
Ken menatap keluar jendela dengan rahang yang mengeras. Han melihat aura dingin mulai menguasai sekitar ruangan itu pun tak berani ikut campur dan memilih untuk berdiam diri, menyelamatkan dirinya sendiri agar tak menjadi bahan pelampiasan amarah yang siap membuncah dari tuannya.
"Ken!", panggil Ana lembut seraya menyentuh bahu prianya. Namun lagi-lagi tangannya ditepis dengan kasar.
"Aku baru saja bertemu denganmu, tapi sekarang kau malah mendorongku kepada wanita lain. Apa yang sebenarnya kau pikirkan Ana?! Kau pikir aku adalah sebuah barang mainan atau benda yang seenaknya bisa kau perintahkan sesuka hatimu?! Aku juga memiliki hati Ana, aku berhak menentukan apa yang seharusnya aku lakukan", seru Ken tanpa melihat ke arah Ana.
"Aku benar-benar tidak tahu jalan pikiranmu, Ana!", tambahnya lagi dengan nada kecewa.
"Bisakah kau mendengarkan penjelasanku dulu, sayang!", pinta Ana dengan lembut.
"Aku tidak bermaksud mendorong mu kepada wanita lain atau semacamnya. Aku hanya ingin membalaskan dendam yang seharusnya dia terima", tambahnya lagi masih berusaha membuat Ken setuju dengan rencananya.
"Kumohon Ken, dengarkan dulu penjelasanku! Aku hanya ingin membalaskan semua dendam kepada mereka yang telah membuatku menderita dan membuat kita terpisahkan selama beberapa waktu ini. Aku ingin kau tetap terus berada di dekat Joice sehingga dia lupa dan tidak memperhatikan sekitar. Jadi aku bisa bertindak untuk membalaskan semua yang ayah derita kepada Paman Bram. Aku dan kakak sudah memiliki rencana, jadi kumohon bantulah rencana kami!", ucap Ana dengan begitu memohon karena Ken masih saja terdiam tak bergeming dari posisinya untuk menanggapi apa yang ia ucapkan sejak tadi.
Ken menghembuskan nafasnya begitu kasar, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat kemudian berbalik menghadap Ana dengan mata berkabut dan emosi yang bersungut-sungut. Tak pernah terlintas sedikitpun olehnya untuk berpaling kepada wanita lain bahkan jika itu hanya sebuah sandiwara. Tapi sekarang, saat ini Ana malah terang-terangan memerintahkannya untuk berpaling kepada wanita lain meskipun ini semuanya hanya topeng ataupun lakon yang harus dia mainkan demi misi balas dendam. Sungguh tak rela, ia sungguh tak ingin. Bahkan melirik sekilas wanita licik itu pun dia tak sudi.
"Jangan bermain api, Ana! Bagaimana jika nantinya aku malah berpaling kepada wanita itu!", ancam Ken berharap Ana dapat merubah pemikirannya.
"Heh, kalau begitu aku bisa tahu sedalam apa cintamu kepadaku. Dan aku jadi tahu bahwa cinta, kasih, semua yang kau berikan kepadaku, semuanya hanya kosong!", jawab Ana dengan tatapan meremehkan.
Ana telah dibuat kesal dengan ancaman yang Ken berikan. Pikir Ana, apa sebegitu dangkalnya pemikiran Ken saat ini, atau memang hanya sedikit perasaan yang Ken punya untuk dirinya, atau mungkin selama ini Ken hanya membual dengan perasaan cinta yang telah diucapkan berkali-kali di telinganya. Sungguh, ancaman Ken telah membuat mood Ana benar-benar rusak.
"ceklek!", suara pintu kamar terbuka.
__ADS_1
"Ken, kau sudah membaik, nak?", ucap Nyonya Rima seraya berjalan menghampiri putranya yang sudah duduk bersandar di ranjangnya.
