Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 113


__ADS_3

Pagi itu nampak cerah di mata seorang pria muda nan tampan. Ia sedang duduk di jendela kamarnya yang menampakkan pemandangan halaman rumahnya yang asri. Sebuah hiburan dan vitamin untuk menyejukkan kedua bola matanya.


"Han!", ia memanggil asistennya itu sambil menatap keluar jendela.


"Ya Tuan!", jawabnya yang sedang mengerjakan beberapa laporan dengan benda pipih persegi sembari duduk di sofa kamar bosnya.


"Saat itu, saat kau menemukan Ana dalam kondisi terbakar, apakah kau menemukan tas selempang yang biasa ia pakai? Pada tasnya terdapat gantungan kunci yang sama dengan milikku ini", tanya Ken sambil mengangkat gantungan kunci berbentuk huruf K ke hadapan wajahnya. Ekspresi Ken tak dapat dibaca kemana arah tujuan pembicaraan mereka saat ini.


"Tas.. gantungan kunci.. ", Han bergumam sendiri seraya menghentikan gerakan tangannya pada laptop yang sedang berdiri kokoh di hadapannya. Matanya menerawang ke atas langit-langit. Dan otaknya kini tengah memindai apa saja yang tertinggal pada jasad Ana saat itu.


"Apakah kau sudah mengingatnya?", tanya Ken dengan nada penuh selidik namun arah pandangannya tak berubah sedikit pun. Ia masih menatap ke arah luar jendela.


"Maaf, Tuan. Saya tidak yakin, tapi kita bisa meminta datanya kepada pihak polisi yang menangani kasus anda, Tuan", Han segera mengirimkan email kepada pihak kepolisian untuk meminta data barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian.


Han menelpon seseorang dengan ponselnya, berbicara ini itu tanpa ingin Ken dengar. Ia memejamkan matanya dengan tubuh masih menghadap ke arah luar jendela. Ken tidak tertidur malahan terjaga sambil menunggu jawaban yang ingin ia dengar dari Han. Jawaban yang memuaskan dahaganya akan kebenaran kematian Ana. Ia kembali mengangkat tangannya yang memegang gantungan kunci itu ke hadapan wajahnya, sedangkan tangan yang satunya masih terbalut perban dan gips lantaran belum juga puluh dari cedera patah tulang.


"Tuan!", Han berjalan mendekat hingga berada di belakangnya.


Ken membuka matanya saat mendengar namanya dipanggil. Ia menatap gantungan kunci itu sebentar kemudian menyimpannya ke dalam saku celananya, tangannya masih menggenggam benda itu di sana.


Han kembali mendekat seraya menyodorkan ponselnya kepada Ken.


"Ini tuan beberapa barang bukti yang mereka temukan di TKP", ucapnya kemudian.


Ken menggeser beberapa foto pada layar ponsel itu. Bibirnya melengkung sempurna setelah melihat semua barang bukti yang ada. Terlebih lagi ia melihat gambar foto mayat wanita gosong yang telah terindikasi bahwa itu adalah mayat Ana. Senyuman ia torehkan ke arah Han sambil menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.


Tentu saja hal itu membuat Han penasaran akan hasil pemikiran bosnya. Ia masih menatap ke arah Ken yang sedang tersenyum ke arah luar jendela dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kau ingin bertanya apa, Han?", tanya Ken tenang tanpa memandang ke arah Han. Tapi ia seolah tau ada apa dengan mimik wajah Han yang tak bisa dikondisikan tentunya.


"Apa yang Tuan dapatkan? Bisakah saya mengetahuinya?", tanya Han hati-hati. Ia tak ingin merubah mood bosnya yang nampaknya sedang sangat baik setelah sekian lamanya.

__ADS_1


"Mayat itu memiliki tahi lalat pada ceruk lehernya, sedangkan Ana tidak. Dan tas yang biasa Ana pakai tidak ada di sana. Apakah kau yakin pihak kepolisian sudah menyisir tempat itu dengan teliti?", tanya Ken yang masih tak bergeming dari posisinya.


"Saya sudah memastikannya sendiri, Tuan. Hanya saja di TKP terdapat bekas mobil lain terperosok juga selain mobil yang Tuan kendarai", jawab Han.


"Mobil lain?", Ken menoleh ke arah Han sambil berbicara dengan penuh penekanan.


"Ya Tuan. Mobil itu terindikasi mengalami oleng saat terjadi kecelakaan pada mobil Tuan dan ikut terperosok ke dalam jurang namun tidak cukup jauh sehingga pengemudinya masih selamat. Mobilnya segera di derek saat kami baru saja sampai, Tuan", jelas Han yakin dengan apa yang ia dapat sebelumnya.


"Ada yang ganjal, Han. Saat itu lalu lintas cukup ramai. Dan jika memang mobil itu mengalami oleng mungkin karena pengemudi merasa gugup akibat kecelakaan yang baru saja terjadi di hadapannya dan hal itu dapat mengakibatkan kecelakaan terjadi tidak hanya pada mobilnya saja, tapi juga pada mobil lain di belakangnya", Ken kembali menghadap luar jendela sambil berpikir keras.


