
Di luar sana mentari telah memperlihatkan keangkuhannya dengan terik yang mulai menyakiti pucuk kepala setiap umat. Sinarnya juga sudah menyerobot paksa ke dalam sela-sela jendela kamar yang masih tertutup oleh kain panjang berwarna kelabu itu. Kini bukan hangat lagi yang terasa ketika bahkan jika itu hanya sejengkal cahaya yang menyentuh kulit. Silaunya juga bisa menyakiti mata bahkan ketika mata itu masih terpejam erat.
Sarah mengerjapkan matanya beberapa kali ketika merasakan silau di matanya makin menyakiti. Yang ia rasakan pertama kali ketika lengkap membuka mata adalah sakit sekujur tubuhnya. Pinggangnya serasa akan patah terbelah menjadi dua. Tubuhnya pun terasa remuk seperti serpihan kaca.
Ketika kesadarannya pulih sempurna, ia lihat sebuah tangan berada di depan perutnya. Tangan itu melingkar di pinggangnya yang masih terasa sakit itu. Ia tolehkan kepalanya sedikit, dan benar saja jika itu adalah suaminya. Memangnya dengan siapa lagi ia akan tidur bersama?! Kadang ia masih suka lupa.
Lintas memori pun terjadi ke waktu malam tadi. Dimana suaminya begitu serakah menebarkan benih cinta kepada dirinya berulang kali. Dan permohonannya untuk dikasihani malahan membuat suaminya itu makin bersemangat untuk menjamahnya di sana sini dengan berbagai gaya. Mengingat hal itu, wajah Sarah jadi memerah ketika menyadari jika sesekali dirinya pun menginginkan sentuhan suaminya itu. Dirinya seperti sudah terbiasa dan mulai kecanduan oleh setiap cara Sam memanjakannya.
Sarah menyingkirkan tangan Sam pelan. Ia ingin membersihkan diri, karena tubuhnya sudah terasa lengket akibat aktivitas berlebihan mereka semalam. Namun untuk bangun dalam keadaan polos begini ia masih merasa malu. Jika ia ambil selimut ini untuk menutupi tubuhnya, pasti tubuh nyata Sam yang akan terpampang di depan matanya. Sama saja, itu juga tetap membuatnya malu juga.
Tapi baru saja ia membenarkan posisinya untuk sedikit terduduk, sungguh lemas lututnya ia rasakan. Saking lemasnya sampai ia melenguh karena sulit digerakkan. Meskipun begitu, Sarah tetap memaksakan diri sambil menutupi tubuh bagian atasnya dengan selimut. Matanya menatapi satu per satu helai pakaian mereka berdua yang sekarang jelas berserakan di sekitar ranjang. Sesungguhnya itu semua terlihat lebih seperti sampah!
"Mau kemana?", ucap Sam dengan suara seraknya. Pria yang belum membuka matanya itu menarik kembali istrinya ke posisi semula. Dimana ia leluasa memeluk istrinya itu dari belakang.
"Sebentar lagi, ya! Aku tahu kau pasti akan kesusahan untuk berjalan!", pinta Sam lalu ia mengecup belakang kepala istrinya itu.
"Gara-gara kau!", gerutu Sarah pelan lalu melipat bibirnya tersenyum malu-malu.
Sam tersenyum di belakang kepala Sarah. Masih enggan membuka matanya, namun berulang kali ia menjatuhkan ciumannya pada kepala wanita itu. Ia sangat suka posisi seperti ini. Menyatukan tubuh mereka berdua dari arah belakang, sehingga ia bisa mengerjakan banyak hal lainnya juga.
"Saamm!", Sarah memukul pelan tangan nakal Sam yang sedang bergerak bebas pada dua bagian gundukan kenyal favorit suaminya itu.
"Sedikit saja, Sayang! Jangan terlalu pelit!", ujar Sam seraya membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Masa kau belum puas setelah semalam tadi?", tanya Sarah seraya menjaga tangan Sam untuk tidak bergerak sesuka hatinya di posisi yang sama.
"Tidak tahu! Tapi setiap saat aku memang selalu menginginkan dirimu!", bisiknya di belakang telinga istrinya itu.
