
"Selesai!", Louis menjauhkan tangannya dari tangan Sam seraya tersenyum menang. Ia sangat puas dengan hasil tanda tangan yang telah ia berikan.
"Hey! Apa-apaan ini?!", Sam protes tidak suka dengan kerasnya.
Itu merupakan tanda tangan dengan sebuah tanda hati besar di sampingnya. Tidak masalah jika mereka sedang berada di rumah. Tapi hey, ini dimana?! Sekarang mereka berada di tempat umum. Mau ditaruh dimana muka bos besar ini jika ada yang melihat bubuhan tinta yang Louis berikan. Dasar sial! Sam menatap tajam ke arah Louis yang sedang menutup pulpennya dengan wajah santai.
"Kenapa? Bagus, kan!", kekasih Krystal itu menaikkan kedua alis matanya sambil tersenyum tanpa dosa. Ia juga malahan meninggalkan Sam di belakang untuk menyerahkan pulpen yang baru saja ia pakai kepada Sarah.
"Ini! Sayang sekali, ya!", wajah Louis dibuat menyesal karena tak dapat menuruti keinginan penggemarnya itu.
"Yah, mau bagaimana lagi! Tapi terimakasih", pertama Sarah memutar bola matanya malas namun kemudian ia tersenyum tulus sebagai ucapan syukurnya kepada Louis.
"Jangan sungkan!", balas Louis kemudian mengalihkan senyuman manisnya itu kepada sosok wanita di sebelahnya. Ia merangkul Krystal di pundaknya. Wanita itupun membalasnya dengan ukiran indah di bibirnya.
Pria di depan masih berdiri sambil membelakangi mereka. Orang itu masih sibuk merutuki tanda tangan bodoh yang kini tersemat pada punggung tangannya. Bibirnya tak henti mencibir pada tanda hati yang begitu besar dan mengisi hampir setengah bagian punggung tangannya itu. Hisshh! Sam benar-benar kesal sekarang.
Oh tidak, ia lupa! Tidak seharusnya ia merasa kesal seperti sekarang ini. Harusnya ia berbangga hati karena bisa mendapatkan dengan mudah tanda tangan pria yang menjadi idola wanitanya itu. Bagaimana tidak mudah, yang Louis hadapi adalah bos perusahaan agensi artis terbesar. Pria itu juga masih rasional diluar sikap ramahnya terhadap semua penggemarnya. Mana mungkin Louis akan menolak permintaan bos besar itu.
Wajah yang semula kesal kini telah diisi dengan sebuah senyuman. Sam membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah Sarah dengan begitu bersemangat. Ia bahkan menyingkirkan orang-orang di sekitar sana hingga hanya menyisakan ruang untuk mereka berdua. Lagi-lagi ketiganya hanya bisa menghela nafas untuk memberi kewajaran kepada tingkah Sam itu.
"Sayang, lihatlah! Tanda tangan ini makin bagus saat berada di tanganku, bukan?!", dengan gembira Sam menunjukkan tangannya kepada Sarah.
__ADS_1
"Akan lebih bagus lagi jika tanganmu dipotong lalu aku beri air keras agar bisa aku simpan di lemari kaca", ucap Sarah dengan begitu ketusnya.
"Sayang, kenapa kau tega sekali! Aku sudah merelakan tanganku dikotori demi tanda tangan ini", Sam merajuk dengan gaya manjanya pada wanita itu. Dan selalu tingkah itu yang membuat Sarah kesal setiap waktu. Segera ia menepis dengan kasar tangan Sam yang sedang memegangi lengannya.
"Jadi kau bilang tanda tangan ini KOTOR! Hah!", Sarah berkacak pinggang seraya menampilkan wajah terseramnya. Ini sudah seperti film horor atau thriller saat wajah Sarah menunduk dengan sorot mata tajam dan siap menerkam.
"Tidak, tidak, tidak, sayang! Bukan begitu maksudku!", Sam menghela nafas lagi. Salah lagi saja ucapannya. Ia rasa apapun yang akan diucapkannya nanti tidak akan ada yang berakhir baik jika sudah menghadapi kemarahan wanitanya itu.
cup
"Sudah ya, jangan marah lagi. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu", satu kecupan singkat Sam daratkan pada pipi Sarah untuk meredam emosinya. Dan langsung saja pipi itu memerah. Hey, mereka masih di depan orang-orang sekarang.