"Mungkin saja mobil itu sengaja terperosok untuk mengejar mobilku. Dan hanya ada satu orang yang bisa membuat kelakuan gila seperti itu demi Ana", Ken menatap tajam keluar sambil memainkan gantungan kunci itu di tangannya.


"Benny Callary!", ucap Ken dingin dengan mata berkilat emosi.


"Jadi maksud Tuan dalang dibalik kecelakaan ini adalah Bos mafia itu?", tanya Han setelah berusaha mencerna hasil pemikiran bosnya itu sejak tadi.


Ken terdiam sejenak masih dengan tatapan tajamnya. Ia kembali menyimpan gantungan kunci kesayangannya ke dalam saku celana. Ia mengeratkan rahangnya sampai terlihat jelas di bagian pipinya.


"Entahlah, Han! Tapi menurut Ana, Ben sangat menyayanginya. Aku tidak yakin pria gila itu akan melakukan hal rendah seperti ini kepadaku, apalagi mengikut sertakan Ana di dalamnya. Sehingga membahayakan nyawa Ana", tutur Ken dengan wajah yang mulai lebih tenang namun matanya masih menerawang keluar untuk mencari jawaban dari segala pertanyaan di dalam benaknya itu.


"tok, tok, tok!", suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunan kedua pria itu.


Han mendekat ke arah pintu dan membukanya. Dan membiarkan kepala pelayan yang bernama Paman Ron maju satu langkah untuk mengucapkan keperluannya datang ke kamar tuannya itu.


"Maaf Tuan! Nyonya besar datang untuk menjenguk Tuan. Nyonya datang bersama seorang wanita bernama Joice. Dan sekarang mereka sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan siang nanti", Paman Ron melapor kepada tuannya.


"Baiklah, aku akan turun!", ucap Ken dingin.


"Saya permisi, Tuan!", Paman Ron segera membalikkan badannya untuk berlalu dari sana.


"Paman!", panggilan Ken menghentikan langkah pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Jangan biarkan mereka mendekat ke kamarku sebelum aku turun!", perintah Ken penuh peringatan.


"Baik, Tuan!", Paman Ron melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar itu.


"Heh!", Ken tersenyum sinis keluar jendela.


"Tuan!", seru Han begitu bersemangat dari balik layar laptopnya.


Ken segera menoleh dengan tatapan heran. Karena di saat-saat seperti ini tidak selayaknya Han begitu kegirangan berseru dengan nada seperti itu kepadanya. Seakan-akan pria ikal itu baru saja mendapati sebuah hadiah besar.


"Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada anda!", ucapnya sambil mengetikkan sesuatu pada keyboard laptop itu.


Ken berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Han. Ia masih belum mengetahui apa yang ingin Han tunjukkan kepadanya. Hingga sebuah tulisan muncul pada layar persegi itu.


"Saya baru saja mendapat sebuah pesan pada email saya. Dan saya rasa Tuan akan tertarik untuk membacanya sendiri", Han mengarahkan layar laptopnya ke arah Ken.


"Jika kau ingin meminta pertanggungjawaban atas kecelakaan yang menimpa dirimu dan Ana, maka kau harus mencari wanita bernama Joice Alexander".


"Siapa pengirimnya?", tanya Ken dingin.


"Dia tidak menampilkan namanya. Saya akan segera memerintahkan seseorang untuk melacak alamat ip pengirim email ini!", ucap Han segera mengambil alih kembali laptopnya.


Isi pesan itu membuat Ken menggeram marah. Matanya berkabut, seperti raja singa yang siap menerkam mangsanya. Wajahnya berubah buas, ia sungguh tak sabar ingin menghakimi orang yang telah mengusik hidupnya ini. Apalagi saat ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan Joice saat di butik. Seperti sudah direncanakan dengan baik sampai dengan percaya dirinya, wanita itu sudah memilih gaun pengantin untuk dirinya sendiri.


"Maaf Tuan jika saya lancang. Tapi ini belum pasti. Apakah kita bisa mempercayai pesan kaleng seperti itu?! Dan kita tidak memiliki bukti apa pun saat ini", ucap Han yang menyadari perubahan ekspresi pada bosnya.


"Kalau begitu kita harus mencari buktinya!", seru Ken seraya bangkit dari duduknya.


Han mengangguk mengerti. Ia sudah paham apa yang harus ia lakukan saat ini. Tangannya terus bergerak pada keyboard tipis itu. Sedangkan Ken, ia menguarkan seringai seramnya. Pria itu memiringkan kepalanya sambil menatap tajam lurus ke depan. Wajah buasnya sudah tak dapat diubah. Akibat kecelakaan ini, ia harus mengalami pengalaman paling pahit selama hidupnya ini. Ken harus kehilangan wanita yang amat ia cintai, bahkan Ana adalah wanita pertama yang ada di dalam hatinya. Dan karena kecelakaan itu, ia harus berpisah dengan kekasihnya itu. Meskipun kenyataan menyatakan Ana telah tiada, namun dalam hatinya ia meyakini bahwa Ana masih hidup di luar sana. Ia hanya berharap Ana akan baik-baik saja saat ini.


"Joice! Heh, kau adalah wanita yang penuh dengan ambisi! Aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja, jika memang kau adalah penyebab semua ini!", ucap Ken dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2