
"Aku keluar sebentar ya, ada urusan penting!", ucap Sam yang telah berubah dengan wajah cerianya. Ia melangkah ke arah depan meninggalkan mereka yang kembali dengan aura menegangkan di sekitarnya.
***
Tuan Dion menatap kepergian Sam sambil menggeleng pelan dengan tatapan penuh selidik. Karena sejak tadi beliau memperhatikan gerak-gerik Sam yang tak seperti biasanya.
Suasana hening berangsur cukup lama. Yang terdengar hanya dentingan alat makan yang saling bersentuhan saat yang memakainya tengah melakukan kegiatan makan. Tak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Semuanya sedang termakan oleh egonya masing-masing. Itu pula sebab dari ketegangan yang tak juga hilang.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kaki mendekat ke arah meja makan. Terlihat Sam beriringan dengan seorang wanita memakai gaun berwarna navy dengan kerutan di pinggang dan terdapat beberapa butiran berlian kecil di sana. Gaun itu nampak cantik melekat pada tubuh Sarah, sangat pas dipakai olehnya yang tinggi semampai.
Sarah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menahan rasa canggung memasuki keluarga yang paling disegani di kota ini. Apalagi di sisi lain ada sahabatnya di sana yang tak mengetahui kedatangannya saat ini. Ia merasa menanggung beban berat saat mendekat ke arah mereka.
Mata Ana menipis saat tau siapa yang datang bersama Sam. Ia langsung teringat percakapannya waktu itu. Sarah memberikan isyarat pada pesannya yang mengatakan ia mungkin akan datang bersamanya. Hal itu membuat Ana membelalakkan matanya.
"Jadi ini yang kau bilang urusan penting!", Tuan Dion berucap sambil menipiskan bibirnya. Dan Sam hanya membalas ayahnya dengan seringai lebar yang menampilkan deretan giginya.
"Kenalkan ayah, bunda! Ini adalah..", ucapan Sam terpotong oleh Ana.
"Sarah!", ucap Ana refleks dengan suara tersekat.
"Bagaimana kau bisa berada di sini, Sarah. Apa yang kau lakukan?! Kau sedang masuk kandang macan, tau,!", Ana berucap dalam hatinya.
"Apakah Nona.. Sarah mengenal Nona Ana?", tanya Nyonya Rima dengan nada nyinyir.
__ADS_1
Sarah kebingungan saat ini, pasalnya baru juga dia menapakkan kaki di rumah ini. Tapi penyambutan terhadapnya terdengar kurang enak.
"Emm,, iya Nyoya! Ana adalah sahabatku", jawab Sarah sedikit ragu.
"Jadi kau juga bekerja di club malam bersama dengannya juga?!", Nyonya Rima menaikkan intonasinya dan wajahnya sudah sangat jengkel.
Sarah mengalihkan pandangannya ke arah Ana, dia mengharapkan Ana membantunya memberi jawaban. Meskipun saat ini emosi Ana masih sangat tinggi akibat penghinaan yang diterimanya, ia masih terlihat tenang. Ia menganggukkan kepalanya pelan pada Sarah.
"Katakan saja Sarah! Aku sangat ingin tau apalagi yang ingin dia ucapkan", ucap Ana dalam hati.
Sarah membalas anggukan kepala Ana dan menyiapkan diri untuk menjawab. Ia tau apapun yang akan ia katakan, Ana pasti akan membantunya.
"Em, iya! Saya juga bekerja di club malam bersama Ana sebagai...", Nyonya Rima memotong ucapan Sarah dengan wajah memerah. Sungutnya sudah tak dapat ia tahan.
"Bunda, cukup! Bunda keterlaluan!", tegur Sam dengan wajah seriusnya.
"Diam! Kau tau apa Sam!", bentak Nyonya Rima.
"brraakk!", suara gebrakan meja mengagetkan semua yang ada di sana. Ken sudah tak dapat kesabarannya lagi. Ia sudah tak sanggup melihat bundanya itu menghina orang lain seenaknya tanpa mendengar penjelasan mereka terlebih dahulu.
Sarah awalnya terkesiap kaget saat mendengar suara gebrakan meja, tapi kesadarannya kembali saat ia tau tugasnya untuk membersihkan nama baik sahabatnya belum ia jalankan. Ia bisa menerima jika dirinya dihina. Tapi Ana adalah seorang nona muda keluarga terhormat, ia tak bisa menerima jika sahabatnya yang ia tau memiliki hati seperti malaikat itu dihina seenaknya. Meskipun sebenarnya hati Sarah terasa nyeri saat ada orang lain yang bahkan tak mengenalnya menghina dia sesuka hati.