Jelas saja makhluk yang berada di hadapan mereka menjadi jengah. Dan kini akhirnya Ana mengerti bagaimana perasaan Sarah saat harus selalu melihat kemesraan dirinya dan juga Ken sebelum-sebelumnya. Tapi Ana tidak marah, ia hanya menahan tawanya sambil mengingat hal itu.
cup
"Aku juga bisa, kan!", pria itu tanpa malu-malu memberikan satu ciuman pula pada pipi kekasihnya itu. Krystal juga menahan malu, ia memukul ringan dada pria itu.
***
Seorang pria jangkung dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya berjalan sambil menyeret kopernya. Pria itu mengenakan kaos hitam dengan jaket kulit dan celana jeans sebagai pasangannya. Jika adiknya saja sudah cantik, maka kakaknya juga tampan pastinya.
__ADS_1
"Kakak!", seru Krystal melepaskan diri dari rangkulan Louis dan berlari kecil menuju pria itu yang jaraknya masih beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Wanita itu segera menghambur ke dalam pelukan hangat pria itu. Dia adalah Adam Winata, kakak dari Krystal dan sepupu dari Ana.
"Hey, adikku makin cantik saja!", Adam mengusap kepada Krystal dengan penuh kasih sayang. Kedua saudara itu melepas rindu yang teramat dengan sebuah pelukan erat. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu, mungkin hampir satu tahun yang lalu. Itu sudah sangat lama sekali karena kesibukan mereka masing-masing yang tak dapat dikurangi kepadatannya.
"Kau juga makin tampan, kak!", Krystal melepaskan pelukannya dan mereka pun berjalan menuju Ana dan Louis di sana.
Jangan tanya Sarah! Setelah insiden tanda tangan, Sam segera menculik kekasihnya itu dari rombongan mereka. Katanya ada sesuatu hal penting yang ingin Sam tunjukkan pada Sarah. Jadi pria itupun berpamitan seraya menarik paksa tangan wanitanya. Sam mengedipkan matanya pada Ana saat mulai berlalu pergi. Begitupun dengan Ana yang membalasnya dengan simbol oke menggunakan jarinya.
Tentu saja Krystal bertanya-tanya tentang kepergian mereka. Namun dengan santainya Ana berkata itu rahasia. Lagipula tujuan sebenarnya Sarah ingin datang ke sini adalah untuk melihat pesawat, kan. Lalu mereka pun tak ambil pusing dengan menghilangnya dua orang itu. Toh, Sam juga tidak mungkin kan berbuat jahat pada calon istrinya sendiri.
Kembali pada kedatangan Adam, pria itu kini memeluk Ana yang tak lain adalah sepupunya juga.
"Ku dengar sebentar lagi aku akan memiliki keponakan!", Adam tersenyum hangat setelah melepaskan pelukannya pada Ana.
"Doakan saja agar kami selalu sehat, Kak!", wanita itupun membalas dengan senyuman yang sama.
"Maaf soal Paman Bram,,,", ucapan Ana menggantung di udara karena Adam lekas menghentikannya. Ia memegangi kedua bahu Ana sedikit kuat.
"Jangan bahas lagi Ana, aku sudah mendengar semuanya dari Krystal. Itu memang salah Papa yang terlalu serakah. Bahkan aku sangat bersyukur mendengar kau mempercayakan perusahaan padaku. Kau bahkan masih mempertimbangkan hal itu pada kami anak-anaknya", Adam memberi penjelasan dengan senyuman yang menenangkan.
Ia tak ingin saudaranya ini terbebani dengan keputusan yang sudah diambilnya. Ayahnya memang bersalah. Meskipun ia adalah putranya, tapi hal itu tidak menjadi acuan bahwa ia harus membenarkan apa yang ayahnya lakukan. Adam memahami hal itu.
__ADS_1
Baik Ana maupun Krystal saling melempar senyuman dan juga anggukan. Mereka lupa masih ada satu orang lagi di sana. Pria keren itu terasa terabaikan oleh reuni keluarga ini. Ia tidak masalah sebenarnya, hanya saja ia juga memiliki tujuannya sendiri untuk datang ke sini.
"Ehermm,,,, ehermm!", Louis pun berdehem untuk mengekspos kehadirannya.