Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 59


__ADS_3

Hingga terdengar suara langkah kaki mendekat. Ketiga orang itu berdiri menegang, mereka mulai waspada pada siapa seseorang yang datang ini.


***


"Sshht!", Sam menempelkan telunjuknya pada bibir sambil berdesis yang menyatakan bahwa orang-orang itu harus diam. Sedangkan Ken, ia berjalan lurus ke depan menatap Ana dan Sarah yang sudah terlelap.


Ia memberi isyarat dengan matanya pada Sam supaya ia mengurus Sarah dan Ken akan mengurus Ana. Mereka membagi tugasnya dengan sigap.


Sam membawa Sarah pulang dengan mobil Ken. Sedangkan Ken menggantikan posisi Sarah, duduk di sebelah Ana dan menyanggah kepala Ana dengan bahunya.


Setengah sadar Ana menghirup aroma khas pria yang familiar di hidungnya. Hawa tubuh Ken yang hangat membuat Ana semakin nyaman untuk menempel padanya. Ana merangkul lengan Ken dan mendesakkan kepalanya mencari kenyamanan pada sandarannya. Ia tersenyum di tengah lelapnya.


Ken memperhatikan gerakan Ana dengan senyum damai. Ia mengusap pipi Ana lembut. Ken membiarkan Ana kembali terlelap hingga ia pun memejamkan matanya yang juga menyandarkan kepalanya pada pucuk kepala Ana.


Ketiga pria kekar masih mengawasi nonanya dari kejauhan. Salah satu diantaranya mengabadikan moment itu untuk menjadi bahan laporan kepada Tuan besarnya.


***


Dan dari ruang baca kediaman Ana, Tuan Danu mendapatkan sebuah pesan masuk yang berisi gambar putrinya dan juga Ken tengah terlelap bersama di pinggir danau.


Tuan Danu tersenyum sendu menatap foto yang dikirimkan salah satu bodyguard Ana. Ia mengusap wajah Ana pada foto itu. Matanya memerah dan menitikkan air mata yang jatuh tepat pada wajah putrinya.


"Semoga kau terus bahagia, putriku!", ucapnya lembut.


***


Sam mengendarai mobil Ken menuju apartment nya. Ia ragu untuk mengantar Sarah yang masih terlelap itu ke rumahnya yang tentu saja Sam sudah mengetahuinya.


Beberapa kali Sam memperhatikan Sarah yang terlelap di kursi sebelahnya. Ia melihat cap tangan bundanya masih nampak samar di pipinya.


"Begitu kuatkah bunda menamparmu?! Maaf aku membawamu masuk ke dalam situasi seperti ini", ucap Sam dalam hati.


Kemudian ia mengusap lembut pipi Sarah yang masih menyisakan bekas tamparan.


"Maaf!", ucapnya lembut pada wanita yang tengah tertidur.


Kemudian ia meneruskan kegiatan menyetirnya sambil menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong, pikirannya terbang ke sana kemari. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Sarah. Ia yang sering sekali berganti wanita cantik, tiba-tiba jatuh pada seorang wanita biasa. Ia yang tak percaya bahwa masih ada wanita yang tidak memandang pria berdasarkan harta dan kasta, kini harus menelan ludahnya sendiri.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tiba-tiba ponsel Ken bergetar, tertera nama Paman Danu yang memanggilnya.


"Ya, Paman", jawab Ken setelah menempelkan ponselnya pada telinga. Satu tangannya ia gunakan untuk merangkul pundak Ana yang masih terlelap.


"Ken, tolong jaga putriku. Aku akan keluar kota selama tiga hari. Dan akan berangkat pukul empat nanti. Kau harus memastikan bahwa tak akan terjadi sesuatu apa pun padanya", perintah Tuan Danu yang bernada ancaman.

__ADS_1


"Kau terdengar lebih seperti mengancamku, paman!", ujar Ken sambil terkekeh kecil.


"Hey, aku serius pemuda!", Tuan Danu memastikan kembali kalimatnya dengan nada serius namun tanpa Ken ketahui di seberang sana ia sedang menahan senyumnya.


"Ya, tenang saja paman! Aku pasti akan menjaga tuan putrimu", ucap Ken.


"Baiklah, aku tenang kalau begitu", ucap Tuan Danu terdengar merasa lega dari seberang saluran.


"Jaga diri paman di sana", ucap Ken kemudian.


"Tenang saja, Ken! Baiklah aku tutup", pembicaraan mereka pun selesai.


Ken memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia membelitkan selimut itu ke tubuh Ana, kemudian ia menggendong Ana dan membawanya ke arah mobil yang tadi Ana tumpangi. Salah satu bodyguard berinisiatif membukakan pintu mobil untuknya.


"Ke rumah tuanmu!", perintah Ken singkat yang diikuti dengan anggukan mereka.


