan keluar dari kamar dan menuruni tangga hanya untuk menikmati makan malam mereka. Apalagi ia juga telah mendengar keluhan istrinya itu tadi yang mengatakan bahwa ia sudah lelah sekali. Jadi biarlah makanan itu yang datang pada mereka malam ini.


__ADS_2