
Makan malam telah usai sejak tadi. Setelah itu, Risa dan Sarah memutuskan untuk kembali ke kamar mereka. Sedangkan para pria sudah berkumpul di ruang perpustakaan, hanya Ken saja yang belum datang. Lagi-lagi mereka harus memaklumi keterlambatan pengantin baru dengan segala kegiatannya. Terutama Ben, ia menggerutu tidak jelas sejak tadi. Padahal memang benar, dari waktu yang dijanjikan, Ken belum termasuk dalam kata terlambat. Hanya saja, beberapa pria itu yang lebih cepat datang karena setelah mereka selesai dengan makan malam, mereka semua memutuskan untuk langsung ke ruangan yang dipenuhi rak-rak buku yang menjulang tinggi.
"Ku pikir kau akan datang satu tahun lagi!", sahut Ben dengan nada tidak suka saat ia melihat Ken datang dari arah pintu masuk ruangan itu.
"Sepertinya aku tidak telat!", ucap Ken seraya melihat ke arah jam tangannya dengan ekspresi datar.
Kelima orang itupun akhirnya berbincang serius perihal rencana apa saja yang akan mereka jalankan. Sesekali Ken dan Ben mengangguk setuju dengan ide yang masing-masing berikan. Mereka mematangkan rencana yang sudah mereka susun sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam. Akhirnya kelimanya menyudahi pertemuan ini.
"Baiklah, kalau begitu kapan kita akan memulainya?", tanya Ben dengan wajah seriusnya.
"Kurasa lebih cepat lebih baik!", jawab Ken dengan wajah tak kalah seriusnya.
"Baiklah, setuju!", Ben menganggukkan kepalanya diikuti oleh Sam dan yang lainnya.
Kelima pria itu memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Dan kembali besok untuk memulai apa yang sudah mereka rencanakan.
***
Ken membuka pintu kamarnya, ia mencari sosok istri tercintanya. Ia menyapu seluruh ruangan itu namun tak juga menemukannya. Tapi senyumnya terukir sempurna saat ia melihat sebuah gulungan besar pada selimut di atas ranjangnya. Ken berjalan mendekat ke arah itu. Ia mendudukkan diri di pinggir ranjang lalu menyibak dengan perlahan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu sampai di leher, seakan Ana tenggelam oleh selimut itu di sana. Matanya terpejam dengan suara nafas yang teratur, nampak bahwa ia sudah tertidur sejak beberapa waktu lalu.
"Apa yang dia pakai ini?", Ken tersenyum lebar melihat Ana yang saat ini sudah menggunakan pakaian tidur berwarna merah dan sedikit menerawang. Dengan wajahnya yang tanpa polesan namun tetap cantik, rambut panjangnya yang terurai berantakan, ditambah lagi dengan gaun tidur yang ia gunakan, kesan seksi nan menggoda mengisi benak Ken saat ini.
"Apakah dia berusaha menggodaku?", Ken menyeringai.
Ia menggunakan jari mengabsen setiap lekuk wajah Ana dengan begitu lembutnya. Lalu jari-jarinya mulai mengarah ke lehernya. Ken memainkan jarinya di sana dengan sentuhan-sentuhan menggoda. Hal itu tak ayal membuat Ana menggeliat akibat senyar yang begitu memabukkan. Ia melenguh menahan rasa geli yang menjalar di tubuhnya. Perlahan ia membuka matanya yang terasa amat berat.
"Keenn!", serunya sambil tersenyum dengan suara khas orang baru bangun tidur.
__ADS_1
"Apakah istriku sedang berusaha menggodaku dengan pakaian seperti ini, heh!", ucap Ken dengan seringainya sambil terus menyibak lagi selimut itu sampai ke paha Ana.
Tiba-tiba kesadaran Ana dipaksa menyatu sempurna. Mata Ana membulat besar lalu dengan cepat ia menarik selimut itu sampai ke leher lagi.
"Ini,, ini tak seperti yang kau pikirkan", ucap Ana terbata sambil menampilkan senyum yang dipaksakan.
"Lalu?", Ken mendesak Ana hingga sedikit menindihnya. Ia menatap wanitanya itu dengan begitu intens. Seringainya tak lupa ia keluarkan.
"Isi lemari itu semuanya seperti ini!", Ana mengerucutkan bibirnya namun tatapannya tetap waspada ke arah suaminya yang amat jahil itu.
"Apakah aku harus percaya?", Ken menarik diri untuk duduk sempurna kembali.
"Terserah!", ucap Ana ketus.
"Baiklah, baiklah! Kau ini semakin marah, semakin menggemaskan!", Ken mencubit pipi Ana hingga memerah.