Kedua mobil itu pun pergi meninggalkan keheningan di sekitar danau.


***


Setelah sampai, Tuan Danu terlihat sudah berdiri di teras rumahnya siap menyambut kedatangan mereka. Mobil pun berhenti tepat di hadapannya.


Si supir membukakan pintu untuk Ken yang masih mendekap Ana. Ana tertidur sangat lelap yang tanpa ia sadari ia sudah berpindah tempat ke sana-sini.


Ken keluar dari mobil masih dengan Ana dalam gendongannya. Ia tersenyum simpul sambil melirik ke arah Ana yang masih sangat lelap.


"Masuklah! Bawa dia ke kamarnya. Setelah itu kau harus turun!", Tuan Danu memberi penekanan pada kalimatnya. Sambil membulatkan matanya, ia menyatakan bahwa itu merupakan perintah yang mutlak harus Ken patuhi.


Jika dalam dunia bisnis Ken akan selalu dihormati. Namun di sisi lain, Ken yang merupakan kekasih Ana tentunya harus menghormati Tuan Danu yang tak lain adalah calon mertuanya kelak. Begitu pikir Ken yang begitu percaya diri.


"Baiklah Tuan!", ucap Ken dan mereka pun terkekeh bersamaan.


Didampingi Bi Rani, Ken menggendong Ana sampai ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, Bi Rani dengan sopan mempersilahkan Ken masuk untuk merebahkan tubuh Ana di ranjang. Sedangkan ia meninggalkan mereka setelah sampai ambang pintu. Bi Rani cukup mengerti pada mereka yang merupakan sepasang kekasih. Jadi Bi Rani memberikan privasi untuk mereka.


Tanpa membuka mata, Ana menggeliat saat merasakan tubuhnya sudah menempel pada sesuatu yang empuk dan lembut. Ken menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan Ana yang sejak tadi tidak terbangun. Kemudian ia mengecup kening Ana dalam sampai matanya sejenak terpejam. Ken menikmati rasa cintanya yang saat ini ia salurkan pada Ana melalui keningnya.


Entah sadar atau pun masih terlelap, bibir Ana menyunggingkan senyumnya.


"Aku mencintaimu, Ken", gumamnya masih dengan mata tertutup.


Suara itu mengisi seluruh rongga telinga Ken. Ia menarik wajahnya untuk melihat Ana yang baru saja mengatakan sesuatu yang indah untuk hatinya.


"Katakan sekali lagi, Ana!", pinta Ken setengah berbisik di wajah Ana.


Bukannya menjawab, Ana malah menggeliat memiringkan tubuhnya. Rupanya Ana masih terlelap dalam tidurnya. Ken lagi-lagi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Kemudian ia beranjak dari sana. Tapi baru akan melangkah, tangan Ana memegang ujung jas milik Ken. Membuat Ken menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ana dengan tatapan menyelidik.


Ken kembali menundukkan kepalanya menatap Ana yang tengah mengerjapkan matanya dan menorehkan senyum polos. Ia pun duduk di bibir ranjang di sebelah Ana.


Ana mengulurkan tangannya agar Ken membantunya untuk bangun dari posisinya. Kini mereka sudah duduk berhadapan sambil melempar senyum, meskipun mata Ana masih terus mengerjap karena matanya masih agak berat untuk membuka.


Ken mengusap lembut pipi Ana dan menghadiahinya kecupan lembut di pucuk kepalanya. Ana menangkup wajah Ken dengan kedua tangannya. Dengan mata yang masih begitu berat untuk membuka, ia mencondongkan wajahnya hingga begitu dekat.


Sesekali Ana memejamkan matanya karena rasa ngantuk yang mendera sepertinya masih begitu hebat menyerangnya.


"Apakah kau mencintai, Ken?", tanya Ana dengan mata setengah terbuka.


Ken menjawab dengan anggukan pelan sementara wajahnya masih dalam naungan kedua tangan Ana. Ia juga memberikan senyum tulusnya untuk wanita yang dicintainya ini.


Ana mengalihkan pandangan matanya yang masih berat ke arah bibir Ken. Ia mengusapnya lembut dengan satu ibu jarinya. Ana menipiskan bibirnya dan mencondongkan wajahnya hingga bibirnya menempel pada bibir Ken.


-


-


-


-


-


-


terimakasih ya atas dukungannya selama ini


jangan lupa untuk like, vote dan komentarnya ya 😊😊


oh ya, siapa yang setuju dengan pasangan di bawah ini :


a. Sarah ❤️ Sam


b. Sarah ❤️ Han


c. Risa ❤️ Sam


d. Risa ❤️ Han


e. Joice ❤️ Han


silahkan pilih, aku tunggu ya jawaban kalian,, yang paling banyak mendapatkan vote akan aku jadikan pasangan dalam cerita ini

__ADS_1


Terima kasih 😊


__ADS_2