Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 175


__ADS_3

"Sarah!", sapa Sam lembut hingga wanita itupun menoleh ke arahnya.


"Maaf, anda siapa?", jawab wanita itu dengan wajah polosnya.


"Ini aku Sam, Sarah! Apa kau melupakan aku?", tanya Sam lirih sambil memegangi kedua bahu wanita itu.


"Maaf aku tidak mengenalmu! Kupikir Anda salah orang, Tuan!", jawab Sarah dengan wajah polosnya.


deg


Jantung Sam seakan berhenti berdetak. Bagaimana bisa wanita yang dicintainya ini tidak mengenalnya. Tangannya yang memegangi bahu Sarah pun terjatuh lemas. Dilihat dari ekspresinya, tidak ada kebohongan di wajah wanita itu. Tapi jika ini benar, maka apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa wanitanya sampai tidak mengenalinya begini. Sam memalingkan wajahnya ke arah berlawanan sambil mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


Saat masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba ia melihat Ana keluar dari sebuah toilet tak jauh dari tempatnya duduk di sana. Begitu Ana keluar pun pandangan mata mereka tanpa sengaja langsung bertemu. Ana sempat terkejut sampai menghentikan langkahnya, tapi ia berusaha mempertahankan ketenangan di wajahnya.


"Bukankah tadi Sarah di sana? Lalu bagaimana Sam bisa ada di sini? Apa jangan-jangan mereka sudah bertemu?", batin Ana khawatir.


"Kakak ipar!", seru Sam sambil bangkit dari duduknya.


"O,,oh hai, Sam!", Ana melambaikan tangannya. Bukan untuk Sam sebenarnya, melainkan untuk seseorang yang kini tengah menyembunyikan diri di balik pilar yang jaraknya beberapa meter dari tempat Sam berdiri.


"Apa yang kau lakukan Sam di sini?", tanya Ana sedikit curiga bercampur rasa khawatir.


"Aku yang harusnya bertanya apa yang kakak ipar lakukan di sini? Bukankah Kak Ken bilang kakak ipar sedang ada urusan", tanya Sam dengan nada menginterogasi sambil mendekat ke arah Ana.


"Ten,, tentu saja aku ke sini untuk menjemputmu!", Ana berusaha keras untuk bersikap tenang sambil berpikir alasan kuat apa yang cocok agar tak membuat Sam mencurigainya.


"Tapi katanya kakak ipar sibuk?!", nada Sam setengah menyindir. Berusaha mengorek kecurigaan yang mulai hadir.


"Inii,, ini kejutan! Aku merasa bersalah karena dua hari ini tidak datang menjengukmu. Jadi aku berniat ingin memberimu sebuah kejutan. Eh,, ternyata kau sudah menemukan aku lebih dulu!", Ana mengurai senyumnya sambil berusaha membuat Sam mempercayainya.


"Benarkah?", Sam belum percaya.


"Tentu saja, benar! Maka dari itu aku melarang Ken untuk mengatakan bahwa aku akan datang hari ini!", Sam mencoba menelisik ucapan dan wajah Ana. Ia mengendus-endus di sekitar wajah Ana sambil memejamkan matanya.


"Hey, apa yang kau lakukan, bodoh!", Ana memukul kepala Sam dengan tasnya.


"Sakit, kakak ipar!", pekik Sam tak terima.


"Aku sedang mencari aroma-aroma kebohongan dari dalam diri kakak ipar", ucap Sam sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.


"Kau pikir aku berbohong, hah!", Ana mulai mengeluarkan wajah galaknya.


"Tidak,, tidak! Aku mana berani berpikir seperti itu!", nyali Sam menciut. Kalau dipikir-pikir, berarti sikap aneh Ken tadi mungkin memang berhubungan dengan kejutan yang akan Ana berikan ini padanya. Jika dilihat dari ekspresi yang Ana berikan pun rasanya tidak mungkin kakak iparnya berbohong saat ini. Baiklah, Sam percaya.


"Kalau begitu ayo kita pulang!", ajak Ana yang sudah memegangi lengan Sam.


"Tunggu,,, tunggu,,, tunggu!", Sam menarik lengannya kemudian berbalik. Ia ingat sesuatu.


"Dimana dia?", Sam mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Ada apa, Sam?", Ana pura-pura khawatir.


"Tadi di sini ada Sarah, kak! Tadi ada dia dan dia duduk di sini! Tadi dia di sini!", Sam menunjuk kursi dimana Sarah duduk tadi.


"Mana mungkin, Sam! Dari tadi, saat aku baru keluar dari toilet pun yang ku lihat hanya ada kau saja. Tak ada orang lain di sini!", seru Ana berusaha meyakinkan adik iparnya.


