
Ana berpikir Ken yang kekuar dari sana. Tapi malah sebuah kaki jenjang yang mulus putih bersih melangkah keluar dari sana. Ana memaku tubuhnya saat tahu siapa orang yang kini berada di sebelahnya.
***
Seorang wanita dan pria keluar dari lift khusus itu. Dia adalah Krystal dan di sebelahnya adalah Louis. Kedua wanita itu saling melempar pandangan sengit. Krystal merasa begitu siap bisa bertemu dengan saudaranya di tempat seharusnya dia bisa bertemu dengan pria impiannya. Krystal mencebik kesal ke arah Ana.
Sedangkan Louis menatap ramah ke arahnya dan melambaikan tangannya, dia memberi salam pada teman lama yang baru dijumpainya. Dan Ana pun membalasnya.
"Hey, Lou!", sapa Ana kepada Louis sengaja melewatkan Krystal yang berada di sebelahnya.
"Hey, An!", mereka berpelukan layaknya seorang teman yang sudah sangat lama tak bertemu.
Kedua orang itu terlihat mengeluarkan senyum sumringah. Sedangkan wanita di sebelahnya memasang wajah jeleknya, mencibir tanpa bersuara. Jika ada cermin di hadapan, mungkin saat ini Krystal sudah seperti seekor bebek yang sudah tua sedang mengomel tak bersuara.
"Apa kabar An?", tanya Louis pertama.
"Luar biasa, Lou! Kau lihat sendiri. Aku cantik bukan?!", ucap Ana yang sengaja dilambat-lambatkan dengan penekanan. Dia sengaja ingin membuat sepupunya itu bereaksi.
"Luar biasa, An! Kau sangat cantik", jawab Louis semangat. Louis sudah paham dengan maksud dari tingkah Ana barusan. Mereka sudah berteman lama, dan kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali untuknya.
Krystal melempar lirikan tajam pada Louis. Dia tidak terima jika ada yang mengatakan orang lain cantik di hadapannya. Terlebih lagi saat ini adalah Ana, dan yang mengatakannya adalah Louis yang notabene selalu menyukai Krystal. Krystal menyadari bahwa Louis menyukainya, hanya saja dia menutup mata karena yang menjadi impiannya adalah bisa bersama dengan Presdir Ken yang terhormat. Namun untuk saat ini, dia sangat tidak suka bila dia di nomor dua kan oleh orang yang selama ini selalu menyukainya.
"Kau ini playboy atau apa! Suka sekali merayu wanita! Setiap bertemu wanita kau selalu bilang dia cantik!", Krystal menghardik tak jelas.
Bukannya kesal, kedua orang itu malahan saling lempar senyum. Mereka puas, rencana mereka berhasil untuk memancing kekesalan Krystal.
__ADS_1
"Wow, wow, wow Lou! Maaf aku lupa bahwa di sini masih ada Nona Krystal yang sangat cantik itu ya. Tapi maaf Nona, boleh saya tahu sudah berapa uang yang anda habiskan untuk menjadi luar biasa cantik seperti ini?!", ucap Ana dengan nada menyindir. Dia jadi bersemangat menggoda sepupunya itu.
Sedangkan Louis melebarkan senyumnya melihat interaksi kedua saudara itu. Dia memutuskan untuk menjadi penonton dulu untuk melihat perkembangan dari adegan yang menarik ini.
"Hey, kau! Jaga biacaramu Ana!", bentak Krystal. Dia ingin menghentikkan Ana berbicara yang lebih jauh lagi. Pasalnya saat ini dia berada di tempat calon masa depannya. Dia tidak ingin image yang dia bangun menjadi rusak di depan para karyawan yang akan menjadi bawahannya nanti. Die benar-benar kesal karena Ana berani memancing kemarahannya.
Louis menutup mulutnya, dia tertawa tanoa suara. Dia berusaha keras untuk menahan tawanya. Baginya Krystal sungguh menggemaskan. Ya mungkin mata Louis telah tertutup oleh rasa sukanya pada Krystal, seolah tak peduli dengan tingkah Krystal.
"Memangnya aku salah biacara apa?!", ucap Ana dengan santainya.
"Lihat saja kau nanti! Saat aku sudah menjadi Nyonya di perusahaan ini, aku akan membuat perhitungan denganmu", ancam Krsytal yang sudah bersungut kepalanya.
