
"Ana!", ucap Ken ditengah tangisnya yang pecah dan terdengar sangat frustasi. Ia menekuk lututnya, membuatnya sebagai topangan tangannya yang sedang menjambak rambutnya sendiri.
"Maafkan aku, Ana! Maafkan aku tak mampu menepati janjiku! Maaf Ana, maaf!", Ken memejamkan matanya yang sudah berderai air mata. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke dinding. Menikmati rasa sakit yang teramat sangat.
Semua yang berada di ruangan itu pun merasakan hal yang sama. Pilu yang Ken rasakan menembus relung hati mereka masing-masing meskipun hal ini tidak menimpa langsung terhadap diri mereka sendiri. Wajah mereka berubah dengan penuh rasa simpati dan empati yang membaur menjadi satu. Tak pernah sekali pun seumur hidup mereka menyaksikan Ken yang sehancur ini. Ken adalah pria yang sangat pintar menyembunyikan emosinya dan selalu tampil datar. Tapi kini yang ia tampilkan bukanlah sebuah kebahagian, melainkan kesedihan dan kehancuran hatinya yang teramat sangat.
Sam yang selalu berpikir bahwa kakaknya adalah sosok lelaki tangguh. Tapi saat dihadirkan oleh pemandangan yang memilukan hati ini, ia juga tak mampu berkata apa-apa. Tenggorokannya seakan tersekat oleh batu besar kesedihan yang mendera kakaknya itu. Mereka semua menatap iba ke arah Ken.
Nyonya Rima sebagai ibu kandungnya sendiri juga tak luput dari rasa sedih melihat putranya yang selalu nampak kuat, dan kini terlihat sangat hancur. Ada sedikit perasaan senang karena ia tak perlu repot-repot menyingkirkan Ana dengan caranya, tapi hal itu sangat kalah dengan perasaan hancur seorang ibu yang melihat putranya seperti ini. Nyonya Rima memutuskan untuk merengkuh Ken dan memeluknya erat. Ia menepuk-nepuk punggung anak lelakinya itu untuk menenangkan Ken. Tapi putra sulungnya itu malah makin menumpahkan air matanya. Ken seperti mendapat tempat yang tepat untuknya mencurahkan kesedihannya saat ini.
"Ana, Bunda, Ana!", ucap Ken dengan suara serak.
"Iya, sabar sayang! Sabar!", ucap Nyonya Rima menenangkan.
"Tuan!", panggil Han hati-hati.
"Nona telah dimakamkan, kita bisa ke sana jika kondisi Tuan sudah membaik. Dan setelah kejadian itu, kondisi Tubuh Danu memburuk. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit ini juga", tutur Han.
"Ah iya! Ayah Danu!", batin Ken.
"Baiklah, besok aku ingin menemui Ayah Danu!" ucap Ken seraya melepaskan pelukannya dari Nyonya Rima.
***
"Ayah!", panggil Ken dari ambang pintu ruang rawat Tuan Danu. Saat ini Ken menggunakan kursi roda dibantu oleh Han yang mendorongnya. Tubuhnya masih sedikit lemah karena lumayan lama ia terbaring koma.
"Ken!", sahut Tuan Danu dengan suara tecekat.
Tuan Danu ditemani oleh Bi Rani saat ini. Sudah tiga hari beliau dirawat di rumah sakit. Karena tak memiliki keluarga lain, maka Bi Rani lah yang mengurus Tuan Danu selama berada di rumah sakit. Yang lagi notabene, Bi Rani adalah kepala pelayan di tempat tinggalnya.
"Saya permisi dulu Tuan Danu, Tuan Ken! Saya menunggu di luar, jika perlu sesuatu silahkan panggil saya", Bi Ranu undur diri dari ruangan itu karena ia tahu bukan ranahnya mengikuti perbincangan yang akan terjadi di antara majikannya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Bi!", ucap Ken pada Bi Rani yang mulai melangkah menjauh dari mereka.
"Ayah!", Ken begitu prihatin melihat kondisi Tuan Danu yang kembali dipasangkan beberapa alat medis ke tubuhnya. Ia menyentuh lengan orang tua itu dengan lembut.
"Ken!", perlahan Tuan Danu membalas dengan menyentuh tangan Ken.
"Maafkan aku ayah tak yang tidak becus ini. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk membahagiakan putrimu. Maaf karena aku Ana...", Tuan Danu menggenggam tangan Ken erat supaya menghentikan ucapannya. Ia menggeleng sambil tersenyum ke arah Ken.
"Sudah Ken, sudah! Mungkin ini memang takdirnya. Kita tak dapat memaksakan kehendak Tuhan, Ken. Kau bertemu dengan Ana adalah takdir, dan kau harus berpisah dengannya juga adalah takdir. Jangan bersedih lagi, nak!", ucapan Tuan Danu terdengar begitu menenangkan.