"Tapi aku sangat yakin bahwa itu adalah Sarah! Aku tidak mungkin salah, kak! Aku sangat-sangat yakin!", wajahnya penuh kecemasan dan rasa ingin dipercaya. Sam tetap pada keyakinannya bahwa ia telah bertemu Sarah sebelumnya.


"Mungkin hanya halusinasimu saja, Sam! Mungkin hal itu terjadi karena kau terlalu banyak memikirkan Sarah. Sungguh,,,, aku tidak melihat siapapun selain dirimu sejak tadi!", Ana memasang wajah iba terhadap Sam. Ia berusaha meyakinkan adik iparnya itu bahwa yang dilihatnya ada salah.

__ADS_1


Mata Ana sempat melirik ke arah pilar dimana Sarah sedang mengintip mereka berdua. Pandangan mata mereka kembali bertemu untuk beberapa saat. Terlihat Sarah yang begitu khawatir di sana. Dan Ana pun mengangguk kecil berusaha meyakinkan Sarah bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sahabatnya itupun membalas anggukan Ana sambil tersenyum penuh ironi.


"Tapi aku sangat yakin, Kak! Aku akan memastikannya dulu!", Sam masih belum ingin beranjak dari sana. Ia sudah memutar badannya untuk mencari keberadaan Sarah. Bersamaan itu juga Sarah yang sedang bersembunyi di sana tersentak kaget dengan gerakan Sam yang tiba-tiba. Ia menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke dinding agar Sam tidak melihatnya. Ana pun menjadi panik, tapi ia tau bahwa dirinya harus menjadi setenang mungkin di depan adik iparnya itu.


"Aku yakin kau hanya berhalusinasi saja tadi. Sudahlah Sam, lagipula Ayah dan Bunda pasti sudah menunggu lama di depan", seru Ana sambil memutar tubuh Sam dengan paksa.


"Tapi, kak!", Sam berusaha menoleh lagi.


"Tidak ada tapi-tapian! Sudah ayo!", lalu ia segera menyeret adik iparnya itu menjauh dari sana. Tak ingin Sam kembali berniat mencari Sarah lagi. Sambil membawa Sam mengikuti langkahnya, Ana sejenak menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Sarah aman. Sahabatnya itu pun mengangguk kecil kepada Ana yang mulai bergerak menjauh.


Tadi begitu Sam lengah, Sarah perlahan bangun dari duduknya dan melangkah mundur sehati-hati mungkin sampai tak mengeluarkan suara. Lalu ia memilih pilar besar rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa untuk membuatnya tak terlihat oleh Sam. Lalu saat melihat Ana keluar dari toilet itu, ia buru-buru mengeluarkan kepalanya sambil memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya di bibir dengan maksud agar Ana tetap diam. Lalu ia bersembunyi lagi di balik pilar itu sambil meremas dadanya yang terasa sakit dan nyeri.


Setelah melihat kepergian Ana bersama dengan Sam, Sarah menghembuskan nafasnya lega. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga tak menginginkan hal ini. Ia tak ingin menjauhi Sam begini, ia tau menghindari permasalahan bukanlah sebuah solusi. Tapi,, Sarah juga belum siap untuk menghadapinya.


Hubungan mereka terlalu rumit, ditambah lagi dengan status sosial mereka yang teramat jauh juga beserta trauma yang dideritanya. Rasanya terlalu banyak hal yang membuat mereka sudah seharusnya tidak bertemu lagi. Meski ini sakit, tapi menurut Sarah ini adalah hal terbaik bagi mereka berdua.


Entah bagaimana Sarah mendeskripsikan perasaannya terhadap Sam saat ini. Atau,,, memang mungkin jauh di dalam lubuk hati wanita itu telah terisi oleh nama Sam yang entah sejak kapan hal itu terjadi pula. Tapi keadaan mereka sungguh tidak mendukung meski perasaan mereka sama.


Sam tak akan tau bagaimana sebenarnya sakitnya hati Sarah untuk melakukan hal ini. Setelah bertahun lamanya, setelah ia menjauh dari banyak pria, setelah ia selalu kuat untuk menjaga hatinya. Kini,,, setelah hatinya mulai diketuk oleh tingkah gila dan konyol yang biasa Sam lakukan untuknya, setelah perasaannya berkembang untuk pria itu. Pada akhirnya Sarah tetap harus menekan perasaan ini juga. Banyak hal, terlalu banyak yang membuat mereka seakan tidak ditakdirkan bersama.


Sambil memikirkan hal itu, mata Sarah kembali berkaca-kaca. Ia terjatuh di lantai, terduduk lemas masih sambil memegangi dadanya dimana jantungnya terasa dihujam batuan besar. Lalu tak lama, ia pun akhirnya terisak. Menangis pilu membanjiri wajahnya dengan berapa banyaknya air mata yang tumpah seada-adanya.


