
"Aku tak peduli! Siapa pun orangnya, akan aku habisi jika dia berani menyakiti wanitaku!", ucap Ken dengan tatapan yang begitu kejam. Janjinya ia ucap untuk dirinya sendiri. Tekad yang kuat sangatlah jelas terpampang dari sorot matanya yang tajam, ia mengerahkan segenap kekuatannya untuk melindungi wanita yang amat dicintainya.
"Aku akan selalu mendukungmu, kak!", ucap Sam tiba-tiba dengan wajah yang serius tak seperti biasanya.
"Kau selalu berjuang untuk orang lain, kak. Bahkan untuk kami keluarga mu. Sekarang kau akan berjuang untuk wanitamu. Jadi biarkanlah aku ikut berjuang untuk dirimu, kak", batin Sam.
Selalu setiap waktu, ia melihat letih kakaknya yang tak pernah ia ucapkan. Perjuangan lima tahun lalu pun Sam melihat dengan jelas bagaimana Ken berjuang dengan begitu keras untuk mempertahankan perusahaan dan juga keluarga Wiratmadja. Kali ini ia sungguh ingin melakukan sesuatu hal yang berguna bagi kakaknya itu.
Ken hanya mengangguk dengan wajah datarnya. Ia menyetujui apa pun yang dikatakan Sam untuknya. Ia menerima keinginan tulus yang diucapkan oleh Sam. Ken tak ingin menyakiti hati dengan niatan tulus yang terpancar dari sorot mata adiknya itu.
"Han, besok aku akan mengajak Ana untuk fitting baju pengantin. Siapkan segalanya!", perintah Ken seraya beranjak keluar dari ruang bacanya diikuti oleh Sam dan Han.
***
Maha bintang itu bersinar begitu terang. Dialah mentari yang tak satu pun dapat menandingi kilau cahayanya. Hari yang begitu cerah mengiringi suasana hati Ana yang nampak ceria. Wanita cantik itu sedang mencoba beberapa gaun pengantin di ruang ganti Butik Aslan. Sedangkan kekasih hatinya sedang menunggunya sambil duduk santai dan membaca sebuah majalah.
Akhirnya Ana memutuskan untuk memakai gaun terakhir yang ia pilih. Sebuah gaun putih tanpa lengan dengan kain transparan yang membungkus bagian dada hingga ke punggungnya. Di keseluruhan gaun itu terdapat hiasan bunga-bunga mawar putih yang menonjol keluar. Dan untuk menambah kesan elegan, gaun itu bertabur Swarovski dan lebih banyak lagi di bagian dadanya. Gaun putih itu menjuntai sampai terseret ke lantai. Untuk sementara, Ana menyanggul asal rambutnya dan memberi hiasan mahkota kecil di atas kepalanya.
"Apakah ini cocok denganku?", tanya Ana ragu pada seorang asisten yang membantunya.
"Gaun ini seperti diciptakan hanya untuk Nona. Begitu pas dan cantik saat Nona yang memakainya. Tuan Ken pasti akan langsung terpesona saat melihatnya nanti", puji asisten itu dengan tulus. Karena memang saat ini ia pun sudah terpesona dengan tampilan Ana yang cantik natural namun tak membuat matanya enggan mengalihkan pandangannya dari Ana.
"Kau makin membuatku malu!", ujar Ana yang sudah merona.
Wanita itu membuka tirai yang menutupi tempatnya berganti pakaian dengan gaun cantik yang ia kenakan saat ini.
"sreekk", suara tirai terbuka membuat Ken menutup majalah yang ia baca dan mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Waahhh!", Mulut Ken otomatis menganga setelah disuguhi pemandangan indah yang luar biasa. Bagai bidadari di dalam lukisan, Ana terlihat luar biasa cantik baginya.
Seakan terkena sihir, Ken segera bangkit dan mulai melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Ana dengan mata yang tak kunjung berkedip. Bagi Ken jika dirinya mengedipkan mata sekali saja, maka itu akan sangat merugikan baginya.
"Saya permisi, Tuan!", asisten itu pamit untuk keluar dari ruang ganti karena tak ingin mengganggu momen romantis bagi sepasang kekasih itu.
"Kau cantik sekali, sayang!", puji Ken yang masih begitu terpesona oleh tampilan Ana saat ini.
__ADS_1
"Kau juga sangat tampan, sayang!", balas Ana yang melihat penampilan Ken dengan jas dan celana senada dengan gaunnya.
Ken mengecup pucuk kepala Ana sambil terus merekahkan senyumnya. Mereka saling melempar pandangan dengan begitu intens dan tak lupa senyum menawan menghiasi bibir masing-masing.
"cuupp", Ken mengecup bibir Ana lembut.
Ana tersenyum mendapat hadiah manis itu. Ia pun membalasnya dengan satu kecupan singkat untuk Ken. Baru saja akan menjauhkan wajahnya, Ken sudah mendekap pinggangnya dan menelusupkan tangannya pada tengkuk lehernya. Ken kembali mengecup Ana hingga merubah kecupan itu menjadi gerakan lembut di bibirnya yang membuat wanita itu membalas rasa indah yang mereka nikmati berdua.
Baru juga beberapa saat, Ana sudah mendorong tubuh Ken untuk menghentikan kegiatan mereka. Sontak hal itu membuat Ken menatap tajam ke arah Ana.
"Ada apa?", tanya Ken heran.
"Riasanku! Kita belum melakukan foto prewedding, Ken!", seru Ana yang tangannya sedang mencari-cari cermin kecil untuk mengoreksi riasan di bibirnya.
"Oh, astaga! Ku pikir apa?!", Ken terkekeh melihat tingkah Ana. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal merasa konyol juga dengan sikapnya yang selalu tak tahan untuk mencicipi bibir manis wanitanya itu.
