Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 261


__ADS_3

"Istrimu sedang kami bawa ke rumah sakit sekarang! Saat aku baru saja datang untuk membawakan oleh-oleh untuknya, tiba-tiba saja aku mendengar Ibumu berteriak. Dan saat aku masuk ke dalam, Ana sudah pingsan dengan darah yang keluar dari tubuh bagian bawahnya. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Belum ada yang bisa ditanyai karena Ibumu sendiri kini masih terlalu syok. Yang jelas saat ini kami sedang berusaha secepat mungkin untuk sampai di rumah sakit. Dan sudah ada Ayahmu juga bersama dengan kami!", sekarang suara Louis sudah berubah panik.


Ken juga mendengar Ibunya sedang menangis sambil memanggil-manggil nama istrinya itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera ke sana!", wajah Ken sudah berubah gelap.


Jelas ini adalah sebuah konspirasi. Seseorang tengah mengusik keluarga mereka saat ini. Tapi siapa?! Belum ada satu nama pun yang muncul di dalam otaknya saat ini.


"Baiklah, kami akan menunggu!".


"Ah,,, Louis!", Ken menghentikan Louis yang ingin menutup sambungan telepon itu. Ia rasa pria itu berhak tau kondisi terkini kekasihnya itu.


"Sarah dan Krystal menghilang. Untuk lebih jelasnya kau bisa bertanya kepada Sam nanti", mulut Ken agak berat untuk mengatakan kenyataan itu. Tapi bagaimana pun juga Louis berhak tau keadaan ini.


"Krystal?!", rahang Louis sempat jatuh setelah mendengar kabar ini.


Kenapa masalahnya jadi rumit begini?! Sebenarnya apa yang terjadi?! Baiklah, bagaimana pun juga saat ini ia sedang membawa seorang pasien. Pikirannya harus tetap tenang agar aman membawa Ana sampai tujuan nanti. Lalu biarkanlah otaknya berpikir sendiri.


"Ini rumit! Kita harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini!", ucap Louis tegas, tajam dengan sorot mata yang berbeda dari dia yang biasanya sangat ramah.


"Ya, sepertinya memang begitu!", Ken setuju. Karena ia pikir sepertinya Louis memiliki pemahaman yang sama dengan dirinya bahwa ini adalah satu dalang yang sama.


Sambungan telepon itu pun terputus.


Di saat Ken tengah menerima telepon, Sam sudah bergerak untuk menghubungi Manajer Toni. Ia sudah memerintahkan orang itu untuk datang ke ruangan dimana dirinya berada. Dan Sam juga sudah membangunkan semua pengawalnya yang tadi masih tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ada empat pengawal yang berjaga di luar pintu. Keempatnya mengaku tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang yang menggunakan maker hitam. Mereka dilumpuhkan dengan jarum suntik yang membuat keempat orang itu segera tidak sadarkan diri.


Lalu yang di dalam ada empat orang pula dengan tugas menjaga Sarah dan Krystal dari dekat. Seusai dugaan, mereka semua tidak sadarkan diri setelah menghirup asap beracun itu. Lalu mereka tidak tau sama sekali kemana nona mereka dibawa pergi.


Baru sampai di situ informasi yang ia dapatkan, Ken sudah berbalik ke arahnya dengan wajah suram. Sam berpikir pasti itu bukan kabar baik yang didapatkan kakaknya itu.


"Ana mengalamai kecelakaan. Entah apa yang terjadi! Yang jelas Louis mengatakan Ana mengeluarkan banyak darah!", tubuh Ken mulai lemas saat membayangkan kemungkinan besar apa yang terjadi dengan hal itu.


TIba-tiba saja longsor ke depan begitu saja. Beruntung masih ada Sam yang menangkapnya. Sejenak Ken menyandarkan dagunya pada bahu adiknya itu. Ia butuh tenang sesaat sebelum bangkit dari keterkejutannya.


"Pergilah, Kak! Kakak ipar membutuhkanmu. Aku bisa menangani ini semua sendiri!", dengan perasaan iba dan empati yang mendalam, Sam menepuk punggung kakaknya itu.


Ia tidak pernah melihat Ken selemah ini. Kakaknya selalu menjadi raja singa yang agung, kuat dan tak terkalahkan. Lalu hatinya jadi merasa perih melihat kakaknya jadi seperti ini.


"Siapa juga yang akan berlama-lama denganmu di sini?!", sempat-sempatnya Ken tersenyum sambil menjauhkan tubuhnya dari Sam.