"Saaamm! Tubuhku terasa sakit semua sekarang!", Sarah merajuk dengan suara manjanya. Ia langsung berbalik menghadap suaminya sambil cemberut.
"Iya,, iya,, aku hanya menggodamu saja, Sayang!", pria itu mencium kening istrinya sambil terkekeh ringan. Meskipun ia selalu mengingikan Sarah, tapi Sam tahu betul jika saat ini bukan waktunya. Ia tidak tega untuk membuat tubuh istrinya itu semakin tidak berdaya.
"Ya ampun, Sam! Ini sudah jam berapa ?!", Sarah langsung memekik setelah melihat jam di belakang kepala suaminya itu. Wanita itu sampai reflek terduduk, tidak peduli jika saat ini setengah tubuhnya sampai ke pinggang terekspos oleh mata telanjang Sam. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dan seharusnya mereka memiliki janji untuk menjemput Louis di rumah sakit pagi ini.
"Sarah, kau sedang menggodaku, kan!", ucap Sam seraya memicingkan matanya. Ia tidak peduli dengan janji apa yang mereka miliki.
Sadar, wanita itu dengan cepat menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Ia langsung memandangi suaminya itu dengan tatapan waspada. Jangan sampai ia menjadi sarapan serigala abu-abu ini! Jujur saja, tubuhnya sudah tidak kuat lagi! .
Sam bangun dari posisinya. Berusaha duduk sambil terus melayangkan tatapan mendominasi. Jarang sekali ia bisa membuat Sarah merasa takut kepadanya. Sungguh menyenangkan sekali!
"Sam!", Sarah menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayo, kita mandi bersama, Sayang!", tak peduli dengan tubuhnya yang tak berbalut sehelai benang pun, Sam langsung membopong Sarah yang tubuhnya sama polos dengan dirinya.
__ADS_1
"Saaamm!", pekik Sarah begitu malu. Ia langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah ke dada bidang suaminya itu.
Keduanya lalu melakukan aktivitas di dalam kamar mandi sana. Tidak hanya mandi, karena niatan awal Sam untuk tidak menyentuh istrinya itu langsung pupus begitu saja. Namun itu tidak berlangsung lama, lantaran ia tidak ingin membuat Sarah semakin menderita. Dan tentu saja, untuk keluar dari kamar mandi wanita itu harus dibopong lagi oleh suaminya itu. Meskipun pelan dan sebentar, tetap saja pegal ia rasakan. Dasar siluman serigala! Teriaknya dalam hati.
***
"Sam, kita ini sekarang adalah tamu! Apa tidak apa-apa bangun siang seperti ini?! Aku jadi merasa tidak enak hati kepada Nyonya Harris!", ucap Sarah yang saat ini sedang berjalan di samping suaminya.
Ketika mereka keluar kamar, seorang pelayan langsung menyambut mereka dan memberitahukan untuk jika semua orang sudah berangkat ke rumah sakit. Pelayan itu juga mendapat pesan dari Nyonya Harris untuk mempersilahkan tamu mereka setelah keluar dari kamar untuk segera mengisi perut mereka di meja makan. Masih banyak makanan dihidangkan untuk mereka yang belum mengisi perut. Nyonya Harris berpesan untuk menganggap rumahnya seperti rumah mereka sendiri. Jangan terlalu sungkan! Anggaplah keluarga sendiri.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Sayang! Mereka pasti mengerti!", ujar Sam menenangkan sambil merangkul bahu Sarah dan mengusapnya.
Sarah hembuskan nafasnya yang tak berdaya. Ini semua memang gara-gara suaminya yang terlalu serakah. Bahkan pagi tadi pun dia masih sempat-sempatnya sarapan di kamar mandi, padahal mereka sudah bangun kesiangan. Diam-diam Sarah memandangi Sam dengan wajah cemberutnya.
"Jika kau tidak kuat berjalan, aku akan menggendongmu sekarang!", bisiknya lalu ia kembangkan senyum puasnya.
"Sam!", Sarah sudah mengangkat kepalan tangannya di udara sambil menggeram. Suaminya ini memang benar-benar konyol dan tidak tahu malu.