Padahal dalam hatinya juga begitu hancur. Ayah mana yang tak hancur mendengat kabar putrinya tewas, apalagi dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Harta berharganya dan hanya tinggal Ana saja satu-satunya yang menjadi keluarganya yang ia anggap, kini telah tiada. Bagaimana hatinya tentu saja semua orang dapat merasakannya.
"Danu!", sebuah suara berat berasal dari pintu kamar.
"Ayah!".
"Dion!", Ken dan Tuan Danu berucap bersamaan melihat kehadiran Tuan Dion beserta Nyonya Rima.
"Terima kasih, teman!", ucap Tuan Danu seraya tersenyum ke arah Tuan Dion dan istrinya.
"Silahkan duduk, teman! Maaf aku tak dapat menyambut kehadiranmu dengan benar!", ucap Tuan Danu sungkan.
"Jangan pikirkan hal itu! Lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya supaya kau lekas pulih kembali", ucap Tuan Dion yang sudah memposisikan dirinya di samping Ken.
"Pulih?! Apa yang harus aku lakukan setelah aku pulih nanti?! Harta berhargaku, cahaya hidupku, putriku satu-satunya telah tiada. Apalagi yang bisa aku harapkan. Hidupku sudah tidak ada artinya lagi, teman. Rasanya aku ingin menyusul mereka ke sana!", Taun Danu menunjuk-nunjuk ke arah atas.
"Apa yang ayah katakan?!", seru Ken tidak terima dengan ucapan Tuan Danu yang menurutnya melantur.
"Nak, tujuan hidup ayah sudah tidak ada lagi. Ayah bertahan demi Ana, putriku yang amat ayah sayangi. Jika Ana sudah tiada, jadi untuk apalagi. Ken, terima kasih kau telah membuat Ana bahagia. Terima kasih kau telah menjaga Ana selama beberapa saat ini", Tuan Danu menyentuh tangan Ken sambil tersenyum.
"Apa ayah sedang menyindirku saat ini?! Bahkan aku tak dapat menyelamatkan Ana, Ayah!", seru Ken kesal pada dirinya sendiri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
__ADS_1
"Sudahlah, nak! Hidupmu masih panjang, masih banyak hal yang harus kau jalani. Hidup terus berjalan, Ken! Maka bersemangat lah mulai saat ini. Benar begitu ,teman!", Tuan Danu membungkus kepalan tangan Ken dengan kedua tangannya tapi matanya menatap ke arah Tuan Dion seraya tersenyum.
"Buat putramu kembali bangkit, teman. Dampingi dia menjadi lelaki hebat seperti sebelumnya dan orang-orang akan memanggilnya lagi dengan sebutan Presdir Ken yang terhormat lagi", ucap Tuan Danu pada Tuan Dion sekarang.
"Tenang saja, teman!", Tuan Dion tersenyum penuh arti ke arah Tuan Danu.
"Baiklah aku tenang sekarang. Aku jadi tambah merindukan ibunya Ana, rasanya ingin sekali aku bertemu dengannya", Tuan Danu memejamkan matanya sambil tersenyum.
"Ayah, ayah, ayah!", panggil Ken dengan menggoyang-goyangkan tubuh Tuan Danu. Wajahnya terlihat begitu khawatir.
"Kau berisik sekali, bocah! Aku hanya memejamkan mataku sebentar", Tuan Danu membuka matanya tiba-tiba.
"Hah, kupikir apa?!", Ken mengelus dadanya dan bernafas lega.
"Kau pikir apa?! Sudah sana, kau juga butuh istirahat. Kau belum pulih benar, bukan?!", ia mendorong tangan Ken menjauh dari ranjangnya.
"Tapi ayah, aku masih ingin menemani ayah!", Ken memaku tubuhnya tak menghiraukan ucapan Tuan Danu.
"Sudahlah, Ken! Tuan Danu juga butuh istirahat. Kau juga harus memulihkan tubuhmu!", ucap Nyonya Rima membenarkan ucapan Tuan Danu karena memang benar mereka berdua bukanlah orang sehat saat ini.
"Tapi...", ucap Ken ragu.
"Tidak ada tapi, aku sangat mengantuk sekarang. Mataku sudah tidak tahan untuk terus membuka", keluh Tuan Danu dengan wajah polosnya.
Keempat orang itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu dan membiarkan Tuan Danu beristirahat. Sampai di depan pintu mereka berpapasan dengan Bi Rani yang sedari tadi menunggu di luar.
"Kami permisi dulu, Bi!", Ken berpamitan mewakili mereka semua.
"Terima kasih, Tuan! Saya masuk dulu!", ucap Bi Rani sopan kemudian membungkukkan badannya memberi hormat.
Baru saja memasuki ruangan, tiba-tiba alarm ruangan itu berbunyi yang menandakan pasiennya dalam keadaan kritis.
__ADS_1