Tadi, begitu suara pintu dibuka, Ken segera beranjak ke atas ranjangnya dan duduk rapi di sana. Seolah-olah tak terjadi sesuatu apapun antara ia dan Ana.
Nyonya Rima masuk terlebih dahulu beriringan bersama Joice. Sedangkan Ben dan Sam datang kemudian menyusul di belakang mereka. Nyonya Rima kini duduk di tepi ranjang dengan Joice di sisinya, seperti posisi mereka semula. Ben dan Sam telah berdiri bersisian tak jauh dari mereka. Dan Ana, wanita itu memilih membelakangi mereka kembali, menatap nakas dan memainkan jarinya dengan wajah kesal di sana.
"Bunda aku haus! Bisakah Bunda mengambilkan aku segelas orange jus untukku?", pinta Ken dengan tatapan penuh arti.
Ketika Nyonya Rima akan bangkit dari duduknya untuk mengambilkan segelas orange jus ke dapur, Joice menghentikan wanita paruh baya itu dengan menyentuh lengannya.
"Tidak usah tante, biar aku saja yang mengambilnya untuk Ken!", ucap Joice memasang senyum pada bibirnya.
Nyonya Rima tersenyum manis ke arah Joice lalu berucap kepada putranya,"Lihatlah Ken, Joice memang seorang wanita yang baik, dia begitu perhatian kepadamu. Dia pantas menjadi calon istrimu nanti!".
Kedua wanita itu tersenyum begitu lebar hingga menampilkan gigi putih yang berbaris di sana. Terutama Joice, wanita yang telah begitu berambisi menjadi Nyonya muda Wiratmadja, kini mimpinya, angan-angannya akan menjadi sebuah kenyataan. Ia begitu bergembira dan bersuka cita menyambut sebuah kalimat yang baru saja Ken ucapkan barusan. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ken akan dengan begitu mudahnya mengucapkan kata-kata itu, bahwa sebentar lagi dia akan menjadi nyonya muda keluarga ini dan impiannya untuk menguasai semua yang mereka miliki akan menjadi nyata dalam waktu dekat. Wajahnya begitu sumringah membayangkan masa depan cerah nya kelak.
Sedangkan satu orang di dalam sana tiba-tiba membalikkan badannya, lalu menatap sebuah objek dengan amat tajam. Ana memandang lurus ke arah Ken dengan pisau tak kasat mata. Begitu pula dengan Ken, ia melakukan hal sebaliknya terhadap Ana. Kedua insan itu berperang dengan tatapan mata mereka masing-masing.
Tadi, pria itu begitu keras kepala menolak apa yang Ana pikir benar dengan rencana mereka. Tapi kini, tiba-tiba Ken menyuarakan bahwa dirinya setuju dengan menjadikan Joice calon istrinya. Ana makin tak mengerti apa yang sebenarnya Ken pikirkan. Jika saja tadi begitu Ana mengatakan rencananya lalu Ken setuju, mungkin ia akan merasa sedikit tenang. Tapi saat ini, Ken telah menolak rencananya mentah-mentah, lalu dengan sengaja mengatakan "iya" yang entah dengan tujuan apa.
Sebagai seorang wanita, Ana tak menampik rasa khawatir dan cemburu saat melihat prianya harus bersama dengan wanita lain. Apalagi wanita itu adalah wanita licik yang telah mengusik hidupnya. Ia tak rela, sungguh tak rela walau seujung kuku pun prianya disentuh oleh wanita lain. Tapi mau bagaimana lagi jika memang ini demi melancarkan aksi balas dendamnya. Lalu saat Ken tiba-tiba berbeda dengan apa yang diucapkannya, Ana makin menjadi merasa khawatir tentang hubungan mereka kelak.
"Kau dengar, sayang! Putra ku telah menyetujui dirimu untuk menjadi calon istrinya. Aku akan sangat senang mempunyai calon menantu seperti dirimu, sayang", ucap Nyonya begitu senang sambil menggoyang-goyangkan lengan Joice.