Pria itu mengubah ekspresinya menjadi sangat dingin dan kejam. Bahkan tangannya terkepal kuat hingga kukunya hampir menembus kulit. Ken tak akan mengampuni siapa pun yang berani mengusik keluarganya. Dan bahkan jika terjadi apa-apa pada calon anaknya itu, lihat saja nanti bagaimanan raja singa ini akan murka!


***


Tak lama setelah kepergian Ken, Manajer Toni pun datang. Tidak basa-basi lagi, Sam segera memberondong orang itu dengan banyaknya pertanyaan. Tapi memang jujur, jika Manajer Toni benar-benar tidak tau dengan apa yang terjadi tadi. Itu di luar kendalinya.


Setelah menilai kejujuran yang pria itu miliki, akhirnya Sam memilih untuk mempercayainya. Lalu mereka pun memilih untuk pergi ke ruang kontrol, untuk melihat rekaman cctv dimana kejadian itu terjadi. Tapi sebelum itu, ia memerintahkan salah satu pengawalnya untuk menginterogasi pria yang sebelumnya bekerja sama dengan Megan Aira, setelah pria itu sadar tentunya.


"Tu,,, tuan!", suara serak itu terdengar dari arah sofa.

__ADS_1


Itu adalah Sissy yang baru saja tersadar. Ternyata saat pingsan, posisi tubuhnya yang tidur menyamping pun tidak bertahan lama. Hingga akhirnya ia terjatuh ke lantai. Dan hal itu membuatnya sedikit pulih kesadarannya.


"Siapa dia?!", tanya Sam pada Manajer Toni dimana mereka saat ini sudah berada di ambang pintu. Keduanya harus menoleh ketika mendengar suara seorang wanita memanggil.


"Dia pelayan yang bersama dengan Megan Aira tadi", jawab Manajer Toni tidak menutup-nutupi.


"Saya,, saya tidak membantu Megan Aira! Saya bersumpah! Awalnya memang iya karena saya tidak mengenali wajah wanita itu dengan cermat. Tapi setelah mengetahuinya, saya berusaha menahan mereka agar mereka tidak kabur dari tempat ini!", Sissy mencoba membela diri. Ia sangat berharap jika ucapannya dapat dipercaya. Karena kali ini ia sedang berusaha untuk berkata jujur apa adanya.


"Bagaimana kami bisa mempercayaimu?! Bisa saja kan kau hanya mengarang cerita", Sam melayangkan tatapan tajam yang menyelidik.


"Terserah kalian mau percaya atau tidak! Kali ini aku sedang berkata jujur. Tidak,,, tidak,,, bukan ini poin pentingnya aku memanggil Tuan", Sissy menyadarkan lagi dirinya tentang apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan pada tuan-tuan itu.


"Tadi aku mendengar seseorang sedang berusaha membalaskan dendamnya pada keluarga kalian karena dulu kalian telah berani menghancurkan hidup putri bos mereka", Sissy mengungkapkan apa yang didengarnya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran lagi.


"Apa mereka menyebutkan nama seseorang atau inisial tertentu?", Sam berubah antusias saat mendengar pengakuan Sissy barusan.


"Tidak, aku tidak mendengar mereka menyebutkan nama siapa pun karena setelah itu pun aku kembali pingsan", pria itu percaya bahwa pelayan wanita itu sedang tidak berbohong saat ini.


Tapi,, di saat-saat genting seperti ini, ia tak dapat mempercayai siapa pun dengan mudah. Jadi ia tetap membiarkan Sissy di sana dalam kondisi terikat yang sama. Biarlah ia memerintahkan pengawalnya untuk menginterogasi wanita itu sendiri.


"Aku ingin melihat rekaman cctv seluruh gedung ini!", Sam tak ingin membuang waktu lagi. Ia lalu mengajak Manajer Toni untuk segera menuju ruang kontrol dimana banyak sekali layar yang menunjukkan rekaman cctv di seluruh area gedung club malam tersebut.


"Baik! Mari, Tuan!", tangan Manajer Toni menghela. Mempersilahkan Sam berjalan lebih dulu dengan santun.


Di setiap langkahnya, Sam nampak berpikir keras. Siapa sebenarnya yang telah berani bermain-main dengan keluarganya. Karena selama ini tak ada satupun orang yang berani mengusik keluarganya.

__ADS_1


Sepertinya orang ini benar-benar memiliki banyak nyawa sehingga berani melawan Keluarga Wiratmadja. Mata Sam menyipit, merobek udara yang mengganggu langkah kakinya untuk segera mendapatkan petunjuk tentang keberadaan calon istrinya dan beserta sahabatnya itu.


__ADS_2