Ibu Asih baru saja keluar dari ruangan dokter yang akan menangani Sarah. Ibu Asih keluar bersama dokter tersebut. Telinga mereka langsing menangkap suara tangis seorang wanita di suatu tempat. Dan,,, betapa terkejutnya Ibu Asih saat mendapati putrinya kembali tersedu-sedu sendirian di ujung lorong itu.


"Sarah!", seru Ibu Asih seraya berlari kecil menuju putrinya yang masih menangis di sana. Diikuti oleh dokter yang mengekori di belakangnya.


"Ada apa Sarah? Kenapa bisa begini?! Jangan menangis lagi ya, tenanglah ada Ibu di sini!", wanita paruh baya itu memeluk putrinya erat sampai memejamkan mata ikut merasakan kepedihan putrinya.


"Dan dimana Ana?", Ibu Asih mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.


"Ana sudah pergi,,, bersama Sam!", Sarah menjawab di tengah isak tangisnya. Sungguh Sarah ingin berhenti menangis, ia juga tak ingin membuat ibunya kembali bersedih. Tapi rasanya air mata ini tak juga ingin berhenti keluar dari matanya.


# FLASHBACK ON


Saat itu, ketika Krystal telah pergi dari ruangannya dan Ibu Asih juga Sandi telah kembali ke kamar. Tak lama Sarah mulai sadarkan diri. Hanya saja matanya masih terasa berat untuk ia buka. Perlahan Sarah mengerjapkan matanya, namun tak ada yang memperhatikan dirinya karena saat itu baik Ibu Asih, Ana dan juga Sandi terlihat tengah terlibat pembicaraan yang serius. Akhirnya Sarah memutuskan untuk menutup matanya kembali sambil mencuri dengar perbincangan mereka.


Hingga akhirnya Sarah mendengar dialog ini. Matanya pun memicing karena rasa penasarannya.


"Tolong Ibu, nak! Jangan biarkan Tuan Sam itu mendekati Sarah lagi. Situasinya terlalu rumit untuk mereka berdua. Ibu tidak ingin putri Ibu banyak terluka lagi. Sudah cukup apa yang Sarah derita selama ini. Bisa kan Ana menolong Ibu?", itu suara ibunya. Sarah sangat yakin akan hal itu. Dan ia pun membenarkan apa yang ibunya katakan, memang rumit untuk mereka berdua saat ini. Dan rasanya Sarah pun tak ingin membuat ibunya menjadi bersedih karena terlalu memikirkan dirinya.


"Tentu saja bisa, Bu! Ana juga sangat menyayangi Sarah seperti saudara Ana sendiri. Ana pasti akan melindungi Sarah dan membuatnya bahagia. Ana akan mendukung apapun keinginan Sarah, Bu!", lalu dijawab oleh Ana. Dan Sarah pikir jawaban sahabatnya itu sudah sangatlah pas. Ana tidak mengiyakan ataupun juga menolak permintaan dari ibunya itu. Sudah cukup seperti itu saja, biar nanti Sarah sendiri yang akan memutuskan untuk mengambil langkah apa setelahnya.


Sarah terdiam sejenak memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil setelah ini. Ibunya sudah berkata demikian, maka sebagai anak yang patuh Sarah akan mengikuti kemauan ibunya. Toh setelah melalui semua ini, situasinya makin rumit untuk dirinya dan juga Sam. Baiklah, Sarah akan mengambil jalan ini. Meskipun di sisi lain hatinya ia sudah menaruh Sam di sana. Meskipun harus jujur jika ia sudah bisa sedikit membuka hatinya untuk seorang pria. Tak apa, semua rasa sakit itu nanti Sarah pasti bisa menghadapinya. Karena Sarah juga tak ingin mengecewakan ibunya, orangtuanya yang tinggal hanya satu-satunya bagi dirinya.


"Ibu!", seru Sarah lirih sambil tangannya meraba-raba mencari tangan ibunya.


"Sarah!", tangannya sudah berhasil menggenggam jemari ibunya.


"Berbaring saja, kau masih butuh istirahat!", ucap Ana seraya menahan tubuh Sarah yang akan bangun dari posisinya berbaring.


"Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja, Ana!", Sarah tersenyum untuk menenangkan sahabatnya itu. Lalu Ana pun membantu Sarah untuk duduk sambil bersandar di kepala ranjang.


"Aku ingin bicara!", Sarah menyapu pandangan ketiga orang di hadapannya dengan tatapan serius.


"Ada apa Sarah? Kau kan baru saja bangun!", tanya Ana terheran-heran.


"Iya, nak. Kau baru saja sadar. Nanti saja kita bicaranya ya. Lebih baik Sarah beristirahat dulu saja ya!", pinta Ibu Asih dengan lembut dan penuh kasih sayang sambil terus menggenggam erat jemari putrinya.