"Tak ada yang salah, sayang! Kau tetap cantik! Percayalah!", Ken membalikkan tubuh Ana dan menengadahkan wajah Ana. Ia membersihkan sedikit lipstik yang keluar garis bibir Ana akibat ulahnya tadi.
Mereka berdua memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruangan lain untuk sesi foto prewedding mereka. Tapi baru saja mereka keluar ruangan, mereka berpapasan dengan dua orang yang tak ingin Ana temui saat ini.
"Astaga! Ini bukan waktu yang tepat! Mood Ana pasti akan jelek setelah ini!", gumam Ken dalam hati.
"Sayang, kau ada di sini?!", sapa Nyonya Rima yang langsung memeluk putra sulungnya itu.
"Iya, Bunda! Apa yang Bunda lakukan di sini?", ucap Ken seraya melepas pelukan Bundanya itu.
"Oh, Bunda menemani Joice memilih beberapa gaun untuk acara makan malam bersama rekan kerjanya", ucap Nyonya Rima seraya melempar senyuman ke arah Joice.
Joice yang disebutkan namanya pun berpura-pura memasang wajah polos dengan senyum palsunya. Ia tersenyum ke arah Ken kemudian.
"Hai, Ken!", sapa Joice dengan begitu percaya diri.
Ken tak bergeming, ia malas untuk membalas sapaan teman wanitanya itu. Dan lagi masih ada Ana, kekasih hatinya yang masih berdiri di sampingnya sambil menahan kesal.
"Kau tampan sekali, sayang! Pasti ini setelan untuk acara pernikahan mu, ya!", Nyonya Rima takjub memandangi penampilan putranya yang begitu tampan.
__ADS_1
"Dan...", kini ia memandang ke arah Ana yang sedang memasang wajah datarnya. Sejenak ia juga terpesona oleh penampilan Ana yang sangat cantik nan memukau. Tapi, harga dirinya masih menjulang tinggi hingga ia memutuskan untuk tersenyum remeh ke arah Ana.
"Kau juga cantik, Nona!", ucap Nyonya Rima malas kepada Ana. Sejujurnya ia sangat malas mengucapkan hal itu, hanya saja ia masih memandang bahwa putra sulungnya itu telah memilih dia.
"Terima kasih, Nyonya!", balas Ana datar.
"Wah, kebetulan sekali! Joice juga meminta Bunda memilihkan gaun pengantin untuknya. Tapi sayang calon pengantin prianya tak dapat hadir. Ken, maukah kau menemani Bunda dan Joice memilih gaunnya? Mungkin saja selera kau dan calon suami Joice sama!", ucap Nyonya Rima dengan senyum manisnya. Ia berucap seolah tak peduli dengan kehadiran Ana di sana.
"Wah,, Nona Joice akan segera menikah rupanya! Aku jadi penasaran siapa gerangan yang menjadi calon pasangan anda, Nona! Aku ucapkan selamat ya atas rencana pernikahan kalian! Jadi Nona Joice tidak perlu mengharapkan calon suamiku lagi, bukan", ucap Ana tiba-tiba dengan tenang.
Ana sudah memberi isyarat kepada Ken dengan mengeratkan genggaman tangannya. Ia sudah menahan geramnya sejak tadi. Kali ini biar ia yang maju dan meluapkan emosinya. Ken mengerti dan membiarkannya saja apa pun yang Ana ingin lakukan.
"Dan ah ya, waktu kami sangat terbatas. Lagipula kupikir selera Ken terlalu tinggi untuk memilihkan setelan yang cocok untuk orang lain. Aku takut itu tidak akan cocok untuk calon pasangan anda, Nona", Ana memasang senyum manisnya dan sedetik tersenyum remeh ke arah Joice.
"Sayang sekali bukan! Jadi kami permisi dulu Nona,, Nyonya!", Ana sedikit membungkukkan kepalanya kepada Nyonya Rima dan Joice bergantian untuk pamit dari sana. Dan segera ia menarik tangan Ken untuk mengikutinya.
"Bunda, aku ke sana dulu! Sampai nanti, Bunda!", ucap Ken seraya melangkah membuntuti Ana sambil tersenyum puas.
"Ken, tunggu!", Joice menarik tangan Ken yang bebas di udara untuk menghentikan langkahnya.
Sontak Ken dan Ana berhenti bersamaan dan menoleh ke arah belakang, ke arah Joice yang sedang tersenyum ke arah Ken tanpa peduli tatapan tajam mata Ana saat ini.
"Apakah kau tidak penasaran siapa calon pengantin ku?", tanya Joice masih dengan percaya dirinya. Ia tidak menghiraukan gelagat Ken yang sangat terganggu dengan kelancangan sikap Joice terhadapnya.
"Maaf Nona Joice! Itu bukan urusanku!", ucap Ken begitu dingin seraya menyingkirkan tangan Joice yang menggenggam pergelangan tangannya. Ken segera menarik Ana untuk menjauh dari tempat itu. Tempat yang bisa jadi akan menjadi medan perang jika mereka masih berlama-lama berdiri di sana.
"Heh, Ken!", Joice mendengus kesal menatap punggung Ken maupun Ana yang mulai menjauh.
"Sabar, sayang!", ujar Nyonya Rima menenangkan Joice sambil mengusap-usap punggungnya.
"Terima kasih, Tante!", Joice tersenyum palsu ke arahnya.
"Tapi kalau boleh tante tau, siapa calon suami yang begitu beruntung mendapatkan calon istri yang sempurna seperti dirimu ini, sayang?", tanya Nyonya Rima penasaran.
"Itu rahasia, tante! Tante akan tau nanti!", ucap Joice seraya melempar senyum penuh misteri.
__ADS_1