"Tapi Ken, aku lelah!", Ana merajuk dengan wajah imutnya.
"Astaga, bagaimana aku bisa tahan jika kau menampilkan wajah menggemaskan begini!", Ken menangkup wajah Ana dengan satu tangannya yang masih di gips lalu memberi kecupan selamat malam pada bibir manis istrinya itu.
"Baiklah, kita tidur sekarang! Tapi aku ingin kau memelukku!", Ken merosot hingga bersandar pada dada Ana yang sedikit terbuka. Ia menggesekkan kepalanya di sana mencari kenyamanannya sendiri. Tangannya melingkar pada pinggang Ana, menguncinya agar tak dapat pergi kemana-mana.
"Selamat malam, suamiku!", Ana tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Ken dalam-dalam.
"Aku akan memukulmu jika kau terus bergerak!", ancam Ana sambil tersenyum akibat geli yang Ken timbulkan karena pergerakannya di dada Ana.
"Baiklah, baiklah, selamat malam istriku!", Ken mengecup Ana pada tulang selangkanya lalu memejamkan mata dengan senyum damai yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya.
__ADS_1
"Dasar kau!", Ana kembali mengecup kepala Ken sebelum akhirnya ikut memejamkan matanya kembali.
Malam-malam yang biasanya dingin, kini akan selalu hangat di ranjang yang Ken tempati. Hatinya yang biasanya kosong, sudah terisi penuh oleh sosok seorang istri. Senyum bahagianya terus terukir sampai ia maupun Ana jatuh ke dalam mimpi paling indah yang akan mereka alami.
***
Keesokan paginya, semua orang telah duduk di meja makan sambil menikmati sarapan mereka. Pasangan pengantin baru itu duduk berdampingan sambil beberapa kali melemparkan tatapan penuh cinta. Dan beberapa orang lainnya mencibir ke arah sepasang pengantin baru itu. Ya tentu saja, pasti dalam lubuk hatinya, mereka juga menginginkan seorang pasangan yang akan menemani hidup mereka sampai tua nanti.
"Apa yang akan kita lakukan pertama?", tanya Ana yang sudah memasang wajah seriusnya. Ia menopang dagunya dengan jemari yang saling bertaut lalu melirik ke arah Ken dan Ben secara bergantian.
"Teror, kita akan meneror wanita itu di apartemen nya!", ucap Ben dengan suara yang terdengar begitu kejam. Tatapan matanya berisi puluhan pisau yang siap menusuk siapa pun yang mengganggunya. Sara dan Risa bergidik ngeri melihat ekspresi Ben yang menyeramkan itu.
"Baiklah, ayo kita mulai! Aku sudah sangat siap!", ucap Ana dengan ekspresi dinginnya.
"Lalu bagaimana dengan masalah Tuan Bram? Bagaimana pun juga orang itu telah membuat Tuan Danu kecelakaan. Dan lagi ia telah menguasai perusahaan yang sudah seharusnya menjadi milik Ana", ucap Risa tiba-tiba dengan wajah seriusnya. Ia juga penasaran dengan langkah apa yang akan mereka ambil untuk pria tua yang amat licik itu.
"Tenang saja, Nona Risa! Han!", Ken meminta Han mendekat dengan beberapa berkas yang ada di tangannya.
"Aku sudah memiliki rencana. Apa yang sudah seharusnya, akan kembali kepada pemilik aslinya!", ucap Ken seraya menggoyangkan tumpukan berkas yang ada di tangannya. Ken menampilkan seringai kejamnya.
"Luar biasa! Aku di kelilingi orang-orang hebat saat ini. Mereka pasti bisa membantu Ana membalaskan dendamnya. Tapi aku,, aku bukan siapa-siapa. Tak ada yang bisa kulakukan untuk membantunya", keluh Sarah dalam hatinya.
Wanita itu menundukkan kepalanya, merasa rendah diri di antara orang-orang hebat di sekeliling Ana saat ini. Ia merasa sangat kecil dan tak dapat dibandingkan sedikit pun dengan orang-orang itu. Bibir Sarah melengkung ke bawah, ia bersedih karena merasa tak berguna untuk sahabat yang sangat baik terhadapnya itu. Tentu saja pemandangan itu tertangkap oleh mata Ana, ia mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya saat ini. Lalu ia mengukir senyumnya.
"Kau juga akan ambil bagian, Sarah!", wanita itu mengangkat kepalanya mendengar ucapan Ana. Lalu seulas senyum terbit di bibirnya.
"Baik! Aku pasti akan membantumu!", Sarah mengepalkan tangannya ke atas lalu ia menatap Ana dengan pandangan yang sangat meyakinkan.
__ADS_1