Ana masih tetap tenang menghadapi Krystal. Justru dia sangat menikmati setiap bentakan dan ucapan Krystal. Dia puas telah memancing amarah Krystal sampai sejauh ini.
"Benarkah?! Apakah Tuan perusahaan ini akan mengakuimu!", ucap Ana santai sambil menunjuk-nunjuk Krystal dari atas sampai bawah.
Ana melipat kedua bibirnya, dia berusaha keras menahan tawanya agar tak pecah. Tapi baginya lebih baik menyembunyikan hubungannya dengan Ken agar bisa melihat sampai dimana sepupunya itu akan bersikap seenaknya.
"Selamat siang, Nona!", beberapa karyawan yang lewat memberi salam pada Ana yang menjadi salam paham bagi Krystal.
"Ya, siang,, siang,, lanjutkan bekerja dengan baik ya!", ucap Krystal dengan bangganya. Dia akhirnya bisa menunjukkan pada Ana jika dirinya begitu dihormati dan terkenal di perusahaan ini. Krystal mengangkat dagunya dan membusungkan dadanya, dia menatap sombong ke arah Ana.
Sibuk menyombongkan diri membuatnya tak memperhatikan pandangan aneh dari para karyawan itu. Bahkan mereka sedikit berbisik.
Ana yang memperlihatkannya sekali lagi harus menahan sekuat tenaga untuk tertawa. Dia membalikkan badan untuk menatap para karyawan itu dan melemparkan senyum ramah. Para karyawan itu mengangguk dan membalas senyum Ana. Kemudian Ana melambaikan tangannya memberi isyarat pada mereka untuk lekas pergi. Mereka pun mengerti dan meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Kini pandangan Ana ke arah Louis yang sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Mereka saling melempar pandangan ke arah Krystal sambil menahan tawa. Ana memberi isyarat mata agar Louis segera membawa Krystal pergi.
"Baiklah, An! Sepertinya Nyonya perusahaan ini sudah selesai menyombongkan dirinya. Dan aku juga sudah selesai menonton drama siang ini. Jadi kami harus pergi sekarang", ucap Louis sambil menahan tawa di setiap ucapannya. Dia tidak merasa cemburu, Louis tau bukan kapasitasnya untuk cemburu pada Krystal. Karena perasaannya hanya sebelah pihak saja.
Krystal mencebik kesal ke arah Louis. Seharusnya Louis membelanya, bukannya malah ikut menggodanya saat ini. Tapi mungkin Krystal juga lupa jika selama ini Louis memang selalu menggodanya. Dia menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai sebelum berlalu pergi dari hadapan mereka.
Setelah kepergian Krystal tawa kedua orang itu pecah. Mereka tertawa hingga hampir menangis.
"Kau benar-benar menjengkelkan An!", ucap Louis di sela tawanya.
"Hey, dia yang lebih menjengkelkan!", balas Ana yang masih tertawaan.
"Puas sekali kau menggodanya", ucap Louis berusaha menghentikan tawanya.
"Kau juga puas menontonnya, bukan!", jawab Ana yang kini sudah mereda tawanya.
"Kejar dia Lou! Kau harus memperjuangkan perasaanmu padanya. Mau sampai kapan kau terus bersembunyi di balik topeng ceriamu itu", kali ini wajah Ana sudah berubah serius.
"Biarkanlah, An! Aku tak ingin jauh darinya. Begini saja sudah baik untukku. Aku bisa menjangkaunya lebih dekat", ucap Louis santai.
Ana menghela nafasnya, dia sungguh tau sejak dulu bagaimana Louis selalu menyembunyikan dan menekan perasaannya pada sepupunya itu. "Baiklah, terserah kau saja, Lou", ucapnya kemudian.
Mereka sudah berteman lama, sehingga mereka mereka sudah cukup saling mengerti bagaimana kepribadiannya masing-masing. Ana selalu menghormati keputusan Louis yang menyukai Krystal dalam diamnya. Meskipun kadang dia cukup gemas dengan tingkah Krystal yang selalu mengabaikan Louis seenak hati.
"Baiklah, An! Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, oke", ucap Louis melempar senyum hangatnya.
__ADS_1
"Baiklah, sampai jumpa lagi Lou!", Ana membalas senyum hangatnya. Mereka berpelukan sebelum berpisah, sebuah kebiasaan lama antar seorang teman.
"Ting!", tiba-tiba pintu lift terbuka. Sepasang mata menatap tajam ke arah mereka.