
"Ken ini?", tanya Ana yang sudah berkerut alisnya.
***
Sebuah jas berwarna maroon ada ada di kotak itu. "Bunda yang memberikannya padaku. Dia ingin aku memakainya nanti!", jelas Ken santai.
"Dan?", tanya Ana yang masih belum paham.
FLASHBACK ON
Pagi hari Ken sudah segar sehabis mandi. Dia memandangi cermin besar di hadapannya, nampak dirinya yang tak bertelanjang dada dengan celana panjang hitam dengan rambut setengah basah. Penampakan seorang pria yang akan membuat wanita tergiur untuk menempel padanya.
Saat ini Ken tengah membayangkan wajah Ana saat menjadi cupu kemudian saat Ana dengan penampilan cantiknya yang sederhana. Ken nampak rindu dengan penampilan Ana yang cupu, karena bagaimanapun juga itu adalah pertemuan pertama bagi Ken.
Ken nampak tersenyum sendiri pada bayangannya yang ada di cermin itu. Bagi Ken, Ana yang berpenampilan cupu itu terlihat lebih apa adanya. Ken menilai Ana berbeda pun berawal dari pertemuan pertamanya di minimarket. Kini tampak Ana cupu sedang tersenyum padanya di dalam bayangan cermin dan Ken pun membalas senyumannya. Ken terus memandangi bayangan Ana dalam cermin sambil tersenyum hingga suara ketukan pintu kamarnya memecah kegiatannya saat ini.
"tok, tok, tok".
"cekk!", Ken berdecak sambil berjalan menuju pintu kamarnya. Wajahnya nampak kesal karena ada saja yang mengganggu aktifitasnya yang sedang asik membayangkan wajah kekasihnya itu.
"Ada apa?", tanyanya setelah membuka pintu pada pelayan itu dengan nada kesal.
"Kenapa tuan terlihat kesal setelah membuka pintu?! Apakah aku telah membuat kesalahan?! Huh, tamat sudah riwayatku!", gumam pelayan itu dalam hati sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa?", kali ini Ken menaikkan intonasinya saat orang di hadapannya itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Eh, anu Tuan!", si pelayan gelagapan. "Orang suruhan Nyonya Besar datang membawakan sesuatu. Dan dia berkata harus memastikannya langsung bahwa Tuan telah menerimanya. Jadi saya menyuruhnya duduk di ruang tamu. Apakah saya salah Tuan? Tolong maafkan saya, jika saya membuat kesalahan Tuan. Saya mohon ampun Tuan!", lanjut si pelayan dengan bibir gemetar menahan rasa takutnya. Dia tak ingin membuat kesalahan, karena dia sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Pergi!", ucap Ken ketus.
"Maaf Tuan, ampuni saya Tuan. Saya masih membutuhkan pekerjaan ini Tuan. Jangan pecat saya Tuan", racau si pelayan sambil menundukkan kepalanya dalam.
Ken memiringkan kepalanya sambil menatap pelayan itu dengan tatapan aneh.
"Apakah aku mengatakan bahwa aku memecatmu?", tanya Ken heran.
"Tadi Tuan memerintahkan saya untuk pergi, bukan?!", ucap si pelayan sambil takut-takut.
"Aku mengatakan kau untuk pergi, pergi dari situ. Karena kau menghalangi jalan", jelas Ken dengan wajah datarnya.
"Baiklah, terima kasih Tuan. Terima kasih karena tidak memecat saya...".
"Hentikan! Atau aku benar-benar akan memecatmu!", Ken memotong ucapan si pelayan karena merasa jengah dengan racauannya.
Si pelayan langsung membungkam mulutnya dan memundurkan kakinya beberapa langkah ke belakang agar Ken bisa lewat.
Dan "bbam!", Ken menutup pintunya dengan keras sambil berlalu pergi meninggalkan si pelayan yang hilang setengah kesadarannya akibat terlalu syok.
__ADS_1
Ken menuruni anak tangga dengan santainya. Hingga nampak seorang pria tengah memegangi sebuah kotak besar berwarna merah. Ken nampak menyelidik ke arah pria itu.
Si pria langsung berdiri saat Ken mendekat ke arahnya. Dia membungkuk hormat pada Ken. "Selamat pagi Tuan", sapanya ramah.
"Siapa kau?", tanya Ken to the point karena dia tak pernah melihat pria ini di kediaman orang tuanya. Ken duduk di sofa tunggal dengan mengarahkan tatapan penuh selidik ke arahnya.
"Saya Romi, Tuan dari Butik Aslan. Nyonya Besar memerintahkan saya untuk menyerahkan ini", ucapnya sambil menyerahkan kotak itu.
Ken membukanya. "Apa rencananya?", tanya Ken datar.
"Maaf saya tidak tahu, Tuan", jawab Romi takut-takut sambil menundukkan kepalanya.
"Katakan atau kau bilang pada manejermu sore ini tutup butik itu untuk selamanya", dengan tenang Ken mengucapkan setiap katanya dengan tenang tapi tetap tersirat ancaman dalam intonasinya.
Romi nampak gemetar, dia mencengkram kemejanya kuat hingga kemeja itu nampak kusut.
"Katakan", Ken masih berucap dengan tenang.