__ADS_1
Joice, wanita licik itu sejenak mengeluarkan seringainya lalu kemudian ia memasang topeng palsunya dengan tersenyum manis dan polos. Hal itu tak luput dari pandangan mata Ben. Pria eksentrik itu memandang jijik ke arah Joice. Saat ini ia sedang menahan gejolak yang begitu besar untuk segera menghabisi wanita itu sekarang juga. Namun ia harus menekan perasaan itu kuat-kuat karena dia dan Ana sudah memiliki rencana yang lebih mengerikan.
"Saya permisi!", Ana bergumam pelan mengatakan permohonan izinnya yang entah ia tujukan kepada siapa.
Ia tak sanggup menahan amarahnya saat ini. Ditambah lagi dengan ucapan-ucapan manis Nyonya Rima terhadap Joice. Ana begitu muak mendengarnya. Ia lebih memilih keluar dari sana dengan wajah kusut. Dan tentu saja tak ada yang menggubris ucapannya, karena saat ini ia sedang berperan sebagai tokoh yang tidak penting untuk dihiraukan.
Sam dan Han melihat mimik wajah Ana yang sudah tak bersahabat. Sam akan melangkah menyusul kakak iparnya itu. Namun Han mencegahnya dengan menahan tangannya. Han menggeleng pelan, ia yang sedari tadi ada di sana tentu yang paling tau kondisi Ana saat ini. Menurutnya nonanya itu butuh waktu untuk menenangkan diri saat ini. Sedangkan Ken, ia hanya melirik mengikuti gerakan Ana hingga menghilang di balik pintu. Ken berusaha untuk bersikap tenang, meskipun dalam hatinya tengah bergemuruh saat ini.
***
Ana memilih untuk duduk di ruang tamu dimana ia pertama datang ke rumah ini. Ia mencoba menenangkan dirinya sejenak sebelum kembali ke dalam kamar yang menyesakkan itu.
Ekor matanya menangkap sebuah bingkai dengan foto yang membuatnya mau tak mau akhirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Di sudut sofa, di atas nakas, terdapat foto dirinya terpajang di sana. Fotonya saat sedang tidur di pinggir danau malam itu. Harusnya ada Sarah di sebelahnya, namun mungkin Ken telah memotongnya hingga hanya ada Ana di sana.
Senyum Ana tak lepas dari bibirnya. Moodnya mulai membaik. Ia amat senang karena bahkan di rumah besar milik prianya ini, masih ada jejak cinta untuknya. Bahkan ketika mungkin Ken mendapati kabat bahwa dirinya telah tiada, Ana mencoba meyakini dirinya bahwa Ken memang sangatlah mencintainya. Namun hal itu tidak sepenuhnya membuat rasa kesalnya mereda terhadap Ken. Tapi, paling tidak Ana sudah bisa sedikit menenangkan dirinya saat ini. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan. Kini Ana telah siap masuk lagi ke dalam permulaan perangnya.
Ana berjalan santai ke arah anak tangga sambil membenarkan posisi kacamatanya. Bertepatan dengan itu pula terlihat Joice menuju arah yang sama. Ana melihat betapa riangnya wajah wanita licik itu. Seberkas ide tiba-tiba muncul di kepalanya.
Ana memperlambat langkahnya supaya Joice lebih dulu menaiki anak tangga. Ketika Joice baru saja menginjak beberapa anak tangga, Ana berpura-pura seakan kakinya terselip sehingga tangannya sedikit mendorong tubuh Joice ke depan.
Kaki Joice masih bisa menyeimbangkan tubuhnya tapi tangannya tak mampu menyimbangkan apa yang ia bawa. Gelas itu tidak terjatuh tapi isinya sedikit tumpah dan mengenai pakaiannya. Dress yang Joice pakai nampak kotor di bagian depan.
"Uuppss,, maaf Nona aku tidak sengaja!", ucapan Ana berpura-pura bodoh dan ekspresi sungkan.
__ADS_1