"Pukul saja! Lalu aku akan langsung menggendongmu!", pria itu malahan menantang Sarah balik. Ia tahu jika istrinya itu pasti lebih mementingkan reputasi mereka di depan para penghuni rumah lainnya yang jelas memiliki mata. Sudah dipastikan jika kemenangan adalah miliknya.
"Kau ini benar-benar!", jadilah udara kosong yang jadi korban pukulan bogem mentahnya. Bibirnya merengut karena pada akhirnya dia yang kalah.
Sam tertawa puas sambil terus merangkul bahu istrinya itu. Dan Sarah makin kesal mendengar tawa yang memiliki melodi ejekan itu. Beberapa kali ia menghentakkan langkahnya ke lantai hingga menimbulkan bunyi keras. Dan semakin kencang juga suara tawa puas Sam di sampingnya.
***
"Kau!", dua wanita saling menunjuk dengan ekspresi kebingungan.
"Ku pikir hanya kami yang telat bangun pagi ini!", ucap Sarah sambil menurunkan telunjuknya.
"Ku pikir juga begitu!", jawab Ana santai seraya mendudukkan diri di samping Ken.
"Apakah kau baik-baik saja, Ana? Apa kau mengalami mual-mual lagi tadi?", tanya Sarah yang berada di seberangnya dengan ekspresi khawatir. Mungkin saja itu adalah penyebab kakak iparnya telat keluar dari kamar sama seperti mereka. Ia masih ingat jika sahabat sekaligus kedua kakak iparnya itu sedang dalam kondisi mengandung saat ini.
"Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja!", ditanya seperti itu membuat Ana yang tadinya santai menjadi tersenyum kaku. Dan sesekali melirik ke arah suaminya yang memasang wajah datar tak bersalah sama sekali.
"Sebagai seorang lelaki yang harus memimpin sebuah perusahaan, seharusnya kau bangun lebih pagi. Kau harus menjadi contoh untuk anak-anakmu kelak!", entah ada angin apa tiba-tiba Ken bersabda yang tentu ia tujukan untuk adik kandungnya itu. Ia berbicara sambil melahap potongan buah yang baru saja di ambilkan oleh Ana.
uhukk,, uhukk,,
Ana sampai tersedak mendengar perkataan suaminya itu. Tolong berhentilah bicara! Bukankah mereka tetap harus menjada wibawa mereka berdua sebagai seorang kakak. Jika makin dilanjutkan, pasti kedua adik iparnya ini pasti akan tahu penyebab mereka sampai telat keluar kamar begini. Dengan perasaan khawatir, ia menerima gelas air putih yang diberikan oleh suaminya.
"Bangun pagi apanya?! Kakak saja telat begini sama seperti kami! Harusnya Kakak berkaca dulu sebelum bicara!", sahut Sam dengan perasaan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Sam, bicara yang sopan!", Sarah mencubit paha suaminya itu di bawah meja sambil menggertakkan giginya.
"Biar saja! Memangnya apa yang salah dengan ucapanku?!", Sam membela diri sambil melepaskan tangan Sarah dari pahanya.
"Sam!", seru Sarah lagi pelan, berusaha menahan sabar.
"Aku selalu bangun pagi setiap hari. Kau bisa tanya pada Kakak iparmu!", ujar Ken acuh seakan tak termakan emosi Sam sama sekali.
"Aku?", Ana menunjuk dirinya sendiri dengan pisau dan garpu yang sedang dipegangnya.
uhukk,, uhukk,,
Tak perlu waktu lama untuk menyadari apa maksud dari ucapan suaminya itu. Tapi dengan begitu Ana jadi teringat alasan mereka berdua baru keluar dari kamar mereka di jam segini. Tentu saja itu karena keinginan raja singa yang ingin memulai sarapan besarnya di dalam kamar. Permohonan Ana dengan alasan sedang mengandung pun seperti tidak ada artinya. Lelaki itu malahan mengumbar janji akan bermain dengan lembut tapi tetap lincah.