"Tidak apa-apa, Bu! Tapi Sarah harus bicara sekarang!", Sarah sedikit meremas genggaman tangannya untuk bersikeras meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja.

__ADS_1


"Begini, Bu! Sarah sudah mendengar semua yang kalian bicara barusan. Sebenarnya Sarah sudah bangun sejak tadi. Hanya saja mata Sarah masih terasa berat untuk dibuka", Sarah mulai membuka suaranya.


"Tapi Sarah,,,, ", Sarah menggeleng ke arah Ana yang akan menyela pembicaraannya.


"Biarkan aku bicara dulu sekarang!", Sarah serius.


"Tolong bantu aku menghindari Sam. Jangan beritahu keberadaanku kepadanya", kali ini benar-benar serius.


"Apa maksudnya ini, nak? Apakah kau akan meninggal kami lagi?", Ibu Asih mulai bersedih menyangka Sarah akan mengambil keputusan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya saat ia mengalami keterpurukan.


"Tidak, Bu! Tenang saja, Sarah akan selalu berada di sini. Sarah tidak akan kemana-mana. Bukankah Sarah sudah berjanji!", ucap Sarah lembut seraya mengusap punggung tangan ibunya yang sedang menggenggam tangannya.


"Lalu apa rencanamu, Sarah?", wajah Ana tak bisa menghilangkannya kekhawatirannya saat ini. Ia sangat takut jika Sarah akan menjauh darinya. Karena sekarang statusnya adalah istri dari Ken yang tak lain adalah kakak ipar Sam sendiri.


"Ana, aku minta padamu untuk tidak memberitahu apapun mengenai diriku kepadanya. Jangan katakan apapun, hanya itu saja! Kita masih bisa bertemu kapan saja asal Sam tidak mengetahuinya", jelas Sarah dengan wajah tenang.


"Lalu bagaimana jika Sam yang menemukanmu terlebih dahulu?", ini kemungkinan yang Ana pikirkan.


"Entahlah, lihat saja nanti! Mungkin aku akan pura-pura amnesia atau apalah nanti, aku juga belum memikirkannya", Sarah menggaruk kepalanya sambil terkekeh sendiri.


"Kau ini, ya!", Ana menggeleng pelan dengan ide sahabatnya yang masih mentah ini.


"Aku tidak bisa melanjutkan semua ini lagi, Ana. Banyak hal yang membuat aku dan dia tidak seharusnya bersama. Kami sangat berbeda, Ana", Sarah mengembuskan nafasnya dengan kasar sebelum mengucapkan kalimat pahitnya itu.


"Baiklah, jika itu memang sudah jadi keputusanmu. Aku akan selalu mendukungmu, Sarah!", Ana menggenggam tangan Sarah yang satunya. Ia hanya bisa begini, meski dalam hatinya sangat menyayangkan jika Sarah dan Sam tak bisa bersatu. Padahal jika mereka bersama, Ana sudah berangan-angan betapa menyenangkan memiliki ipar sahabatnya sendiri. Pasti akan seru.


"Terima kasih Ana!", ucap Sarah tulus.


"Hey, kita ini keluarga! Jangan begitu sungkan padaku!", baiklah, ini sudah menjadi keputusan Sarah. Ia sebagai sahabat hanya bisa memberinya dukungan penuh. Tapi mungkin ia tak berjanji ketika nanti trauma Sarah sudah membaik, mungkin ia bisa kembali mendekatkan mereka lagi. Itu pun dengan catatan Sam sudah bersih dari wanita-wanitanya. Hemph, Ana kesal sendiri memikirkan adik iparnya itu.


Dua hari ini Sarah masih dirawat di rumah sakit untuk melakukan terapi untuk menyembuhkan traumanya. Ana selalu setia menemaninya karena Sandi sudah harus mulai bekerja, itupun dengan izin dari Ken. Dan ia juga berpesan kepada suaminya itu untuk tidak memberikan kepada siapapun perihal Sarah ini, apalagi adiknya, Sam. Maka selama dua hari itu juga, Ana tak pernah menampakkan batang hidungnya selama Sam dirawat.


# FLASHBACK OFF


-


-


-


-


-


**maaf ya teman-teman baru up sekarang 🙏


akunya lagi ga mood nulis dari kemaren,, ini juga aku paksain buat menghibur temen-temen semua😊


Menulis itu ga gampang, harus ada mood dan suasana yang bagus buat dapet feelnya..


Jadi aku mohon pengertiannya ya temen-temen semua


sekali lagi aku minta maaf ya


besok aku akan update yang banyak lagi ..oke


terima kasih semuanya 😘


keep strong and healthy ya 🥰

__ADS_1


jangan lupa like sama votenya, oke 😉**


__ADS_2