"Sudah cukupkah semua yang anda katakan Nyonya?! Anda boleh menghina saya yang memang bukan dari kalangan kalian. Tapi anda tidak bisa menghina sahabat saya, dia berbeda dengan saya. Dia berasal dari keluarga terhormat, jadi tidak sepantasnya anda menghinanya seenak hati anda. Dan,, anda meruapakan Nyonya dari keluarga terhormat, tapi semua yang anda ucapkan tidak mencerminkan kehormatan dalam diri anda sama sekali. Ucapan anda terlihat seperti orang-orang dari kalangan rendahan sepeeti saya. Lalu apa bedanya anda dengan saya?!", Sarah mengucapkan seluruh kalumatnya dengan mantap tanpa berkedip sekali pun. Rasanya ada sesuatu yang lega setelah meluapkan semua itu.
__ADS_1
"plak!", Nyonya Rima menampar pipi Sarah hingga cap tangannya menempel di sana.
"Bunda", teriak Sam sambil membelalakkan matanya. Dan ia pun langsung merengkuh Sarah yang matanya sudah tergenang air mata ke dalam pelukannya.
Ken dan Ana langsung mendekat ke arah mereka dengan amarah pada wajahnya masing-masing.
"Apa menghina saja belum cukup?! Apakah seorang wanita terhormat yang berasal dari kalangan atas seperti anda harus menggunakan tangannya untuk menghukum seseorang?! Benar apa yang Sarah katakan, apa bedanya anda dengan kalangan rendahan yang tidak bisa anda terima masuk ke dalam keluarga anda itu! Dan sejak kapan standar seseorang ditentukan oleh pangkat dan derajatnya. Mereka yang hina adalah orang yang hanya menilai orang lain tanpa mau tau alasan dan penjelasan darinya kemudian mencemooh seenak hatinya", ucap Ana lantang yang kini sudah berdiri di hadapan Nyonya Rima.
Nyonya Rima akan melayangkan tangannya ke arah wajah Ana. Ana menyadari hal itu, tapi ia tak bergeming dari tempatnya malah menaikkan dagunya seakan menantang orang di hadapannya. Tiba-tiba tangan Nyonya Rima memaku di udara saat akan sampai pada wajah Ana. Ken menahannya dari arah samping bundanya itu. Kemudian ia melangkah hingga menutupi Ana dari bundanya.
"Bunda benar-benar keterlaluan!", ucap Ken dengan wajah sendu yang diliputi wajah kecewa.
Mendapat tatapan seperti itu, Nyonya Rima mulai memulihkan emosinya. Dia berpikir keras tentang benar salah yang baru saja ia lakukan. Ia menurunkan tangannya dari cengkraman Ken dengan kasar. Egonya masih meliputi dirinya yang mengatakan bahwa apa yang dilakukannya memanglah benar.
Ana memutar badannya menghadap ke arah Sam. Ia menatap Sam tajam, tatapan yang sama yang Ken keluarkan saat sedang diliputi amarah. Ana menarik lengan Sarah yang sedang sesegukan, hingga berakhir ke dalam pelukannya. Tapi mata Ana masih menatap tajam ke arah Sam. Nyali Sam menciut saat tangannya harus melepaskan Sarah kepada Ana.
"Ikut aku! Kita tak harus berada di tempat ini lebih lama lagi!", ucap Ana setelah melepaskan pelukannya.
"Tuan, saya permisi!", Ana berpamitan pada ayah Ken dengan wajah suramnya. Ia masih menghormati beliau yang memang sedari tadi hanya dia yang menghargai kehadirannya.
Tuan Dion mengangguk pelan ke arah Ana. Dan Ana pun sedikit membungkuk hormat sebelum berbalik untuk kembali melempar tatapan tajamnya pada Sam.
Ana mengeraskan rahangnya menatap Sam. Rasanya ingin sekali ia memakinya hingga puas, tapi saat ini kondisi Sarah yang lebih penting. Ia menggenggam pergelangan tangan Sarah dan menariknya pergi dari sana.
__ADS_1
"Sam, kau berhutang penjelasan kepadaku! Kau tau bukan amukan singa betinaku?!", ucap Ken memberi peringatan pada Sam yang masih menciutkan nyalinya setelah berhadapan dengan singa betina kakaknya itu. Ken mengikuti langkah Ana pergi dari sana.