Setelah tersedak untuk yang kedua kalinya, dengan cepat Ana mengambil gelas air putih miliknya tanpa menunggu bantuan dari suaminya yang tidak tahu malu itu. Sebisa mungkin Ana menutupi perasaan canggungnya kali ini. Lelaki itu memang tidak bisa diandalkan untuk menutup mulut! Sedangkan Sarah masih menatap Ana dengan kebingungan.
"Aku memiliki pekerjaan penting dengan istriku pagi ini. Maka dari itu kami terlambat!", tambah Ken lagi dengan wajah tak peduli.
Ana lalu memukul dadanya dengan keras beberapa kali. Buah yang baru saja ia makan seperti tersesat di dalam tubuhnya sehingga membuat nafasnya sesak. Kenapa pula harus diperjelas lagi oleh suaminya itu?! Oh sungguh, ia telah menikahi raja singa yang tidak tahu malu!
Sarah menyembunyikan senyumannya setelah mengerti maksud dari ucapan kakak ipar lelakinya itu. Dan makin ingin tertawa kala melihat wajah Ana yang semakin memerah menahan malu. Kenapa bisa begitu kebetulan?! Ternyata keterlambatan mereka memiliki alasan yang sama.
"Aku juga sama! Aku juga memiliki pekerjaan penting dengan istriku semalam suntuk. Bahkan hingga pagi ini pekerjaanku baru juga selesai. Karena bagaimanapun juga, ini demi penerus keluarga Wiratmadja. Makanya aku harus bekerja keras bersama Sarah!", timpal Sam tak mau kalah setelah paham arah yang kakaknya itu maksudkan.
uhukk,, uhukk,,
Sekarang giliran Sarah yang terbatuk. Mengapa Sam juga harus menjelaskan secara gamblang alasan mereka kepada para kakak ipar?! Ucapan Sam sesungguhnya sudah membuat Sarah murka namun lebih besar malunya daripada itu. Ia memandangi Ana dengan wajah kesal, lantaran kali ini sahabatnya itu sedang mengejeknya dengan senyuman.
"Kalau begitu kau harus bekerja lebih keras lagi!", tambah Ken lagi dan membuat batuk Sarah makin keras.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?!", tanya Sam khawatir setelah mengiyakan ucapan kakaknya itu. Pria itu memberikan gelas air putih miliknya.
Bahkan setelah menenggak air pun ia kembali terbatuk karena Ken meneruskan kalimatnya kembali.
"Ini juga berlaku untukmu, Sarah! Kau juga harus berusaha lebih keras lagi!", ucap Ken dengan wajah datar seperti biasanya. Dan itu yang membuat Sarah basah kuyup mulut dan pakaiannya di bagian dada, karena kembali tersedak setelah mendengar ultimatum dari kakak ipar lelakinya itu.
Kakak ipar lelakinya itu jarang sekali bicara dengannya. Tapi sekalinya berbicara, kenapa malahan masalah fulgar seperti itu yang ia sampaikan?! Sarah memandangi Ana dengan tatapan kesal. Karena makin lebar saja senyum di bibir ibu hamil itu. Jelas sekali semakin mengejeknya. Kakak beradik Wiratmadja ini apakah begitu tidak tahu malu?! Atau sebenarnya Sarah saja yang baru tahu! Gerutunya sendiri sambil mengelapi pakaiannya yang basah.
"Iya, Kakak ipar!", namun wanita itu masih sopan untuk membalas ucapan raja singa itu.
Dan sebenarnya Ana membenarkan dalam hati, jika memang kakak beradik itu sangat tidak tahu malu. Terlebih lagi ternyata mereka sama serakahnya jika sudah menyangkut pasangan keduanya. Dan makin terlihat kompak lagi, dengan tingkat kecemburuan yang tinggi yang dimiliki oleh dua lelaki itu.
"Kak Louis! Kakak Louis! Kak Louis! Kakak sudah pulang, kan?! Kakak ada dimana sekarang?!", suara nyaring seorang wanita terdengar sangat kencang dari arah pintu depan rumah besar itu.
__ADS_1
Dan otomatis membuat dua pasangan suami istri itu menoleh ke arah sumber suara dengan ekspresi mereka masing-masing.