"dukk!", Ken menghempas kotak itu dengan kasar ke atas meja saat kesabarannya sudah habis menunggu jawaban dari orang di hadapannya.
"Tolong jangan katakan lagi pada Nyonya Besar jika saya mengatakan ini pada Tuan", Romi berbicara dengan bibir bergetar. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat untuk mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.
"Katakan", Ken sedikit menggeram menahan sabarnya.
"Kemarin Nyonya Besar datang bersama Nona Joice Alexander, mereka memilihkan jas untuk Tuan agar serasi dengan gaun yang akan Nona Joice pakai. Nyonya berpesan untuk memastikan saya menyerahkannya langsung pada Tuan", jelas Romi secepat kilat. Dia sungguh berharap bisa segera berlari sekarang.
"Pergi", geram Ken menahan kemarahannya.
Romi masih tak bergeming dari tempatnya. Dia masih mencerna maksud dari ucapan Ken.
"Apakah sungguh aku bisa pergi begitu saja", ucapnya dalam hati.
"Pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran" ucap Ken setengah menggeram. Romi langsung berlari secepat kilat. Hal yang sangat ingin dilakukannya sebelum nyawanya terancam.
***
"Lalu apa maksdumu menunjukkannya padaku?", tanya Ana sambil meletakkan kotak itu ke bangku belakang lagi.
"Aku hanya ingin melapor bahwa aku tidak akan menggunakan jas yang sudah mereka pilihkan untukku", ucap Ken sambil tersenyum polos.
"Anak pintar!", Ana mengusap lengan Ken dengan seringai puasnya.
"Jangan di situ, tapi di sini", ucap Ken sambil menunjuk pipinya.
"Huh dasar!", Ana berdecak sebal. Tapi sedetik kemudian dia mengecup singkat pipi yang Ken tunjuk.
Mata Ken membelalak lebar sambil menyunggingkan seringainya. Betapa senangnya dia mendapatkan jackpot dari Ana tersayang. Lagi-lagi seringai licik muncul di bibirnya.
__ADS_1
"Lagi!", pintanya sambil merengek seperti anak kecil.
"cekk!", lagi-lagi Ana pun berdecak tapi kemudian mengarahkan wajahnya ke pipi Ken.
"Cup", Ken sudah memalingkan wajahnya menghadap Ana sehingga Ana mendaratkan bibirnya pada bibir Ken. Ana buru-buru menjauhkan kepalanya.
"Huh, kau selalu saja pintar mengambil kesempatan!", Ana memukul lengan Ken pelan diiringi senyum malunya.
Ken menatap ke arah depan dengan menguarkan senyum kemenangannya. Dan mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.
***
Senja telah hilang, berganti malam nan gemerlap. Langit malam itu dihiasi bintang yang sedang mengedip menggoda umat untuk melihatnya. Dan bulan nampak tersenyum ramah menemani taburan bintangnya.
Di kediaman Wiratmadja nampak beberapa juru masak tengah mempersiapkan berbagai macam hidangan di meja makan. Sedangkan Tuan Dion, yaitu Tuan Besar Wiratmadja sedang membaca sebuah buku di ruang tengah dengan kacamata bacanya yang hampir merosot dari hidungnya. Dan Nyonya Rima, yaitu Nyonya Besar Wiratmadja masih sibuk berhias di kamarnya.
Nyonya besar nampak tengah memoles pipinya dengan bush on tipis-tipis. Kemudian dia memilih perhiasan apa yang akan dipakainya. Nyonya Rima memilih sebuah giwang mutiara besar yang serasi dengan kalungnya. Beliau masih begitu cantik di umurnya yang sudah beranjak menginjak setengah abad itu.
"drett, drett, drett", ponselnya bergetar di atas nakas. Tertera di sana Joice melakukan panggilan untuknya.
"Ya, halo Joice", ucapnya pertama.
"Tante sedang apa? Sebentar lagi aku sampai tante", tanya Joice dari seberang panggilan.
"Aku sedang bersiap, cantik. Aku sudah tidak sabar ingin melihat dirimu yang pasti sangat cantik malam ini. Ken pasti akan terpesona olehmu nak, kalian berdua terlihat cocok", ucap Nyonya Rima begitu senang seakan bisa menebak apa yang ada di pikiran putra sulungnya itu.
"Baiklah, sampai nanti tante", ucap Joice lagi dan berpamitan segera dia memutuskan sambungan.
Joice memandang ke luar jendela mobilnya. Bukan menikmati pemandangan di sana, melainkan dia tengah melihat pantulan dirinya sendiri di kaca mobil sambil tersenyum bangga. Joice merasa akan menjadi putri yang paling cantik malam ini. Dia sudah melakukan persiapan begitu lama sejak siang tadi di salon. Tampilannya kali ini pasti tidak akan mengecewakan. Ken pasti akan jatuh ke tangannya, begitu pikiran Joice yang begitu percaya diri.
-
-
-
-
-
-
Maafkan author ya beberapa hari ini up nya ga setiap hari. Author sedang sibuk-sibuknya karena baru mulai bekerja lagi. Author janji setelah menyesuaikan diri, untuk up episodenya akan tepat waktu lagi.
Terima kasih juga untuk dukungannya selama ini ya. Tetap ikutin terus ceritanya, okeh 😉
jangan lupa like, vote dan komentarnya ya 😘
__ADS_1